The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Aku Suka Hadiahnya."



Louis mendatangi rumah putri dan menantunya alih-alih meminta keduanya datang berkunjung. Larenia menyambut kedatangan ayahnya dengan senang hati, senyuman terpancar di bibir wanita hamil muda tersebut.


"Daddy datang." sambut Larenia berlari menghampiri Louis dan langsung memeluknya.


"Sayang jangan berlari, ingat kau lagi hamil." Ucap Louis membalas pelukan putrinya.


"Dad, ayo duduk." ajak Larenia melepas pelukan.


Louis dan Larenia duduk di ruang tamu, pria paruh baya tersebut melihat-lihat isi ruangan rumah putrinya, tatapannya kini teralihkan oleh seorang pembantu cantik, sepertinya Louis pernah melihat wanita itu? tapi di mana.


"Dad, kenapa datang?" tanya Larenia.


Louis memalingkan wajah kini menatap putrinya, "Tentu saja karena, Daddy merindukanmu nak."


"Bagaimana keadaanmu dan calon cucu Daddy? baik-baik saja kan, atau kau merasa ada yang sakit? apa kita perlu kedokteran lagi?" tanya Louis begitu dirinya berbicara, bukan dirinya berpikir buruk, Louis tidak ingin kebahagiaan putrinya hancur.


"Dad, jangan khawatir ... aku baik-baik saja begitupun cucu daddy." jawab Larenia tersenyum hangat sambil mengelus perutnya.


***


"Berhati-hatilah Karen, jangan ngebut." teriak Amanda memegang sabuk pengaman khawatir jika adiknya akan menabrak sesuatu dan mereka berakhir kecelakaan.


"Diamlah kakak! yang berada dalam bahaya siapa? lihat kebelakang mobil kak Navier semakin dekat." balas Karen marah.


"Semua gara-gara kakak, kenapa kau masih mengharapkan orang yang sudah beristri dan menghasutnya agar membunuh anaknya sendir! jadi salah siapa?" lanjut Karen membentak, nada suaranya menyakiti telinga Amanda.


"Kenapa kau ikut marah? apa salahnya aku berkata seperti itu, aku hanya mengatakan kebenaran saja." sahut Amanda santai.


"Kakak gila!"


"Iya aku gila, memang kenapa? setelah kehilangan segalanya aku akan berjuang untuk memisahkan mereka bagaimanapun caranya, sekalipun aku menjadi hantu."


Karen tiba-tiba menghentikan mobil dengan cara menginjak rem di saat yang tidak tepat.


"Karenia!"


"Apa? kenapa? kakak sebaiknya mati saja di tangan orang yang kakak cintai." setelah mengatakan itu Karen turun dan menarik Amanda untuk keluar dari mobil sementara Navier berada di belakang mereka.


"Kau ingin melihat kakakmu mati? apa yang kau lakukan!" bentak Amanda meronta-rontah, ia tidak bisa bergerak sama sekali karena kakinya belum sembuh.


"Iya, mati saja sana, mama tidak akan terbebani lagi karena dirimu."


"Aku pergu selamat tinggal." Karen lalu pergi meninggalkan Amanda di pinggir jalan.


"Karen! jangan pergi ... kakak masih mau hidup." teriak Amanda.


"Matimu adalah hidup kami, Kak ... berkorbanlah." ucap Karen terdengar kejam.


Karen meninggalkan Amanda yang berteriak meminta tolong, namun Karen menjadi gelap mata, Amanda bukanlah saudaranya dan menurut Karen Amanda hanya orang lain yang harus di singkirkan.


Amanda kini meneguk air ludahnya berkali-kali saat mendapati Navier berdiri di depannya dan memasang wajah datar. Setelah itu ia tersenyum tipis.


"Kasihan sekali, ternyata adikmu yang tadi melindungimu malah menyerahkanmu padaku, menyedihkan."


"Tolong jangan membunuhku, Navier bagaimanapun kita pernah menjadi kekasih." ucap Amanda gemetar takut, ia belum mau mati, Amanda masih ingin hidup lebih lama.


"Kekasih? dasar bodoh, aku sudah melupakan semua itu, seingatku aku hanya mengenal Larenia saja."


"Tolong jangan membunuhku, aku minta maaf dan tolong semua lupakan ucapanku kepadamu, ampuni aku Navier." ucap Amanda menangis, ia benar-benar takut.


Tampak pria itu berpikir, lalu mengangguk seakan dirinya setuju.


"Baiklah aku akan mengampunimu, tapi kau harus ikut bersamaku, hukuman untukmu menanti."


Navier menyeret kasar tubuh Amanda yang belum pulih masuk kedalaman mobilnya.


>>


Tiba di rumah, Navier menepikan mobil tepat di depan rumah mewah miliknya, ia secepat mungkin turun dan menyeret Amanda memaksa wanita itu mengikuti langkahnya sekalipun kakinya terseret.


Jessi kebetulan melihat pemandangan itu menebarkan pupil mata, ini pertama kalinya ia melihat suami dari Larenia itu berlaku kasar kepada seorang wanita.


"Astaga apa yang terjadi." guman Jessi lalu mendekati Navier.


"Tuan, apa yang terjadi? kenapa Anda?"


"Jangan bertanya, aku tidak memiliki waktu." ucap Navier dingin.


"Arhh."


Amanda memekik merasa tubuhnya sakit, apalagi bagian kepala, Navier menyeretnya dengan menjambak rambut Amanda.


Navier tidak peduli, kali ini ia mengila dan lepas kendali, suara teriak Amanda yang di seret sambil menangis mengundang perhatian seluruh penghuni rumah tersebut, tak terkecuali Larenia dan Louis, keduanya begitu kaget melihat Navier membawa Amanda dengan kondisi buruk.


"Navier apa-apa ini? kenapa wanita ini kau bawa kasino?" tanya Larenia memasang wajah tidak ramah, ia melirik sinis Amanda.


"Iya, Kenapa kau membawa wanita kotor ini kerumahmu?" Louis ikut bertanya hal sama dirinya terkejut melihat menantunya berbeda.


Navier tersenyum dan melepaskan tangannya dari rambut Amanda, ia menghempas tubuh wanita kasar ke lantai yang dingin, Navier lalu mendekati istrinya ingin memeluknya.


"Jawab dulu pertanyaan kami." Larenia menghindar, Navier sedikit kecewa, ia menarik napas.


"Sayang, ini hadiah yang aku maksud tadi pagi dan dialah penyebab utama pelakunya." tuduh Navier, Larenia melirik sinis Navier bukannya suaminya lah yang memberikan Larenia obat.


"Apa?" kaget Louis, tanpa ragu pria itu mendekat kearab Amanda memaksa agar berharap muka.


"Dad." lirih Larenia memejamkan mata menggeleng, ia meminta ajar Louis tidak perlu mengganggu.


Larenia memandang Amanda begitu dalam, seyuman jahat terukir jelas di wajah Larenia, rasanya sudah lama ia tidak menyiksa orang. Setelah beberapa saat Larenia mendekati Navier dan berterimakasih kepada suaminya tersebut.


"Terimakasih hadiahnya, aku mencintaimu." ucap Larenia berbisik di telinga Navier dan memberi kecupan singkat. Navier menjadi tegang sendiri, apa benar Larenia mencintainya.


.


.


.


...Sorry part ini pendek. 😁 lama Up yah.. Apologize πŸ™πŸ™...