The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Bukan Anak Kandung."



Larenia sampai di rumah bersama dengan Navier, keduanya di sambut hangat oleh para pembatu di sana dan juga Jessi.


"Selamat datang kembali Tuan muda, Nona." ucap Jessi sopan di ikuti oleh yang lain. Berkata hal yang sama.


Larenia hanya menunjukkan senyum tipis setelah itu ia menuju dapur karena merasa perutnya perlu di isi.


"Navier, aku lapar." ucap Larenia dengan suara manja.


Navier mengangguk lalu mengambil dua helai roti gandum yang sudah tersedia di meja lalu mengisinya dengan sayur dan potong daging di tambah saos mayones.


"Duduklah sayang, aku akan menghangatkan susu dulu." ucap Navier meletakkan sandwich itu diatas meja makan.


Larenia tidak berbuat apa-apa di sana, ia hanya memandang punggung suaminya sesekali tersenyum riang.


Para pembantu rumah yang melihat itu di buat sedikit merinding, karena tidak biasanya mereka melihat Larenia tersenyum seperti itu sebelumnya.


***


Setelah mereka menyantap makan siang, Larenia menuju kamarnya untuk berganti baju sekaligus mandi sementara Navier punya urusan di luar dan harus ke club miliknya, jujur Navier sama sekali tidak mau memiliki club itu karena merupakan bisnis haram, namun apa daya ia tidak punya pilihan lain. Apalagi istrinya adalah orang kaya pasti tidak pernah kekurangan adapun, sebagai suami ia tidak mau istrinya hidup menderita jika ia bersikap egois.


Navier ingin membangun semua dari nol dan mencapai keberhasilan itulah harapannya, ia tidak ingin bergantung lagi dari Effendy dan memiliki penghasilan dari usaha yang ia bangun bukan secara instan seperti sekarang.


Tapi Navier hanya orang biasa yang di adopsi oleh Effendy untuk menjadi anak angkat pria tua itu. Hidupnya pun sudah sangat sempurna. Sekarang Navier bisa membeli apapun tidak seperti di masa lalu. Walau sudah bekerja keras ia tidak bisa membeli setiap barang-barang yang inginkan.


Tiba di Club, Navier langsung keruangannya sudah di tunggu oleh Charles.


"Ada apa Charles? kenapa kamu menelepon dan menyuruhku kesini?" Navier mengambil posisi dan duduk di sofa berhadapan dengan temannya tersebut.


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja, apa boleh Tuan Navier?"


"Sudah ku katakan jika kita hanya berdua jangan memanggilku dengan sebutan tuan, seperti biasa saja."


"Ah, baiklah."


"Apa yang ingin tanyakan kepadaku?"


"Larenia pasti sudah marah karena aku lupa kalau aku kesini." guman Navier pelan, ia lupa memberitahukan kepada istrinya itu bahwa dirinya ke club.


Charles tersenyum tidak salah lagi, Navier sudah di butakan oleh cinta.


"Rupanya, kau buta Navier."


"Hah, apa? aku tidak buta mataku masih berfungsi dengan baik."


"Bukan dalam hal itu, tapi kau di butakan oleh cintamu kepada wanita yang menjadi istrimu."


"Larenia." ujar Charles menyinggungkan senyum.


"Memang kenapa, Larenia sangat cantik dan dia ...."


"Dia kenapa? jangan bilang kau hanya mencinta wajah dan tubuhnya saja, bukan dari hati?" ujar Charles santai, ia tau jika Navier mencintai Larenia bukan karena dua alasan itu. Charles hanya ingin melihat bagaimana reaksi lelaki itu saja.


Sesuai dugaan, Navier kini berdiri dan menarik kerah bajunya, wajahnya berkerut menandakan dia sedang marah.


"Apa kau pikir, cintaku kepada Larenia tidak tulus, jika aku hanya menyukai tubuh dan wajahnya saja sudah dari dulu aku meninggalkanya karena sikapnya yang tidak bisa di katakan baik." ungkap Navier, ia tidak terima jika di rugikan seperti ini oleh temannya sendiri.


"Atau jangan-jangan kau suka kepadanya?" tanya Navier curiga.


"Hum." hanya itu yang keluar dari mulut Charles.


Navier di buat marah, apa temannya sendiri ingin mengambil Larenia darinya setelah Mikel.


"Katakan!"


Lagi-lagi tidak ada sahutan, Navier yang terbakar langsung meninju wajah Charles saat itu juga.


Jika dulu ia diam saja. Namun kali ini ia tidak akan, siapapun tidak boleh merebut Larenia dari dirinya mengingat perjuangannya yang tidak mudah. Navier tidak mau kehilangan wanita yang ia cintai setengah mati.


"Ka-u salah paham, kawan ... aku tidak suka kepada istrimu." ucap Charles di bawa Navier, ia salah telah menggoda temannya ini. Navier menghentikan aksinya.


"Salah paham?"


"Iya, lepaskan aku dulu."


"Aku kira." Navier melepaskan temannya dan segera membantunya berdiri.


"Kau benar-benar banyak berubah karena Larenia, kawan ... sebagai teman aku suka dengan perubahanmu ini." ucap Charles merasa bangga. Tidak seperti di masa lalu, jika ada orang yang suka kepada kekasih Navier pria itu hanya diam saja hingga pacarnya minta putus Navier tidak melakukan apa-apa kepada pria yang merebut wanitanya.


"Kali ini aku mau bertanya dengan serius, tidak bercanda."


***


Kediaman Amanda.


Beberapa luka Amanda sudah di obati dan ia mendapat tiga bungkus infus darah karena kehilangan begitu banyak.


Mama Amanda menangis melihat anak perempuannya dalam keadaan seperti ini. Ia sudah tau penyebabnya setelah melihat berita di televisi beberapa saat lalu. Putrinya ini mencari masalah dengan orang-orang berdarah dingin.


"Amanda sayang kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu, mama tidak menyangka." ucap wanita pelan.


"Walau kau bukan anak kandung mama, tapi mama sayang kepadamu Nak, kau mengganggu keluarga yang salah sehingga kau sampai seperti ini." gumannya menitikan air mata, Amanda memang bukan anak kandungnya, tidak ada yang tau hal ini termasuk Amanda atau Karenia satu-satu anak kandungnya dengan pria yang ia cintai.


"Mama mencintaimu sayang, istirahatlah ... setelah kau sadar mama akan membuatkan bubur." ucap lagi, meninggalkan kecupan singkat di kening Amanda.


Saat berbalik hendak keluar langkah wanita itu berhenti kala melihat Karenia putri kandungnya berdiri di pintu kamar dengan tatapan sulit di artikan.


Oh tidak bagaimana jika Karenia mendengar ucapannya barusan.


"Sejak kapan kamu ada di sini sayang?" tanyanya sedikit takut jika Karenia mendengarnya. Ia perlahan maju namun Karenia menggelengkan kepalanya.


"Mama ... ja-di kami ti-dak ber-saudara?" tanya Karenia napasnya tercekal masih mencoba mengatur detak jantungnya.


"Bukan begitu nak, Amanda tetap kakakmu. Kalian saudara." ujar wanita tersebut.


Karenia menggeleng, pantas saja selama ini ia dan Amanda tidak memiliki kesamaan sama sekali. "Tidak, dia bukan saudaraku!" teriak Karenia. Membuat wanita itu kaget.


"Kalian sama-sama anak mama Nak, jadi kalian saudara." bujuknya namun Karen tidak mendengarnya dan terus berteriak.


"Mama, Amanda bukan saudaraku! dia orang lain di antara kita! usir dia dari sini!" teriak Karenia tiba-tiba berubah.


Sudah cukup selama ini ia selalu mengalah kepada Amanda karena Karen kira wanita itu adalah kakaknya walau tidak ada kemiripan sama sekali dengannya dan mamanya, selama ini.


"Kau kenapa Nak?"


"Kenapa mama bilang! Mah, asal mama tau selama ini Amanda selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dan dia mengambil apa yang Karen miliki."


Wanita itu tidak mengerti dengan ucapan anaknya, apa yang Amanda ambil dari Karenia. Bukannya selama ini ia bersikap adil untuk kedua putrinya.


"Kenapa merahasiakan kenyataan ini dari Karen Mah! Kenapa!"


"Tidak sayang, kalian anak-anak mama, tidak ada rahasia."


.


.


.


... Nanti aku lanjut lagi 😢😢...