The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Cemburu."



Siang itu Larenia kembali ke kediamannya karena tidak jadi untuk berlibur di pantai, gadis cantik itu kini bersama dengan suaminya di ruang keluarga meski tidak ada hal yang menyenangkan. Larenia terlihat duduk sangat dekat dengan Navier sehingga membuat lelaki itu merasa sangat senang.


"Bibi Jessi! Ambilkan aku minum." perintahnya, Yah Jessi pengawal itu memang sudah berada di rumah baru Larenia dan sedang berada di dalam dapur untuk mempersiapkan makan siang untuk Tuan putri manja tersebut.


"Bibi! Aku haus sekali cepatlah bawakan aku air minum." teriak gadis itu kembali, salah satu tangannya merangkul lengan suaminya dengan begitu posesif.


"Sayang, biarkan aku yang ambil air untukmu." ucap Navier hendak berdiri namun Larenia melarangnya.


"Tidak perlu, di sini ada beberapa pembantu dan Bibi Jessi juga. Ingat kita adalah majikan mereka biarkan mereka melakukan tugasnya." kata Larenia tidak melepas lengan Navier dan kini bersandar di bahu lelaki itu, posisi keduanya tampak sangat mesra sehingga membuat para pembantu di sana tidak berani melihat keduanya sama sekali.


Tidak lama kemudian, Jessi membawa dua gelas air putih dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Larenia.


"Ini Nona muda, silakan di minum, saya mau melanjutkan pekerjaan dulu." ucap Jessi dengan sopan.


"Iya ... iya ... pergi sana, jangan menggangguku!" balas Larenia dengan ketus.


Jessi menggelengkan kepala sangat menyangkan sikap Larenia yang masih saja sama walau sudah menikah. Untuk sesaat wanita itu menatap kedua majikannya itu, tingkah laku Larenia saat terlihat sangat jelas seperti Louis.


"Dia sama seperti Tuan Louis, pantas saja Nyonya selalu pusing jika menghadapi ayah dan anaknya ini." guman Jessi dalam hati, ia belum beranjak dari sana, Larenia menyadarinya langsung menatapnya dengan tajam.


"Kenapa Bibi masih ada di sini! Pergi sana lakukan pekerjaanmu atau aku laporkan kepada Daddyku." ancam Larenia menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman miring, ia menatap Jessi sekaan meremehkan wanita yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya.


"Cih Nona selalu saja mengancam dengan mengatas namakan ayahnya." batin Jessi.


"Saya pamit Tuan, Nona." ucap Jessi kemudian pamit dari hadapan kedua majikannya tersebut.


"Baiklah Bibi!" balas Navier, ia sedikit memberikan senyuman ramah untuk wanita yang ia panggil dengan sebutan Bibi, sama seperti istrinya memanggil Jessi.


"Terima kasih Tuan Navier, tolong jaga Nona Larenia dengan baik." ucap Jessi. "Dia gadis nakal bisa kabur kapan pun dia mau." lanjut Jessi namun hanya di katakan dalam hati.


Setelah Jessi pergi dari sana, kini tersisa Larenia dengan Navier lagi, gadis muda itu mengerutkan mulutnya moyong-moyong menatap suaminya seakan ia sedang kesal kepadanya.


"Kenapa raut wajahmu di tekuk begini sayang?" tanya Navier.


"Kau tadi mengajak Bibi Jessi bicara, bahkan kau tersenyum kepadanya, Apa kau suka kepadanya?" tanya Larenia tiba-tiba merasa kesal.


Navier menarik alisnya, mungkinkah istrinya yang cantik ini cemburu kepada Jessi.


"Tidak, siapa juga yang cemburu ... aku sama sekali tidak cemburu atau terganggu jika kau memang suka kepada Bibi Jessi." ujar Larenia mengerutkan keningnya, ucapan dan raut wajahnya terlihat tidak sejalan.


"Umm, kau tidak cemburu terus kenapa raut wajahmu seperti ini sayang." ucap Navier dengan senyumannya.


Lelaki itu mengelus wajah mulus tanpa noda itu dengan detak jantung berdebar kencang.


"Jauhkan tanganmu, jangan menyetuhku, jika kau memang suka sama Bibi Jessi aku bisa menerimanya." ucap Larenia dengan kedua mata melotot menandakan jika dirinya memang sangat kesal.


Navier seketika memeluk erat tubuh istrinya itu, memejamkan mata merasakan kelegaan karena istrinya yang dingin itu bisa merasakan cemburu kepadanya dan ini mungkin akan membawa lembaran baru buat pasangan suami istri tersebut.


"Sayang, aku tidak menyukai siapapun selain dirimu di dunia ini dan tidak akan tergantikan." rayu Navier di iring sedikit belaian untuk istrinya.


Senyuman hangat menyambut Larenia saat pelukannya terlepas dan saling menatap satu sama lain.


"Jangan marah sayang, aku hanya tersenyum saja kepadanya bukan berarti aku suka kepada Bibi, lagi pula usia bibi lebih tua dariku mana mungkin aku suka kepada wanita yang lebih tua sayang, percayala aku sangat mencintaimu." tutur Navier terdengar sangat manis bahkan membuat Larenia terdiam mendengar penuturan suaminya itu.


"Kau satu-satunya Istriku dan selamannya akan seperti itu, kau tidak perlu memaksakan diri untuk mencintaiku cukup aku saja yang mencintaimu." tuturnya semakin membuat Larenia merasakan getaran aneh dalam hatinya.


Benarkah jika kelak dirinya akan jatuh cinta kepada lelaki yang menjadi suaminya itu atau sekarang dirinya justru sudah mencintai Navier tanpa sadar dan mengingkari semua ucapannya beberapa hari yang lalu.


"Sayang." panggi Navier lalu memberi kecupan singkat di kening istrinya itu sebagai tanda jika ucapan memang serius.


.


.


.


.


.


πŸ™ƒ