
Louis mengajak anak dan menantunya untuk makan siang bersama, setelah makan siang Larenia dan Navier berpamitan untuk segera pindah kerumah yang akan mereka berdua tinggali, karena keinginan Larenia sendiri agar dirinya lebih leluasa dan setidaknya dirinya tidak akan di awasi oleh Ayah dan ibunya.
Louis mengantar putrinya hingga tiba di pintu, sebagai seorang Ayah dirinya merasa berat untuk melepas putri kesayangannya untuk tinggal di rumah terpisah namun apa daya, Larenia sendiri yang menginginkan hal itu, Louis tidak bisa mencegahnya. Sedangkan Zenia tidak bisa mengantar putrinya karena di sibukkan oleh Leo dan Lyra yang terus merengek untuk disuapi makan.
"Dad, kami pamit dulu, nanti aku dan Navier akan berkunjung sesekali." ujar Larenia memandang Ayahnya di iring senyum.
"Iya Nak, hati-hati di jalan, Daddy mencintaimu ... dan ingat ini kau harus nurut perkataan suamimu karena yang memegang tanggung jawab dirimu sekarang itu adalah suamimu Nak, Daddy harap kalian bahagia selamanya seperti Daddy dan Mommy kamu." ujar Louis mengelus rambut Larenia lalu memeluknya memberikan nasehat-nasehat untuk putri kesayangan.
"Baik Dad." jawab Larenia.
Louis melepas pelukan itu dan berahli menatap ke arah Navier yang berdiri di samping Larenia, lelaki itu pula memberikan banyak peringatan dan ancaman untuk Navier menyuruh agar menantu itu menjaga Larenia selayaknya menjaga dirinya sendiri, Navier tentu saja mengiyakan karena ia sudah jatuh hati kepada Larenia sejak pertama kali bertemu dengan istrinya itu.
"Navier, tolong jaga putriku ...." ucap Louis menepuk pundak menantunya.
"Tanpa di minta pun, aku akan menjaga istriku, Dad." ujar Navier tersenyum lalu menoleh kearah Larenia.
"Kenapa dia malah memandangku, dasar lelaki aneh." guman Larenia memalingkan wajah menghindari bertatap muka dengan suaminya.
Suara deringan ponsel Larenia terpaksa membuat gadis itu berlalu untuk mengangkatnya, sebelumnya ia meminta izin kepada ayahnya namun tidak kepada suaminya Larenia mengabaikan Navier begitu saja.
Larenia mengangkat panggilan itu sedikit menjauh dari jangkauan mata suami dan ayahnya.
"Halo, ada apa kau menghubungiku? apa ada misi atau pekerjaan penting?" tanya Larenia kepada orang yang menghubunginya.
"Tidak ada Ni, tapi ada sesuatu yang lebih mendesak dari dua hal itu."
"Apa! cepat katakan kepadaku."
"Ni, salah satu teman kita tertangkap dan kini berada di penjara kota, kau tau jika sekarang kelompok kita sudah ketahuan gara-gara dirinya." ujar orang tersebut.
"Kenapa tidak di bunuh saja, dia telah berkhianat dan membocorkan tentang Geng kita, kenapa tidak di habisi saja."
"Apa yang kau katakan, kita tidak bisa membunuhnya saat ia berada di dalam perlindungan polisi."
"Hum, kalian ini sungguh bodoh. Tunggu aku ... setelah pulang dari rumah ayahku aku akan menemui kalian dan kita merencanakan untuk sesuatu."
"Baiklah."
"Ok." sahut Larenia mengakhiri panggilan itu.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke tas jinjinnya, lalu mendekati Ayah dan suaminya di sana, Larenia memberikan pelukan terakhir kepada Ayahnya sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana.
"Sampai jumpa Dad." ucap gadis itu melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobil hitam milik suaminya, Louis melambaikan tangan membalas putrinya tatapannya terlihat seduh, mobil Navier sudah berlalu pergi dari rumahnya Louis menghela napas dan masuk kedalaman rumahnya menemui istri dan kedua anaknya.
Zenia terlihat terburu-buru. "Mau kemana honey?" tanya Louis mencegah istrinya.
"Apa Larenia sudah pergi, aku mau menemuinya." ujarnya.
"Putri kita sudah pergi, ayo kita masuk saja." ajak Louis.
"Apa? Kenapa kau tidak memanggilku!" seru Zenia menautkan kedua alis.
"Sudahlah honey, ayo. masuk ... baru beberapa menit lalu putri kita pergi dengan suaminya, kalau kau merindukannya nanti dia akan datang kesini. Ayo kita masuk."
Zenia menghela napas sebelum menganggukkan kepala, tidak ada gunanya ia keluar karena putrinya sudah pergi. Padahal banyak hal yang ingin dirinya katakan kepada putrinya itu namun ternyata dirinya terlambat.
"Ya sudah ayo." sahutnya terdengar kecewa, Louis yang tau akan hal itu langsung memeluk istrinya dengan begitu erat.
"Larenia bukan milik kita lagi seutuhnya sayang, dia sudah menikah dengan lelaki pilihan kita."
***
Navier mengajak istrinya untuk masuk kedalaman rumah yang baru beberapa minggu lalu ia tempati salah satu fasilitas pemberian dari Effendy, ia mengandeng tangan istrinya begitu senang karena Larenia juga tidak menolak.
"Ayo masuk kedalaman rumah kita sayang." ucap Navier kepada istrinya.
"Iya." jawab Larenia singkat.
"Ada apa?" tanya Larenia.
"Tidak ada sayang, ayo masuk kedalaman rumah kita." ajak Navier kembali, begitu pintu itu terbuka Larenia sesaat terdiam.
"Kenapa sayang, ayo masuk ...."
"Biarkan aku saja yang membawa koperku, kau tidak perlu repot." ucap Larenia.
"Ah ... tidak aku ... tidak repot sayang, kau masuklah duluan, kamar yang paling besar adalah kamar kita." ujar Navier.
"Oh ... baiklah."
Seutas senyuman tipis diwajah Navier, setidaknya istrinya tidak sependiam dari sebelumnya seperti beberapa saat yang lalu.
Larenia melangkah masuk kedalaman rumah cukup mewah dan besar itu walau tidak sebesar rumah orang tuanya tapi setidaknya rumah ini cukup luas untuk ia tinggali dengan Navier.
Gadis itu mencari di mana kamar yang akan di tempati olehnya dan juga suaminya, langkahnya terhenti saat melihat sebuah lukisan yang begitu cantik namun terlihat misterius, gadis itu sejenak memperhatikannya.
"Sayang, kau sudah menemukan kamar kita?" tanya Navier mendekati Larenia yang masih berdiri di depan lukisan kuno itu.
"Larenia!" panggil Navier karena istrinya tidak menyahut.
"Iya." sahutnya singkat.
"Apa kau sudah menemukan kamar kita?"
"Belum, aku tidak tau dimana letaknya."
"Ayo ikut bersamaku."
Larenia menatap suaminya, entah kenapa lelaki itu terlihat tidak marah dengan sikapnya selama seharian ini, suaminya itu tetap sabar dan memperlakukannya dengan sangat lembut.
Navier melangkah menuju ke kamar dengan. Larenia berjalan di sampingnya, senyuman lelaki itu tidak hilang, bisa dekat dengan istrinya Navier hatinya terasa melayang.
"Larenia, terimakasih." ucapnya.
"Untuk apa kau berterimakasih, rasanya aku tidak melakukan sesuatu yang baik untukmu atau yang lainnya." ujar Larenia.
"Lupakan saja sayang, kita sudah sampai." elak Navier dengan cepat. Dirinya tidak mau terjadi kesalahpahaman lagi.
"Dasar aneh." gumannya pelan tidak terdengar oleh Navier.
"Masuklah kekamar kita dan istirahatlah, kau pasti merasa lelah sepanjang hari kita berkunjung kerumah orang tua kita, setelah ini aku akan memasak makan malam untuk kita, sayang."
"Tidak perlu, setelah aku mandi ganti baju aku mau keluar." ujar Larenia.
"Kesinikan koperku, terimakasih banyak." pinta Larenia.
Navier menyerahkan koper itu kepada istrinya, ia tidak bersuara mengucapkan sepatah kata lagi, begitu istri nya mengatakan akan pergi padahal hari sudah menjelang malam.
"Kenapa hanya berdiri dan diam saja di sana, kau tidak mau mandi?" tanya Larenia.
"Tidak, aku mau menelpon Ayahku dulu." tolaknya beralasan.
"Ya sudah."
.
.
.
.
..