The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Aku Belum Siap."



Robby dan kelompoknya tengah melatih tubuh agar bisa lebih kuat, dua hari kedepan mereka akan melakukan penyerangan sekaligus penyergapan markas Coosa Wex, ini juga perintah langsung dari ketua mereka melalui pesan suara, walau belum bertemu langsung dengan sang ketua Robby selalu meyakinkan dirinya jika yang mempin mereka adalah bukan orang biasa. Kondisi tubuh Robby sudah pulih yang tersisa hanya bekas luka di punggungnya yang tidak akan bisa hilang.


Sebuah gedung tua ia gunakan sebagai tempat latihan jauh dari pusat kota dan sulit untuk di jangkau oleh aparat negara sehingga sangat memudahkan bagi kelompok mereka beraktifitas, kecuali Larenia yang tidak bisa ikut latihan bersama mereka, gadis itu sudah menikah dan aktifitasnya sangat di batasi oleh orang tua-nya karena Larenia kelak akan menjadi penerus salah satu perusahaan keluarngannya.


Robby tidak terlalu mengambi pusing tentang Larenia, ia yakin temannya itu sangat kuat dan tidak terkalahkan, pertarungan terakhir mereka saja dengan mudahnya Larenia menjatuhkan musuh.


Robby mengawasi para anggota-anggota yang latihan denga saling melawan satu sama lain, ia tersenyum memperhatikan bagaimana anggotanya sangat giat.


"Robby, tunggu sebentar ada yang ingin aku katakan." panggil salah satu anggota yang berpenampilan bak preman.


"Apa?" sahut Robby singkat.


Tampak sang pria mengaruk kepalanya hendak mengatakan sesuatu kepada Robby namun terlihat sangat ragu. Robby menyengir bingung.


"Ada apa? Ayo katakan kepadaku."


"Itu ... apa sebaiknya sebelum kita beraksi, ada baiknya jika kita semua melakukan pesta wine atau anggur dulu, supaya bisa menambah semangat dan tenagan kami semua."


"Apa yang kau katakan, pesta apa? wine? Anggur? Apa kalian punya wine dan anggur di sini?" tanya Robby mengaruk alisnya.


Orang tersebut menggeleng, pasalnya di tempat tersembunyi seperti ini toko saja tidak ada.


"Huh ... nanti saja, kau kembalilah latihan." Ujar Robby menghela napas setelah medapat jawabna dari anggotannya.


"Sayang sekali, padahal kami ingin menikmati wine dan anggur sebelum beraksi." Katanya kembali, ia mendesah pelan. Ia hendak beranjak pergi dari sana sudah dua langkah namun tiba-tiba langkahnya terhenti kala mengingat sebuah club.


"Ehh, tunggu dulu ... di sekitar sini ada sebuah club kecil kita bisa berpesta disana." Orang itu membalik tubuhnya kembali mendekati Robby yang tengah menyalakan satu batang rokoknya.


"Jadi kau tetap ingin berpesta? Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu?" tanya Robby, ia menghisap puntung rokoknya lalu menghembuskannya kepada orang di depannya.


"Robby ayolah, ini juga demi kebaikan kami semua juga, kau ikut bersama kami di sana katanya ada pelayanan plus-plus." ucapnya, Robby yang tergoyah berpikir-pikir, ia melirik orang di depannya apakah ia harus mengizinkannya dan ikut ke club yang dimaksud.


"Bagaimana kau mau kan?" tanya orang itu lagi.


Tanpa kata lagi, Robby keluar dari gudang menyatujui ajakan dari rekannya itu, sudah lama ia tidak merasakan sentuhan wanita, Robby butuh seorang wanita malam untuk menyalurkan hasratnya. Para rekan-rekan yang lain pun bersorak gembira segera menuju club untuk berpesta sambil melepas penat.


____


Malam hari, setelah menikmati makan malam bersama, Larenia tidak langsung menuju kamar begitupun Navier, keduanya masih menikmati waktu di ruang keluarnga sambil menimati teh dan cemilan malam.


Navier sesekali melirik istrinya tatapannya menyiratkan rasa takut akan orang yang bernama Mikel, apa Larenia kenal dengan pria itu atau justru tidak. Walau sudah hampir tiga bulan menikah dan hidup bersama tanda-tanda jika Larenia hamil sama sekali tidak ada, pikiran Navier sangat terganggu berkali-kali ia mendesah kasar menarik napas.


Larenia yang menyadari itu pun dibuat penasaran.


"Navier, ada apa dengamu? Kenapa kau terlihat sangat gelisah? Apa terjadi sesuatu pada perusahaan Ayah dan kau merahasiakannya?" tanya Larenia menduga.


"Larenia ... sayang, aku ingin bertanya kepadamu?"


"Apa itu?"


"Apa kau mengingkan anak dariku? Kenapa sampai sekarang kau belum hamil, padahal kita sering melakukan hubungan." kata Navier menyuarakan isi pikirannya, ia menatap kedua bola mata istrinya dengan sangat serius.


"Anak? Aku tidak berpikir sampai disitu ... bagaimana yah, usiaku masih sangat muda, aku belum berpikir untuk memiliki anak, menikah muda saja bagiku sudah menjadi beban karena kehidupanku yang bebas kini sangat di batasi, Navier untuk masalah anak kita pikirkan nanti saja, aku belum siap."


Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, hatinya terasa sakit. Larenia dengan cepat menakup wajah suaminya lalu mengecup bibir yang biasa ia rasakan dengan pelan.


"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Orang lain mana yang akan mengambilku darimu?" tanya Larenia.


"Aku takut sayang, seseorang ingin mencurimu."


“Seseorang, jangan bilang yang kau maksud adalah Mik ..." ucapnya terputus kala Navier menariknya kedalam pelukan.


"Ternyata kau tau orang itu, jangan sebut namanya dan membuatku cemburu. Aku sangat mencintaimu jangan pernah pergi dari hidupku Larenia atau aku tidak akan bisa bernapas dengan normal agi." tutur Navier, tanpa sengaja air matanya menetes, ketakutan kehilangan Larenia benar adanya.


Larenia menghela napas, menusap punggung suaminya ia tau jika Navier menangis Larenia membiarkan suaminya untuk mengeluarkan semuanya.


"Siapa yang berani mengatakan perihal Mikel kepada Navier, apa Daddy?" sejenak ia menduga jika Ayahnya yang mengatakan perihal Mikel kepada suaminya, namun tidak lama kemudian Larenia menggeleng tidak mungkin Ayahnya akan sampai seperti itu, lalu siapa?


"Ayo kita kembali tidur, ini sudah malam ... jangan memikirkan orang itu lagi, dia tidak akan bisa menyetuhku." ajak Larenia melepas pelukan, Navier mengangguk patuh segera mereka menuju kamar.


Sampai di kamar, Larenia tidak langsung tidur terlebih dahulu ia membuka ponselnya membaca beberapa pesan masuk.


‘Sayang besok pukul sepuluh pagi kau jemputlah kakek Jeffry di bandara dan ajak pula suamimu untuk menemanimu.’– Mommy.


Setelah membacanya, Larenia meletakkan ponselnya kembali meletakkan di sembarang tempat lalu menoleh menatap sang suami yang duduk disampingnya.


"Humm ... Navier besok kita harus ke bandara menjemput kakekku dari London." Jadi Larenia, Navier medengarnya mengeser sedikit tubuhnya lebih dekat.


"Jam berapa sayang?"


"Pukul sepuluh pagi." Jawab Larenia.


"Baiklah ... ayo sekarang kita tidur."


----


Di tempat Lain, Amanda mengutak ngatik ponselnya merasa sangat gusar, nomor lama sang pacar tidak bisa dihubungi dan tempat kerja pacarnya dulu sudah tidak beroperasi lagi.


"Sebenarnya kau ada di mana sekarang, aku sudah kembali." ucap Amanda memejamkan mata, tidak menemukan keberadaan lelaki yang ia cintai hingga sekarang.


Amanda akhirnya memtuskan untuk menghentikan pencariannya mengenai pacarnya dan kembali ke hotel pasti ibunya mengkhawatirkan dirinya di sana.


.


.


.


.


.


Baby don’t worry ....😂