The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Penolakan."



"Louis ... Tolong lepaskan dia." panggil seseorang menghentikan gerakan Louis, sontak ia menoleh dan menghempaskan Navier dengan kasar ketanah.


"Kau? Apa kau mengenal orang ini?" tanya Louis kepada orang tersebut, ia menunjuk Navier dengan tatapan sinis. Orang itu hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya sembari berjalan mendekati Navier untuk membantunya berdiri.


"Tentu saja aku mengenalnya, dia adalah putraku yang pernah kita bicarakan seminggu sebelumnya." Ujaranya, Louis membulatkan mata seakan tidak akan penuturan temannya.


"Effendy ... kau jangan berbohong kepadaku, tidak mungkin sekali jika orang lemah seperti.ini menjadi anakmu dan sejak kapan wajah putra dan ayahnya tidak sama." Louis menyengirkan dahi mentap curiga pria yang hampir seumuran dengannya bergantian memperhatikan Navier dari atas hingga bawa menilai penampilan pria tersebut.


Effendy tersenyum. "Louis dia ini anak angkatku, dia bukan orang lemah hanya saja belum aku latih untuk menjadi kuat, kau tenang saja ... oh iya sampai kapan kita akan berada di sini, apa kau tidak ada niat mengajak kami masuk kedalam rumahmu. Kau pasti sudah tau maksud dan tujuanku datang kesini." Ujar Effendy sambil melirik semua orang-orang yang berada di sana bersamanya.


Louis sejenak berfikir lalu menganggukan kepalanya.


"Baiklah, ayo masuk kedalam." Ajak Louis, ia tidak mungkin hanya berdiri di teras rumahnya adan tidak mengajak para tamu-tamunya masuk kedalam rumahnya, Louis sesekali menatap kearah Navier yang berjalan di sampingnya bersama dengan Effendy.


­­____


Sempainya di dalam rumah, Navier dan Effendy duduk di sofa  sedangkan yang lainnya duduk di kursi-kursi yang lain. Di sana sudah ada Louis dan Zenia yang sebelumnya salah sangka kepada Navier yang ternyata adalah calon menantu mereka sendiri, Louis sudah membicarakan sebelumnya kepada istrinya dan Zenia tentu saja langsung setuju karena suaminya dan orang yang bernama Effendy adalah rekan bisnis terlebih lagi selama bertahun-tahun Effendy sangat baik kepada mereka dan bisa di percaya.


Tentang perjodohan ini pun Louis sendiri yang menginginkannya karena ia tidak mau jika orang yang menikahi putri cantiknya adalah orang sembarangan.


"Louis ... Zenia, sebelumnya aku minta maaf atas kedatangan kami secara mendadak seperti ini, kalian berdua pasti kaget,  terlebih lagi kalian belum mengenal bagaimana wajah Navier putraku." Ucap Effendy.


"Ah ... tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf kepada Navier karena telah menghajarnya tadi." ujar Louis menyesalkan akan kesalahpahaman di antara mereka.


"Tidak apa-apa Tuan, saya bisa memahaminya." Navier tersenyum sambil menggelengkan kepala, dirinya tidak menyangka bahwa perempuan yang menganggu pikirannya belakangan ini ternyata adalah calon istrinya sendiri.


Saat sedang asik berbicang-bincang kedua mata Navier tearahlikan oleh sosok perempuan cantik, terlihat Larenia menuruni tanggga dengan langkah yang begitu santai perempuan itu sudah berbaikan dengan saudaranya setelah pertengkaran mereka beberapa saat lalu. Louis tanpa sengaja melihat anak-anak


"Nia ... Leo kemarilah." Panggil Louis saat melihat kedua anaknya.


"Iya Dad." Sahut Leo mendahului kakaknya.


Larenia yang baru saja tersadar akan panggilan dari Ayahnya lantas menoleh kearahnya wajah yang awalnya tersenyum itu kini berubah menjadi datar, saat tanpa sengaja bertatap muka dengan seorang lelaki yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya.


Larenia dan Leo mendekati kedua orang tuanya dan berdiri di samping mereka, ia membuang napasnya begitu kesal seakan ingin sekali mencaci maki lelaki yang sedarai tadi tidak lepas menatapnya dengan seduh. Louis menoleh kearah Larenia lalu menepuk tempat duduk kosong di sisi kirinya.


"Sayang duduklah, ada yang ingin Dad sampaikan dan kali ini sangat serius untuk masa depanmu kelak sayang." Louis meminta Larenia duduk di sampingnya, ia mengusap wajah putri tercintanya.


"Ada apa Dad? Apa maksudnya dengan masa depan?Bukannya yang menentukan masa depanku itu diriku sendiri." Tanya Larenia memandang Ayah dan ibunya secara bergantian.


"Sayang dengarkan Daddy, kau lihat lelaki di hadapan Daddy bukan dia tampan dan sepertinya sangat cocok denganmu ... Daddy menginginkan kau segera menikah dan membangun suatu hubungan dengan seorang lelaki yang bisa menggantikan Daddy untuk menjagamu Nak." Kata Louis langsung pada intinya.


"Apa?"


Raut wajah Larenia seketika berubah merah, ia sudah bisa menangkap akan maksud dari perkataan dari Ayahnya itu, ia menatap Louis lalu mengalihkan tatapannya sesaat kerarah lelaki yang di maksud oleh Ayahnya yang tidak lain adalah Navier, lelaki yang ia anggap sebagai orang sombong.


"Aku tidak mau!" tolaknya dengan tengas.


"Kenapa sayang?" tanya Zenia keget akan penolakan putrinya.


"Larenia!"


"Dad, jangan mencoba memaksaku lagi, ini sudah kedua kalinya Daddy merencankan sesuatu tanpa memberitahuku sebelumnya." Ujar Larenia dengan kekesalannya.


Effendy yang mendengar penolakan dari putri temannya itu menyegirkan kening, ia mengaruk kepalanya sambil menepuk pelan bahu Navier di sampingnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua sebelumnya? Tidak mungkin Larenia menolakmu jika tanpa alasan?" bisik Effendy di daun telinga Navier. Lelaki muda itu tidak menjawab karena ia masih belum tersadar dari tatapannya sendiri yang sudah beberapa menit lalu terus menatap Larenia.


"Navier ...." panggil Effendy.


"Iya Ayah." Sahutnya saat terbuyar dari lamunannya, ia menoleh menatap Effendy.


"Sudah lupakan saja, kau sebaiknya ajak Larenia berbicara dan jika perlu kau lakukan apa saja agar dia mau menerimamu." Bisiknya, bagaimanapun caranya ia harus menjadikan Larenia sebagai menantunya.


"Apa maksud Ayah? Aku ... aku ...."


"Cepatlah." Desak Effendy karena Larenia sudah berdiri hendak pergi dari ruang tamu.


"Aku tidak bisa ...."


"Jangan membantah, lakukan perintah Ayahmu!" ucap Effenndy denga paksaan, Navier menarik napas berdiri dari tempat duduknya lalu dengan berani meraih tangan Larenia.


"Tuan Louis, apa aku bisa mengajak putri Anda berbicara berdua." Navier memberanikan diri dengan meminta izin kepada Louis dengan tutur kata begitu sopan, Larenia melototkan kedua matanya, ia benar-benar tidak suka di sentuh oleh seorang lelaki yang tidak ia kenal dekat sama sekali, ia sesaat menatap tangannya lalu menghempaskan tangan Navier dengan kasar.


"Kau jangan kurang ajar, jangan berani menyentuhku sembarangan!" bentak Larenia, Navier kembali memegang tangan gadis itu ia tidak peduli akan kemarahan Larenia.


"Larenia yang sopan." Seru Zenia memperingati putrinya, Larenia seketika diam saat mendengar perkataan dari Ibunya.


"Tuan Louis ... Nyonya Zenia, tolong izinkan aku berbicara berdua dengan putri sulung kalian?"


"Lepaskan tanganku." pinta Larenia dengan berbisik.


"Iya ... tentu saja boleh Navier, kami minta tolong kau bujuk dia agar mau menyetujui perjodohan kalian." Jawab Louis menganggukan kepala. Larenia melirik Ayahnya dengan semakin geram bagaimana tidak, sebelumnya Ayahnya itu sangat marah kepada orang yang berani dekat dengannya namun apa yang terjadi sekarang? Ayah dan Ibunya sendiri bahkan malah meminta pertolongan kepada lelaki yang masih memengang tanganya dengan erat.


"Terima kasih Tuan."


"Saya pasti bisa meyakinkan putri Anda untuk mau menyetujui perjodohan ini." Ucap Navier dengan yakin, selanjutnya ia mengajak Larenia untuk keluar dari sana.


.


.


.


.


.