The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Orang Lain."



Charles pagi-pagi sekali sudah mendatangi kediaman Bosnya yang tidak lain adalah Navier, sebenarnya mereka mereka sudah saling mengenal satu sama lain jauh sebelum Navier di angkat oleh Effendy sebagai anak, Charles adalah tipe lelaki yang santai dan juga setia kawan. Disaat Navier menemuinya untuk pertama kali setelah sekian lama tidak saling sapa, lelaki itu kaget.


Pasalnya Navier pernah di nyatakan hilang dari tempat pekerjaannya dan beberapa waktu lalu tiba-tiba saja temannya itu menawarkan pekerjaan untuknya dengan gaji yang cukup tinggi, awalnya Charles tidak  mau menerima tawaran Navier namun saat mengingat jika kehidupan keluarganya serba kekurangannya ia pun menerima tawaran Navier dan kini sudah bekerja sebagai asisten pribadi selama satu minggu lebih.


"Apa benar ini alamatnya?" guman Charles saat tiba di rumah mewah bernuansa modern’ Life. Kedua mata Charles menatap kagum rumah itu selain mewah pekerangannya juga sangat luas. Seorang penjaga rumah menghampirinya.


"Maaf, Anda ingin mencari apa Tuan?" tanya pejanga rumah tersebut, Charles menoleh karena kaget ia hampir saja jatuh.


"Ahh, iya ... aku mau mancari alamat, maaf apa boleh aku bertanya?"


"Silakan Tuan."


"Apa benar ini alamat rumah orang yang bernama Navier?" tanya Charles. Penjaga itu mengangguk memberarkan.


"Iya, Tuan ini rumah Tuan Navier dan Nona Larenia, Anda siapa? Ada apa mencari Tuan kami."


"Tidak, aku kesini karena mau menemui Navier."


Setelah itu.Charles di persilahkan masuk, penjaga gerbang rumah itu membukakan gerbang untuk Charles. Saat tiba di dalam Charles tidak henti-hentinya mengagumi rumah mewah tersebut bagaikan mimpi ia bisa menginjakkan kaki di rumah seperti ini. Luas dan ada pelayan.


Seorang perempuan cantik dan berpenampilan formal mendekati Charles.


"Kau siapa?" tanya Jessi dengan tampang wajah datar.


"Maaf tante, aku adalah Charles asisten Tuan Navier dan tujuannku datang kesini untuk menemuinya." Jawab Charles sembari menyinggungkan senyum.


"Oh, aku kira kau adalah orang jahat, ikut denganku." Ujar Jessi.


Charles mengikuti Jessi berjalan menuju kedalam rumah Navier, begitu sampai lelaki itu di persilahkan duduk di sofa oleh Jessi, Navier yang baru saja menuruni tangga bersama dengan istrinya melihat Charles.


"Sayang, aku temui Charles dulu, kau kedapurlah duluan." Ucap Navier kepada istrinya, Larenia menjawah dengan mengangguk pelan.


"Charles, kau sudah datang." sapa Navier dengan ramah sepeti biasa, sebuah senyuman terukir di wajah lelaki itu. Charles yang mendengarnya langsung berdiri.


"Iya Tuan ...." Jawab Charles.


"Panggil sepeti biasa saja, kita adalah teman."


"Hum, baiklah Navier." Sahut Charles sambil tertawa.


"Apa kau sudah sarapan? Ayo sarapan bersama denganku." Ajak Navier, dengan senang hati Charles menyetujui ajakan dari temannya tersebut.


"Beruntung sekali Navier, pasti setiap hari ia hidup bahagia di rumah ini. Apa lagi istrinya sangat cantik." Batin Charles.


Tiba di ruang makan, Navier langsung mengambil tempat duduk di samping Larenia yang sudah sibuk dengan sarapannya tanpa menyadari kehadiran orang lain selain suaminya di sana.


"Charles duduklah." Ucap Navier, karena teman sekaligus asistennya itu hanya berdiri di dan tidak mengambil posisi duduk.


"Charles? Siapa?” tanya Larenia menoleh mengikuti arah pandang dari suaminya.


"Iya ...." sahut Charles pun mulai mengambi posisi duduk di maja makan itu, Larenia tampak tidak sukaa dengan kehadirannya kening istri dari temannya itu berkerut menandakan ketidak sukaannya.


"Navier!" kata gadis itu.


"Tidak, akusudah kenyang. Aku akan berangkat sekarang, kau tidak perlu mengantarku ada bibi Jessi dan lain kali kau jangan mengajak orang lain ke meja makan jika aku ada ... karena aku tidak suka jika ada orang lain." Ucap Larenia langsung berdiri dari sana tidak mengabiskan sarapannya. Tanpa menunggu jawaban dari suaminya gadis itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kita berangkat bersama sayang." Teriak Navier hendak berdiri.


"Aku bilang tidak perlu, kau lanjutkan saja sarapanmu." sahut Larenia dengan tegas dan tanpa bantahan.


Louis, ayahnya mengajarkan agar tidak mengajak orang lain dekat dengannya selain keluarga atau beberapa kenalannya saja. Dan hal semua ajaran dari Ayahnya sudah menjadi mendarah daging kepadanya.


Bisa di katakan jika didikan Louis sebenarnya sangat salah, ia tidak mengajari anaknya sopan santun tapi mengajarinya posesif dan egois, namun walau begitu Larenia bisa berkamuflase pura-pura baik sesuai dengan situasi dan kondisi.


"Seharusnya aku tidak kesini, Navier." ucap Charles kepada temannya, ia tertunduk merasa bersalah.


"Tidak masalah, makanlah sarapanmu." Kata Navier, ia menepuk pundak Charles.


Ia bisa mengerti sikap Larenia seperti ini sudah sering ia rasakan, ternyata bukan hanya dirinya yang mendapatkan-nya orang lain juga sama.


"Navier, apa kau mencintai istrimu. Aku sangat heran kenapa ada gadis bersikap seperti itu, sangat jauh berbeda denganmu."


"Aku bukan hanya mencintainya tapi sangat mencintainya, sikapnya yang tidak baik adalah pesonanya. Awal aku pertama kali bertemu dengannya sudah seperti itu bahkan lebih parah, sekarang perlahan aku merasakan perubahannya. Dia gadis istimewa dan tidak akan tergantikan." Jawab Navier sembari tersenyum. Mengingat hal manis yang mereka lakukan pagi ini.


"Ayo lanjutkan sarapan dulu, nanti kita lanjut bicara." ujar Navier, Charles mengangguk paham.


"Cinta memang buta." guman Charles memandang Navier, entah kenapa ia merasa lelaki yang  berada di hadapannya ini sungguh tidak akan bisa di nasehati jika mengenai istrinya.


***


Larenia tiba di perusahaan Ayahnya, dengan langkah yang santai ia masuk kedalam dan segera menuju defisi personalia. Ia di tempatkan di sana sesuai dengan perintah dari Louis dan ternyata yang menjadi direktur di defisi itu adalah pamannya sendiri yaitu Loren.


Larenia terseyum kecut saat berpapasan dengan pamannya, ia tidak membenci Loren hanya sajaa


Larenia tidak begitu suka kepada pamannya tersebut.


Loren sendiri sudah tau jika Larenia menyembunyikan identitasnya saat di sini  dan mengangganti nama menjadi Liliana.


Satu pegawai lain menatap curiga Larenia, karena dari tadi gadis itu menatap Loren dengan sangat tajam. Pertemuan pagi-pagi seperni ini rutin di lakukan agar bisa membangun keakraban satu sama lain dan Larenia justru tidak suka.


Sebagai pegawai baru, Larenia harus memperkenalkan dirinya kepada seluruh satu defisi dengannya. Setelah itu mereka kembali ke meja masing-masing.


"Pekerjaan yang membosankan, huh ... daddy ini maunya apa sih, katanya bekerja itu enak, ini enak dari mana. Seharian penuh hanya memandang layar komputer dan mengerjakan laporan, huh menyebalkan."


Larenia terus mengeluh tiada henti, ia benar sudah bosan tidak ada hal menyenangkan. Mungkin jika ia bisa pergi sekarang ia akan memilih ketempat suami atau menemui Robby.


.


.


.


.


🚶‍♂🚶‍♂🚶‍♂