
Malam harinya, Larenia keluar dari kamarnya karena ingin mendatangi Jessi di kamar tamu, terlihat jika gadis itu baru saja selesai mandi karena terlihat sangat segar dan memakai piyama cukup sexy, ia menutupi piyama yang di pakainya sekarang dengan memakai kimono towel berwarna cokelat, Larenia mengeduskan napasnya piyama yang ia pakai sekarang adalah kiriman dari ibunya walau ia tidak suka dengan bentuknya yang sexy.
Saat sedang berjalan menuju ke arah kamar Jessi, seseorang tiba-tiba menegurnya.
"Nona, mau kemana?" tanya Julia dengan sopan saat berpapasan dengan majikannya, bahkan wanita itu membungkukkan kepalanya sebagai tanda sopan santun. Namun sayang Larenia sama sekali tidak menghiraukan dirinya.
"Nona muda." panggil Julia kembali karena tidak mendapat sahutan.
Larenia melirik sekilas dengan senyuman meledek ia tidak menjawab pertanyaan Julia dan melanjutkan langkahnya sengaja menyenggol bahu Julia dengan keras.
"Minggirlah, jangan menghalau jalanku." ucap Larenia menghina Julia, sungguh tidak berperasaan Yah memang seperti itulah sikap aslinya.
"Maafkan saya Nona." sahut Julia sembari memegang bahunya yang sakit karena senggolan dari Larenia kepadanya, majikannya itu kembali acuh tidak acuh dan melipat kedua tangan di atas dada sombong menuju kamar tamu.
Julia mengangkat wajah memperhatikan langkah gadis muda itu dari belakang, sungguh terlihat sangat menggoda pantas saja Tuannya yang playboy itu suka kepada Larenia karena bentuk tubuhnya sangat indah.
"Tuan Mikel, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu, gadis itu sangat sombong dan juga begitu angkuh." guman Julia merasa jika tugasnya sangatlah sulit karena majikannya itu bukan gadis biasa yang lemah dan mudah tersinggung.
***
Jessi membuka pintu saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, wanita tiga puluh tahun tersebut tersenyum ramah kepada majikannya, entah apa yang ingin di sampaikan oleh Larenia kepadanya.
"Ada apa Nona malam-malam begini menemuiku?" tanya Jessi dengan nada sopan.
"Ah tidak, aku hanya mau melihat apa kau merasa nyaman tinggal di sini atau tidak, jika tidak suka aku akan melaporkan kepada Daddy untuk menyuruhmu tinggal di hotel dekat dari sini."
"Apa kau nyaman?" tanya Larenia lagi.
"Saya nyaman Nona, tidak perlu Anda menghubungi Tuan besar, saya sangat nyaman berada di sini." jawab Jessi, raut wajah terlihat tidak berbohong dan menandakan keseriusan di dalamnya.
"Ada apa Nona datang kemari?" tanya Jessi menyengir.
"Aku hanya mau memastikan keadaanmu saja." ucap Larenia.
"Aku mau kembali ke kamarku ... selamat malam bibi semoga kau betah tinggal di sini, oh iya ... suamiku sudah menungguku kau jangan berani mengganggu." ucap Larenia dengan penuh tekanan mengarahkan jari telunjuk kearah Jessi seakan ia mengancamnya.
"Iya, Nona saya tidak akan mengganggu, selamat malam semoga Nona selalu bahagia bersama dengan Tuan muda." balas Jessi, Larenia meliriknya dengan biasa saja tanpa ekspresi namun kedua tangan gadis itu terkepal.
"Tentu saja aku akan bahagia, bilang saja bibi iri, karena sampai sekarang masih belum mendapatkan pasangan hidup." ucapnya dengan raut wajah mengejek Jessi, kembali Larenia tersenyum sinis kepada pengawalnya itu, tentu saja gadis itu agak. merasa risih dengan kehadiran Jessi di rumahnya apa lagi pengawalnya itu belum menikah. Larenia takut jika suaminya itu di rebut oleh Jessi jangan sampai.
Mulut Jessi mengangan mendengar ejekan dari Larenia, dirinya memang masih sendiri bukan berarti ia iri dengan Nona mudanya itu yang sudah menikah.
"Apa yang gadis ini katakan sombong sekali, kenapa dia begitu menyebalkan sama seperti Tuan Louis ." umpat Jessi dalam hati, jika saja orang lain yang berkata seperti terhadapnya Jessi sudah pasti memarahinya, namun Larenia adalah anak dari pria yang kejam ia tidak berani menyahuti perkataan Larenia, sekalipun mungkin jika dirinya di perlakuan lebih parah lagi tetap Jessi tidak bisa marah atau membalasnya.
"Tidak Nona, selamat malam."
"Yah sudah, aku kembali ke kamarku dan besok pagi Bibi Jessi tidak perlu repot mengantarku ke perusahaan Daddy, aku akan datang bersama dengan suamiku besok." ucapnya setelah itu Larenia segara keluar dari kamar Jessi dan kembali ke kamarnya karena Navier pasti sudah menunggunya.
^^^
Keesokan paginya, Larenia meregangkan tubuhnya baru bangun, aktivitas melelahkan dengan suaminya tadi malam membuat tubuhnya remuk dan pakaianya masih berceceran di lantai.
Tubuhnya yang telanjang hanya berbalut selimut, Larenia melirik ke samping ternyata suaminya juga masih tidur dan mungkin masih kelelahan.
"Navier, bangun." ucap Larenia mengguncang bahu suaminya dengan pelan berharap lelaki itu segera membuka matanya.
Tidak lama kemudian lelaki itu membuka matanya dan langsung tersenyum hangat kepada wanita yang ia lihat saat bangun tidur.
"Kau sudah bangun sayang." ucap Navier dengan senyumannya.
"Mandilah duluan aku mau kebawa mengambil air putih." ucap Larenia mengambil pakaian satu persatu dan memakainya.
"Baiklah sayang, terima kasih." ucapnya ikut berdiri dan mendekati istrinya lalu mencium kening wanita tersebut.
.
.
.
.