The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Asisten Baru."



Larenia bersama Navier dan Leo berada di ruang keluarga menunggu kedua orang tuanya dan juga kakeknya yang baru kemmbali dari london.


Sembari menunggu mereka selesai Larenia sekali bergelayut manja di lengan sang suami. Leo menarik sudut bibirnya dan merasa sangat bosan di sana sebagai seorang jomblo Leo merasa sedikit tersiksa melihat kakaknya bermesraan di sana tanpa sungkan atau pun memperdulikan kehadirannya di antara keduanya.


Dengan hela napas berat Leo mencoba bersikap biasa saja dan menyibukkan diri dengan ponselnya tanpa menghiraukan kakak perempuan dan kakak iparnya di sana.


Larenia merasa haus melirik kearah Leo, senyuman miring terukir di wajahnya.


"Leo, tolong ambilkan air untukku dan kakak iparmu." Perintah Larenia menoleh kearah adiknya yang nganggur dengan arah tatapan masih setia kepada layar ponselnya.


Leo berpura-pura tidak mendengar perintah dari kakaknya.


"Leo! Ayo ambilkan kakak air minum." suara Larenia menajam merasa kesal, ia tidak suka di abaikan.


"Apa sih kak, ambil saja sendiri di lemari pendingin jangan menyuruh orang seenaknya." sahut Leo melirik kakaknya yang masih setia menatap kearahnya dengan tajam.


"Apa katamu, beraninya kau berkata sepetri itu kepada kakakmu, tidak sopan ... ayo cepat aku tidak suka penolakan."


"Sayang biarkan aku yang ambilkan air minum untukmu." sanggah Navier hendak berdiri menuju dapur mencari air minum untuk istrinya.


"Jangan bergerak di sini saja, aku menyuruh anak bodoh ini, bukan kamu." ujar Larenia menarik lengan Navier hiingga lelaki itu kembali duduk di sofa. Leo hanya menghela napasnya memberikan tatapan konyolnya.


"Apa yang kau tunggu, mauku  hajar kau! Cepat


laksanakan perintahku."


"Cih, dasar menyebalkan." decih Leo berdiri dari sana segera berjalan menuju dapur mengambilkan segelas air minum untuk kakaknya.


Larenia kembali berbicara ringan bersama dengan sang suami di sana, tidak lama kemudian kedua orang tuanya datang bersamaan dengan Jeffry. Larenia seketika menghentikan permbicaran mereka dan segera berlari menuju kakeknya.


"Maaf kakek jika Larenia mengecewakanmu, tapi pernikahan ini luar kehendakku juga-" ucapan Larenia seketika berhenti kala Jeffry melepaskan pelukannya.


Pria berusia enam puluh tahun itu mengelus pipi cucunya dengan lembut penuh dengan rasa sayang di dalamnya.


"Jangan meminta maaf ini bukan salahmu, kakek tidak kecewa tapi malah bahagia, justru orang seperti Navier yang menjadi suamimu dan bukan si lelaki licik itu."


"Navier kemarilah mendekat, biarkan aku melihat bagaimana tampang wajahmu yang telah berhasil memperistri cucu kesayanganku." Panggil Jeffry kepada lelaki yang berdiri sebatang kara di sana.


"Iya, kakek." sahut Navier, segera ia menuju mendekati Jeffry.


Leo yang baru kembali dari dapur dengan segelas air di tangannya mendekati Larenia lalu memberikannya kepada kakaknya.


"Lama sekali." Kata Larenia mabil mengambil gelas itu dari tangan Leo.


Leo mengabaikanya mengedikan bahu cuek.


Debaran jantung yang tidak seirama dan bulu kuduk yang berdiri, Navier merinding entah kenapa melihat tatapan Jeffry nyalinya menciut padahal kakek dari isitrinya itu hanya biasa saja menatapnya.


"Lebih dekat, aku tidak akan memakanmu."


"Baik kakek."


Jeffry tersenyum tipis tampak lelaki yang menjadi cucu menantunya ini sangat penurut dan juga sangat sabar, di lihat dari wajahnya saja Jeffry sudah tau jika Navier adalah satu-satunya orang mungkin cocok bersanding dengan Larenia yang sifatnya bertolak belakang dengan suaminya ini.


"Kau anak angkat Effendy? Apa benar?" tanya Jeffry. Ia sudah tau semuanya setelah mendengar penjelasan dari Louis dan Zenia. Jeffry bersyukur cucu kesayangannya menikah dengan pria baik-baik dan bukan Mikel salah satu orang dengan label merah di matanya.


Sejenak Navier terdiam, lalu menjawab setelah beberapa saat dan Jeffry tampak menunggu jawaban darinya.


"Iya, saya anak angkat Ayah Effendy, saya di angkat beberapa bulan yang lalu sebelum menikah dengan Larenia, kakek saya mencintai Larenia ... tolong restui hubungan kami." Kata Navier, ia tiba-tiba berlutut betapa takutnya ia jika di pisahkan dengan sang istri.


"Hei, apa yang kau lakukan berdirilah, aku tidak akan menghalangi hubungan kalian, hanya saja berhati-hatilah ... kau tau sendiri kalau Larenia masih muda jangan sampai dia hamil sebelum usianya dua puluh lima tahun, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya, aku minta kau mengerti maksudku Navier."


***


Alexsander Grup.


"Wah perusahaan ini sangat besar jauh dari perkiraanku sebelumnya dan sangat luas, aku sangat beruntung bisa di terima di sini. Pasti Navier nanti akan sangat bangga dengan pencapaianku." guman Amanda terseyum kala mengingat pacarnya yang dua tahun lalu ia tinggalkan gara-gara tumpukan utang yang ia pinjam dari renternir dan  terus di tagih berkali-kali, Amanda jelas tidak punya uang untuk membayar mereka karena saat itu ia masih kuliah dan bekerja sebagai karyawan toko yang hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sekarang itu sudah lunas semua dan kehidupan Amanda sudah lebih baik dari sebelumnya.


Amanda mendekati seorang wanita yang berada di lobi perusahaan itu, atau lebih tepatnya pusat informasi.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya pegawai yang tenagah berjaga itu dengan ramah.


"Begini, saya Amanda pegawai baru di sini, apa bisa saya tanya bagian personalia itu ada di lantai berapa."


"Nona Amanda yah, silakan ikut dengan saya Nona, akan saya antar."


"Terima kasih." Ucap Amanda berterima kasih atas kebaikan pegawai itu kepada dirinya dan memperlakukanya sangat sopan.


Tiba di lantai 19.


Pegawai itu membawa Amanda ke ruangan direktur personalia.


"Silakan masuk Nona, Tuan Direktru sudah menunggu kedatangan Anda, saya ijin pamit juga."


"Iya, baiklah terima kasih."


Pegawai itu mengangguk menjawab perkataan Amanda yang begitu ramah sangat jauh berbeda dengan pegawai baru sebelumnya, sombong dan angkuh.


Amanda masuk kedalam ruangan Direktur dengan sangat pelan wanita mendorong pintu itu dan masuk.


"Kau sudah datang, duduklah." ucap seseorang dari balik kursi yang membelakangi meja.


"Iya Pak,"


"Kau pasti Amanda."


"Iya bapakbenar, saya adalah Amanda."


"Ahh, baiklah begini saja ... mulai hari ini kau akan menjadi salah satu asisten baru yang akan membantu setiap pekerjaan di bagian personalia, selamat bekerja Nona Amanda." ucap Loren memutar kursi menghadap Amanda.


"Semoga saya bisa bermanfaat bagi perusahaan sebesar ini, terima kasih Pak."


Loren mengangguk pelan, tiba-tiba suara deringan ponselnya berbunyi.


"Panggilan luar negeri." Gumannya menyengir. Ia tau siapa orang menghubunginya dengan panggilan dari luar negeri siapa lagi kalau bukan putra satu-satunya yaitu Justin.


"Justin."


Loren melirik kearah Amanda yang masih berada di sana, "Maaf Nona Amanda, apa boleh anda memberikan waktu privat." ucap Loren .


"Ahh, maaf Pak saya akan pamit."


.


.


.


.


Maaf yah telat, aku baru nulis sore ini, Cuma sanggup satu eps. Soalnya udah ngantuk.🚶‍♂🚶‍♂


Baby Don't Worry.