The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Perubahan."



"Kau dari mana sayang?" tanya Navier kini merapikan rambut istrinya yang kini berada di pangkuannya.


"Kenapa kau hanya diam, kau lelah? Mau tidur sayang? Atau kita makan malam dulu?" lanjut Navier bertanya namun tetap tidak ada sahutan dari istrinya sehingga Navier hanya bisa tersenyum saja.


Gadis itu menggeleng, Navier mengedipkan kedua mata lalu mengusap wajah istrinya kembali.


"Kenapa tidak menyahut? Apa kau sebenci itu kepadaku? Apa karena dengan menikah denganku adalah sebuah beban untukmu dan kau menyesal." tanya Navier beruntun, ia menatap seduh kedua mata istrinya.


"Apa itu benar?" tanya Navier lagi, kembali tidak mendapat jawaban, rasanya sangat sedih saat orang yang kita cintai tidak mencintai kita sama sekali.


Larenia justru merasakan detak jantung dua kali lebih cepat dan ini sudah yang sekian kalinya saat ia bersama dengan suaminya itu ia memejamkan kedua mata ini bukan salah lelaki itu, tapi keadaanlah yang tidak tepat. Larenia belum siap untuk menjalani rumah tangga namun karena permintaan Ayah dan ibunya sehingga sekarang ini ia menikah dengan Navier.


"Sayang maafkan aku, tapi tolong jangan terlalu dingin kepadaku, aku tidak sanggup." Kata Navier ia memeluk tubuh Larenia dengan erat, tidak ada penolakan gadis itu hanya diam saja.


"Sial kenapa dengan detak jantungku, apa aku sakit? atau jangan-jangan karena Lelaki ini." batin Larenia, sebenarnya ia bisa merasa nyaman dengan posisinya sekarang, ia lalu memandang Navier dengan tersenyum senyum tipis.


"Ti-dak, a-ku mau kekamar saja." ucap Larenia gugup lalu segera turun dari pangkuan suaminya dengan cepat Larenia pergi dari sana.


Navier tersenyum tipis begitu istrinya sudah tidak ada di sana, lelaki itu bisa menyadari jika tadi kedua pipi Larenia merah.


"Hum."


"Aku akan menyiapkan makan malam untuk Istriku." guman Navier berdiri sambil merapikan penampilannya.


Hingga pada akhirnya ia beranjak menuju dapur dan berencana mengambilkan makan malam untuk istrinya.


***


Larenia keluar dari kamar mandi, ia sudah memakai pakaian tidurnya dengan langkah yang santai ia mendekati Navier yang tampak duduk di sofa terus memandangnya sejak keluar dari kamar mandi.


"Apa yang sedang kau lakukan, kenapa belum tidur?" tanya Larenia kepada suaminya.


"Kemarilah sayang." panggil Navier. Larenia pun segera mendekatinya.


"Ada apa? Aku sangat lelah sekali mau tidur." kata Larenia.


"Duduk sini."


Larenia menuruti perintahnya Navier merasa sikap istrinya itu berbeda lagi, entah apa penyebabnya namun lelaki itu suka.


"Ada apa?" tanya Larenia pelan.


"Makan dulu sayang, lalu kau tidur tidak baik jika tidur dengan perut kosong nanti kau bisa sakit." ucap Navier lembut.


"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu." ujar Navier, Larenia sejenak menatap kedua mata suaminya lalu menurutinya.


"Aku sangat senang jika istriku bisa seperti ini setiap hari." guman Navier dalam hati sambil menyuapi istrinya makan malam.


Navier menyuapi istrinya dengan di iringi senyuman, obrolan kecil menemani mereka hingga suapan terakhir Larenia seakan terhipnotis akan perhatian dan kelembutan suaminya, sebelumnya yang memperlakukan dirinya seperti ini adalah Ayah dan Ibunya.


Setelah itu Navier membawa piring kosong itu ke dapur dan membersihkannya, sedangkan Larenia kembali ke kamar mandi untuk mengosok giginya setelah makan.


Selanjutnya keduanya masing-masing naik ke tempat tidur karena sudah pukul sepuluh malam, sehingga rasa kantuk yang Larenia rasakan tidak membutuhkan waktu lama bagi gadis itu untuk terlelap.


Disisi lain Navier tidur menyamping, memperhatikan wajah cantik yang membuat hatinya begitu terenyuh dengan hanya melihat istrinya yang tertidur lelap, dengan perlahan ia mencoba meraih dan memeluk istrinya memberi kehangatan. Navier masih tidak percaya jika dalam sebulan saja kehidupannya berubah drastis, dari orang yang hanya bekerja sebagai pengurus hewan kini menjadi seorang pemilik bar terbesar di kotanya dan mempunyai istri yang cantik.


***


Pagi harinya, Navier terlebih dahulu terbangun dari tidurnya, untuk sesaat ia tersenyum karena Larenia membalas pelukannya dan terlihat sangat nyaman. Tatapannya tiba-tiba teralihkan akan bibir tipis berwarna pink milik istrinya, dengan sedikit perasaan gugup lelaki itu mendekatkan wajahnya dan memberi ciuman selamat pagi untuk istrinya.


Saat Navier hendak turun dari kasur tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Lantas ia menoleh.


"Kenapa tidak kau lanjutkan yang tadi." ucap Larenia membuka mata.


"Bukannya kita sudah menikah, kenapa kau tidak melanjutkannya, lakukan apapun yang kau mau kepadaku karena aku adalah milikmu." ucap Lerenia.


Navier di buat heran, kening lelaki itu berkerut menatap istrinya, mendengar perkataan yang keluar dari mulut Larenia seperti itu sepertinya aneh.


"Sayang, aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mau, cukup ciuman saja aku sudah merasa puas."


"Aku akan siapkan sarapan." lanjut Navier dirinya hendak pergi, namun kembali Larenia menahannya.


"Jangan pergi, kita di sini saja."


"Aku cuma sebentar sayang." ujar Navier.


Larenia menghembuskan napasnya, kenapa lelaki ini tidak mengerti akan perkataannya.


"Navier ...." panggil Larenia dengan suara melembut tidak seperti kemarin.


"Iya sayang."


"Jangan pergi, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu dan aku belum lapar, kesinilah." perintah Larenia.


Navier kembali mendekati istrinya padahal ia sudah hampir keluar dari kamar, Navier takut tidak akan bisa menahan diri lebih lama lagi apalagi Larenia tampak mau menggodanya. Dengan napas yang coba ia biasakan Lelaki itu duduk di samping istrinya yang masih tidur terlentang.


"Navier, ehh ... atau aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"


"Navier saja, sayang atau senyaman dirimu memanggilku saja."


"Um ... baiklah, aku panggil namamu saja, karena aku tidak bisa memanggil dengan sebutan mesra seperti kau memanggilku." ucap Larenia, ia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.


"Aku mau meminta maaf atas sikapku kemarin-kemarin yang sangat kasar kepadamu dan tidak menghormatimu sebagai suamiku, jujur saja Navier, aku sebenarnya tidak pernah menyangka akan menikah di usia muda seperti ini bahkan lebih muda saat Mommyku menikah dengan Daddyku, aku benar-benar tidak menyangka."


"Jangan meminta maaf sayang, kau tidak pernah salah."


"Dengarkan dulu jangan menyela perkataanku."


"Baiklah sayang."


"Aku bukannya tidak suka kepadamu, tapi kau tau sendiri bukan jika selama ini pergaulanku dengan lelaki di batasi oleh Daddyku dan Daddy tiba-tiba menginginkan aku untuk menikah denganmu, itu membuatku sangat terkejut. Kumohon maafkan aku." ucap Larenia, Navier yang mendengarnya hanya mengedipkan kedua mata, ia mencoba memahami hati istrinya.


"Sekarang kita sudah menikah dan bagiku untuk menyesal kini percuma saja, kita sudah pernah menghabiskan waktu bersama dan aku akan mencoba menjalini pernikahan ini bagaimana mestinya dan untuk masalah cinta, kuminta kau jangan pernah mempertayakannya karena kau sudah tau jawabannya."


"Aku sebagai istrimu akan melakukan tugas sebagai seorang istri kepada suaminyanya." kata Larenia.


Navier mengedipkan mata dan mempercayai perkataan Larenia kepadanya, setidaknya istrinya itu mau menerimanya sebagai suami walau belum di cintai.


"Sekarang kau boleh menyetuhku dan lupakan ucapkanku kemarin." pinta Larenia, ia meletakkan tangan Navier di bagian perutnya minta agar suaminya itu bebas melakukan apapun kepadanya.


"Apa kau akan menyesal lagi, aku takut kau marah sayang."


"Aku tidak marah atau menyesal, lakukan saja."


.


.


.


.


.