
"Larenia sayang apa kau baik-baik saja?" tanya Juan meliha Larenia hanya terdiam, mereka berada di dalam mobil Juan.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja ... ini pertama kalinya ada orang berani menampar wajahku, tapi paman tenang saja aku akan membalas perbuatanya cepat atau lambat." Jawab Larenia ia terseyum miring memikirkan pembalasannya kepada wanita itu.
Juan mengambil sebuah salep dan memberikan kepada keponakannya itu untuk menghilangkan bekas tamparan di wajah cantik Larenia.
"Pakailah salep ini, andai saja paman tidak telambat pasti kau tidak akan di tampar oleh wanita murahan itu, cih sungguh paman ingin sekali membunuhnya atau melaporkan kepada Daddymu, tapi kau mencegah paman ... sial."
"Heh, jangan di pikirkan, Daddy akan tau sendiri nanti dan untuk hari ini terima kasih paman telah membawaku, oh iya apa paman bisa mengantarku ke tempat Navier." ucap Larenia setelah mengambil salep itu dari tangan Juan dan segera mengoleskan ke wajahnya.
"Tentu saja bisa, apa yang tidak untuk keponakanku ini." ujar Juan setuju lalu menyalakan mesin mobilnya.
****
Sementara itu, Navier di kejutkan dengan kehadiran Karenia yang berada di club miliknya dan tengah bersenang-senang dengan beberapa teman-teman seusianya, lelaki itu bertanya-tanya apa Karenia kembali bersama kakaknya tau hanya sendirian di kota ini, dengan langkah ragu-ragu Navier mendekati Karenia di sana.
Ia sesekali menghela napas, bagaimana jika mantan pacarnya benar-benar sudah kembali, apa yang harus Navier katakan kepada wanita yang pernah mengisi hatinya itu. Lamunanya terbuyar kala mendegar suara seseorang memanggil namanya.
"Kakak Navier." seru Karenia tanpa sengaja melihat Navier calon kakak iparnya, wow penampilan lelaki itu berubah drastis, sangat jauh dari beberapa tahun lalu.
"Ahh, Hai Karenia." Lirih Navier tersenyum kaku kearah Karenia, adik dari Amanda mantan pacarnya yang beberapa tahun lalu meninggalkannya pergi keluar negeri.
"Dia siapa Karen?" tanya salah satu teman wanita Karenia dan menatap Navier dengan penasaran, lelaki yang berada di hadapannya sangat tampan dan terlihat tajir.
"Oh, perkenalkan dia Kakak Navier pacar kakakku Amanda dan calon kakak iparku." ucap Karenia memperkenalkan Navier dengan bangga sebagai calon kakak iparnya.
"Wahh, Kakakmu Amanda sangat beruntung, pacarnya tampan sekali ... aku jadi iri." Kata teman Karenia menatapnya dengan iri. Pikiran mereka betapa beruntung Amanda itu bisa mendapat pacar setampan Navier dan kaya tentunya.
"Kanapa kau berkata seperti itu Karenia?" tanya Navier segera menyela percakapan mereka, ini tidak benar ia sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan Amanda mantan pacarnya. Sekarang hanya ada nama istrinya saja dan tidak ada yang lain.
"Kakak ipar, kau dan kakakku akan menikah bukan, jadi sudah sepantasnya aku memperkenalkanmu, gak apa-apakan?"
"Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, hubunganku dengan kakakmu sudah berakhir ketika dia pergi tanpa kabar, tolong jaga sikapmu dan jangan berkata seperti itu lagi lain kali ... kalau begitu saya pamit bersenang-senanglah sampai puas, untuk kau dan teman-temanmu semua minuman hari ini gratis, saya masih mempunyai banyak perkerjaan."
"Tapi kakak ipar ...."
"Aku bukan kakak iparmu dan tidak akan pernah menjadi kakak iparmu!"
"Kakakku mencarimu semenjak kembali kesini, Kak Amanda sangat mencintaimu Kakak ipar ... sebenarnya kau kenapa?"
"Untuk apa Amanda kembali bukannya dia tergila-gila dengan karirnya dan meninggalkanku di sini sendiri berjuang! Katakan kepadanya jangan pernah muncul di hadapanku atau mencari keberadaanku, aku sudah tidak peduli kepadanya." ujar Navier dengan nada suara sinis, tidak banyak yang tau jika tempramen Navier cukup pemarah di luar semua sikap lembutnya selama ini.
Navier berlalu setelah tidak mendapat jawaban dari Karenia,
Setelah mengatakan itu Navier merasa lega dan beranjak segera pergi dari sana, belum satu langkah ia tiba-tiba di kagetkan kehadiaran istrinya berada di ambang pintu entah sejak kapan istrinya itu ada di sana, apa Larenia mendengar semuanya atau tidak. Oh jangan sampai istrinya mendengar semuanya mereka baru saja menjalani kehidupan pasangan saling mencintai .
"Sayang ...." lirih Navier, Larenia perlahan mendekatinya dengan kedua tangan di lipat di atas perutnya.
"Apa Larenia mendengar segalanya?" batin Navier bergejolak, jangan sampai istrinya salah paham.
"Siapa yang mengantarmu kesini? Kenapa tidak menghubungiku agar aku bisa menjemputmu."
"Aku datang di antar sama paman Juan." jawab Larenia singkat.
"Sudah pulang, Navier bisa kau siapkan wine aku sangat pusing?" ucap gadis itu tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat, terdengar ada beban di nada suara istrinya.
"Humm, baiklah sayang tapi jangan di sini kita kedalam saja."
Larenia menganggguk malas, ia mengandeng tangan suaminya melirik gadis-gadis seusianya itu dengan tajam seakan memberi peringatan jika Navier hanya miliknya.
Ruangan Navier.
Charles membawakan wine jenis cheval blanc 1947 yang berasal dari prancis, yang harga untuk setiap botol 304,000 dollar AS. Charles melatakkan wine itu dengan hati-hari di atas meja, ia takut dengan tatapan Larenia yang menusuk sungguh menyeramkan.
"Silakan di nikmati Nona." kata Charles dengan sopan, Larenia mengangguk menyahuti perkataan Charles namun menyadari tidak ada gelas kepala Larenia kembali melihat Charels.
"Dimana gelasnya? Apa kau menyuruhnku minum wine ini langsung dari botolnya?" tanya Larenia menujuk wine tersebut.
"Maaf Nona ... Tunggu sebentar Nona saya lupa mengambilnya." jawab Charles gugup, istri temannya ini benar-benar seperti monster.
"Tidak perlu Charles, kau keluarlah dan kerjakan kembali pekerjaanmu, tinggalkan kami berdua saja dan jangan biarkan siapapun masuk mengangguku." sela Navier, di kedua tangannya sudah ada dua gelas dan ia duduk di samping Larenia.
"Kau kenapa sayang?" tanya Navier sambil membuka penutup botol wine tersebut, lalu
menuangkan ke gelas Larenia.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin minum saja." jawab Larenia meraih gelas wine itu, ia tidak mau membebani suaminya dengan masalahnya kali ini, apalagi nama orang yang membuatnya marah adalah Amanda yang namanya sama dengan nama mantan dari suaminya itu.
Larenia meneguknya, sangat manis dan rasanyan yang sangat khas, Larenia sangat suka.
"Sayang ...."
"Iya ada apa?" tanya Larenia menoleh kearah Navier.
"Apa kau mendengar semuanya tadi?" tanya Navier pelan-pelan.
"Iya, memang kenapa apa kau tidak suka"
"Bukan, tapi aku takut kau salah paham."
"Salah paham? Tentang apa? Masalah mantan pacarmu yang sudah kembali tau masalah sebutan kakak ipar tadi dari gadis itu?"
Navier mengangguk, takut jika Larenia sampai salah paham. Ia tidak mau hubungannya tengan istrinya kembali bermasalah. Tanpa di duga Larenia tiba-tiba mencium bibirnya seraya menggoda sang suami.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja." ucap Larenia mengedipkan satu mata terseyum genit kepada Navier.
.
.
.
.