The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Datang Sendiri."



Louis tidak henti-hentinya tersenyum melihat putrinya begitu bersemangat hari ini, Larenia yang di temani oleh sang ibu tampak sangat cantik menggunakan gaun panjang berwarna merah muda pudar dan rambut yang di ikat sebagian.


Hari ini Larenia akan kembali berjumpa dengan Navier, sungguh perasaan yang tidak bisa di jelaskan yang pasti hati Larenia begitu bahagia. Senyuman tidak lepas dari wajah cantik itu.


Larenia masuk kedalaman mobil bersama dengan Zenia sementara Louis akan duduk di depan bersama dengan Anton yang mengemudikan mobil menuju restoran mewah yang sudah Louis pesan untuk satu hari full.


"Kemarikan tangan kalian." ujar Louis mengulurkan telapak tangan kepada istri dan putrinya,


Larenia dengan senang hati meraih uluran tangan itu namun beda halnya dengan Zenia yang mengabaikannya.


Tiba di restoran, Louis meraih tangan istri dan anaknya untuk berjalan bergandengan dengan dirinya sementara Anton berada di belakang ketiga majikannya tersebut, usia Louis memang sudah tidak muda lagi namun tetap saja mempesona sehingga masih banyak wanita-wanita tidak tau diri akan berusaha mencari perhatian dan menggodanya.


"Honey, pegang tanganku nanti kau hilang di culik orang." ucap Louis.


"Siapa yang akan menculikku, aku bukan anak kecil, tidak mau dasar lebay." sahut Zenia ketus.


"Ayolah atau aku akan melakukan dengan caraku sendiri."


"Apa, sudah aku bilang tidak ...."


"Tidak ada penolakan, aku tidak suka di tolak Honey."


"Kau selalu saja, seharusnya aku tidak menikah dengan-" ucapan Zenia berhenti saat melihat raut wajah Louis sudah merah menahan marah.


"Jangan lanjutkan, Honey." ucap Louis nada suara berbeda dari sebelumnya.


"Tapi Aku-"


"Diamlah, apa kau tidak melihat jika Larenia menertawakan sikap mommynya yang kekanak-kakanakan."


"Louis!"


"Iya Honey, ayo masuk dan Larenia sayang pegang tangan Daddy." anaknya tersebut tengil. Zenia sangat tau sifat pria yang menjadi suaminya ini. Satu kata yang bisa Zenia katakan yaitu menyebalkan.


Zenia memberi tatapan tidak bersahabat kepada Louis yang suka memaksa karena bukan Louis namanya jika ia tidak memiliki cara untuk membuatnya itu menurut, dengan cepat pria itu meraih pinggang Zenia dan memaksanya berjalan walau sedikit berlebihan karena begitu sikapnya, Di usianya sekarang masih banyak wanita-wanita yang menggodannya namun Louis tidak menghiraukan mereka sama sekali dan malah menyikirkan para wanita itu, ia tidak mau jika istrinya kembali salah paham dan marah kepadanya, Louis tidak sanggup.


Sebagai seorang suami dan ayah dari tiga anak, Louis adalah sosok yang hangat dan perhatian kepada keluarga kecilnya. Kehadiran ketiga anaknya semakin memperdalam cintanya kepada wanita yang telah mau melahirkan anak-anak begitu cantik dan tampan.


Sebuah meja panjang penuh dengan makanan tertata rapi di atas sana, Larenia melihat ke sekeliling mencari keberadaan suaminya. Ia sudah tidak sabar berjumpa dengan ayah dari anaknya.


"Dad, Navier kemana? kenapa dia belum sampai?" tanya Larenia melemas tidak mendapati keberadaan orang yang ia rindukan.


"Mungkin belum sampai, kita tunggu saja." sahut Louis mengajak mereka berdua untuk duduk menunggu kedatangan Navier.


"Baiklah dad."


Larenia duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya, Zenia tampak menenangkan Larenia yang tidak henti-hentinya merasa khawatir, sudah terbilang hampir dua puluh menit mereka menunggu namun tanda-tanda kehadiran Navier tidak terlihat.


Louis sudah mencoba menghubungi menantunya itu namun panggilan teleponnya tidak angkat.


"Kemana perginya pria ini." guman Louis melirik Larenia yang terus menatap kearahnya menunggu jawaban.


"Dad, bagaimana?" tanya Larenia terlihat gelisah.


"Dia tidak mengangkatnya sayang." jawab Louis mengaruk kepala bingung.


Larenia kini terlihat kecewa, ia mengingat bibirnya menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kita tunggu sebentar lagi, jika dia tidak datang kita pulang saja." ucap Louis.


"Dad, aku sangat merindukannya? kenapa dia tidak datang juga."


***


Di tempat lain Navier tertidur dalam kamarnya yang gelap gulita, hampir setiap hari ia habiskan untuk bermabuk-mabukan, hidupnya sudah tidak berarti.


"Navier buka pintunya, apa kau tidak mau bertemu dengan istrimu mereka sudah menunggumu bodoh." teriak Charles mengedor pintu kamar Navier sudah seharian penuh pria itu tidak keluar dari kamarnya.


Seorang wanita mendekati Charles terlihat terburu-buru.


"Tuan Charles."


"Iya, ada apa kenapa kau terlihat panik?"


"Itu Tuan, Nona datang kesini." ucapnya sambil mengatur napas.


"Apa?" kaget Charles.


"Kapan Nona Larenia datang? apa sudah lama?" tanya Charles.


"Baru saja, Nona sepertinya datang sendirian."


"Apa! Dimana nona Larenia sekarang?"


"Di ruang tamu Tuan, Nona terlihat linglung."


"Okay baiklah, temani Nona di sana dulu, aku akan mengurus si bodoh di dalam kamar itu." ujar Charles.


Wanita itu mengangguk mengerti, ia segera pamit menuju ruang tamu dimana Larenia berada.


Di sofa Larenia hanya duduk diam dengan pakaian sedikit kotor berlumuran lumpur, entah apa yang telah terjadi kepada wanita hamil besar tersebut.


"Nona Larenia." panggil Julia lirih.


"Humm, iya ... Dimana Navier kenapa kau datang sendirian?" tanya Larenia langsung pada intinya.


"Itu, Tuan ...."


"Kenapa? ayo katakan ada di mana dia sekarang!" bentak Larenia. ia benar-benar sudah tidak tahan ingin berjumpa dengan suaminya.


Wanita itu berdiri beranjak dari tempat duduknya karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaan, Larenia merasa kesal baik ibu dan ayahnya mereka sama-sama seolah menghalangi kebahagiaannya.


"Minggir dari jalanku, aku akan mencarinya sendiri."


"Tunggu di sini saja nona, anda tidak boleh keatas." cegah Julia cepat, di takutkan jika Larenia melihat isi kamar dan kondisi kacau Navier masalah akan bertambah lagi.


"Aku bilang minggir! kenapa semua orang suka sekali mencampuri urusan rumah tangga kami! dan kau Julia ingat posisimu! jangan berlebihan!" Larenia menepis kasar tangan Julia dan mendorong wanita itu dengan kasar.


Larenia mengambil langkah lebar menuju kamar utama untuk mencari keberadaan suaminya, ia yakin jika Navier ada dirumah karena saat dirinya masuk, Larenia melihat mobil suaminya dan juga mobil milik asisten suaminya itu berada di halaman rumah terparkir rapi.


Saat melangkah dua anak tangga Larenia memegang perutnya merasa keram, mungkin kelelahan setelah kabur dari kedua orangtuanya, Larenia berhasil dengan beralasan ingin ke toilet namun secara diam-diam ia juga mengambil kunci mobil dari saku jas ayahnya.


"Aduh." keluhnya memegang perutnya yang buncit.


"Nona, biar saya bantu, saya minta maaf karena sudah melarang Anda." Julia bangkit dan segara. mendekati Larenia. ia tidak tega melihatnya menringis sakit.


"Humm, iya ... terima kasih Julia." ucap Larenia berterima kasih, segera ia melangkah menapaki tangga satu persatu.


"Nona hati-hati."


"Iya."


.


.


.


πŸŽ“πŸŽ“πŸŽŒ


...Hai, ini aku Chanhun, sekadar pemberitahuan novel ini akan tamat dalam waktu dekat. 😊😊...


...Terima kasih telah membaca Novel abal-abal Chan yah, kalau endingnya aku masih mikir 🀭 tersisa 5 eps lagi yah udah tambahan ekstra partnya juga. πŸ˜‚πŸ‘‹ kalau ada kesalahan dan kekurangan tolong maafkan yah. Karena di dunia ini tidak ada manusia sempurna LOVE You. β€πŸ™ Terima kasih....