
Jessi baru saja sampai di kediaman Bosnya, tadi ia tadinya hendak mengambil cuti libur seketika dibatalkan tak kala Bosnya itu menelpon dan memintanya untuk datang kerumahnya untuk menjaga anak-anaknya. Dengan langkah yang sedikit cepat Jessi segera memasuki rumah mewah tersebut terlihat ada beberapa tamu undangan dan juga para maid yang berdiri menghiasi sudut-sudut ruangan dengan seragam yang senada.
Kedua mata Jessi mencari keberadaan Louis atau Bosnya, ia harus segara menemuinya untuk tau tugas-tugas apa saja yang harus ia laksanakan kali ini. Terlihat Louis dan Zenia berada di balkon rumah ada Lyra juga di sana karena hanya anak bungsu pasangan itu saja yang kini masih betah akan perayaan orang tuannya. Jessi yang baru melihatnya langsung menaiki tangga rumah pakaiannya yang formal menggunakan Jas dan juga celana supaya dalam bekerja sebagai pengawal dirinya lebih mudah bergerak.
Lyra tersenyum begitu melihat Jessi menyapanya terlebih dahulu dengan ramah karena pasalnya Lyra memang seperti itu berbeda dengan Larenia yang jutek.
"Bibi Jessi ... kapan Bibi sampai disini?" tanya Lyra begitu sopan.
"Baru saja sayang, oh iya Kakakmu ada dimana?" sahut Jessi sembari menanyakan keberadaan Larenia.
"Kakak, sepertinya ada di kamar ... mau Lyra panggilkan Bi ...." ucapnya begitu sopan membuat hati Jessi langsung terenyuh mendengar penuturan gadis mungil tersebut.
"Tidak perlu, biarkan bibi saja sayang." Tolak Jessi mana mungkin ia mau menyetujui tawaran Lyra bisa di pecat dirinya oleh Louis jika ketahuan.
"Oh iya sayang, Daddy dan Mommymu kemana? Tadi bibi liat mereka masih ada disini?" tanya jessi kembali, ia tadi melihat kedua majikannya itu namun begitu dirinya sampai di balkon keduanya sudah tidak ada di tempatnya tadi berdiri.
"Kata Daddy, ia ingin istirahat sebentar dan tidak mau di ganggu, Bibi ... Lyra kebawa dulu mau cari makanan, perut Lyra lapar." Pamitnya, Jessi menganggukkan kepala.
"Tuan sepertinya sibuk dengan Nyonya, sebaiknya aku langsung kekamar Nona muda saja." Pikirnya lalu ia balik badan hendak menuju kamar Larenia yang berada di lantai dua itu, tidak butuh waktu lama Jessi sudah berada di depan pintu kamar Larenia
Jessi mengetuk pintu kamar Larenia sebelum masuk, ia tidak melupakan adab sopan santun sebagai bawahan, tidak mendapat sahutan Jessi akhirnya memutuskan untuk memutar handel pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci, Jessi melangkah pelan-pelan kedua matanya melihat seorang perempuan sedang terbaring diatas kasur dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Jessi berdecak sambil mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur tersebut, salah satu tangannya spontan mengusap wajah cantik anak sulung dari bosnya tersebut.
"Halus sekali, kenapa wajahnya sangat halus seperti ini? Tuan Louis memberikan perawatan kulit apa untuk putrinya ini, bahkan bayi yang baru lahir saja kulitnya tidak sehalus ini." Guman Jessi bingung, kulit Larenia sangat lembut dari perkiraannya dan pantas saja selama ini Louis melarang orang-orang terlalu mengetahui akan putri pertamanya.
Jessi menatap Larenia yang tertidur lelap sambil menunggunya bangun dari tidurnya. Sesekali Jessi menatap setiap sudut ruangan kamar milik Nona mudanya tersebut dengan kagum, perpaduan warna yang sangat extrim namun terlihat elegan.
***
Lain keadaaan terlihat di sebuah gudang tua terbengkalai, Navier bergetar memegang sebuah senjata ditangannya, ia tidak tau cara menggunakan senjata itu karena sebelumnya ia hanyalah seorang penjaga hewan yang di titipkan ke tempatnya sangat jauh berbeda dari keadaaanya sekarang.
"Tuan aku harus apakan benda ini?" tanyannya, menatap takut orang yang panggil dengan sebutan Tuan tersebut.
"Cobalah, perlihatkan jika memang dirimu layak menjadi anak angkatku." Perintahnya.
“Sa-ya ti-dak bi-sa Tuan ... saya tidak tau cara menggunakan senjata ataupun pistol seperti ini." Sahut Navier sambil menelan air liurnya takut.
Pria itu secara tidak sadar melangkah mundur hingga membentur salah satu pengawal yang berdiri di belakangnya, Navier semakin takut nyalinya menciut untuk pertama kalinya, ia tidak pernah merasakan rasa takut yang seperti ini.
"Cobalah Navier, itu hanya pistol biasa kau tinggal menekan dan mengarahkan ke papan itu, kenapa kau tidak bisa bukannya seorang lelaki harus tangguh atau kau mau kembali merasakan neraka." Ucapnya begitu santai sambil menghisap sepuntung rokok.
Sekali tembakan meleset tangan Navier lantas bergetar hebat ini untuk ia melakukan hal seperti ini, mungkin reaksinya memang berlebihan tapi Navier benar-benar takut, ia takut jika dirinya kelak menjadi ahli ia malah menggunakan senjata itu dengan seenaknya sehingga tanpa sengaja melukai orang lain ataupun hewan yang tidak bersalah.
"Maaf Tuan, Sa-ya ti-dak bisa melakukannnya." Ujar Navier menyerahkan pistol itu kembali kepada salah satu pengawal yang ada di sana, namun sebuah penolakan ia dapatkan tiba-tiba saja dirinya mendapatkan hantaman di wajahnya.
"Apa yang bisa kau lakukan! Kenapa kau mau hidup dan menjadi tidak berguna sama sekali, apa kau ingin mati sekarang juga? Cobala sekali lagi jika kali ini kau gagal nyawamu akan melayang." Ancamnya dengan bentakan yang terdengar sangat menakutkan bagi Navier, lelaki itu mengepalkan kedua tangannya ia merasa hanya akan di manfaatkan oleh pria tua kejam itu di masa depan. Namun apa boleh buat dirinya tidak berdaya melawannya karena lihat saja begitu banyak bodyguard di sana, hingga akhirnya Navier menantapkan jiwanya lalu berkata.
"Saya akan mencobanya sekali lagi Tuan, maaf telah membuat Anda marah." Navier yakin.
Ia pun kembali mengambil ancang-ancang menarik napas dalam-dalam sebelum memulai aksinya, ia melirik pria tua tersebut yang kini tersenyum penuh harap kepadanya. Suara tembakan terdengar semua orang terdiam ketengangan mengguncang hati Navier ia seakan berhenti bernapas saat itu karena jika kali ini tembakannya meleset nyawanya akan melayan saat ini juga.
"Apa pelurunya tidak kena?" Guman Navier dalam hati, sesaat kemudian pria tua itu tiba-tiba saja berdiri dan mendekatinya.
"Selamat bergabung Navier Dramino Kenzo ... sekarang kau mempunyai dua mana belakang, aku akan memberimu fasilitas dan menanggung seluruh kebutuhan hidupmu untuk selamanya dan memberimu sebuah club besar di kota ini sebagai kompensasinya."
"Apa maksud dari perkataan Anda Tuan, apa tembakan saya tidak meleset?" tanyanya.
"Kau satu-satunya orang yang cocok untuk aku jadikan anak angkat karena kau, bisa bertahan saat aku menyiksamu kemarin dan kau lelaki hebat tanpa latihan kau bisa mengenai sasaran yang sangat sulit itu ... selamat untukmu Navier."
"Tapi Tuan ...."
"Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan lagi, panggil aku Ayah." Perintahnya.
"Hah!"
"Cepat aku mau mendengarnya." Perintahnya lagi, Navier untuk sesaat menyengir bingung lalu.
"Baik Tu-, maksudku Ayah."
"Anak pintar, persiapkan dirimu untuk dua minggu kedepannya, kita akan bertemu dengan calon istrimu." Ucapnya menepuk bahu Navier, ia sudah berencana untuk menjodohkan Navier dengan anak salah satu dari teman lamanya karena ia tidak pernah menikah apalagi mempunyai anak, jadi ia hanya bisa mengadopsi paksa lelaki yang bernama Navier itu yang sudah sejak lama menjadi incaran balas dendamnya kelak.
.
.
.
.
.