
Pagi-pagi Larenia sudah bangun dan segera mandi membersihkan diri, hari yang terasa aneh walau dulu ia pernah bangun sendirian namun kali ini rasanya sangat berbeda. Hatinya terasa sepi dan berat tanpa di temani oleh suaminya.
Setelah mandi Larenia memakai pakaian dan berdandan sedikit, ia tidak mau jika kedua orangtuanya melihat wajah pucatnya karena menangis semalaman merindukan suaminya.
***
Jam menunjukkan pukul 12.00 siang, Larenia tidak melakukan rutinitas apa-apa selama di rumah kedua orang tuanya, ibunya sangat sibuk sementara kedua adiknya kuliah dan sekolah. Sejujurnya Larenia juga ingin melanjutkan pendidikan namun semua telah berlalu walau masih ada kesempatan namun wanita itu berpikir akan menjalani hidupnya bagaimana takdir menuntun jalan masa depannya.
Bersama dengan anak-anaknya kelak dan juga suaminya, Larenia ingin hidup bahagia seperti kedua orangtuanya. Larenia duduk di sebuah ayunan besi di halaman rumah kedua orangtuanya.
Pemandangan yang di dominasi warna hijau seketika menyejukkan hati dan menenangkan pikirannya yang kacau. Siapa sangka jika keburukan suaminya terungkap di depan ayahnya secepat ini. Larenia bahkan berpikir akan merahasiakan itu namun nyatanya terjadi sesuatu keadaan yang tidak terduga.
Larenia memejamkan mata sambil mengelus perutnya tidak terasa kandungannya sudah berusia enam bulan dan Larenia sudah bisa merasakan gerakan-gerakan kecil anaknya. Sesekali wanita itu tersenyum andai saja saat ini Navier berada di sampingnya pasti kebahagiaannya akan lengkap.
"Apa yang kau lakukan di sana." seseorang menegur Larenia yang tengah bersantai.
"Dad, kapan pulang?" Larenia langsung turun dari ayunan itu saat melihat ayahnya.
"Satu menit yang lalu, ayo masuk, kau tidak boleh berada di luar." ujar Louis dengan penekanan. Larenia hanya bisa menurut ia tidak boleh membuat ayahnya marah dengan melawan. Sebentar lagi dua bulan akan berlalu.
"Apa yang kau lakukan diluar? apa kau tidak merasa dingin, jaga kesehatanmu dan jangan membuat Daddy khawatir."
Larenia mengangguk tanpa menyahut, ia duduk di samping ayahnya selayaknya seorang putri yang berperilaku baik.
"Dad, mau kopi?" tanya Larenia.
"Tidak perlu, daddy buat sendiri, buatanmu tidak enak." jawab Louis jujur lalu berjalan menuju dapur mencari mesin kopi.
"Hah ... Baiklah." Larenia hanya tersenyum kaku, benar kata ayahnya ia masih payah dalam pekerjaan rumah.
"Ini minumlah susu, kau harus menjaga anakmu sendiri, tiga hari lagi kau akan bertemu dengan suamimu sesuai janji Daddy."
Louis datang membawa secangkir kopi untuknya dan segelas susu ibu hamil untuk Larenia.
"Terima kasih, Dad."
Louis tersenyum dan mengelus rambut Larenia, ia sungguh menyayangi anaknya yang satu ini, di bandingkan yang lain Louis tidak rela melihat Larenia menderita lagi, ia bisa mengerti perasaan Larenia saat ini, dulu ia sendiri pernah melakukan kesalahan kenapa tidak memberikan kesempatan kedua untuk Navier.
Louis selalu memantau segalanya, sama seperti Larenia, menantunya itu juga terlihat kacau belakang ini. Perpisahan adalah hal yang menyakitkan.
Louis menghela napas, ia memandang Larenia dengan tatapan hangat.
"Sayang, apa kau merindukannya?" tanya Louis.
"Si-apa?"
"Suamimu? Navier ... apa kau merindukannya?"
"Yang Daddy liat seperti apa? aku merindukannya atau tidak?" tanya Larenia berlirih pelan setelah menghabisikan susunya.
"Maafkan daddy, sayang ... Daddy hanya ingin melindungimu dan kandunganmu, itu saja."
Larenia tersenyum tipis menganggukkan kepala menerima maaf dari ayahnya.
***
Sementara di club, Navier menyibukkan diri demi menghalau kerinduan kepada istrinya. Hukuman berpisah dengan Larenia sudah seperti neraka baginya, andai saja ia tidak membawa Amanda sebagai hadiah untuk istrinya pasti keadaan tidak akan selama seperti ini.
Charles masuk keruangan, melihat kondisi Navier saat ini Charles hanya menggelengkan kepala.
Temannya itu semakin kurus dan tidak terus, bahkan temperamen lelaki itu terkadang buruk.
"Bos, ayo kita makan siang." ajak Charles membawa dua bungkus makan siang untuknya dan Navier.
"Kau tidak perlu mengajakku, makan saja sendiri."
"Hei, ayolah tidak baik melewatkan makan siang, jangan seperti orang bodoh ... bukannya kau akan bertemu dengan istrimu tiga hari lagi." ujar Charles namun Navier hanya diam dan tangan sibuk bermain pulpen.
"Oh iya, tadi Tuan Louis menghubungiku, katanya dua hari mulai sekarang persiapan dirimu baik-baik sepertinya Tuan Louis masih marah kepadamu dan mau menghajarmu lagi." Lanjut Charles.
"Bukan masalah, itu sudah selayaknya aku dapatkan." sahut Navier tanpa minat. Seolah itu sudah sering ia rasakan.
Selama ini selain mendapat hukuman dengan berpisah dengan istrinya, Navier juga mendapat hukuman fisik. Louis adalah pria yang kedua berhasil membuat Navier tidak bisa melawan. bahkan saat dirinya di siksa berkali-kali oleh mertuanya.
Mungkin saja, satu hari sebelum berjumpa istrinya dirinya akan di buat babak belur lagi oleh Louis. Navier pasrah dan lagi pula Amanda sudah mati di tangan Louis hari itu juga.
Nyatanya Louis justru lebih tidak berperasaan dari orang lain, pria berdarah dingin tidak segan membunuh siapapun yang membahayakan nyawa keluarganya.
"Cih, dasar gila." decih Charles menggelengkan kepala. Ia mulai menyantap makanannya sendiri.
"Terserah, jika Larenia melihatmu jelek seperti ini, dia pasti tidak akan ragu meninggalkanmu untuk selamanya, kurus dan jelek."
"Diam!" Navier melempar pas bunga di meja kerjanya, ia kesal mendengar perkataan dari Charles.
"Sial ... sial, arrhhh."
Charles tidak menghiraukan bosnya mulai menggila.
"Aku merindukannya, rasanya aku akan gila jika ini terus berlanjut, Charles! kau tidak tau bagaimana rasanya berpisah dengan istri sendiri dan tidak pernah berjumpa walau sekali saja." teriak Navier menjambak rambutnya sendiri
.
.
.
.