The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Awal Perubahan Drastis."



Pagi itu Zenia mendatangi rumah putrinya, ia hanya datang sendiri tanpa Louis atau siapa-siapa.


Zenia membutuhkan waktu untuk bicara berdua bersama dengan Larenia saja tanpa orang lain, sebagai seorang ibu tentu saja Zenia sangat khawatir yang di lakukan oleh putrinya semalam dan satu lagi siapa orang yang selalu membantu Larenia agar tidak ketahuan olehnya


selama ini.


Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar Larenia dan menguncinya dari dalam, sementara Navier sendiri keluar dari sana seakan mengerti kalau sepasang ibu dan anak itu butuh waktu untuk berdua menyelesaikan permasalahan mereka, yang penyebab utamanya pasti istrinya.


Larenia menundukkan wajahnya tidak berani menatap sang ibu yang menatapnya dengan sangat tajam seperti ingin memarahinya lagi, sungguh Larenia tidak sanggup, kedua tangannya mengenggam ujung bajunya karena merasa sangat takut.


"Kau sudah siap dengan hukuman dari mommy, Larenia?" Zenia bertanya memecah keheningan.


"I-iya mom ...." lirih Larenia dengan pelan, keberaninya hilang di depan sang ibu. Seumur-umur Larenia tidak pernah melihat kemarahan ibunya seperti kemarin, pantas saja ibunya pernah menjadi salah satu ketua mafia terkuat. Sesekali ia melirik namun hanya sebentar saja lalu kembali tertuduk.


Zenia bersedekap dada menatap Larenia dengan dingin, auranya di dalam kamar itu menjadi sangat mencekam, Larenia tidak pernah tau jika ibunya bisa seseram seperti ini.


"Baiklah, dengarkan baik-baik ... mulai hari ini kau di larang berinteraksi dengan geng itu lagi dan jangan pernah membolos kerja sekalipun atau semenit pun, karena kelak dirimu akan menjadi pewaris kekayaan keluarga daddymu dan ingat ini Larenia! Jika mommy sekali lagi berbuat seenaknya atau kau akan melihat sisi mommy yang lain! Paham!" kata Zenia terdengar santai namun seakan mengancam Larenia, gadis itu hanya bisa mengangguk patuh. Ia tidak mau berbuat lebuh jauh lagi.


Kemarahan Zenia kini menjadi momok yang di takutkan oleh Larenia kali ini. "Iya mom, Larenia paham." sahutnya dengan suara pelan.


Zenia menyengir dan terseyum seakan dirinya tengah merencanakan sesuatu untuk Larenia kedepannya.


"Kalau kau paham, coba tunjukkan ketulusanmu kepada mommy, Larenia."


"Ketulusan seperti  apa Mom, Larenia menjawab dengan sungguh dan tidak akan melawan perkataan mommy lagi."


"Termasuk berbohong?" timpal Zenia seketika membuat Larenia membungkam, yah ... masih belum mengatakan yang sebenarnya kepada ibunya itu mengenai siapa yang membantunya selama ini.


"Hehh ... ternyata  putriku sudah tidak aku kenali lagi, baiklah kalau kau mau tetap merahasiakannya mommy tidak akan bertanya lagi, mungkin itu yang terbaik untuk semua orang." ujar Zenia lalu mengangkat wajah putrinya yang sedari tadi tertunduk.


Zenia tidak suka jika putrinya seperti itu. "Bagaimana luka di lenganmu, apa masih sakit?" Zenia mengalihkan topik.


"Tidak mom, tapi Larenia takut mom."


"Takut kenapa? Oh putriku yang nakal ini juga


sepertinya memiliki rasa takut juga, di mana sisi kau sangat pemberani itu!" Zenia berkata sambil meledek putrinya.


"Mommy."


"Larenia sayang, dengarkan mommy dan daddy selama ini selalu memantau dirimu setiap saat, kami tidak mau kalau kau berada dalam bahaya, apalagi seperti kemarin ... andai saja bukan bukan Ken yang menghubungi kami, nyawamu pasti sudah ...."


Zenia tidak sanggup melajutkan perkataanya, Ia membuang napas menghilangkan bayangan-bayang yang mengerikan kehilangan anak.


Larenia adalah anak perempuan paling ia cintai dan tidak ingin kehilangan putrinya itu, di.banding Leo dan Lyra, Larenia lah yang


ia sangat utamakan olehnya dan Louis.


"Larenia sadar mom, maaf."


"Sudah tidak apa-apa, Mommy tidak marah kok sayang ... mommy juga minta maaf atas perlakuan kasar mommy kemarin malam." Zenia mendekati Larenia lalu memeluknya dengan erat, ia ingat kemarin sempat ingin menyeret anaknya yang sedang terluka.


"Kau harus berubah sayang, janji kepada mommy, buang semua sikap aroganmu dan jadilah orang baik, maka kami akan bangga kepadamu." Lanjut Zenia mengusap kepala anaknya berharap Larenia kedepannya tidak melakukan kebodohan lagi dengan sifatnya yang tidak baik itu.


Larenia mengangguk pelan, ia tidak yakin bisa mengubah kepribadiannya.


Sebulan telah berlalu setelah kejadian itu, Larenia perlahan melaksanakan semua perkataan ibunya, ia sudah jarang marah-marah atau bertingkah kurang ajar kepada pembantu ataupu Julia.


Bahkan perubahan itu sangat di rasakan oleh Navier sendiri istrinya menjadi sangat romantis, ia suka semua ini.


Larenia juga mulai belajar memasak untuk sarapan di pagi hari bersama dengan suami dan bibi Jessi ikut sarapan bersama mereka,.saat bekerja pun Larenia lebih banyak diam dan sudah jarang membuat masalah yang membuat semua orang kerepotan.


Kecuali satu hal, Larenia masih memiliki rahasia besar yang ia sembunyikan dalam-dalam.


Sekarang ia masih fokus dengan progam kehamilannya agar Navier tidak jatuh kepelukan wanita lain, apalagi Larenia sudah tau jika mantan pacar Navier satu kantor dengannya siapa lagi kalaau bukan Amanda Tatum.


"Kau kerjakan laporan ini dan harus selesai dalam satu jam! Mengerti!" kata Amanda memberikan setumpuk dokumen di atas meja Larenia dengan wajah memandang Larenia remeh.


"Baiklah." Jawab Larenia santai dan tidak peduli dengan kehadiran Amanda.


"Tidak bisakah kau melihat dengan siapa kau berbicara sekarang, kenapa kau bertingakah seakan tidak ada orang."


"Maaf Nona Amanda, saya sibuk tidak ada waktu untuk sekedar berdebat dengan Anda." Larenia menoleh sesaat lalu kembali mengerjakan pekerjaanya yang menumpuk.


"Cih." decak Amanda lalu pergi meninggalkan Larenia di sana.


"Akhirnya penganggu itu pergi juga." Larenia menghela napas legah, ia melihat jam tangan sudah hampir waktu makan siang. Ia tidak boleh melewatkan makan siang agar tubuhnya tetap sehat, namun pekerjaannya masih banyak.


Para pegawai lain satu persatu sudah beranjak keluar dari ruangan menuju kantin atau keluar mencari restoran untuk makan siang. Salah satu teman kerja mendekati Larenia yang masih sibuk dengan komputernya.


"Larenia apa kau tidak mau makan siang? Ayo kita makan siang bersama." Ajak orang tersebut menawarkan Larenia.


"Humm, makan siang bersama ... baiklah kita makan siang bersama saja, tunggu sebentar." jawab Larenia.


Siapa sangka Larenia akan menerima tawaran orang itu, Larenia segera mematikan layar komputernya lalu berdiri segera pergi menuju kantin di lantai bawa.


Kedua orang itu berjalan berdampingan, Larenia berjalan dengan tampang wajah biasa saja namun orang itu justru berbeda, ia yakin di balik penampilan biasa saja gadis di sampingnya ini pasti tersimpan kecantikan yang tersembunyi.


Dan entah kenapa ia merasa saat melihat Larenia, ia bisa melihat sedikit kemiripan dengan bos besarnya.


"Nona ...." panggil seorang pria berpostur ramping seusia ayahnya.


"Paman An-ton." Lirih Larenia kaku, pasalnya ada orang lain kenapa asisten pribadi ayahnya itu malah menemuinya dan memanggilnya dengan sebutan Nona.


"Nona muda, Anda di cari oleh Tuan, katanya kau harus makan siang bersama dengannya." kata Anton semakin membuat Larenia semakin takut jika identitasnya di ketahui.


Larenia mendekatkan wajahnya arah Anton lalu berkata. "Katakan kepada daddy, aku hari ini akan makan siang di kantin sendiri saja, mengerti!" ucap Larenia berbisik pelan.


"Tapi ...."


"Katakan saja kepada Daddy, aku ingin makan bersama dengan pegawai lain, mulai hari ini ... pergilah paman." ucap Larenia tidak mau di bantah lagi, ia pergi mengajak temannya untuk menuju kantin meninggalkan Anton sendirian.


.


.


...Siapa yang mau jika Larenia berubah 😂😂....


...Nanti malam kelanjutannya yah 😳...