
"Sayang, kita kerumah sakit untuk mengobati luka di lenganmu." Navier memecah keheningan di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya.
Larenia mengangguk pelan, hatinya di gelisah sehingga lupa akan luka di lengannya sendiri. Ia tersenyum tipis kearah suaminya. Larenia sangat suka dengan kelembutan dan perhatian dari suaminya itu.
Sesaat kemudian wajahnya tiba-tiba pucat namun tidak memperlihatkan kepada Navier, ia tidak mau merepotkan suaminya yang terlalu baik itu.
"Terimakasih." batin Larenia melirik suaminya dengan tatapan yang begitu dalam.
"Huh." Navier menghembuskan napas pelan, kondisi istrinya tampak sangat kacau dan ia sendiri belum mengerti apa penyebabnya.
Segara ia mempercepat laju kendaraannya menuju rumah sakit terdekat.
"Navier dengarkan perkataanku." kata sang dokter yang ternyata mengenal Navier.
"Ada apa? Dokter Isabella?" tanya Navier menatap Isabella dengan serius, apa terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Gadis cantik yang terbaring di sana itu istrimu kan?" tanya Isabella menunjuk Larenia berada di kasur rumah sakit, menutup mata.
Navier mengangguk lalu menjawab."Iya, memang ada apa?"
"Dengarkan ini ... dia terkena racun, luka di sayatan di lengannya sepertinya penyebabnya, istrimu harus menerima dua botol infus dan aku akan memberikannya faksin untuk menghilangkan kadar racun di tubuhnya, aku harap kau menjaga hingga ia tersadar." kata Isabella, benar Larenia memang terkena racun walau tidak berbahaya namun racun tetaplah racun, untuk tubuh manusia biasa akan ada efek seperti tubuh lemah dan demam kalau tidak di tangani dengan cepat.
Kedua mata Navier melebar kaget, apa istri terkena racun apa tidak salah, jelas-jelas Larenia baik-baik saja tadi tidak ada tanda-tanda jika istrinya terkena racun.
"Kau yakin? apa pemeriksaanmu akurat? dia tadi baik-baik saja." tanya Navier ragu.
"Ck, kau pikir aku dokter ugal-ugal asal memberi informasi tentang pasien, aku tidak berbohong istrimu terkena racun." ucap Isabella kembali, ia mulai kesal karena Navier meragukan hasil pemeriksaannya.
Untuk sesaat lelaki itu mencari celah kebohongan di wajah Isabella, Navier menatap Isabella dengan sangat tajam, namun tidak menemukan kebohongan sedikitpun dan dokter cantik nan baik itu ternyata serius.
"Kau masih tidak percaya, coba lihat sendiri bagaimana kondisi istrimu, dasar bocah bodoh! aku pergi dulu masih banyak pasien yang harus aku urus! kau pergilah setelah istrimu menghabisi dua botol cairan infus!" pamit Isabella dengan langkah lebar keluar dari kamar perawatan istri dari Navier itu.
"Dasar pria bodoh!" umpat Isabella kesal.
Seorang perawat tanpa sengaja mendengarnya dan sialnya perawat itu adalah laki-laki.
"Maafkan kebodohan saya Dokter." ucapnya dengan sedih.
"Bukan kamu, jangan meminta maaf seperti itu." dengan cepat Isabella membenarkan. Berucap begitu lembut.
"Ahh." perawat itu mengaruk telukuk nya tidak gatal karena merasa malu, ia menyengir kuda lalu segera pergi dari sana dengan wajah merah.
"Hehe." Isabella tertawa pelan melihat perawat itu malu.
Sementara Navier menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya berharap Larenia segera tersadar dari obat bius, banyak hal yang Navier ingin tanyakan tentang istrinya itu sepertinya banyak rahasia yang Larenia sembunyikan.
Tentang luka dan kejadian malam ini masih menjadi tanda tanya besar untuknya.
"Sampai kapan putri tidur ini akan menutup matanya, apa kau tidak mau melihat pangeranmu." kata Navier lalu mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Bangunlah sayang, aku merindukanmu." lanjut Navier selanjutnya mencium kening Larenia.
Larenia masih setia dengan tidurnya namun sesekali mulut istrinya meracau meminta maaf.
"Mom, Dad, aku ... aku bersalah, tolong maafkan aku, jangan marah." kata Larenia lirih dengan mata masih terpejam, selanjutnya terlihat tetesan air mata.
Navier yang menyadari itu menjadi panik.
"Sayang, kau kenapa menangis? apa kau mimpi buruk?" tanya lelaki itu mengguncang tubuh istrinya, ia tidak akan membiarkan Larenia terluka atau menangis, Navier sangat takut.
"Mom ...." ucap Larenia kembali, air mata semakin mengalir deras.
"Baiklah sayang, aku akan menghubungi mommy, jangan menangis lagi."
Navier tidak berdaya pun segera mengambil ponsel miliknya dan akan mengabari mertuanya.
"Kenapa tidak di angkat." guman Navier. Panggilnya berdering namun ibu. mertuanya tidak mengangkat panggilannya.
Namun tidak lama setelah itu Larenia kembali tenang, Navier akhirnya bisa bernapas lega.
"Aku mencintaimu, tolong jangan seperti ini sayang." Navier mendekatkan bibirnya ke telinga Larenia dan berucap.
\*\*\*
Keesokan paginya, Larenia sudah pulang beberapa jam yang lalu, saat dirinya tersadar dari tidurnya ia langsung ngotot mau pulang karena tidak suka bau rumah sakit. Larenia sangat membenci itu. Navier yang paham langsung membawa istrinya walau infus nya tidak habis.
"Apa kau makan bubur sayang?" tanya Navier masuk kedalaman kamar membawa semangkok bubur mendekat kearah Larenia.
"Aku sangat lapar, mungkin bubur pilihan yang tepat untuk kondisiku saat ini." sahut Larenia tatapannya kosong.
"Baiklah istriku yang cantik, biarkan suamimu ini melayanimu."
Larenia lagi-lagi di buat terpesona dengan lelaki ini, Navier sosok hangat mungkin Larenia akan menetapkan hatinya untuk suaminya ini.
Tanpa Larenia membalas perkataan Navier, lelaki itu mulai menyuap satu sendok bubur ke mulut istrinya.
"Kenapa kau sangat baik dan sabar?" tanya Larenia lolos dari mulut seketika.
"Hah, kau bertanya kepadaku sayang?"
"Tentu saja, Navier kau itu lelaki yang baik, kenapa kau justru sangat baik kepadaku padahal aku selalu jahat." tanya Larenia, ia mengigit bibirnya saat berkata seperti itu, takut jika Navier hanya bersadiwara.
"Kalau aku tidak baik dan kita sama-sama jahat itu bukan namanya keluarga sayang namun lebih tepatnya cuma pasangan."
"Tapi aku selalu jahat dan berbohong, apa kau tidak merasa jengah?"
"Tidak akan pernah, karena aku mencintaimu sepenuh hati bukan mencintai tubuhmu saja." jawab Navier sangat manis di telinga Larenia, ia tersenyum lalu mengambil mangkuk bubur itu dan meletakkannya di atas meja samping kasurnya.
"Navier." panggil Larenia meraih tangan suaminya.
Oh tidak, Navier semakin tersenyum manis kepadanya membuat detak jantungnya berdebar tidak teratur.
"Iya sayang."
"Apa kau mau memiliki anak bersama denganku? aku sangat ingin memiliki anak, dan ayahnya adalah di dirimu, apa kau mau?" tanya Larenia hati-hati.
"Apa?" kaget Navier.
"Kenapa?"
"Apa yang kau katakan ini Larenia? apa kau sedang bercanda?"
"Kau tidak mau?" kembali Larenia bertanya.
"Bukan tidak mau, tapi apa kau lupa kalau kakekmu melarang kita memiliki anak." ucap Navier entah kenapa ia malah mengatakan hal paling ia ingin lupakan itu.
Bohong jika Navier tidak bahagia mendengar ucapan Larenia yang menginginkan akan darinya, akhirnya ia bisa memiliki Larenia luar dan dalam. Namun ancaman kakek Jeffry waktu itu seakan menghantuinya.
Larenia membuang napas kasar ia memejamkan mata lalu berkata.
"Ini hidup kita Navier, jangan dengarkan perkataan kakek, dia cuma mengetesmu saja."
"Aku ingin anak dan segara hamil secepatnya." ucap Larenia melemas. Kemana sikap arogannya itu, kenapa sekarang ia malah menjadi seperti ini.
Navier tidak berkutik, Larenia langsung menarik tekuknya dan menciumnya dengan suaminya mendominasi permainan mereka.
.
.