The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Rumah Kakek"



Sore harinya, Larenia  tampak terlihat membawa sebuah ransel dan kunci motor yang terkadang ia gunakan dan sudah di siapkan sebelumnya oleh salah satu pengurus.rumahnya. Langkahnya begitu bersemangat segera mungkin ia ingin mengendarai motor tersebut.


"Nona sebenaranya mau pergi kemana sore-sore begini?" tanya pengurusnrumah tersebut begitu majikannya itu menaiki motor besar itu berwarna hitam dan sebagian berwarna merah.


"Aku mau menginap dirumah Kakek, tadi Kakek menghubungiku agar malam ini aku menginap disana." Jawab Larenia sembari memasang helm pelindung kepala.


"Seperti itu Nona, kalau begitu hati-hati di jalan Nona muda."


"Oh iya paman sampaikan ini kepada Mommy atau Daddyku jika mereka mencariku, Larenia pergi dulu." Lanjut Larenia mendapat anggukan kepala dari pengurus rumah tersebut, lalu ia segera menyalakan motor sport miliknya segera melaju meninggalkan halaman rumahnya yang begitu luas.


***


Sekarang ini Larenia sudah sampai di kediaman Kakek-nya dengan menempuh waktu cukup setengah jam padahal jika dirinya memakai mobil akan menghabiskan waktu hampir dua jam lebih apalagi jika kondisi jalan macet, begitu kencang laju kendaraan yang Larenia gunakan hingga hanya membutuhkan waktu yang tergolong singkat.


Alexander dan Lina menyambut kedatangan cucu pertama mereka dengan sambutan hangat, kecantikan Lerania bahkan terkadang menghipnotis kedua orang tua itu sehingga jika bisa melihat cucu pertamannya itu hatinya seketika sejuk.


"Cucu kesayangan Nenek, Bagaimana kabarmu Nak, Apa kau selalu sehat-sehat saja sayang?" tanya Lina memeriksa setiap bagian tubuh cucunya tersebut memastikan tidak ada yang salah dengan tubuh cucu kesayangannya itu, Larenia menyahut dengan menganggukkan kepala lantas ia segera memeluk Nenek dan Kakeknya secara bergantian melepas kerinduan satu sama lain.


"Aku baik-baik saja Nenek, Kakek, oh iya kalian tidak mau mengajakku masuk diluar sini sangat dingin." Kata Larenia, Lina dan Alexander tersenyum mendengar perkataan cucunya itu.


"Maafkan kami sayang, ayo masuk kedalam ...." ajaknya.


Larenia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Kakeknya. Sebagai cucu pertama tentu saja Larenia mendapat kasih sayang yang berbeda dari Kakek dan Neneknya, Larenia di manjakan dengan uang bahkan untuk jajan sebulan saja dirinya mendapatkan lebih dari Kakeknya tanpa sepengetahuan dari Louis maupun Zenia dan yang mendukung Larenia untuk segala hal tentu saja adalah Alexander dan Lina. Kedua pasangan paruh baya tersebut sangat berharap banyak kepada cucu perempuannya itu.


Larenia segera di ajak duduk oleh Lina begitu mereka sampai di ruang keluarga, di sana ada paman dan bibinya juga siapa lagi kalau bukan Loren dan Lolly yang menyambutnya dengan hangat Larenia hanya tersenyum tipis membalas sambutan keduanya karena Louis pernah mengakatakan jika Loren pernah ingin merebut Ibunya dari ayahnya tersebut karena hal itu juga hubungan Larenia dengan Pamannya tidak terlalu baik.


"Nak, Bagaimana kabarmu?" tanya Loren kepada keponakannya.


"Saya baik-baik saja, Paman. Paman dan Bibi bagaimana kabarnya?" sahut Larenia dengan formal sambil menanyakan balik kabar keduanya.


"Kami juga baik-baik saja sayang, Oh iya kenapa kau datang sendirian dimana Leo dan Lyra ... biasanya mereka berdua selalu datang bersama denganmu." Ujar Loren menyengirkan dahi.


Larenia menatap Loren seperti seorang musuh, ia tidak terlalu suka banyak bicara dengan orang apa lagi dengan pamannya ini yang di masa lalu ingin mengambil Ibunya dari dirinya saat masih bayi. Sejenak ia membuang napasnya lalu berkata."Mereka besok sekolah paman dan Larenia datang kesini sendirian karena permintaan dari Kakek dan Nenek untuk datang berkunjung." Setelah menjawab Larenia berdiri dari tempat duduknya, Lina yang sedari tadi hanya memperhatikan keponakan dan paman itu kini memegang pergelangan tangan cucu perempuannya.


"Mau kemana sayang?"


"Nenek, aku sudah mengantuk, apa Nenek sudah mempersiapkan kamar untukku."


"Tentu saja ada sayang, mari Nenek antar ke atas.”


"Kakek, Paman, Bibi ... Larenia pamit dulu selamat malam." Ucapnya sebelum berlalu mengikuti Lina.


"Selamat malam juga sayang, jangan lupa turun makan malam dua jam lagi." Kata Lolly


"Lolly kau tidak perlu mengambil hati sikap dingin Larenia, dia seperti itu semua gara-gara didikan ayahnya sendiri yang menghasutnya dari kecil agar tida terlalu banyak bicara kepada dirimu dan Loren." Ujar Alexander. Loren dan Lolly langsung menoleh kearahnya.


"Maksud Papa apa?" tanya Loren bingung.


"Nak, Larenia sangat dekat dengan Louis dari pada Zenia karena saat Zenia mempunyai anak lagi sepenuhnya perhatian dan kasih sayang Zenia pasti akan terbagi untuk anak-anaknya, dari itulah Larenia sering mengikuti Louis mau itu saat bekerja atau tidak, Larenia selalu bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan Louis sepanjang waktu dan kalian pasti sudah tau bahwa Louis sangat mencintai Zenia dan mungkin hingga sekarang pria itu tidak bisa melupakan siapa saja lelaki yang pernah ingin merebut istrinya."


"Kau tau jika Kakakmu itu dulu sangat membencimu saat ia tau jika ternyata wanita masa lalu yang tidak bisa kau lupakan saat itu, mungkin saja Louis sudah mencuci otak putrinya sendiri agar tidak dekat dengan kalian berdua.”


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Alexander Loren hanya bisa menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya jika sifat posesif saudaranya tersebut tidak akan pernah hilang sekalipun usianya sudah mulai menua bahkan Louis sendiri sudah memiliki tiga anak sedangkan dirinya hanya satu putra saja yang ia beri nama Justin.


"Jadi papa minta kalian bedua maklumi saja, jika kedepannya Larenia bersikap sama."


____


Didalam kamar Larenia bersama dengan sang Nenek tampak duduk berdampingan sembari satu tangan Lina mengusap pelan wajah Larenia yang selembut bayi tersebut dengan sedikit balutan make up.


"Nenek." Panggil Larenia menghentikan aktivitas Lina yang mesih mengusap wajahnya.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Lina sejenak memperhatikan wajah cantik cucu kesayangannya


tersebut.


"Besok tolong bangunkan aku pagi-pagi sekali Nek, ada hal penting yang harus aku lakukan." Pintanya.


"Kau mau kemana? Besok pagi memang ada hal penting apa sehingga mau bangun pagi-pagi?" tanya Lina menatap serius cucu perempuannya tesebut lalu tangannya kembali mengelus namun kali ini rambut panjang berwarna kecoklatan milik Larenia yang ia elus. Dengan sangat hati-hati Larenia mengambil sebuah benda yang berasal dari tasnya dan meletakkannya di atas pangkuannya.


"Nenek, aku harus melaksanakan misiku terlebih dahulu, seseorang selalu ingin menganggu ketenganan keluargaku dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi apalagi sampai Mom dan Dad tau."


"Apa kau tidak takut sayang?" tanya Lina sedikit was-was apa lagi benda yang berada di tangan Larenia adalah sebuah pisau lipat yang sangat tajam bisa mengoyak daging jika seseorang terkena tusukannya.


"Tentu saja cucumu ini tidak takut, hal seperti ini sudah Larenia pelajari sejak kecil, Dad. Selalu membawaku ke tempat untuk belajar bela diri." Ucapnya begitu senang saat menginggat masa kecilnya yang ia anggap menyenangkan tersebut.


"Ya sudah sayang, Nenek selalu mendukungmu Nak."


.


.


.


.