
Larenia perlahan membuka mata kala merasakan ada seseorang yang mengusap kepalanya begitu lembut. Larenia mengerjapkan mata memfokuskan siapa orang yang di sana bersamanya.
"Sudah bangun sayang, kau mau makan malam atau mandi?" tanya Navier di sertai senyuman.
"Tidak mau apa-apa, aku masih lelah." jawab Larenia menarik selimut.
"Baliklah, tapi kau jangan tidur ... makan dulu, tunggu sebentar aku ambilkan ya."
"Terserah."
Navier sesaat mengecup kening sang istri lalu berlalu keluar menuju dapur mencari makan malam untuk istrinya.
Ia menemui Julia yang terlihat sedang membersihkan meja makan.
"Tuan butuh apa?" tanya Julia kepada Navier, ia menghentikan aktivitasnya saat melihat majikannya di dapur.
"Makanannya apa sudah dingin semua? Istriku lapar." ujar Navier.
"Iya, tuan ... Apa nona sedang sakit, sehingga Anda sendirian."
"Tidak, dia hanya kelelahan saja, kalau begitu tolong buatkan sandwich dengan isi banyak sayur." titah Navier, Julia menganggukkan kepala segara melaksanakan perintah dari tuannya.
Wanita itu tersenyum, sebagai wanita dewasa tentu ia tau alasan Larenia kelelahan apalagi dari sejak sore kedua majikan itu hanya berada di dalam kamar.
Navier begitu di hormati di rumah ini di banding dengan Larenia, karena sikap Navier yang baik dan murah hati, siapa yang tidak akan menghormati orang sebaik itu. Berbeda dari Larenia yang jahat dan ketus. Sungguh perpaduan tidak cocok.
Sambil menunggu Navier memotong buah untuk istrinya, sesekali ia juga memakan buah itu karena perutnya sendiri sangat lapar.
"Sudah selesai tuan, ini makanannya saya buat dua buah sandwich untuk anda dan Nona juga."
"Terima kasih." ucap Navier berterimakasih kepada Julia.
Navier langsung pergi begitu makanan itu sudah siap, mungkin Larenia kembali tidur lagi karena menunggunya hampir setengah jam.
Dan benar saja, begitu ia masuk kedalaman kamar, istrinya kembali tidur dengan nyenyak.
"Sayang, ayo makan malam, aku bawa makanan untukmu, bangunlah sayang." ucap Navier sambil meletakkan piring yang berisi makanan dan mendekati istrinya.
Navier menggelengkan kepala kala melihat Larenia tidak bergerak sama sekali.
"Larenia ayo bangun, setelah makan kau boleh tidur lagi."
"Uh ...." Larenia mengelus perlahan membuka mata dengan memasang wajah datar.
"Aku sangat lelah kenapa membangunkanku." ucap Larenia, Navier mengambil makanan di atas meja sebelumnya. Ia tidak berkata apa-apa lebih baik dia diam saja dari pada nantinya malah berdebat dengan Larenia.
"Navier." Larenia merasa di abaikan.
"Aku tidak lapar."
"Makan dulu, jangan menolak begitu sayang ...." ucap lelaki itu pada akhirnya.
"Tidak mau." tolak Larenia mendorong piring makan itu.
"Makan atau aku akan marah."
"Marah saja, aku tidak takut." ujar gadis itu dengan santainya. Navier sesaat memandang Larenia mengerutkan alis. Lalu berkata.
"Larenia, nurut sedikit, dengarkan perkataan suamimu." Kata Navier mulai merasa agak kesal. Selama ini ia sudah mati-matian untuk tidak meluapkan kemarahannya.
"Ayo makan, bagaimana jika kau sakit."
Larenia tersentak melihat kemarahan suaminya, ia tidak menyangka bahwa dirinya berhasil memancing kemarahan suaminya itu.
"Masih tidak mau? baiklah ... gak usah makan, maaf." lirih Navier, dengan perasaan kesal dirinya mengambil makan itu kembali turun dari tempat tidur hendak meninggalkan Larenia.
"Kau mau pergi kemana?"
"Pergi, untuk apa aku peduli kepadamu, sementara kau tidak menganggapku sebagai suamimu."
"Jangan pergi, okay aku akan makan, tadi aku hanya bercanda. Maaf." kata Larenia dengan cepat mengubah perkataannya.
"Navier, jangan pergi ... kumohon, aku akan makan." lanjutnya karena Navier malah tidak menanggapinya lagi. ia tidak mau ditinggal oleh suaminya.
***
Pagi hari, Larenia bangun terlebih dahulu. Mengingat hal pertama yang harus ia lakukan, yaitu mencoba tes pack.
Larenia masuk kedalaman kamar mandi namun terlebih dahulu ia mengambil tes pack itu di atas meja dekat lampu tidur, ia masuk karena tidak sabaran mengetahui hasilnya.
Sementara Navier baru bangun berselang sepuluh menit kemudian, mendengar suara isakan seseorang dari kamar mandi membuat Navier kaget. Ia segera bangun lalu mendekati kamar mandi, yang ia yakini di dalam sana adalah istrinya.
"Sayang kau kenapa nangis?" Navier mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
Tidak ada sahutan, namun beberapa saat kemudian pintu itu terbuka, Navier melihat Larenia dengan muka sembab.
"Ada apa? kenapa kau nangis?" tanya Navier mengelus pipi Larenia yang basah karena air mata. Jujur ini pertama kalinya Navier melihat air mata istrinya.
Larenia menggeleng, harapannya belum tersampaikan. Ia mengangkat wajahnya memandang suaminya, sesaat kemudian Larenia memeluk tubuh Navier dan kembali menangis. Tes pack yang ia coba dengan air urinnya menunjukkan garis satu yang tandanya ia tidak hamil.
"Sayang, jangan membuatku takut, katakan kau kenapa?" tanya Navier khawatir.
"Aku ... aku ...."
"Kenapa sayang, apa kau sudah mencoba tes packnya? lalu bagaimana hasilnya?" tanya Navier semakin mengundang isak tangis Larenia lebih kencang.
Navier bukan lelaki bodoh, melihat reaksi istrinya. Pasti hasil tes packnya negatif.
Lelaki itu menghembuskan napas, sama seperti istrinya ia merasa sedih karena harapan mereka belum terkabul.
"Kita masih bisa mencoba keberuntungan lain sayang, jangan sedih ... mungkin tuhan belum mempercayakan kepada kita." tuturnya begitu lembut. Larenia melepas pelukan itu, ia merasa sangat kecewa kepada dirinya yang belum bisa hamil padahal sudah sejak beberapa bulan ini ia dan Navier selalu menantikannya.
Apa mungkin ia mungkin terlalu berharap hingga hasilnya begitu mengecewakan.
"Tapi, Navier ... kapan kita akan punya anak, padahal aku sangat menginginkannya."
"Lalu bagaimana dengan aku mual-mual dan pusing kemarin? bukankah itu tanda-tanda kalau aku lagi hamil, tapi kenapa tes packnya malah negatif?"
"Larenia sayang sadarlah, mungkin belum saatnya."
"Saatnya itu kapan?" tanya Larenia memandang Navier yang menghapus air matanya.
"Sabarlah sayang."
"Kapan." lirih Larenia dalam pelukan hangat Navier.
"Apa aku mandul atau aku cacat." ucap Larenia sangat pelan, Navier bisa mendengar perkataan istrinya semakin mengetatkan pelukan.
"Jangan berkata seperti sayang, kau ataupun aku sama-sama harus berusaha lebih keras, jangan patah harapan."
***
Suasana rumah Navier pagi itu cukup sepi, Larenia dan Navier pergi untuk menenangkan pikiran yang kacau balau, Jessi dan Julia turut ikut bersama dengan mereka namun menggunakan kendaraan beda.
Navier melirik istrinya yang berdiri sisi pantai dengan memandang kosong.
"Larenia jangan terus memikirkannya, kau tidak mandul sayang." ujar Navier hatinya begitu sakit saat Larenia mengatai dirinya sendiri mandul tidak bisa hamil.
"Mungkin ini karmaku, karena sudah banyak membunuh orang dan bersikap jahat." kata Larenia datar.
"Larenia berhenti berpikiran negatif, melihatmu sedih hatiku sakit." Navier tidak terima.
"Tapi fakta berkata seperti itu, apa ini hukuman? pernikahan kita juga sudah berjalan empat kita bahkan tidak pernah melewatkan malam untuk melakukan itu? tapi kenapa aku belum hamil?" tanya Larenia, Navier benar-benar di buat kalut akan kesedihan istrinya.
"Baiklah, aku akan membuktikan kalau kau baik-baik saja tidak mandul, ayo kita menemui dokter dan cek."
Larenia hanya menunjukkan tampang datar, ia mau marah kepada siapa. Tangannya yang di tarik oleh agar mengikutinya masuk ke mobil. Mereka akan kedokteran untuk mencek dan memperjelas segalanya.
.
.
.
...Baby Don't Worry πββ...