
Navier menatap sosok wanita yang berada di hadapannya sekarang seolah tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Larenia saat ini berada di depannya menatap kearahnya dengan tatapan kerinduan.
Untuk sesaat lelaki itu menggelengkan kepala mencoba untuk tidak mempercayai keadaan sekarang ini, kenapa bisa istrinya tiba-tiba ada di rumahnya sekarang ini, bukannya Larenia tinggal bersama dengan kedua orangtuanya saat ini, siapa tau dirinya hanya berhalusinasi namun setelah melakukannya bayangan wanita yang sangat ia rindukan tidak juga hilang dari hadapannya, apa wanita itu kini nyata.
"Sayang apa benar ini kamu? bagaimana bisa." lirih Navier berjalan tertatih menuju Larenia masih tidak percaya.
Wanita terlihat hamil itu menganggukkan kepala pelan.
"I-iya ini aku." jawab Larenia melihat suaminya dari ujung kaki hingga kepala, ia tetap berdiri di tempat karena terkejut melihat penampilan Navier yang saat ini Lareni lihat dalam kondisi tidak baik-baik saja dan terlihat sangat kacau.
Perlahan Larenia melangkah mundur, entah kenapa ia merasa bersalah atas keadaan Navier sekarang, kedua matanya terus memperhatikan penampilan dari suaminya itu yang tidak bisa di katakan baik.
"K-kau kenapa bisa seperti ini?" tanya Larenia, ia melangkah mundur membuat jarak sedikit jauh dari suaminya.
"Tidak, jangan takut dan pergi tetap di sini." Navier terkekeh sambil mendekati Larenia perlahan hendak memeluk tubuh yang sudah lama ia rindukan apalagi aroma wangi tubuh wanita itu bisa mendamaikan pikirannya yang kacau.
Larenia hanya menggeleng tanpa bersuara, apa selama ini Navier lebih kacau dari dirinya selama mereka di pisahkan.
"Larenia, aku mohon maaf, bagimana kabarmu sayang dan anak ini sudah tumbuh besar, apa kau benar-benar serius menginginkannya?" tanya Navier tidak sadar dengan ucapanya yang malah menyakiti hati Larenia.
Wanita itu mengangkat wajah lalu menggigit bibirnya menahan air mata hampir menetes. Sampai sekarang suaminya masih tidak menginginkan kehadiran anak yang tidak berdosa yang masih berada di dalam perutnya.
"Kenapa kau bertanya seolah meragukanku?" tanya Larenia melangkah mundur.
"Aku tidak ragu kepadamu, hanya saja bukannya dahulu kau tidak ingat memiliki anak."
"Dan ini belum terlambat untuk-"
Plak!
Larenia menampar keras pipi Navier, ia tidak menyangka bahwa lelaki ini tidak memiliki hati sama sekali sehingga anaknye sendiri ingin di bunuh.
"Kenapa kau tidak menginginkan anakku! apa salahnya kepadamu?" teriak Larenia murka.
"Kenapa kau masih saja membahasnya! jika kau memang tidak menginginkan anakku lebih baik kita berpisah dan semuanya akan selesai, kau hidup saja sendiri tanpa kami berdua, hiduplah sesukamu!" ujar Larenia dengan marah.
"Apa yang kau katakan sayang, hum ...."
Navier tersenyum dengan dua kali langkah lebar ia menarik dan memeluk istrinya dalam sekejap mata sehingga tidak ada cela bagi Larenia menolak pelukan hangat itu.
"Dia tidak salah, yang salah di sini adalah diriku, seharusnya kita tidak pernah di pertemukan, itu adalah penyesalan pertamaku dan penyesalan keduaku adalah anak ini." kata Navier mengelus punggung Larenia, saat ini ia kacau dan mengungkapkan isi pikirannya.
"Kenapa baru sekarang dirimu menyesal? apa karena kau begitu mencintai Amanda sehingga setiap perkataannya kau percaya."
"Tidak bukan seperti itu, aku belum selesai dengan perkataanku jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu sayang." sanggah Navier cepat takut Larenia salah paham dan meninggalkan dirinya lagi.
"Lalu ...."
Navier melepas pelukan dan menatap lekat kedua mata Larenia yang begitu indah.
"Aku mencintaimu tanpa alasan, takdir yang membawa kita sampai seperti ini dan anak kita tentu saja aku sangat menginginkannya, yah awalnya aku memang tidak ingin memiliki anak karena perkataan Amanda, aku berpikir mungkin begitu kau tau bagaimana sifatku yang sebenarnya kau akan membenciku dan anak kita juga, aku sangat takut kau akan membenciku karena aku tidak layak menjadi suami untukmu."
"Kau tau, aku adalah orang yang lebih buruk dari yang selama ini kau lihat sehingga aku berpikir aku bukan orang yang layak untukmu, aku takut jika anak-anak kita akan menjadi sepertiku." lanjut Navier kembali memeluk istrinya dengan erat.
"Kumohon jangan tinggalkan aku lagi, aku minta maaf sayang."
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, apa di pikiranmu aku sepicik itu, menurutku seburuk apapun kamu, kau tetaplah suamiku dan ayah dari anakku."
***
Hari selanjutnya, Larenia tampak sibuk di dapur bersendung pelan, hari baru dan hidup baru. Permintaan maaf tulus dari suaminya membuat Larenia dengan mudah memaafkan. Ia tidak ingin hidup dalam kesengsaraan terus-menerus. Cukup sekali saja.
"Nona membuat apa?" tanya Julia yang mengawasi Larenia memasak karena perintah dari Navier.
"Macaroon, kau mau mencobanya?"
"Tidak nona, terimakasih , saya tidak suka makanan manis." tolak Julia dengan sopan.
Larenia hanya mengangguk memahami Julia, mungkin sebagian besar wanita bertubuh langsing seperti Julia memang tidak suka makanan manis-manis, namun bagi Larenia makanan manis adalah sebuah kegembiraan baginya.
Dari kecil Larenia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak pernah merasa kekurangan.
"Ya sudah, pergilah jangan terus-terus melihatku jika kau tidak mau mencoba masakanku." ucap Larenia menaikkan bibir mencibir Julia.
Julia hanya terkekeh mendengar perkataan dari Larenia.
"Baiklah nona saya akan menunggu anda sampai selesai."
"Pergi jangan menggangguku! dasar orang tidak tau diri." ujar Larenia.
"Saya tidak akan meninggalkan Anda nona." tolak Julia.
"Terserah!" bentak Larenia, ia kembali melanjutkan masakannya tanpa menghiraukan kehadiran Julia.
Dua puluh menit kemudian begitu macaroon nya selesai Larenia langsung mencari tempat duduk, ia benar-benar tidak bisa tahan berdiri terlalu lama karena perutnya.
"Anak pintar, jangan membuat mama lelah yah." ucapnya kepada bayi dalam kandungannya, tidak lama lagi anaknya akan lahir dalam beberapa bulan kemudian. Larenia sudah tidak sabar.
"Julia hilangkan macaroon buatanku." perintah Larenia.
"Baik Nona."
"Humm, kenapa papamu lama sekali yah di atas? kenapa belum turun juga." guman Larenia.
"Selamat pagi." tiba-tiba ada seorang lelaki mencium pipinya dari belakang.
"Pagi, hampir saja aku terkejut."
"Maaf, aku terlalu bersemangat hari ini, oh iya sayang apa kau mau piknik bersamaku hari ini di pantai?"
"Piknik di pantai?"
"Iya, kau mau kan?"
"Tentu siapa yang akan menolak ajakan suaminya sendiri, tapi kau harus bercukur kau tidak cocok memiliki kumis dan janggut." kata Larenia mengusap dagu Navier yang di tumbuhi rambut-rambut halus.
"Hum, bukannya jika penampilanku seperti ini terlihat semakin tampan dan macho."
"Jelek." satu kata yang Larenia ucapkan menjatuhkan rasa percaya diri Navier.
"Ahh, jelek ... baiklah aku akan bercukur jika istriku yang melakukannya." ujar lelaki itu manja.
"Aku tidak tau caranya, tidak mau." tolak Larenia.
"Ayolah sayang, atau biarkan saja kumisku tumbuh panjang."
Larenia menghela napas, tidak di sangka Navier akan memaksanya.
"Baiklah, merepotkan sekali." gerutu Larenia cemberut.
"I love you. tidak perlu sayang biar aku saja." ucap Navier mengecup bibir merah itu dan segera beranjak menuju kamar mandi meninggalkan Larenia yang mematung karena kaget dengan tindakan tiba-tiba lelaki itu.
Larenia memegang pipinya yang merah, apa dirinya kini merasa malu, ia tidak tau perasaan yang mengelikan hatinya ini.
Wanita hamil itu tersadar kala telepon rumahnya berbunyi.
"Pasti Daddy." guman Larenia yakin, pasti ayahnya tau jika dirinya berada di rumah suaminya sekarang sehingga kemarin malam ayah maupun ibunya tidak mencarinya sama sekali.
Larenia mengangkat telepon itu, ia sudah mempersiapkan diri dan penjelasan untuk ayahnya bahwa dirinya tidak bisa hidup tanpa Navier di sisinya.
"Halo." kata Larenia pelan-pelan, ia mengambil napas sebelumnya.
Tidak terdengar suara sahutan dari penelpon. Larenia mengerutkan dahi.
"Halo, Dad." ucap Larenia.
"Kau tau, kalau daddy yang menelepon?" sahut orang tersebut.
"Hum, tidak Daddy hanya ingin tau bagaimana keadaan kalian sekarang? apa semua baik-baik saja?" tanya Louis beruntun.
"Iya dad, jangan khawatir." jawab Larenia.
"Syukurlah, oh iya sayang ... mulai sekarang Daddy dan Mommy tidak akan mengatur-ngatur hidup kalian lagi, tapi kalau ada masalah jangan ragu untuk menghubungi daddy atau mommy yah."
"Hah!" kaget Larenia.
"Berbahagialah sayang, Daddy tutup teleponnya."
"Titip salam buat mom dan kedua anak-anak nakal di sana dad."
"Tentu sayang, love you my daughter, good bye." ucap Louis.
"Love you too Dad."
Larenia meneteskan air matanya, entah kenapa dirinya merasa jika ayahnya susah di tebak, bukannya beberapa saat lalu memisahkan mereka dan sekarang malah menyuruhnya untuk hidup bahagia.
"Terima kasih dad." ucap Larenia sebelum Louis menutup teleponnya.
Saat bersamaan Navier menghampirinya setelah bercukur. "Ada apa sayang, apa Daddy masih belum memaafkan perbuatanku?" tanya Navier raut wajahnya sedih.
"Tidak, semuanya baik-baik saja, jangan khawatir. Daddy hanya menanyakan keadaan kita."
"Larenia, terima kasih tetap bersamaku setelah perbuatan buruk yang aku lakukan kepadamu dan calon anak kita. Aku minta maaf."
"Sudah ... kejadiannya juga sudah lewat, jangan membahasnya lagi."
"Tapi aku bersalah kepada kalian."
"Sudah Navier! katanya kamu mau mengajakku piknik kapan berangkatnya." ucap Larenia mengalihkan pembicaraan.
Navier menggeleng lalu tersenyum tipis. "Piknik di rumah sangat menyenangkan sayang, kau tidak boleh keluar rumah sebelum melahirkan anak pertama kita, aku takut terjadi sesuatu yang buruk jika kita keluar rumah."
"Apa maksudmu, sesuatu yang buruk apa?"
"Mikel masih mengincarmu sayang, aku takut jika kau di culik olehnya dan tidak akan pernah kembali ke sisiku lagi."
"Orang itu? Navier apa kau meremehkan kekuasaan Daddy dan Momnyku? tenang saja Mikel tidak akan mengganggu keluarga kita lagi." ujar Larenia tersenyum remeh.
Selama dua bulan terakhir Mikel sering mendatangi rumah orangnya dan meminta Larenia untuk di jadikan istrinya. Tanpa Mikel sadari jika dirinya menjadi incaran Louis.
Louis memanfaatkan kesempatan itu dan menjebak Mikel sehingga pria mempercayai Louis hingga pada akhirnya, Mikel jatuh kedalaman jebakan perusahaannya berhasil jatuhkan oleh Louis, sementara untuk pendukung Mikel yang berada di belakangnya yaitu Coors Wex. Sudah di tangkap oleh Louis dan Zenia karena menjadi pemasok terbesar Narkoba.
***
Navier memandang sebuah danau yang terlihat sangat tenang dan damai, senyuman terukir jelas di wajahnya.
Saat ini pasangan suami istri itu berada di luar setelah Navier berhasil di yakinkan oleh Larenia untuk piknik di luar.
"Sayang." panggil Larenia kepada suaminya.
"Iya."
"Apa kau suka memancing?"
"Tidak."
"Cih lelaki apa yang tidak suka dengan kegiatan memancing dan kenapa kau hanya menjawab dengan kata iya atau tidak." cibir Larenia.
"Maaf sayang, aku merasa bahagia sehingga menjadi bodoh."
"Konyol."
"Tapi kau mencintaiku, karena satu-satunya pria yang membuatmu hamil hanya aku."
"Diam, apa kau tidak malu dengan ucapanmu!"
"Untuk apa malu sayang. Hanya ada kita di tempat ini."
"Dasar gila." celetuk Larenia, ia menyengir kuda melirik suaminya aneh.
"Iya aku tergila-gila kepadamu, rasanya berpisah beberapa bulan ini membuatku hidup seperti mayat hidup."
"Diamlah, jangan banyak bicara, ayo memancing bersama saja." ajak Larenia. Ia berdiri dari kursi lipat mendekati Navier yang duduk di karpet.
"Iya baiklah, apapun akan kulakukan untukmu, asal kau bahagia sayang."
Navier menuruti permintaan Larenia dan ia menghubungi Charles untuk membawakan dua pancing untuk dirinya dan Larenia.
***
Empat bulan kemudian, hari yang di tunggu semua orang telah tiba, hari ini Larenia akan melahirkan anaknya setelah merasakan kontraksi di bagian perutnya. Untung saat itu Navier belum berangkat untuk mencek Clubnya sehingga Larenia tidak terlambat di larikan kerumah sakit untuk bersalin.
Sudah hampir tiga jam Larenia menahan rasa sakit, baru pembukaan delapan dua lagi baru dirinya bisa melahirkan anaknya.
"Navier kenapa ini sangat sakit, anak ini menyakitiku." kata Larenia meringis.
"Apa yang kau katakan, jangan berpikiran seperti itu, anak kita akan lahir sebentar lagi sakitnya akan hilang juga, sabarlah sayang." Larenia mengangguk, perutnya tiba-tiba mengencang bersamaan Larenia menarik rambut Navier.
"Sakit sekali, aku tidak tahan, panggilkan dokter sepertinya dia sudah mau keluar." ucapnya dengan susah payah.
Navier tanpa di minta dua kali melepaskan tangan istrinya yang ada di kepalanya dan segera mencari dokter yang akan membantu persalinan istrinya.
"Tuan bisa tunggu di luar."
"Tidak mau, aku mau menemani istriku."
"Silakan saja Tuan."
ย
Dua puluh menit berlalu, suara tangisan seorang bayi kini terdengar begitu nyaring. Louis dan Zenia yang sejak tadi sangat khawatir langsung masuk dan mencek kondisi putri dan cucunya.
Zenia mengambil alih bayi mungil yang baru lahir itu dari tangan Navier.
"Apa kau sudah memberikan nama untuk jagoan kecil ini?" tanya Zenia.
"Sudah Mom, namanya ... Raymond Kenzo, putra pertama aku dan Larenia." ujar Navier dengan bangga.
"Nama yang bagus, cocok untuk si tampan ini."
Navier tersenyum membiarkan putranya bersama dengan ibu mertuanya, setelah itu Navier pergi menemui Larenia.
"Sayang, anak kita tampan ... dan Namanya Raymond dalam artian orang cerdas, kelak putra kita akan menjadi orang yang cerdas dan baik hati."
"Oh." sahut Larenia singkat, ia masih kelelahan setelah melahirkan anak pertamanya.
"Terima kasih atas segalanya, aku selalu mencintaimu." ucap Navier mengecup kening Larenia.
Louis melihat pemandangan itu dari balik pintu, hanya tersenyum hangat, setidaknya Larenia kini akan selalu aman dengan Navier di sampingnya dan keduanya tidak akan terkalahkan seperti dirinya dan istrinya.
.......
.......
.......
...โขTamatโข...
...Sorry yah, gak Ada extra part nya. ๐๐ ...
...Sekian dan terima kasih. ...