The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Tamparan."



Pagi berikutnya, Larenia bersiap untuk menuju kantor ayahnya, seperti hari biasa ia akan di antar oleh bibi Jessi dan Navier sudah berangkat sendiri menuju Club sebelum Larenia bangun dari tidurnya.


"Nona, apa Anda sudah siap?" tanya Jessi berdiri di luar pintu kamar Larenia. Tidak lama setelah itu pintu kamar pun terbuka, Larenia sudah rapi dengan penampilannya yang beda jika hanya berada di rumah.


"Sudah bibi, ayo berangkat." Ajak Larenia.


"Silakan berjalan duluan Nona, saya akan berada di belakang Nona." ujar Jessi tersenyum. Setidaknya majikannya ini mulai berubah.


Larenia mengangguk lalu berjalan mendahului Jessi, tiba di mobil langkah Larenia dihentikan oleh kehadiran kakek Jeffry yang tiba-tiba berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang dengan Ken bersamanya.


"Kakek ...." kata Larenia pelan, lalu tersenyum kecil kepada kakeknya tersebut.


"Tuan Besar." ucap Jessi dan membungkuk.


"Kau mau kemana berpenampilan jelek seperti ini?" tanya Jeffry mendekati cucunya.


Larenia mengerut, penampilannya di bilang jelek oleh kakeknya. Bagian mana penampilan gadis itu yang jelek jelas-jelas dia selalu cantik setiap harinya.


"Siapa yang jelek ... Larenia cantik gini di bilang jelek." ucapnya kesal membuang muka ke arah lain.


"Yang bilang cucu kesayanganku ini jelek siapa? Kakek hanya bilang kalau penampilanmu ini bukan seperti gayamu sayang? Sebenarnya kau mau kemana?" tanya Jeffry.


"Oh ... Larenia mau ke perusahaan Daddy, mau bekerja." jawabnya singkat. Larenia merapikan anak rambutnya yang tampa sengaja jatuh.


"Bekerja? Daddymu itu menyuruhmu bekerja, apa dia sudah gila."


"Kenapa kakek?" tanya Larenia.


"Kau tidak bo-"


"Nona, beberapa menit lagi Anda akan terlambat." Jessi tiba-tiba menyela percakapan keduanya.


"Ahh, sial ... baiklah, Kakek Larenia mau berangkat dulu, sampai jumpa." pamit Larenia segera, ia akan menghindari pertanyaan kakeknya karena semakin lama pasti percakapan mereka tidak akan ada habisnya.


Dengan cepat Larenia masuk kedalam mobil di susul oleh Jessi yang akan menjadi sopirnya. Sementara Jeffry memerintah Ken untuk mencari informasi mengenai cucunya. Bukan hanya perihal apa pekerjaannya di perusahaan Louis namun termasuk kegiatan apa saja yang selalu di lakukan oleh cucu perempuanya itu yang ada sangkut pautnya dengan geng El Salvador selama ini.


***


"Ikut denganku sebentar."


"Kemana?"


"Ikut saja, jangan membantah." ucap Mikel, kebetulan ia berkunjung ke perusahaan Louis dan bertemu dengan Larenia wanita yang ia cintai di sana jangan tanya betapa senang dirinya.


"Iya aku tau, tapi aku tidak peduli."


Kembali Mikel menarik pergelangan tangan Larenia dengan paksa ia akan membawa Larenianya ke tempat yang sepi dan memeluknya. Namun belum sampai tiga langkah Larenia menolak lagi dan lagi sampai gadis itu terpaksa memelintir tangan Mikel yang sudah begitu berani menyetuhnya dan sebelum itu ia menendang Mikel hingga pria itu tidak sempat menghindar.


"Aku sudah berkata lepaskan! Yah lepaskan ... jangan coba mau memaksaku." bentak Larenia, sifat buruknya keluar ia menatap Mikel dengan tatapan penuh dengan kemarahan. Suaranya yang mengelegar itu mengundang perhatian orang-orang.


"Jangan ribut La-" ucap Mikel terhenti kala Amanda langsung membantunya berdiri.


Amanda yang berlagak seperti pahlawan mendekati Mikel yang meringis kesekitan akibat perbuatan Larenia, siapa yang menyangka gadis muda itu begitu kejam kepada seorang lelaki dan bukan hanya itu Mikel adalah salah satu tamu penting mereka.


"Maaf Tuan, saya belum mengajarkan sopan santun kepada bawahan saya." ucap Amanda kepada Mikel, sementara Larenia melipat kedua tanganya di atas dada tersenyum sinis namun mata birunya menatap dinging kepada Mikel, seakan kebenciannya begitu dalam kepada lelaki itu.


Setelah meminta maaf Amanda berjalan mendekati Larenia, ia sudah mendengar beberapa keluhan dari beberapa pegawai yang ada di sana.


Plak!


"Jangan berlaku seenaknya di sini, kau bukan siapa, jaga sikapmu jangan mempermalukan nama baik perusahaan." ucap Amanda setelah memberi tamparan cukup keras kepada Larenia.


Gadis itu justru hanya mengelus pipinya yang masih panas bekas tamparan dari atasan barunya, ia melirik Mikel yang hanya mematung di sana kaget.


"Memang siapa kau, beraninya kau menamparku!" kata Larenia mencoba mengontrol emosinya agar tidak keluar, ia mengepalkan kedua tangannya, ia masih membatasi dirinya agar tidak melukai seorang perempuan sama seperti dirinya.


"Hahah, dengarlah siapa yang bicara. Gadis ini bertanya siapa diriku ... konyol sekali." Amanda begitu sombong, ia kembali hendak menampar Larenia untuk kedua kalinya namun segera di cegah oleh seorang pria yang kini menapanya dengan geram.


"Apa yang kau lakukan! Jangan menyentuhnya walau sehai rambut ... atau aku akan menghabisimu." katanya menghempaskan tangan Amanda dengan geram, lalu berbalik menghadap Larenia.


"Paman Juan." Lirih Larenia melihat pamannya ada di sini.


"Kau tidak apa-apa sayang, ayo kita menemui Daddymu supaya dia tau kalau anak kesayangannya di tampar oleh seorang wanita murahan."


"Jangan, Daddy tidak perlu tau paman ... dan ini semua gara-gara pria itu." ucap Larenia menunjuk Mikel, wajahnya yang sedikit membengkak perlu di berikan salep untuk menghilangkan bekas itu.


"Iya aku tau, ayo kita kemobil." Ajak Juan, ia merangkul bahu Larenia dan membubarkan kerumunan tersebut.


Gosip-gosip miring tentang Larenia dan lelaki yang menolongnya mulai terdengar dan di tambah masalah yang di perbuat olehnya. Semakin banyak pegawai tidak suka dengannya.


.


.


.