The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Berpura-pura."



Pukul sepuluh pagi, Larenia yang masih berada di alam mimpi tidak menyadari jika dirinya sudah berpindah ke tempat tidur. Navier sebagai suami siaga selalu berada di sisi istrinya bahkan saat ponsel Larenia berbunyi tadi dia sendiri yang mengangkat panggilan dari Louis yang menanyakan kabar putrinya.


Navier memperlakukan Larenia layaknya sebuah berlian berharga, ia tidak berani menyentuh istrinya saat tertidur karena kelelahan seperti itu, yang menjadi penyebab utama Larenia kelelahan adalah dirinya sendiri.


Sebuah kecupan Navier berikan kepada Larenia, jiwa lelaki itu seakan sudah berada di bawa kendali gadis cantik yang berhasil mencuri hatinya hanya dalam sekejap, Navier sungguh bersyukur telah menikah dengan Larenia walau ia tau jika istrinya sama sekali belum merasakan perasaannya.


Setengah jam berlalu, Larenia membuka mata secara perlahan, gadis itu mencoba mengumpulkan kesadarannya, rasa haus membuat dirinya terpaksa terbangun namun sebelum beranjak bangkit dari tempat tidur, sejenak ia terdiam mengingat bahwa dirinya tidak tertidur atas kasur melainkan di bat mandi, tapi apa yang sekarang ia lihat bukannya seharusnya ia berada di dalam kamar mandi bukan di atas kasur dan sudah mengenakan pakaian.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Larenia bergumam begitu bingung, ia mengaruk kepalanya mencoba mengingat siapa tau dirinya berjalan ke sini dalam keadaan setengah sadar tadi, namun meskipun ia mencoba tapi ia tidak mengingat apa-apa selain, ia tadi tertidur lelap di dalam bat mandi yang berisi air hangat.


"Siapa yang memindahkanku dan memakaikanku pakaian? Tidak mungkin Lelaki itu lagi." ucapnya bergerutu kesal. Ia menatap ke segala arah mencoba mencari keberadaan suaminya.


"Orang itu pergi kemana? Apa dia belum kembali juga, kalau dia belum kembali dari tadi terus siapa yang memindahkanku kemari?"


"Ya Tuhan ... Tidak mungkin!" ucapnya tiba-tiba khawatir jika dirinya sudah di lecehkan oleh orang tidak di kenal. Sesaat gadis itu memeriksa tubuhnya sendiri apa benar dugaanya atau salah.


Larenia sesaat terdiam, bernapas lega setelah memeriksa tubuhnya yang tampak baik-baik saja, ia melirik kerarah pintu yang ternyata tertutup rapat dan mungkin dugaannya salah.


"Apa yang terjadi, kemana Navier?" ucapnya terdengar khawatir, ia ingin jika Navier berada di sisinya sekarang, namun ia tidak tau pergi kemana suaminya itu.


Larenia mencoba berdiri dari tempat tidur karena tidak mendapati suaminya, rencana selanjut Larenia, ia akan mengemas pakaiannya dan segara pulang kerumahnya menemui kedua orangnya, ingin mengadukan suaminya itu.


"Suami tidak berperasaan, benar-benar kurang ajar, awas saja ... jika dia mencariku setelah meninggalkan diriku di sini sendirian setelah ia mendapatkan yang ia inginkan." pikirnya seperti itu.


Pintu kamar terbuka, Larenia lantas menoleh kearah pintu, di sana terlihat suaminya membawa dua piring berisi makanan. Wajah lelaki itu terlihat senang seutas senyuman manis terukir diwajah tampannya.


"Kau sudah bangun, Sayang ... Apa yang sedang kau lakukan." tegur Navier melangkah masuk kedalam.


"Dia masih ada di sini rupanya, gagal sudah rencanaku." batin Larenia membuang napas pelan, disisi lain ia merasa lega juga.


Tidak ada sahutan, Navier hanya tersenyum pedih, sepertinya ia membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkan hati istrinya itu. Lelaki itu meletakkan piring berisi makanan di atas meja, tadi ia mendatangi restoran didalam hotel untuk memesan sarapan untuk dirinya dan istrinya.


"Oh iya, Sayang ... Ayahku ingin kita berkunjung setelah pulang dari hotel, katanya ada hadiah yang ia siapkan untukmu."


"Setelah makan sarapan kita pulang yah ...." ujar Navier.


"Hum ...." Larenia hanya berdeham menyahutinya.


Sungguh menyiksa bagi Navier, semalam ia pikir setelah ia meniduri istrinya Larenia akan mau menerima dirinya namun nyatanya malah sebaliknya, gadis itu makin jarang mengeluarkan suaranya dan malah sibuk merapikan pakaiannya sendiri.


"Apa aku seburuk itu didalam pikiranmu." guman Navier merasa sakit hati.


***


Kedua pasangan suami istri itu baru saja sampai di sebuah rumah mewah, tidak ada obrolan atau kemesraan diantara keduanya.


Larenia keluar dari mobil begitu mobil itu berhenti, ia berusaha menghindari Navier bagaimanapun caranya, karena sepanjang perjalanan tadi suaminya itu terus berbicara kepadanya dan tentu saja Larenia tidak membalasnya sama sekali, sikap dingin yang biasanya ia tujukan kepada orang asing ia tujukan juga untuk suaminya itu, walau terkadang Larenia merasa tidak tega tapi ia memantapkan hatinya untuk tetap kosong.


Larenia pernah mendengar beberapa cerita dari para teman-teman seumurannya jika awal pernikahan itu memang manis, tapi seiring berjalannya waktu pasti akan ada perubahan dari salah satu pasangannya hingga akhir salah paham dan bercerai, yang tersakiti akhirnya adalah sang perempuan.


Apalagi jika seseorang sangat mencintai pasangannya. Larenia tidak mau merasakan rasa sakit hati, maka dari itu selama ini ia tidak pernah membuka hatinya untuk siapapun.


"Semua lelaki sama saja, pasti ia hanya menginginkan keuntungan dariku setelah itu aku akan di tinggalkan." batin Larenia, ia melangkah cepat meninggalkan Navier yang baru saja ingin meraih tangannya.


"Larenia ... Tunggu aku sayang." panggil Navier.


"Kau sendiri jalannya lama sekali, berhenti memanggilku." ketusnya begitu dingin.


"Apa salahku kepadamu? Kenapa sangat sulit mendapatkan hatimu?" tanya Navier dalam hatinya, istrinya sudah sampai di depan pintu, ia pun segara menyusulnya.


____


Sekarang ini Larenia dan Navier terpaksa harus duduk berdampingan, karena Effendy ingin mengambil foto keduanya, Larenia yang menggunakan gaun berwarna abu-abu dan rambut yang sangaja di ikat sebagian menambah kecantikan gadis itu, sedangkan Navier memakai kemeja senada dengan gaun istrinya.


Entah apa rencana Effendy kepada anak dan menantunya.


Setelah melakukan pemotretan Effendy mengajak keduanya untuk bersantai di ruang tamu bersama-sama.


"Nak, apa kalian bahagia?" tanya Effendy mengemgam kedua tangan Larenia.


"Tidak Paman, aku tidak bahagia dengan pernikahan ini." jawabnya dengan jujur, Navier yang mendengar perkataan istrinya hatinya seketika sakit bagikan tertusuk tombak yang tajam.


"Kenapa kau tidak bahagia, Nak ... apa Navier memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Effendy lagi melirik anak angkatnya dengan tajam.


"Bukan seperti itu paman, Larenia hanya belum bisa menerima kenyataan jika sudah menikah dengannya ... andaikan aku tidak menghormati kedua orangtuaku sejak awal aku sudah kabur dari sini Paman." jawab Larenia lagi.


"Dan masalah utama aku tidak bisa membuka hati untuk Navier, karena aku tidak mau merasakan sakit hati saat mencintai seseorang paman."


"Nak, Paman percaya bahwa anak paman akan membuatmu bahagia dan kau tidak akan pernah merasakan sakit hati ... kau tenang saja jika dia menyakitimu paman sendiri yang akan menghukumnya."


"Heh! Paman, aku tidak bisa ... tapi kalian tenang saja aku akan menjalani pernikahan ini sebagaimana seharusnya, tapi satu hal yang tidak akan aku bisa berikan kepada suamiku adalah cinta selebihnya aku akan tetap menjalaninya."


"Tapi Nak, bukankah cinta akan datang seiring berjalannya waktu, kau pasti akan bisa mencintai putraku, apalagi jika kelak kalian memiliki anak, pasti cinta diantara kalian akan semakin dalam."


Larenia tersenyum miring saat mendengar ucapan mertuanya, ia masih menolak memanggil dengan sebutan ayah karena ia hanya punya satu ayah dan satu ibu.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku bisa saja berpura-pura sepanjang hidupku paman, jangan terlalu percaya kepadaku." tutur Larenia dengan penuh keseriusan.


Navier tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, kenyataan pahit harus ia telan mentah-mentah.


"Istriku tidak akan pernah memberikan hatinya untukku." batinnya. Ingin rasanya ia mencari udara segar untuk mentralkan pikirannya yang sudah sangat kacau.


Effendy menatap Larenia dan Navier bergantian, raut wajah pria paruh baya tersebut juga tampak terlihat sedikit sedih, mungkin dirinya sudah salah namun mengingat jika saingannya menyukai menantunya juga Effendy berencana melanjutkan rencananya saja.


.


.


.


.


.


.