The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kau Pantas Mendapatkannya."



Suara pukulan cambuk mengema di ruangan bawa tanah, Zenia dan Louis bergantian memukul Amanda hingga babak belur. Keduanya tidak begitu peduli dengan teriakan Amanda, mengingat perlakuan Amanda kepada putri mereka.


"Apa kau sadar! Begitu beraninya dirimu menyiksa dan mempermalukan putriku di depan umum!" Louis berkata dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di katakan biasa saja. Ia menarik rambut Amanda dengan kasar memaksanya menghadap keatas.


"Saya tidak tau jika Larenia anak Anda tuan, jika saya tau saya tidak akan melakukan hal itu kepada Larenia tuan." ucap Amanda paruh, air matanya mengering rasa sakit penyiksaan tiada tara dan tidak pernah Amanda banyangkan.


Bos di tempatnya bekerja menyiksanya seperti ini hanya gara-gara Larenia, siapa yang menyangka jika Larenia adalah anak dari Louis sekaligus penerusnya kelak, Amanda merasa ia sudah salah menganggu Larenia.


"Andai Larenia bukan anakku kau akan tetap memperlakukannya seperti itu dan menyiksanya hingga pipi mulusnya lebam seperti itu, seumur-umur aku tidak pernah memukul atau memarahinya sama sekali dan kau! Kau sudah keterlaluan memperlakukannya hingga seperti itu bahkan menuduhnya yang tidak-tidak!" ujar Louis geram, ia mencengram kedua pipi Amanda dengan sekuat tenaga, amarahnya ini tidak mungkin surut semudah itu.


"Saya minta ampunnnnn .... Tuan Arhhhh ...." teriak Amanda kala Louis menariknya rambutnya dengan kasar dan menyeret tubuhnya menuju sebuah bak mandi yang sudah di siapkan oleh anton di ruangan bawa tanah sebelumnya.


Byur ...


Louis mendorong Amanda memaksanya naik kebak mandi tersebut, rasa sakit bertambah kala luka-luka di sekujur tubuhnya terkena air dingin.


"Jangan coba-coba bermain denganku, kau tau jika aku bisa saja membunuhmu saat ini juga, namun aku berpikir jika itu terlalu mudah untukmu. Jangan memikirkan kematian yang mudah Amanda."


"Ampun Tuan ... saya tidak akan mengulanginya lagi, Ampun Tuan, Nyonya."Β  Ucap Amanda bibirnya bergetar benar-benar merasa takut, siapa yang menduga jika rupa Louis dan Zenia yang sempurna itu rupanya menutupi sifat iblis mereka.


"Tidak ada pengampuan Nona Amanda, salama aku belum puas melihatmu tersiksa, kau tidak akan bisa keluar dari sini. Sekarang nikmati permainan ini." ucap Zenia bergantian dengan Louis, kali ini Zenia mengambil sebuah sabit bengkok mengambi tangan Amanda lalu meletakkannya di pinggiran bak mandi tersebut.


"Kau ... kau mau apa?" tanya Amanda panik, apa Zenia akan memotong tangannya.


Zenia tersenyum tipis lalu menatap kedua mata Amanda yang ketakutan dan hal itu malah Zenia suka. Zenia sesaat menoleh kepada suaminya.


"Louis harus aku apakan wanita tidak malu ini?" tanya Zenia.


"Terserah kau saya Honey, memotong leher atau memutilasinya hidup-hidup juga tidak apa." jawab Louis kepada istri tercintanya.


"Pasti darahnya manis?" ucap Zenia, kembali menatap Amanda sementara tangannya mulai mendekat tangan Amanda.


"Nyonya ... jangan, saya mohon jangan!" kata Amanda menggeleng, ia tidak mau kehilangan apapun di anggota tubuhnya dan menjadi cacat.


Zenia hanya diam menatap Amanda dengan tampang dingin, Larenia putri kesayangannya telah di perlakukan kejam oleh wanita di gengamannya sekarang.


"Jangan? Bermimpi saja." kata Zenia, sekali ayunan sabit itu mengenai pergelangan tangan Amanda, hingga banyak darah keluar dari sana.


"Arhhhh ... Tidak! Tanganku!" teriak Amanda sekian kalinya, namun kali ini sangat keras. Tangannya mengeluarkan darah dan sangat sakit. Tangannya tidak terpotong namun sabit itu membuat luka yang begitu lebar, perlahan kesadaran Amanda hilang karena sudah kekurangan darah. Pandangannya perlahan kabur.


"Ampu ...." Amanda langsung pingsan di sana tidak berdaya.


"Cih, langsung pingsan dasar lemah!" ujar Larenia sedari tadi bersama Navier memperhatikan kekejaman kedua orang tuannya.


"Sayang, kau sudah puas?" tanya Louis kepada putrinya, Larenia mengangguk memainkan kedua alis bergantian lalu terseyum puas.


"Tentu Dad, setidaknya dia sudah mendapakan imbalan dua kali lipat, sangat menyenangkan." jawab Larenia, Louis dan Zenia langsung menghampiri putri mereka lalu memeluknya dengan erat.


"Sayang, maafkan kami ... Daddy dan Mommy seharusnya mengirim bodyguard lebih banyak untuk menjaga keselamatanmu, Maaf sayang kau sampai di permalukan." tutur Louis merekatkan pelukannya memejamkan mata, ia masih belum bisa menerima jika putrinya di perlakukan hingga separah itu oleh Amanda.


"Sesak Dad, Mom." Ringis Larenia karena kedua orang tuanya itu memeluk tubuhnya terlalu erat. Segera keduanya melepas pelukan.


Zenia mengelus pipi Larenia yang masih lebam, walau tidak terlalu jelas namun Zenia bisa melihat bentap kerasnya Amanda memukul pipi anaknya.


Larenia tidak menjawab ia hanya terdiam mendengar pertanyaan dari ibunya, satu alasan Larenia tidak membalas karena ia tidak mau jika ibunya kembali kecewa mengingat tempramen Larenia jauh dari kata baik jika sudah lepas kontrol.


"Kenapa sayang?" tanya Zenia kembali, namun Larenia tetap diam beberapa saat kemudian Larenia menggeleng pelan.


"Tidak Mom." Larenia hanya menjawabnya seperti itu, Zenia kembali memeluk putrinya mengelus punggung anaknya begitu lembut.


Sementara Louis perpindah memanggil Anton untuk membawa Amanda pulanh kerumahnya, ia tidak ingin jika ruangan bawa tanah miliknya menjadi tempat pembunuhan, lagi pula ia dan istrinya hanya bermain-main sedikit kepada Amanda walau kondisinya tidak bisa di katakan baik-baik saja.


Zenia melepas pelukannya lalu menarik tangan Larenia keluar dari sana bersama dengan Navier, lelaki itu hampir saja tidak bisa bernapas menyaksikan secara langsung bagaimana kejamnya mertuannya yang rupanya sama kejam seperti ayah angkatnya itu.


Melihat Amanda di siksa seperti itu membuat Navier mengingat ingatan buruk pertama kali bertemu Effendy enam bulan yang lalu, namun sekarang ia udah tau jika Effendy menyiksanya sekejam itu pasti ada alasan logis di dalamnya yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya di kepala Navier.


"Kalian pulanglah kerumah, Mommy besok akan datang menemui kalian." ujar Zenia tiba di parkiran mobil.


"Baik mom, Larenia mencintamu mom." ucap Larenia memeluk singkat Zenia bergantian dengan Navier yang melakukan hal sama.


"Iya, sayang kalian berdua hati-hati ... sampai jumpa."


***


Dua puluh menit kemudian, Anton menepikan mobilnya di sebuh rumah cukup besar untuk ukuran di negara ini. Desain yang cukup moderen, ia memapah tubuh Amanda yang sudah tidak sadarkan diri menuju rumah tersebut baru saja keluar dari mobilnya.


Tok ... tok ... tok ...


Anton mengetuk pintu rumah tersebut, tidak berapa lama dua orang wanita beda generasi membukakan pintu. Anton sempat terkejut melihat wanita yang tampak sudah berusia kelapa empat walau sudah berumur tetap ia bisa mengenali siapa wanita itu.


"An-ton ...." wanita itu juga tampak terkejut melihatnya, namun hanya sesaat sebelum melihat siapa yang ia bawa.


"Amanda!" teriak wanita berusia empat puluh tahun tersebut panik melihat anaknya berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.


"Kakak! Apa yang terjadi kepadanya?"


"Anggota keluarga kalian?" tanya Anton datar, keduanya mengangguk kaku.


Anton melempar tubuh Amanda begitu saja kepada dua wanita itu. Lalu berkata "Rawat dan obati lukanya ini uang untuk pengobatannya." ujar Anton lalu melempar setumpuk uang Euro kepada mereka.


"Anton ... apa yang terjadi kepada anakku? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya wanita itu kepada Anton yang hendak pergi dari sana.


"Nanti kau akan tau apa alasannya? Sebaiknya kau didik anakmu itu dengan baik-baik." tutur Anton sebelum melangkah pergi dari sana.


"Apa yang telah kau lakukan Amanda?" batin wanita itu, entah kenapa ia merasa takut jika anaknya telah membuat masalah kepada orang yang tidak seharusnya.


"Karen, bantu mama membawa kakak masuk dan cepat hubungi dokter." ucapnya kepada anak keduanya. Karen mengangguk lalu membatu mamanya membawa sang kakak yang tidak sadarkan diri tersebut.


.


.


...Sorry telat 😢...


...Next Time.....