The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Alasan."



"Daddy, sampai di sini saja, aku akan turun." ucap Larenia kepada Louis saat sudah hampir sampai ke tempat tujuannya.


Louis segera meminta kepada supir pribadinya untuk menghentikan laju kendaraan.


"Kau yakin sayang, mau turun di sini. Kan belum sampai di tempat Navier?" tanya Louis. Larenia mengangguk, ia harus turun dari sini saja karena salah satu temannya mengajak Larenia untuk bertemu sebentar.


"Iya, Dad. Larenia turun, sampai jumpa, sampaikan salamku kepada Mommy dan kedua adik nakalku." ucap Larenia berpamitan dan mencium pipi Ayahnya dengan sayang. Terlihat sangat akrab, sifat dan tingkah laku Larenia saat ini ia pelajari dari ayahnya, jadi gadis itu sangat keras kepala sama seperti Louis.


"Iya, sayang baiklah dan kau hati-hati."


Larenia segera turun dari mobil Ayahnya melangkah cepat menuju sebuah kafe di seberang jalan, dimana ia akan bertemu dengan Robby.


Sementara Louis tidak curiga kepada putrinya sebab anak pertamanya itu tidak akan pernah berbohong kepadanya. Ia tidak tau saja tingkah laku Larenia di luar sana karena Juan dan kakeknya bisa menyembunyikan semuanya dari Louis dan Zenia.


Setelah itu, Louis akhirnya menyuruh supirnya untuk membawanya pulang kerumah sudah tidak sabar menemani istri dan kedua anaknya di rumah.


Larenia sekarang duduk berhadapan dengan Robby, keduanya menikmati secangkir kopi dan wafer cookies untuk menemani pertemuan mereka.


"Kenapa mengajakku untuk bertemu? Apa ada misi lain lagi?" tanya Larenia setelah menyeruput seteguk kopinya.


"Tentu saja ada, tapi misi kali ini sangat berbahaya, apa kau sanggup?" ujar Robby menatap Larenia.


"Hum? Sebahaya apa misi itu?" tanya Larenia lagi.


"Kau datang lah ke sebuah jembatan malam ini, aku dan yang lainnya akan menunggumu di sana."


Pembicaraan Larenia dan Robby berlangsung cukup lama, hingga tidak terasa sudah satu jam mereka berada di cafe itu, bahkan Larenia lupa jika saat ini mungkin Navier sudah menunggunya di Club.


***


"Astaga, aku sampai tidak sadar waktu, pasti Navier menungguku." guman Larenia dengan langkah terburu-buru menuju Club milik suaminya yang tidak terlalu jauh dari Cafe tempat ia dan Robby bertemu.


Larenia berlari, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore jadi ia dan Robby tadi menghabiskan waktu selama dua jam hanya untuk berbicara.


Tidak lama setelah itu, Larenia sampai dan ia sesegera mungkin masuk kedalaman. Janjinya untuk datang ke sini hampir saja ia lupakan.


"Sudah banyak sekali orang, bau alkohol menyeruak kemana-mana."


"Lalu dimana Navier." Larenia berguman, sambil mencari-cari keberadaan dari suaminya, entah kenapa Larenia merindukan lelaki itu.


Club mewah tersebut terlihat sangat ramai di bagian alunan musik disko, banyak anak muda maupun orang tua ikut berada di sana sambil berjoget, Larenia memang sering ke Club tapi ia tidak begitu suka dengan disko, biasanya ia hanya memesan anggur atau wine.


Kebiasaan buruk Larenia salah satunya adalah menjadi peminum, ini juga semua di luar pengawasan ayah dan ibunya. Namun minum wine atau anggur bukan tujuan Larenia datang ke sini.


Kedua sorot mata gadis itu masih mencari keberadaan suaminya yang entah sejak tadi belum ia temukan.


"Nona Larenia." sapa seseorang membuat Larenia lantas berbalik melihat siapa yang memanggil namanya.


"Maaf kamu siapa? Kenapa bisa tau namaku?" tanya Larenia kepada orang pria seusia sama dengannya.


"Sebelumnya perkenalan saya Charles Nona asisten pribadi Tuan Navier suami Anda." ucapnya memperkenalkan diri membungkukkan tubuhnya sesaat.


"Oh, iya dimana suamiku?" tanya Larenia, menanggapinya cuek.


"Mari saya antarkan Anda untuk menemui Tuan Navier di ruangannya." ajak Charles dengan sopan kepada istri Tuannya.


Pria itu tadi sempat menatap Larenia dengan kagum karena kecantikannya, namun ternyata sifat gadis ini tidak sopan dan sangat dingin.


"Oh Tuan, bagaimana kau bisa menikah dengan gadis yang cantik tapi menyebalkan seperti ini sangat beda jauh dengan sifat Tuan yang baik." guman Charles dalam hati tidak menyangka.


Larenia mengikuti asisten suaminya itu dengan kedua tangan di lipat sambil berjalan, memperhatikan sekeliling isi club yang ada sedikit perubahan.


"Nona silahkan masuk, saya masih ada urusan lain." ujar Charles membukakan pintu untuk Larenia.


"Kalau begitu saya pamit Nona."


"Iya, pergi sana." ucap Larenia lagi. Charles pun mengangguk menanggapi istri atasannya.


Larenia masuk keruangan di mana Navier menunggunya datang, tampang wajah yang datar adalah andalan gadis itu. ia tidak tau bagaimana caranya berpura-pura, gadis itu selalu apa adanya.


"Sayang." panggil Navier terdengar senang segara ia menghampiri istrinya. Larenia hanya melihatnya dengan wajah datar.


"Kau kemana saja? Kenapa sangat lama datangnya?" tanya Navier.


"Aku mau duduk." ujar Larenia menghindari pertanyaan dari Navier dan berjalan menuju sebuah sofa di dalam sana.


Navier menyengir namun ia berpikir jika Larenia tidak suka di interogasi, ia pun tidak ambil pusing Navier tidak mau istrinya marah jika ia bertanya.


"Humm, Navier." panggil Larenia.


"Iya, sayang. Kenapa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya lelaki itu duduk di sisi Larenia.


"Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, ini rahasia jangan beri tau siapapun!" ucapnya, ia sudah memikirkan alasan apa yang ia sampaikan kepada suaminya.


"Rahasia apa sayang, katakan kepadaku?"


"Itu, malam ini, aku mau tidur di rumah Nenekku. Tadi Nenek menelepon kalau beliau merindukanku, apa boleh aku bermalam di rumah Nenek malam ini saja."


"Kau mau ke rumah Nenek, tentu saja boleh sayang. Setelah ini kita pulang dan segara menuju kesana." kata Navier dengan lembut membelai wajah istrinya.


Larenia menggeleng, suaminya tidak boleh ikut bisa-bisa ia gagal untuk pergi ke jembatan malam ini.


"Tidak, aku hanya ingin datang sendirian, kau tidak perlu ikut." Larenia menurunkan tangan Navier dari wajahnya.


Sejenak Navier terdiam, apa maksud Larenia, apa istrinya ini tidak mau bersamaannya berkunjung ke rumah keluarga bersama Alexander.


Tatapan lelaki itu tiba-tiba sayu menatap kedua mata istrinya.


"Baiklah sayang, terus setelah kau pulang dari sini mau langsung ke rumah Nenek, aku bisa mengantarmu."


"Tidak, kita tetap akan pulang ke rumah dulu, nanti aku akan pergi ke rumah Nenek menggunakan motor." ucapnya, Navier terpaku mendengar perkataan istrinya.


"Mau naik motor? Malam-malam? Tidak boleh biarkan aku yang mengatarmu ke rumah Nenek!" seru Navier tidak setuju.


Larenia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau tidak boleh melarangku!" seru Larenia mengerutkan kening.


"Sayang, malam hari itu rawan bahaya, aku tidak mau kau sampai kenapa-napa, jangan marah ... kau itu istriku." ujar Navier meraih tangan Larenia lalu menggenggamnya.


"Percayalah kepadaku, aku akan baik-baik saja." ucap Larenia bersih kukuh ingin menggunakan motor untuk pergi. Ia harus mendapatkan izin dari Navier supaya tidak ada yang tau kemana dirinya pergi kecuali Nenek dan Kakek nya.


.


.


.


.


.


πŸšΆβ€β™‚πŸšΆβ€β™‚πŸšΆβ€β™‚πŸšΆβ€β™‚


Jangan lupa Like & Komen.