
Dipikiran Larenia hanya suaminya, ia baru saja menghubungi Navier untuk membelikannya tes pack di apotek untuk memastikan apa dirinya benar-benar hamil atau hanya masuk angin saja.
Rasa tidak sabar Larenia rasakan, ia mondar mandir tidak henti-hentinya melihat kearah jendela kamar yang bisa langsung tertuju kearah pintu gerbang. Menunggu bukan hal yang di sukai oleh Larenia.
Merasa bosan menunggu Larenia memilih keluar dari kamar hendak menuju taman di halaman rumahnya.
"Nona mau pergi kemana? biar saya temani." Jessi kebetulan baru saja dari luar, menghentikan langkah Larenia.
"Mau cari udara di luar. Tidak perlu, lagi pula suamiku sebentar lagi akan pulang." tolak Larenia cepat.
"Humm, baiklah Nona, hati-hati."
Larenia memilih tidak menjawab, langkah yang ia ambil cukup lebar namun tidak mengurangi keanggunannya saat berjalan. ia membuka pintu rumah segera keluar dari sana, sementara Jessi hanya menatap punggung Larenia namun diam-diam Jessi mengikuti Larenia.
Taman yang di penuhi dengan bunga-bunga terawat serta air mancur di tengah-tengah keliling bunga-bunga tulip yang berasal dari Belanda tersebut, membuat perasaan Larenia merasa nyaman.
Aroma wangi bunga tulip sungguh wangi, mungkin ia bisa menjadi pebisnis parfum atau semacamnya, dengan menggunakan bunga-bunga yang ada di taman rumahnya.
Larenia sebenarnya sangat suka dengan bunga matahari karena wanita kuning pada bunga matahari bisa membangkitkan semangatnya, namun bunga itu tidak ada di tamannya hanya karena alasan sepele, suaminya alergi dengan serbuk bunga matahari. Sambil mengelus perut Larenia mencoba menikmati waktunya di sana.
Jika memang dia hamil, ia akan berusaha menjelaskan kepada kakeknya akan kehamilan ini adalah keinginannya dan juga suaminya bukan karena keterpaksaan.
"Mama harap kau benar-benar berada di rahim mama sayang." guman Larenia pelan, perutnya yang masih datar ini nanti perlahan akan membesar karena pertumbuhan sosok bayi mungil di dalam sana.
Sekejam apapun dia, Larenia ingin seperti ibunya yang sangat hebat membesarkan ia dan kedua adiknya penuh dengan cinta walau cinta itu Larenia lebih banyak dapatkan dari ayahnya.
Larenia berpindah, kedua mata berwarna biru itu melihat sebuah kursi santai di bawa pohon besar. Ia tidak tau itu jenis pohon apa yang terlihat sangat besar. Cocok untuk berlindung dari sinar matahari.
"Sayang, Larenia ...." teriak Navier kala ia baru saja menginjakkan kakinya di taman itu setelah di beritahukan oleh Jessi, jika istrinya berada di taman.
Senyum Larenia mengembang mendengar suara panggilan seseorang yang sangat ia kenal. Tubuhnya spontan berbalik betapa senangnya Larenia melihat Navier sudah kembali.
"Sayang, aku merindukanmu." ucap Navier memeluk Larenia begitu erat mencium keningnya.
Larenia membalas pelukan itu tidak kalah erat, namun beberapa saat kemudian ia melepas pelukannya.
"Mana barangnya?" tanya Larenia kepada Navier.
"Ada sayang, ayo kita kekamar dan periksa." ajak Navier merangkul pinggang Larenia.
"Tapi, aku khawatir bagaimana jika hasilnya tidak sesuai perkiraan dan harapan kita?" tanya Larenia mulai takut, ia tidak suka kekecewaan.
Navier menghadapkan istrinya kearahnya lalu memeluknya pelan.
"Kalau hasilnya negatif, kita masih punya banyak waktu untuk membuatnya sayang, jangan khawatirkan apapun yang perlu kau ingat aku selalu mencintaimu." tutur Navier begitu lembut. Ia mengelus puncak kepala Larenia agar rasa khawatirnya hilang.
"Tapi ..."
"Usssttt gak ada tapi-tapian sayang, kita hanya perlu yakin namun jangan terlalu berharap nanti kalau terlalu banyak berharap hati kita akan sakit."
Larenia mengangguk paham dengan perkataan suaminya. Navier sangat dewasa dan setiap ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu selalu membuat Larenia menganggukan kepala setuju dengan suaminya.
"Ayo kita masuk." ajak Larenia, Navier mengangguk dengan senyumannya.
Namun suara deringan ponsel Navier menghentikan langkah mereka.
"Aku angkat dulu, sayang." ujar Navier meminta izin. Ia menjauhkan tubuhnya sedikit lebih jauh. Orang yang paling Navier benci malah menghubunginya pasti ada sesuatu yang penting.
"Ada apa?" tanya Navier tanpa basa basi suaranya juga terdengar tidak bersahabat.
"Sial? apa sebenarnya maumu!" bentak Navier sangat kesal.
"Sayang ...." lirih Navier kaget. Larenia melihat nama yang tertera di sana, keningnya berkerut menandakan ia tidak suka.
"Kenapa nomornya ada sama Kamu?" tanya Larenia.
"Itu, beberapa minggu lalu dia sendiri yang menghubungi nomorku dan berkali-kali-"
"Jangan meladeninya atau abaikan saja, pria tidak tau malu ini pasti mau bernegosiasi denganmu iya kan?" potong Larenia sengaja mengeraskan suaranya, agar orang yang di menghubungi suaminya bisa mendengar ucapannya.
Navier mengangguk pelan karena dugaan istrinya tidak meleset. Larenia memandang ponsel itu sesaat lalu melirik Navier dengan tersenyum.
"Larenia! apa ini, kau kenapa?" kaget Navier tidak menyangka jika ponselnya kembali di hancurkan oleh istrinya sendiri.
"Biarkan saja, itu tidak penting." ucap Larenia melempar ponsel itu hingga hancur, ini kedua kalinya Larenia menghancurkan ponsel miliknya, Navier berpikir lain kali ia tidak akan mengangkat panggilan dari siapapun.
Dengan ikhlas Navier merelakan karena percuma jika ia memungut ponsel yang sudah hancur berkeping itu. Ia memilih tidak mau mencari masalah bagaimanapun Larenia sosok wanita yang keras.
***
Tiba di kamar, pukul empat sore, Larenia dalam mood yang tidak baik, mengingat jika suaminya berhubungan dengan Mikel membuat wanita itu kesal.
Mikel bukan pria sembarang yang bisa di lawan oleh suaminya, memang tubuh Navier kekar karena rajin berolahraga namun tetap bukan tandingan Mikel. Pria itu mantan atlet karate sebelum mengambil seluruh kekayaan almarhum ayahnya.
"Larenia, apa kau masih mual-mual tadi?" tanya Navier memeluk Larenia dari samping, tangannya berada pinggang Larenia, lelaki itu mencium pundak istrinya.
"Tidak, mungkin karena aku kesal." ucap Larenia mulai menikmati sentuhan itu. Ia memegang seprai kala Navier berhasil merebahkan tubuhnya.
"Humm, lupakan semua itu sayang, kau coba tes packnya besok pagi supaya lebih akurat." bisik Navier membuka kancing baju Larenia satu persatu.
Larenia sudah begitu hafal bahasa tubuh suaminya itu, mereka sering melakukannya hingga berjam-jam entah siapa yang mulai duluan keduanya selalu menikmati dan melewatkan waktu bersama.
"Pelan-pelan." bisik Larenia bersuara, Navier yang sudah tidak tahan hanya mengangguk meski tidak mendengar perkataan Larenia.
***
Di tempat lain, Mikel baru saja memasang pakaiannya setelah berhubungan dengan seorang wanita, sebagai seorang pria Mikel butuh wanita untuk menghangatkan ranjangnya. Bercinta adalah salah satu kebutuhan biologis untuknya sebagai pria, apa lagi dirinya menjadi para idaman wanita-wanita di luar sana, tidak sedikit pula yang mau merangkak ke ranjangnya .
Mikel memandang wanita yang masih terbaring lelah di atas ranjang hotel sewaannya. Wajahnya tampak datar ia melakukan itu hanya karena nafsu belaka bukan karena cinta.
Sebuah cek di letakkan oleh Mikel di samping tas wanita bayaran itu sebagai kompensasi telah melayaninya setelah itu Mikel pergi dari sana meninggalkan kamar hotel itu.
"Larenia, kenapa kau sama sekali tidak pernah menginginkanku seperti wanita-wanita lain." Guman Mikel hatinya masih sakit. Tadi saat ia hendak bernegosiasi dengan suami Larenia itu. Mikel malah mendapat sebuah kejutan yang semakin membuatnya sakit hati.
Mikel mengambil sebungkus rokok yang berada di dalam saku jasnya.
"Tuan, Anda tidak bisa merokok di dalam hotel." tegur seorang pegawai hotel yang kebetulan melihat Mikel hendak menyalakan puntung rokoknya.
"Berengsek, apa hakmu melarangku."
"Tuan, tolong patuhi peraturan hotel kami."
"Kau pikir siapa dirimu, jangan membuatku marah, pergi sana." bentak Mikel mengeraskan nada suara kepada pegawai tersebut, pikirannya kacau.
.
.
.