
Robby memberi instruksi untuk segera maju dan menyerang anggota Coosa Wex, Larenia dan yang lainnya mengambil posisi masing-masing membentuk lingkaran untuk mengepung anggota dari pihak lawan.
Tidak terjadi ketenangan seperti perkiraan Robby, satu lawan lima orang. Kenapa anggota Coosa Wex itu hanya diam menatap mereka satu persatu dan sangat tenang.
"Heh, apa kalian menginginkan tas ini juga?" tanya orang tersebut kepada Robby dan teman-temannya.
"Tentu saja, karena tujuan kami datang kesini adalah untuk mengambil tas itu, tapi kau bergerak lebih cepat dari kami." sahut Robby.
Orang itu menaikkan salah satu alisnya dan meletakkan tiga buat tas itu tepat di dekat kakinya. Ia tersenyum sinis menatap semuanya satu persatu.
"Hadapi aku dulu jika menginginkan tas ini, tapi kupikir kalian jangan pernah bermimpi, aku tidak akan membiarkan kepada kalian sama sekali."
"Cih."
Tanpa di sadari, Larenia secara diam-diam mengendap-ngedap di belakang orang itu, Robby dan yang lainnya menjadi pengalih perhatian,
"Kalian majulah dan hadapi aku!" ucapnya terdengar begitu sombong, ia yakin jika dirinya akan bisa melawan sekelompok anak ingusan. Ia tentu saja sudah tau jika yang di hadapinya saat ini adalah anak buah dari geng El Salvador, yaitu sebuah geng mafia yang baru terbentuk selama tiga tahun belakangan, namun hingga saat ini belum ada yang mengetahui siapa bos di belakang mereka semua.
Josh, menggerakkan tangannya agar kelompok El Salvador itu maju dan mulai menyerangnya.
"Ayo majulah sialan! aku sangat penasaran bagaimana rasanya menghadapi mafia tidak beguna seperti kalian, sekumpulan pengecut!" ucap Josh lalu meludah di depan mereka.
Robby mengepalkan kedua tangan, kini salah satu temannya maju dan mulai menyerang Josh satu persatu. Tubuh yang padat dan berotot membuat Josh menertawakan orang yang menyerangnya saat ini.
"Kalian sekumpulan bocah ingusan tidak akan bisa melawanku." kata Josh sembari menertawakan mereka semua.
Josh tersenyum miring, ia sudah lama tidak beraksi mungkin sekarang adalah saatnya, melawan lima orang sekaligus bagi seorang Josh adalah perkara kecil. Namun satu hal yang tidak ia sadari yaitu kehadiran Larenia yang kini berhasil berada di. belakangnya.
Robby kembali memberi kode agar Larenia tidak mengambil tindakan terlebih dahulu. Gadis itu menurutinya, ia mengangguk paham.
Josh sibuk melawa teman-teman Larenia satu persatu, perkelahian itu berlangsung tidak seimbang, Tommy salah satu teman anggota geng Robby, melawan Josh dengan perbedaan bentuk tubuh yang terlihat sangat jelas.
Berkali-kali, Josh mendengus dan mengeluarkan kata-kata kasar. Ia sungguh lelah menghadapi para mafia kecil itu.
"Sebaiknya kalian pulanglah dengan tangan kosong, atau kalian meregang nyawa di tempat ini." ucapnya sambil menangkis serangan lawannya.
"Jika kami memang harus mati malam ini, kami akan bangga." ucap Tommy lalu menendang perut Josh namun tidak berhasil menjatuhkannya.
"Sialan, kenapa dia seperti banteng yang tidak bisa di jatuhkan maupun di lawan." guman Robby masih setia memperhatikan setiap gerakan Josh, Robby tidak bisa membaca setiap gerakan dari Josh.
Dengan sekali serangan Josh berhasil menjatuhkan semua yang ia lawan dan sudah terkapar lemah di bawa kakinya.
"Cih, aku bahkan tidak menggunakan tenaga yang banyak, sekumpulan berandal lemah."
"Tersisa kau! majulah dan hadapi aku!"
"Hehehe! jangan meremehkan kami." balas Robby.
Pria itu akhirnya maju dan menyerang Josh secara langsung, tanpa aba-aba. Robby menguasai banyak jurus bela diri.
Josh berhasil meninju wajahnya hingga ia meringis kesakitan dan mengusap sudut bibirnya yang ternyata berdarah.
Robby melirik Larenia yang dari tadi melihat dan menunggu perintahnya. Robby mengangguk kepada Larenia. Gadis tersebut seketika mengerti lantas mengambil tas itu tanpa sepengetahuan Josh yang masih sibuk menghajar Robby.
"Sialan, pria ini sungguh memiliki tenaga besar." guman Robby dalam hati, tubuh nya terhuyung kala Josh mendorongnya.
"Bagaimana apa kau sudah sadar jika kau sebenarnya sangat lemah."
Larenia segera menempatkan tas itu di dalam mobil Robby, secepat mungkin Larenia berlari kembali.
"Robby!" teriak Larenia saat Josh hampir menembak kepala temannya.
"Lawan aku!" teriak Larenia kembali menghentikan gerakan Josh. Ia menoleh padahal satu langkah lagi ia sudah menghabisi Robby.
"Heh, maksudmu?" tanya Josh bingung.
"Aku bilang lepaskan dia dan lawan aku!" ujar Larenia menegaskan.
Josh tersenyum memperhatikan penampilan gadis itu. Cantik dan bentuk tubuhnya sangat indah membuat gairah dalam tubuhnya tiba-tiba menyeruak.
Ia tertawa dan segera mendekati Larenia. "Baiklah, tapi jika dirimu kalah, serahkan tubuhmu satu malam untuk aku nikmati!" ucap Josh.
Larenia tersenyum namun hanya sesaat senyuman itu hilang. Ia mengambil ancang-ancang untuk melawan Josh.
Larenia bukan gadis yang suka menunggu, dengan langkah lebar ia mendekati Josh dan memberi serangan tiba-tiba, sehingga membuat Josh kaget dan tidak bisa menghindar dari tendangannya.
"Heh, kau tadi hanya melawan teman-temanku saja, apa Tuan juga mau merasakan bagaimana seranganku?" tanya Larenia.
Josh yang kesal, langsung mengubah mimik wajah menjadi murka, segera pria itu melawan Larenia, dengan lincah Larenia menghindari Josh.
"Tuan Anda tidak akan bisa menyentuhku atau melukai ku sama sekali." ucap Larenia dengan nada suara sombong.
Josh mengepalkan tangan, kedua matanya merah menyala mendengar perkataan gadis itu. Ternyata tidak sesuai dengan perkiraannya gadis yang ia hadapi tidak selemah yang ia kira.
"Menarik juga." guman Johs menatap Larenia dengan tajam.
"Tuan Anda sudah kalah, untuk apa kita bertarung seperti ini." Kata Larenia melangkah maju, diam-diam ia meraih sebuah pisau lipat di yang ia selipkan di belakang pinggulnya.
Johs tiba-tiba terpaku di tempatnya dan tidak bisa bergerak, pria itu tidak tau saja saat tadi ia menyerang Larenia gadis itu memberikannya suntikan di bagian punggungnya.
"Tuan, kau salah mencari masalah denganku. Apa do'a terakhirmu sebelum tiada?"
Josh membelanakkkan kedua mata, bergerak saja ia tidak bisa apalagi berbicara.
"Ups, sorry aku lupa jika sarafmu sudah aku hentikan."
"Baiklah kau temui saja ajalmu." ucap Larenia menusuk tepat di bagian jantung Josh dan melakukannya berulang kali.
"Hukh."
Josh tidak berdaya, tubuhnya sudah mati rasa, gadis yang ia anggap sebagai orang lemah justru menjadi orang yang menghabisi nyawanya.
Setelah itu, Larenia mendekati Robby dan membantunya untuk bangkit.
Misi selalu sukses, Larenia adalah kartu As di antara mereka semua. Yang hidup kini hanya tersisa Larenia dan Robby saja sedangkan yang lain sudah tewas di tempat. Bahkan Tommy yang biasanya tidak terkalahkan ikut tewas di tangan Josh.
Sungguh permainan yang menyenangkan bagi Larenia ini adalah sekian kalinya kemenangan berpihak kepadanya.
"Aku akan pulang setelah ini." ucap Larenia kepada Robby yang sudah sadar.
"Aku merindukan Navier." lanjutnya dalam hati, ia masih mengelak perasaannya kepada suaminya.
.
.
.
.
.