
Larenia menghabiskan sebotol wine tersebut dalam waktu singkat lalu kembali memesan air mineral setelahnya, ia masih menunggu pemilik baru club mewah itu sudah terhitung dua puluh menit sudah ia menunggu di sana dengan sabar, karena Larenia yakin jika orang yang membeli club milik ibunya itu adalah orang kaya, dengan senyuman mengembang di wajahnya Larenia mengetuk-getuk jari tangannya di atas meja, beberapa saat berlalu ia mulai merasa bosan hingga pada akhirnya kedua matanya tanpa segaja melihat seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari posisinya sekarang.
Larenia berdiri berinisiatif untuk mengusir rasa bosannya dengan duduk di sampin lelaki bertubuh gagah tersebut, entah kenapa ia tanpa sadar sudah berada di samping lelaki tersebut, ia duduk secara perlahan.
"Hai Tuan, sedang apa kau di sini siang-siang seperti ini?" tanya Larenia mengawali percakapan ia sedikit mendekatkan wajahnya hingga jarak hanya tersisa lima senti meter, Larenia tersenyum menunggu respon balasan pertanyaannya.
Lelaki itu tidak menjawab karena masih dikagetkan dengan kehadiran perempuanya yang berhasil menarik perhatiannya sedari tadi, ia menelan air liurnya saat perempuan yang berada di sampingnya itu dengan sangat ramah menyapanya.
"Hei Tuan! Tuan! ... Tuan! Anda kenapa?" tanya Larenia memiringkan kepala semakin mendekatkan wajahnya, namun lelaki itu justru berpaling ke arah lain menghindarinya seperti menghindari tatapannya.
Larenia menautkan kedua alis, ia bingung dengan lelaki di hadapannya ini yang mengabaikannya.
"Tuan saya mengajak Anda berbicara, kenapa tidak menyahut? Apa kau orang bisu? Atau jangan-jangan kau tuli hum ...." dengus Larenia merasa kecewa dan ini
untuk pertama kalinya ia di abaikan oleh seorang lelaki. Ia melambaikan tangannya di depan lelaki tersebut agar mau merespon ucapannya namun sia-sia saja.
"Cih ... dasar orang sombong! Yah sudah kalau kau tidak mau di ajak bicara, saya pamit ...." katanya sebelum beranjak berdiri kembali ke tempat awal ia duduk tadi.
Larenia kembali kembali ke mejanya dengan raut wajah sulit terbaca, bayangkan saja ia untuk pertama kalinya ingin mengajak seorang lelaki untuk berbicara untuk menghilangkan rasa bosan, justru malah tidak mendapat respon dan hal itu membuatnya malu sekaligus kesal yang bukan main.
Ia meraih ponsel dan langsung menghubungi pamannya ingin bertanya kenapa sampai sekarang orang yang membeli club milik ibunya itu belum menampakkan diri sama sekali, selama berbicara melalui via panggilan ponsel dengan pamannya Larenia sesekali melirik lelaki tadi dengan tatapan sinis penuh kebencian, setelah beberapa lama mendapat kabar jika pamannya akan datang kesana Larenia mengakhiri panggilan tersebut dan duduk manis di kursi menyilangkan kedua kakinya sombong.
***
"Paman Juan ... kenapa kau lama sekali?" teriak Larenia begitu melihat sosok pria berusia seperti Ayahnya, Juan salah satu orang yang sangat dekat dengan dirinya di bandingkan saudara-saudaranya yang lain. Larenia dengan wajah di tekuk langsung melambaikan tanggannya minta pamannya untuk duduk di meja bersamanya.
"Hai cantik, apa kabar ... sepertinya setiap hari wajah kau semakin mirip dengan ibumu sekarang." Juan menyapa dengan pujiannya begitu ia sudah duduk berhadapan dengan keponakannya, ia tersenyum miring sembari memperhatikan sekeliling ruangan club tersebut.
"Paman, dari tadi aku menunggu pemilik baru club ini, tapi sama sekali tidak ada orang ataupun tanda-tanda pemilik barunya menampakkan diri." Keluh Larenia dengan wajah kesal.
"Hum ... jadi kau dari tadi belum bertemu dengan pemilik barunya?" tanya Juan di angguki oleh Larenia.
Kedua mata pria paruh baya tersebut menangkap sosok pria berjas hitam rapi, lalu ia kembali menatap Larenia dengan tatapan penuh selidik. "Apa kau yakin belum bertemu dengannya?" tanya Juan sekali lagi mendapat anggukan dari Larenia sebagai jawaban.
"Kau benar-benar yakin, sayang ...." ujar Juan dengan menarik dagu keponakannya, Larenia seketika menepis kasar tangan pamannya itu dari dagunya, bagaimanapun tidak ada satupun lelaki boleh menyentuhnya wajahnya selain Ayah, Kakek atau saudara lelakinya.
"Jangan menyentuhku paman!" pinta Larenia.
"Heh! Ayahmu itu benar-benar seharusnya dari dulu aku habisi saja, sungguh menyebalkan! Baiklah paman tidak akan menyentuhmu ... tapi kau jangan menghindariku atau marah kepadaku."
"Iya Paman, tenang saja." Jawab Larenia.
"Tentu saja mau, karena ada yang ingin aku katakan kepadannya, biasa paman kesepakatan." Kata Larenia sambil memainkan kedua alisnya terlihat licik. Juan yang melihat dan mendengar perkataan keponakannya itu hanya menghela napas karena sifat dan tingkah laku Larenia lebih dominan kepada Ayahnya di bandingkan ke Ibunya, yaitu licik dan kurang ajar.
"Dimana orang itu, Paman?" tanya Larenia sangat tidak sabar.
"Kau ini." Seru Juan lalu menunjuk lelaki yang tadi di sapa oleh Larenia yang duduk pojokan, meski dari tadi orang itu tidak melakukan apa-apa di sana hanya duduk dan diam namun ketahuilah ia sangat menyesal karena tidak membalas sapaan dari Larenia, lelaki itu terlihat merenung entah apa yang dipikirkan olehnya.
Larenia membulatkan kedua matanya melotot, begitu Pamannya menunjuk lelaki yang sombong itu sebagai orang yang sudah membeli club ibunya. Seakan tidak percaya Larenia kembali menatap Juan meminta penjelasan.
"Jangan bilang, kalau orang sombong itu adalah pemilik baru Club Mommyku?"
"Kenapa? Memang dia orangnya, nama lelaki itu adalah Navier Dramino dan kau pasti tadi melihat nama baru club ini 'Club Dramino', jadi sudah jelas sayang, dia pemiliknya sekarang." Ucap Juan.
Saat hendak menyahuti Juan kembali, tiba-tiba saja suara panggilan masuk dari Louis menrungkan niat Larenia dan ia pun pamit untuk menjawab panggilan telepon dari Ayahnya itu.
Juan berdiri dan mendekati lelaki yang bernama Navier itu lalu duduk di sampingnya sambil menyenggol siku Navier yang sedari tadi melamun.
"Hei anak muda, kau pasti Navier ...." ucap Juan tiba-tiba mengangetkan Navier, sontak lelaki itu hampir jatuh dari tempat duduknya.
"Jangan takut, aku bukan polisi atau penjahat. Tenang saja kau tidak akan mati di tangannku." Kata Juan kembali membuat Navier menelan air liurnya dengan paksa.
"Kenapa Anda bisa tau nama saya?" tanya Navier, Juan menggenggam kedua tangannya lalu tersenyum misterius.
“Tentu saja, aku tau." Jawabnya singkat.
Mereka berdua menghabiskan waktu sambil berbincang-bincang ringan, begitu mudah Juan langsung bisa akrab dengan Navier lelaki yang sempat ia anggap adalah pendiam namun ternyata sangat ramah dan di luar dugaan Navier tau semua perihal hewan-hewan peliharan maupun hewan liar, Juan di buat kagum sekaligus takjub akan pengetahuan luas yang di miliki oleh Navier.
Berselag beberapa lama kemudianLarenia kembali dan menghampiri Juan karena harus segera pulang kerumah setelah mendapatkan perintah dari ayahnya.
Larenia menatap tajam Navier, tanpa meskipun lelaki tersebut memberinya sebuah senyuman manis namun Larenia terlajur kecewa akan penolakan Navier tadi sehingga perempuan itu setelah berpamitan kepada Juan ia langsung pergi dari sana, membuang sopan santunnya dengan menendang meja dan kursi yang menghalangi jalannya.
.
.
.
.
.