The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kedatangan Jeffry."



Bandara Charles De Gaulle. – Paris. 09.50


Larenia dan Navier sudah tiba di bandara beberapa menit yang lalu, kini mereka menunggu kedatangan paman dari ibunya sekaligus kakek Larenia.


Larenia menunggu di pintu kedatangan terus memperhatikan orang-orang yang baru saja menginjakkan kaki di negara ini. Hingga gadis itu melihat dua orang pria berjalan membawa koper baru saja keluar dari pintu kaca.


Larenia terseyum begiru girang sedangkan Navier hanya mengamati orang-orang karena ia sendiri tidak tau bagaimana rupa kakek dari istrinya tersebut.


"Kakek ...." teriak Larenia kala melihat seorang pria tua namun kondisi fisiknya masih bagus dan tubuhnya yang berotot di usianya yang kini tidak muda lagi.


Orang tersebut lantas menoleh mendegar suara dari cucunya yang sangat ia kenali. Larenia langsung berlari mendekatinya secara langsung Jeffry menyambut cucu kesayangannya kedalam pelukan.


"Bagaimana kabar cucu cantik kakek ini?" tanya Jeffry mengelus punggung cucu kesayangannya dengan lembut.


"Baik kakek, aku sangat merindukanmu." ujar Larenia tidak melepas pelukannya, Jeffry tersenyum cucunya ini sangat berbeda dengan ibunya.


"Kakek juga merindukanmu sayang."


"Tuan Jeffry, maaf kalau saya menganggu ... mobilnya sudah siap, Tuan." ucap Ken baru saja mendapat telepon dari seseorang.


Jeffry mengangguk lalu menyruh Ken segara membawa koper mereka ke mobil dan meletakkannya di dalam bagasi.


"Sayang ayo kau antar aku ke rumah mommymu."


"Baiklah Kakek." sahut Larenia melepas pelukannya, ia seakan melupakan keberadaan Navier yang sedari tadi memperhatikannya.


Jeffry menyadari kehadiran orang lain menoleh ke arah lelaki tersebut, karena merasa dari tadi di tatap oleh lelaki yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.


"Sayang siapa lelaki ini? Apa kau mengenalnya?" tanya Jeffry menghentikan Larenia yang hendak melangkah. Gadis itu menoleh melihat ke arah suaminya.


"Astaga kakek, hampir saja aku lupa memperkenalkan Navier kepada kakek." kata Larenia menepuk jidatnya sendiri.


"Navier siapa?" tanya Jeffy menyengir, Larenia memanggil Navier agar lebih dekat kearah mereka, Jeffry harus tau jika ia sudah menikah dengan Navier.


Jeffry di rundung kebingungan menatap datar Navier yang terseyum kaku kepadanya dan satu lagi tangan cucunya kenapa berada di lengan lelaki itu, apa hubungan keduanya.


"Kesini kamu." Jeffry menarik lengan Larenia hingga terlepas dari Navier.


"Kakek ...."


"Jawab pertanyaan kakek! Apa hubunganmy dengan lelaki ini? Apa kalian berpacaran?" tanya Jeffry menatap tidak suka kepada Navier.


"Tidak kakek." Jawab Larenia menggeleng.


"Terus apa hubungan kalian! kenapa kau sampai menyetuh lelaki yang bukan keluarga ataupun temanmu?" bentak Jeffry, merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Navier itu, suami Larenia kakek. Kami sudah menikah tiga bulan yang lalu." ucap Larenia membuat kening Jeffy berkerut.


"Apa maksudmu? Kapan kau menikah! Jangan coba membohongi kakek Larenia."


"Kapan Larenia berbohong kepada kakek, Navier memang suamiku ... lelaki ini suamiku kakek."


Jeffry menatap cucunya itu dengan kecewa, ia dua kali di buat kecewa seperti ini. Pertama waktu Zenia menikah dengan Louis dan ia tidak tau hingga mereka mempunyai anak, sekarang Lerenia juga menikah dengan orang yang bernama Navier dan lagi-lagi ia tidak tau akan hal ini.


"Hahahahaha, sungguh lucu ... Ibu dan anak rupanya sama saja, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."


"Kau mengecewakan kakek Larenia."


Kedua tangannya terkepal menahan amarah. Jeffry memghembuskan napasnya begitu kecewa tanpa kata ia meninggalkan Larenia bersama dengan Navier, segara mungkin Jeffry ingin menemui keponakannya dan meminta penjelasan kepada Zenia dan juga Louis.


"Sayang, mungkin kakek jeffry masih kaget akan yang kau sampaikan kepadanya, biarkan ayo kita kemobil dan mengikutinya." tutur Navier memengang pundak istrinya.


***


Jeffry tiba di rumah Louis dan Zenia, ia mengambil langkah lebar segara mungkin mendengar alasan keponakannya itu kenapa saat Larenia menikah tidak ada yang mengabarinya sama sekali.


Brak ...


Jeffry menendang pintu rumah itu hingga terbuka dengan sendirinya, Leo yang kebetulan berada di ruang keluarga kaget bukan main.


"Zenia ... Louis ... kalian ada dimana, kemari temui paman!" teriak Jeffry.


"Kakek Jeffry." ucap Leo pelan melihat kakeknya mengamuk.


"Dimana Mommy dan Daddy mu, suruh mereka menemui kakek." ujar Jeffry. Leo meledik takut ia mengangguk tanpa bersuara.


Zenia bersama dengan Louis segera keluar dari kamar mereka kala mendegar keributan di ruang tamu, keduanya hanya menghela napas bisa menebak akibat kemarahan Jeffry.


"Paman, aku akan menjelaskannya ... ayo ketaman belakang aku akan menjelaskannya." kata Zenia.


"Okay, sebaiknya aku ingin mendengar jawaban yang bagus dari kalian berdua."


•••


Larenia tiba di rumah kedua orang tuanya, ia langsung keluar mobil namun terlebih dahulu mendekati Ken yang berdiri tegap di samping mobil hitam, di ikuti oleh Navier.


"Paman Ken, Kakek Jeffry apa sudah masuk  masuk?" tanya Larenia begitu khawatir, entah apa yang ia khawatirkan, gadis itu merasa kedatangan kakeknya akan semakin mempersulit dirinya.


Sejenak Ken menoleh ke arah Larenia menghembuskan napas pelan lalu berahli memperhatikan penampilan lelaki yang sudah menjadi suami dari anak Ketuanya tersebut.


"Nona Larenia, sebaiknya Anda langsung masuk kedalam saja bersama dengan suami Anda, cobalah bujuk Tuan Jeffry bisa menerima hubungan kalian berdua." ujar Ken.


"Tapi paman, kenapa Kakek sampai bereaksi seperti ini? Bukannya bagus kalau aku sudah menikah dan suamiku bisa menjagaku? Kenapa kakek malah marah bukan bahagia?" tanya Larenia.


"Nona akan tau jika sudah sampai di dalam, saya tidak berhak mengatakannya kepada Nona."


Larenia menghela napas berdecak, ternyata paman Ken sama sulitnya seperti kakeknya itu. Tanpa berkata lagi Larenia segara masuk dan mengajak Navier.


"Leo, dimana Kakek?" tanya Larenia kala sudah berada di dalam namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jeffry.


"Ada di belakang, lagi bicara bersama dengan mommy dan daddy, kakak kenapa datang kesini?" tanya Leo.


"Anak ini." Larenia berdecak kesal mendengar pertanyaan adiknya.


"Sayang, ayo kita kebelakang menyusul mereka."ujar Navier.


"Jangan Kakak ipar, sebaiknya kalian menunggu di sini sana, biarkan mereka menyelesaikannya." cegah Leo.


.


.


.


.


Baby Don't worry. 🚶‍♂🚶‍♂