The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Usahakan Saja."



Navier menatap istrinya tidak bergerak dari tempat tidur walau sudah di usir.


"Pergilah dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu." Kata Larenia semakin menutup tubuhnya setelah ia mengintip tubuhnya yang telanjang.


"Sayang, apa kau menyesal telah melakukannya denganku." Navier membuka suara setelah Larenia memarahinya. Gadis itu langsung memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Tentu saja aku menyesal, kau pikir aku senang! keluar!" pinta Larenia untuk sekian kalinya. Navier menatap istrinya begitu seduh kenapa gadis itu tidak mau menerimanya setelah mereka melakukannya semalam.


"Sayang ..."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, menjijikkan!" serunya dengan kesal, Larenia benar-benar lepas kendali.


"Kumohon keluarlah, Navier."


"Baiklah sayang, Maaf ... kalau begitu aku keluar dulu kupikir kau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri." lirih Navier bangkit dari tempat ia akan memberikan waktu untuk istri itu sementara untuk sendiri namun sebelum itu dirinya memakai pakaiannya yang berceceran di lantai kemana-mana.


Setelah di tinggal oleh suaminya, Larenia menghela napas pelan, ia menyadari kebodohannya telah menyerah tubuhnya kepada lelaki yang berstatus sebagai suami itu. Sorot mata gadis itu terlihat kosong ingin rasanya ia melupakan emosinya namun Larenia berpikir itu tidak mungkin karena sekarang ia masih berada di dalam kamar hotel, yang menjadi saksi bisu jika dirinya sudah di tiduri oleh suaminya.


Larenia hendak bangkit untuk membersihkan tubuhnya dari bekas-bekas Navier yang terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya, saat hendak berdiri ia merasakan jika bagian bawa tubuhnya tiba-tiba terasa sakit.


"Iiiss ... Sialan kenapa sakit begini." desisinya, Larenia memejamkan mata dan menggigit bibir untuk menahan rasa perih di bagian bawa tubuhnya.


Larenia menahan rasa sakit itu, ia melilit selimut menutupi seluruh tubuhnya agar tidak terespon siapa tau suaminya kembali lagi kedalam secara tiba-tiba dan melihat tubuhnya. Dengan langkah yang terlatih gadis itu berusaha sampai ke kamar mandi ingin segera ia merendam dirinya dalam bat mandi.


"Aku harus menelpon Daddy setelah ini, kenapa aku sampai bisa termakan rayuan lelaki sombong itu." guman Larenia benar-benar menyesal.


Namun saat membayangkan kembali yang ia lakukan dengan suaminya kedua pipinya tiba-tiba bersemu malu, Navier adalah pria pertama yang menyentuhnya bahkan ciuman pertamanya di curi oleh suaminya juga. Muak memikirkan hal itu Larenia memejamkan mata memilih menikmati merendaman air hangat dalam bat mandi tersebut.


***


Di luar Navier memijit kepalanya yang terasa pusing, ia harus berusaha mencari cara agar istrinya itu membuka hati untuknya, lelaki itu tidak mau merasa kehilangan untuk kedua kalinya apalagi gadis yang ia cintai sekarang adalah istrinya sendiri dan Navier tidak mau kehilangan Larenia.


Ponselnya berdering, Navier segera meraih dan mengangkat panggilan dari Ayah angkatnya.


"Halo Ayah ..." ucapnya saat mengangkat panggilan tersebut.


"Nak, bagaimana keadaan kalian apa Larenia sudah bangun?" tanya Effendy.


"Sudah Ayah, ada apa menelpon pagi-pagi begini?"


"Ada hal yang Ayah ingin katakan kepadamu."


"Apa Ayah katakan saja." sahut Navier tidak terdengar bersemangat dari nada suaranya saja Effendy sudah tau.


"Ada apa denganmu kenapa nada suaramu tidak terdengar baik? Apa kau sakit?" tanya Effendy berturut-turut, Navier berdiri dari kursi di loby hotel dengan menghela napas berat ia merasa frustrasi.


"Ayah ... Aku tidak sakit tapi, Hatiku yang sakit karena istriku tidak mencintaiku." jawab Navier.


"Sabarlah Nak, Larenia memang gadis yang unik perlu usaha jika kau menginginkan balasan perasaan darinya. Oh iya aku hampir lupa ... setelah pulang dari hotel kau dan istrimu coba datang kerumah, Ayah ini memberikan hadiah kepada menantu Ayah." ucap Effendy.


"Baiklah Ayah, aku mau akan mengatakan kepada istriku."


"Aku harus kembali, Larenia bagaimanapun kau akan jatuh hati kepadaku cepat atau lambat."


***


Mikel terbangun dari tidurnya, entah dirinya ada di mana sekarang, rasanya ia tidak mengenal tempat ini setelah menghadiri pernikahan Larenia ia sempat bertemu dengan Effendy dan Louis untuk memberikan keduanya selamat, Mikel masih ingat bagaimana wajah ledekan dari Effendy kepadanya sekaan orang tua itu sudah menang dari dirinya.


Kepalanya yang terasa sakit membuat Mikel kembali memejamkan kedua mata. Rasanya seperti mimpi dan Mikel berharap yang terjadi kemarin adalah mimpi semata dan dirinya akan terbangun dari mimpi buruk itu.


Seseorang tiba-tiba masuk kedalaman, Mikel yang baru saja menutup mata langsung membuka matanya kembali melihat siapa yang datang kepadanya.


"Tuan Mikel apa ada sudah sadar?" tanya orang itu.


"Um ... Iya, kenapa aku bisa berada di apartemenmu?" sahut Mikel setelah itu ia bertanya.


"Tuan tadi malam mabuk dan berteriak tidak jelas di tengah jalan, saya yang kebetulan lewat melihat Tuan langsung membawa Anda kemari. Minumlah Tuan saya buatkan jus wotel untuk Anda." ujarnya memberikan segelas penuh berisi jus wortel kesukaan Mikel.


Mikel tidak langsung mengambil jus yang di berikan kepada, sesaat ia merenung memikirkan Larenia yang sudah menikah dengan pria lain.


"Tuan Mikel, kenapa Anda melamun?"


"Maaf, kesinikan jus wortelnya ... terimakasih telah membantuku Tom."


"Tidak perlu berterimakasih kepada saya Tuan, Anda adalah atasan dan sudah sepatutnya saya membatu orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan. Saya permisi buat sarapan dulu Tuan ..." pamitnya setelah memberikan jus wortel buatannya kepada Mikel, Tom adalah salah satu pegawai di perusahaan Mikel dan kebetulan lelaki itu mendapati Bosnya berjalan sempoyongan di tengah jalan.


Mikel menganggukkan kepala sesaat dirinya langsung meneguk jus wortel itu hingga habis tidak tersisa dalam wadahnya. Walau hatinya masih sedih namun Mikel akan tetap berusaha mendapatkan Larenia kesisinya apa lagi ia tau jika gadis itu menikah di atas kemauannya dan Mikel ingin memanfaatkan kesempatan emas itu.


***


Navier membuka pintu kamar hotel dimana semalam ia tertidur bersama dengan istrinya, lelaki itu menghembuskan napasnya melangkah menuju sofa di dalam sana, ia akan sarapan terlebih dahulu setelah istrinya selesai mandi.


"Lama sekali, apa dia baru saja masuk?" guman Navier bertanya-tanya. Tatap matanya tersorot kearah pintu kamar mandi yang tertutup sebagian, Navier sudah mendengar semua tentang Larenia dari Leo bahwa jika istrinya itu memang sering lupa menutup pintu dengan rapat.


Navier beranjak dari tempat duduknya, ia bangkit dan mengambil selimut, jika ingin mendapatkan hati seorang gadis Navier harus sering-sering berada di sisi istrinya itu agar mempermudah bagi dirinya untuk mendapatkan Larenia secara utuh.


Perlahan Navier masuk kedalaman kamar mandi, pandangannya tersita kearah bat mandi, terlihat Larenia tengah tidur dengan berendam didalam sana.


"Istriku sangat cantik, jelas saja ibu mertua saja sangat cantik sampai sekarang bahkan terlihat masih duapuluh tahunan, jadi wajar saja." pikir Navier, ia berencana akan membantu istrinya mandi sambil bermain dengannya.


"Sayang, kau jangan bangun dulu." bisiknya pelan di daun telinga Larenia yang masih tertidur. Lelaki itu mulai memandikan istrinya dan mensabuni gadisnya dengan sangat lembut. Baru setelah selesai memandikan istri Navier beranjak menuju shower dan ia membersihkan tubuhnya sendiri.


"Aku harus memindahkannya tidak mungkin aku biarkan di tidur di sini." ucap Navier setelah mandi, istrinya masih tertidur lelap tidak tega membangunkan Navier akhirnya mengangkat tubuh Larenia keluar dari sana sebelum itu ia mengambil handuk dan menutupi tubuh istrinya yang tidak berpakaian.


.


.


.