The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Dia putriku."



Larenia maju mendekati Amanda yang masih mengancam nyawa Lyra, dengan senyuman jahat yang ia perlihatkan Larenia tidak ragu mendekati Amanda, hingga tubuh Amanda membentur tembok.


"Jangan mendekat! Atau aku benar-benar akan menyakitinya!" teriak Amanda mengancam, Larenia sama sekali tidak terpengaruh dan terus maju hingga Amanda merasa sangat terpojok.


"Memang Anda berani Nona, bahkan caramu memegang pisau itu terbalik." ucap Larenia tersenyum miring.


Saat itu Amanda menari pisaunya melihat apa perkataan Larenia itu benar atau salah, di saat-saat itulah Larenia menggunakan celah, ia berlari dan menarik Lyra dari tangan Amanda. Karena Amanda saat itu tidak fokus Lyra berhasil di ambil oleh Larenia. Amanda pun merasa geram.


"Kau menipuku!" teriak Amanda tidak percaya ia kelepasan hanya karena terpengaruh dengan perkataan Larenia.


"Siapa yang.menipu siapa Nona! Kau bermain dengan orang salah ... setelah ini mungkin masa depanmu akan hacur!" Larenia memeluk Lyra dan meminta agar adiknya tenang dengan situasi yang sudah aman.


"Lyra sayang, kau carilah tempat yang aman dan jauh dari jangkauan wanita gila itu, kakak akan menyelesaikannya dengan cepat." tutur Larenia dengan lembut meminta kepada Lyra untuk mencari tempat yang lebih aman.


"Baik kakak, terima kasih." balas Lyra pelan. Lalu ia melakukan perintah kakaknya dan mendekat kearah Anton dan juga kakak iparnya.


"Sepertinya saya harus mengungkap siapa nama lengkap saya Nona Amanda dan mungkin saja Anda akan terkejut." ucap Larenia, ia terus memprovokasi Amanda.


"Memang kau siapa? selain hanya orang miskin yang berharap menjadi orang kaya dan menjual tubuhmu kepada pada pria hidung belang yang memiliki banyak uang." Balad Amanda ini menyilangkan kedua tangannya raut wajahnya menyombong.


"Anda yakin saya orang seperti itu Nona rasanya saya hanya pernah tidur dengan suami saya dan menikmati sentuhannya ... apa Anda pikir suami saya tidak bisa memuaskan.saya Nona? Begitu ... hah! Saya pikir Anda terlalu naif!"


Wajah Navier menjadi merah saat Larenia mengatakan hal seperti itu, bukankah sangat memalukan apa lagi ada Lyra dan Anton yang mendengarnya, Navier hanya tersenyum kaku saat Anton dan Lyra menatapnya dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.


"Kau!" Amanda menunjuk wajah Larenia dengan geram, beraninya wanita yang merebut Navier darinya berkata seperti itu dan membuatnya semakin terbakar cemburu.


"Cemburu dan mau membunuh saya, hoho coba saja, saya tidak takut." Larenia berucap dengan datar, kali ini ia tidak mengelurakan ekspresi wajah.


Ia kembali melangkah maju demi selangkah Amanda tidak berkutip ia di sini merasa sangat terpojok. Apa yang harus ia lakukan sekarang nyalinya menciut melihat Larenia tampak sangat


serius.


Ia menatap kesegala arah mencari celah untuk kabur dari Larenia namun sepertinya tidak ada hanya ada dua tembok di sisi kanan dan kirinya dan satu lagi di belakangnya. Larenia sudah.sangat dengannya, terlihat seperti seorang pembunuh yang hendak menghabisi nyawanya saat ini juga.


"Jangan mendekat atau aku membunuhmu." ancam Amanda suaranya bergetar takut.


"Sudahnkukatakan tadi bunuh saja, aku tidak takut!" jawab Larenia dengan santai. Untuk sesaat Larenia terseyum namun beberapa detik kemudian senyuman itu hilang dengan cepat ia menyambar leher Amanda dan mencekiknya dengan sekuat tenaga.


"Kenapa hah! Kau sudah takut ... dimana keberanian Anda Nona Amanda yang terhormat, ups salah Nona wakil direktur!"


"Kau menyombongkan jabatanmu itu, cih ... aku bahkan bisa memecatmu hanya dengan menjentikkan jariku, tapi Anda malah berkelakukan buruk kepada saya dan memfitnah saya bahkan menyiksa saya kemarin." Larenia memperketat cekikannya,


"Le-pa-skan ... A-aku wa-ni-ta murahan ... be-ra-ninya ta-ngan wa-nita  ko-tor se-pert-imu me-nyetuh-ku." Jadi Amanda terbatah-batah mencoba melepaskan diri dari Larenia. Tangannya yang memegang pisau tadi bahkan ia tidak bisa gerakkan.


"Ingat ini Nona Amanda! Saya bukan wanita kotor! Mungkin Justru Anda lah yang kotor, mulut Anda tidak bisa berucap yang baik-baik, apa orang tuamu tidak mengaajarimu untuk berkata dengan sopan kepada orang, mungkin saja ... saya tidak mengenal Anda, Arrhhh sudah- sudah kau tunggu pertujukan selanjutnya." Larenia lalu melepar tubuh Amanda menghempaskannya kelantai dengan kasar, selanjutnya ia berdiri dengan sombong seakan memberi taukan kepada Amanda jika kedudukannya lebih tinggi dari Amanda dalam hal apapun.


Navier yang menyaksikan dari tadi kini mendekati istrinya, memberinya senyuman manis. Apa sekarang lelaki itu sudah tertular sifat jahat Larenia, Navier bahkan mengabaikan Amanda yang tersungkur di lantai hampir pingsan karena kehabisan napas.


"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya Navier mengelus pipi Larenia dengan lembut lalu meraih tangan sang istri dan melihatnya.


"Apa kau bangga kepada istrimu ini, sayang?" tutur Larenia mendekatkan bibirnya berucap di telinga Navier dengan gaya yang sering mengoda.


"A-apa?"


Navier menjadi tidak fokus apa lagi Larenia beru pertama kali memanggilnya dengan sebutan romantis seperti itu, Navier sadar jika Larenia hanya mempermainkannya dengan menggoda semata-mata membuat Amanda marah. Tidak bisa ia tutupi rasa senangnya di saat-saat seperti ini, sungguh istrinya yang cantik ini membuatnya selalu tidak berdaya.


"Tuh kan, kau menjadi tidak fokus ... sudahlah."


"Kenapa Mommy dan Daddy lama sekali."


"Leo.sebenarnya pergi kemana?" guman Larenia mengalihkan pembicaraan, ia memindahkan tubuhnya sedikit menjauh dari suaminya dengan tersenyum nakal.


"Jangan menggodaku di sini sayang, banyak orang?" bisik Navier mendekati istrinya dan merengkuh pinggang wanitanya dengan sangat lengket.


"Iya, tapi kau suka bukan, Oh iya Navier, apa kau bisa membantu kali ini?" tanya Larenia dengan gaya sensual, ia mengelus dagu Navier yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Bantuan apa itu, sayang? Aku pasti membantu apapun yang kau butuhkan." jawab Navier, ia membalas Larenia dengan mengusap bibir wanita itu lalu menciumnya di depan orang-orang yang ada di sana dan tidak banyak yang melihat kelakukan mereka.


Suara jejakan kaki, terdengar dari arah kanan mereka saat ini, Larenia dan Navier lantas melepaskan ciuman mereka dan segara l menyambut Louis, Zenia dan beberapa  pegawai yang memiliki jabatan cukup tinggi di perusahaan itu mengikuti kemana perginya.


Semantara Amanda kini berhasil berdiri, ia akan melaporkan kelakukan Larenia kepada dirinya yang hampir saja membunuhnya dengan mencekik lehernya.


Namun Amanda berpikir, tidak mungkin gadis semiskin Larenia adalah anak mereka berdua, tidak mungkin sekali, perbedaan antara langit dan bumi, sungguh lucu jika Larenia sampai menjadi anak dari bos besarnya itu.


"Tuan Louis, tolong pecat pegawai yang bernama Larenia berdiri di sana, dia melukai saya dan hampir membunuh saya, Tuan." ujar Amanda seolah dirinya baru saja di tindas oleh Larenia.


Louis hanya memberinya tatapan datar namun kedua tangan pria itu terkepal, rupanya orang yang melukai putrinya kemarin adalah orang yang ada di hadapannya sekarang.


"Tuan tolong beri saya keadilan dan tolong penjarakan, wanita jal-"


‘Plak!’


‘Plak!’


Dua kali tamparan di dapatkan oleh Amanda, ia kembali terncengang, apa yang terjadi kenapa Bosnya malah menampar wajanya dan bukan menuruti permintaannya.


"Apa salah saya Tuan?" tanya Amanda, memegang pipinya dan sudut bibirnya berdarah


karena tamparan itu terlalu keras.


‘Plak!’


Sekali lagi, dan kali ini sangat keras. Sampai ia jatuh tersungkur, kenapa antasan itu terlihat sangat murka. Apa dia telah melakukan kesalahan tanpa sadar? Apa yang terjadi sebenaranya.


"Tu-an An-da ...."


"Jangan berlagak sok baik didepanku wanita! Dasar ular!" bentak Louis berteriak sangat


kencang.


"Apa salah saya?" tanya Amanda, dengan kedua mata berkaca-kaca, tidak ada yang mau membantunya.


"Salahmu? Kau mau tau apa salah mu?" Amanda mengangguk, ia tidak mengerti situasi sekarang.


"Lihat video ini, ini kau kan yang melakukannya." ujar Louis melempar sebuah hp yang berisikan video putrinya di di perlakukan tidak sopan oleh Amanda.


"Apa salahnya di video ini, tuan ... saya hanya memberi sedikit pelajaran kepada wanita murahan itu, lalu apa yang salah."


Louis maju dan mencengram dagu Amanda dengan sangat kasar, lalu kembali menamparnya sekali lagi.


"Yang kau hina itu adalah putriku! Kau tau ... Larenia adalah putriku! Dan kau memberinya pelajaran! Kau menyiksanya dan mempermalukannya di depan umum! Kau pikir aku akan memaafkanmu ... wanita kurang ajar!" teriak Louis akhirnya murka, siapa yang akan terima jika putri kesayangannya di permalukan dan di siksa didepan umum.


"Kau menjatuhkan nama baiknya! Lareniaku bahkan tidak pernah dekat dengan lelaki manapun selain suaminya ... dan untuk foto-foto di artikel ini, asal kalian tau lelaki yang bersamanya adalah pamannya sendiri dan kekeknya! Lalu kenapa ada orang yang begitu berani."


Amanda menegang, tidak mungkin ... tidak mungkin Larenia adalah anak Louis.


"Hahaha, Anda pasti bercanda Tuan ... tidak mungkin wanita miskin itu adalah putri Anda, suaminya saja hanya penjaga hewan peliharaan, jangan bercanda Tuan." elak Amanda.


Louis terkekeh mendengar perkataan Amanda, apa wanita itu buta tidak bisa melihat atau mengamati, jelas-jelas wajah Larenia sangat mirip dengannya.


"Kau sepertinya buta dan tuli, jangan menghina anak dan menantuku ... atau aku akan membunuh adik dan ibumu." ancam Louis, ia benar tidak tahan.


"Anton! Penjarakan wanita ini, bila perlu masukkan ke rumah sakit jiwa, sepertinya dia sudah gila." Jadi Louis kepada Anton.


"Jangan Tuan, saya tidak gila, tidak mau ...."


"Tunggu sebentar, apa kau perlu pembuktian dan kalian semua mau bukti juga?" tanya Louis, mungkin masih banyak yang ragu akan identitas Larenia.


"Baiklah, akan kuperkenalkan penerus perusahaan ku nanti, Larenia Louis Alexander dan Navier Dramino Kenzo." ujar Louis membuat semua orang kaget bukan main. Jadi Larenia yang mereka cacimaki itu benar-benar putri dari bos mereka selama ini.


"Tidak ... tidak mungkin dia putri Anda Tuan Louis." Teriak Amanda tidak mau menerima.


"Dan kau dia pecat secara tidak terhormat."


"Anton bawa dia keruangan bawa tanah, aku harus memberinya perlajaran." perintah Zenia menyela perkataan Louis, Anton mengangguk pasangan ibils itu pasti tidak akan mengampuni Amanda.


"Mom ... Dad, kami ikut." ujar Larenia, memberikan senyuman sinis kepada Amanda seakan berkata jika dia sudah menang.


Semua pegawai di sana masih tercengang tidak percaya, Larenia benar-benar adalah penerus perusahaan ini. Bagaimana kelak nasib mereka. Kemarahan Louis membuat semua pegawai di sana kembali melihat sisi Bos mereka yang kejam.


...😪😪 Lumayan Capek 1609 word. Next time. 😘...