The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Menahan Diri."



"Larenia apa kau kenal dengan Asisten Ceo kita?" tanya seorang perempuan yang tadinya mengajak Larenia makan siang.


"Tentu saja aku mengenal baik paman Anton dia kan asisten Daddyku." dalam batin Larenia berkata, tidak mungkin ia mengatakannya.


Larenia mengangguk, "Iya memang kenapa?" tanya Larenia setelah mengunyah sesendok makan siangnya.


"Lalu apa hubungan kalian, tadi aku mendengar kalau Ceo mau mengajakmu makan siang, kenapa kau menolaknya?"


Larenia menelan air liurnya ia sudah menduga pertanyaan ini akan di lontarkan oleh teman kerjanya.


"Hum, jadi begini ayah mertuaku kenal baik dengan pemilik perusahaan ini, mungkin saja ia mau mengajakku makan siang bersama karena mengingat kalau aku menantu temannya." Jawab Larenia memang tidak berbohong, Effendy adalah ayah mertuanya dan bersahabat dengan Ayah kandungnya yang tidak lain adalah Louis pemilik perusahaan ini.


"Oh, aku kira ... rupanya seperti itu, aku mengerti." Fera mengangguk percaya dengan perkataan Larenia.


"Oh iya, Larenia dengar-dengar pemilik perusahaan ini pernah membunuh sekretaris sahabatnya sendiri karena istrinya memintanya, dan parahnya lagi dia melakukan pembunuhan itu di depan semua pegawai waktu itu, membayangkannya saja sudah membuatku merinding, kau harus berhati-hati." ujar Fera memperingati Larenia, Fera tidak sadar jika orang yang ia bicarakan adalah anak dari orang yang ia maksud.


"Aku tau." Sahut Larenia, tentu saja ia tau peristiwa itu. Ibunya tidak menyembunyikan apapun mengenai kekejaman Ayahnya saat tanpa sengaja membuat salah kesalahpahaman dan saat kejadian itu Larenia masih kecil.


"Syukurlah kau tau Larenia, aku takut jika kau malah jatuh cinta kepada Ceo kita dan kau di bunuh juga olehnya, Ceo kita itu sangat mencintai istrinya, Nyonya Zenia."


"Dan aku pernah melihat Nyonya Zenia dia sangat cantik walau sudah melahirkan tiga anak, kecantikannya tidak berkurang sama sekali, andai saja aku beruntung menjadi salah satu dari anak mereka." kata Fera sambil membayangkan hari-harinya di kelilingi dengan kekayaaan dan kedua orang tua yang cantik dan tampan.


Larenia hanya terseyum mendengar ucapan Fera, gadis cerewet dan balak-balakan. Andai saja Fera tau jati dirinya pasti gadis menghindarinya atau malah sebaliknya, yaitu mencari keuntugan, tapi Larenia melihat jika Fera adalah gadis baik dan tidak suka mencari keuntungan.


"Larenia, maaf yah ... aku cuma mau bertanya kepadamu apa boleh?"


"Apa?"


Fera memperhatikan penampilan dan gaya Larenia yang sangat biasa saja seakan menutupi kecantikannya.


"Kenapa kau berpenampilan jelek seperti ini, apa kau tidak bisa berdandan atau memilih pakaian yang menjadi tren sekarang? Kau tau kecantikanmu tertutupi dengan penampilanmu ini." Kata Fera dengan serius, Larenia saat itu sedang minum hampir saja menyemburkan air di dalam mulutnya.


"Apa suamimu tidak mengurusmu? Ck, lelaki tetap lelaki hanya mau menikmati tubuh kita saja, sudah lupakan hal itu besok kalau kita pulang, aku akan mengajakmu ke Mall, jangan lupa bawa kartu kredit suamimu, kau rayu dia dengan menggunakan tubuhmu dan setelah dia terlena mintalah kartu kerditnya lalu kita pergi belanja." Fera begitu bersemangat, Larenia tertegun mendengar setiap perkataan gadis yang ia kira sangat polos itu.


Dan bagaimana bisa Fera sampai berpikiran jika suaminya tidak memberi nafkah untuknya selama ini, uang jajan dari Ayahnya saja ia tidak bisa habiskan di tambah semua penghasilan dan kartu debit-kredit suaminya dialah yang pegang.


"Fera ... sudahlah, kau jangan berlebihan, aku seperti ini karena pilihanku bukan karena suamiku tidak memberi uang untukku." Larenia menajamkan nada suara, mulai kesal. Ia memijat kening sendiri merasa pening.


"Aku mau kembali, pekerjaanku masih banyak yang harus di selesaikan."


Setelah mengatakan itu Larenia berdiri meninggalkan Fera yang masih belum menghabiskan makanannya karena dari tadi tidak berhenti berbicara tidak jelas kepadanya.


"Dia gadis yang sangat lucu, cukup menghibur." guman Larenia tersenyum sambil melangkah cepat menuju ruangannya yang berada di lantai tujuh, sesekali ia terkekeh sendiri mengingat perkataan Fera memintanya untuk merayu Navier.


Ya ampun, bahkan setiap hari dirinya yang mengoda Navier dengan pakaian tidur serba seksi dan dengan nakalnya dialah yang mulai duluan. Larenia menjadi malu sendiri mengingat kelakuaannya.


***


Pekerjaan Larenia selesai lebih dari satu jam membuat Amanda marah besar kepada dirinya, ia masih bisa menerima perlakukan kasar dari Amanda yang melempar dokumen itu hinggan mengenai tubuhnya. Larenia mencoba bersabar dengan mengepalkan kedua tangannya agar tidak lepas kendali.


Hanya permintaan maaf yang keluar dari mulut Larenia, Ayahnya bahkan tidak pernah memperlakukannya kasar seperti ini. Ia tidak berhenti mengumpat dalam hatinya.


"Maafkan saya Nona Amanda." ucap Larenia mencoba menahan dirinya.


Amanda memukul meja hingga Larenia kaget bukan main.


"Kau ini pegawai tidak kompeten! Sudah terlambat banyak lagi kesalahan dalam ketikannya ... entah kenapa kau bisa sampai masuk kedalam perusahaan nomor satu ini!" Amanda menunjuk marah Larenia.


"Tidak ada manusia yang sempurna Nona Amanda, sewajarnya manusia melakukan kesalahan seperti diriku dan aku sudah minta maaf."


"Diam kau! Dasar tidak tau diri!"


"Tuan Loren, maaf saya memarahi pegawai yang tidak kompeten ini!" sikapnya langsung berubah drastis membuat Larenia semakin tidak suka dengan Amanda yang kerjanya hanya mencari muka saja.


Larenia melirik Loren tidak bergerak dari tempatnya, perkataan ayahnya untuk tidak terlalu dekat dengan Loren selalu ia ingat.


"Kenapa kau hanya diam di sana! Cepat keruangan Tuan Loren ...." perintah Amanda dengan suara sedikit melembut.


"Saya masih banyak perkerjaan Nona ... Tuan, selamat berkerja." Larenia langsung pamit keluar.


Loren hanya menggelengkan kepala tidak percaya, Larenia terus saja menghindarinya dan tidak pernah melakukan perintahnya sekalipun.


"Lihatlah Tuan dia sangat kuranga ajar, entah siapa orang tuanya."


"Diam kamu, jangan pernah memarahinya lagi." Loren ikut keluar dari ruangan Amanda, meninggalkan Amanda yang bingung dengan perkataannya.


____


Sore hari pukul 17.09 Larenia baru selesai, memang belakangan ini ia sering mengambil lembur dan pulang lebih lama dari pegawai lain.


Navier yang menunggu istrinya di parkiran luar hampir satu jam, menunggu dengan sangat sabar. Tanpa sengaja ia melihat seorang wanita berambut hitam pekat saat wanita itu berbalik tepat bisa melihat seluruh wajahnya.


"Itu ... Amanda, dia benar-benar sudah kembali." guman Navier tidak mempercayai apa yang di lihatnya sekarang, sama seperti Navier wanita itu juga melihatnya.


Tiba-tiba Amanda berlari mendekatinya tanpa aba-aba langsung memeluk tubuhnya dengan erat penuh rasa rindu.


"Navier, kau kemana saja, aku sudah mencari keberadaanmu namun tetap tidak aku temukan, tapi ... tapi saat ini kau datang sendiri ke sini kau pasti mencariku jugakan." ucap Amanda masih memeluk Navier yang sama sekali bahkan tidak memperdulikannya.


Justru tatapan lelaki itu fokus kearah pintu keluar memperlihatkan seorang gadis menatapnya dengan tersenyum miring.


"Amanda lepaskan!" Navier melepaskan rengkuhan Amanda, ia tidak mau jika istrinya sampai salah paham, sangat sulit perjuangan Navier untuk mendapatkan hati wanita itu. Ia tidak mau kembali di perlakukan seperti orang lain oleh istrinya lagi.


Larenia semakin dekat dengan mereka, kali ini tempa ekpresi sama sekali. Tampang wajah istrinya sangat datar membuat Navier ingin langsung meminta maaf.


"Aku tidak mau, aku sangat merindukamu sayang." ujar Amanda, mengeratkan pelukannya.


"Ku bilang lepas!" Navier terpaksa melepaskan tangan Amanda dengan kasar dari pada Larenia salah paham padanya.


"Kau kenapa ... apa yang terjadi-" kaget Amanda, kekasihnya yang tiba-tiba berubah, tubuhnya berbalik kedua mata mengikuti kemana perginya Navier.


"Sayang ...." Navier belari meninggalkan Amanda menuju Larenia dan langsung memeluknya.


"Navier apa yang kau lakukan!" teriak Amanda geram, kenapa lelakinya malah berlari kearah wanita lain dan Amanda sangat mengenal siapa wanita itu.


"Larenia sayang, kuharap kau jangan salah paham." ucap Navier mengabaikan Amanda bahkan sama sekali tidak menganggap kehadiran Amanda sama sekali, yang paling penting adalah istrinya, Larenia.


Larenia terseyum lalu menarik teluk suaminya menempelkan bibirnya satu sama lain, lama kelamaan ciuman itu menjadi panas sepanas hati Amanda yang sudah terbakar api cemburu. Sementara Navier semakin di buat senang istrinya yang memulai semua ini. Napasnya menjadi berat Navier jutsru mengankat tubuh Larenia masuk kedalam mobilnya, ia di buat gila dengan istrinya ini.


"Sayang kita cari hotel." Bidik Navier, di angguki oleh Larenia, Navier hanya miliknya ia akan membuat Amanda tidak memiliki cela untuk merebut miliknya.


Amanda yang tidak tahan akhirnya pergi meninggalkan pasangan itu dengan hati terasa panas, ia butuh minuman untuk melampiaskan kemarahan danΒ  penolakan Navier terhadapnya.


.


.


.


...πŸ˜‰ Love You ... gus, baby don't worry. πŸ˜‚...