
"Sayang, ayo biar ku bantu." Navier mengangkat tubuh Larenia berpindah ke kasur membaringkan tubuh istrinya dengan lembut.
Larenia sudah di perbolehkan pulang kini mereka berada di rumah mereka.
"Selamat malam istriku tersayang, ingat aku selalu mencintaimu, jangan pernah berpikir menghilang dariku." lanjut Navier mengecup kening Larenia lalu ke bibinya.
Larenia tidak bergeming, tidak masalah sekarang semuanya sudah baik-baik saja, Navier juga sudah berjanji kepadanya tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Aku, mandi dulu, tunggu sebentar." ucap Navier, sebelum pergi tangan lelaki itu sempat mengelus perut Larenia.
Setelah Navier masuk kedalaman kamar mandi, Larenia mengusap wajah frustrasi, semuanya harus baik-baik saja selamanya.
Larenia tidak akan sanggup jika harus di pisahkan dengan suaminya, satu hal Larenia sadari saat ini, cinta dan obsesi sangat sulit ia bedakan atau karena kehadiran calon bayinya membuat dirinya sedikit takut kehilangan suaminya, inilah sebabnya Larenia tidak mengatakan apa-apa kepada orang lain termasuk ayahnya sendiri.
"Terimakasih Nak, kau masih ada di rahim mama." lirih Larenia berbicara kepada janin dalam kandungannya.
Lima menit kemudian, Navier keluar dari kamar mandi terlihat sangat segar dan hanya menggunakan handuk yang dililitkan sebatas pinggang.
Lelaki itu tersenyum mendekati Larenia yang kini duduk berselonjoran menatap suaminya dengan tatapan lapar.
"Kau mau sayang?" tanya Navier menyergai.
"Tidak, aku harus istirahat, aku tidak mau anakku kenapa-napa lagi, setelah terakhir kali hampir di bunuh oleh papanya sendiri." ujar Larenia, ia kini mengatakan isi pikirannya.
Navier memegang dagu Larenia. Mata mereka bertemu dan betatapan satu sama lain.
"Sayang, jangan salah paham ... aku minta maaf telah berniat membunuhnya, sepertinya aku akan membunuh orang lain saja yang membuatku hampir membunuh anak kita sayang." ucap Navier pelan, namun raut wajah sama sekali tidak pernah Larenia lihat dari sebelum-sebelumnya.
"Apa maksudmu? apa ada orang yang membuatmu sampai senekat ini."
"Ada, tunggu saja sayang, kau akan bahagia mendengar berita besok sore." ucap Navier dengan tangan melepas kancing baju istrinya satu persatu.
Larenia tidak paham, jika memang ada yang membuat suaminya hampir membunuh anak mereka. Maka orang itu lah yang harus mendapat ganjaran.
"Sia ...." perkataan Larenia putus saat Navier membungkam mulutnya dengan ciumannya.
Kini posisinya sudah berada di bawa Navier, Larenia tidak sadar jika saat ini tubuhnya sudah tidak berpakaian. Navier melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajibannya sebagai suami. Kali ini mereka melakukannya dengan pelan.
Β
Pagi-pagi, Larenia berada di dapur mencoba membuat telur goreng di sana dengan bantuan Julia.
"Nona kenapa tidak istirahat saja, saya bisa bawakan sarapannya ke kamar nona dan tuan." Julia menatap khawatir majikannya itu apa lagi baru kemarin Larenia pulang dari rumah sakit.
"Apa salah kalau aku masak?" tanya Larenia merajuk.
"Tidak nona, tapi ...."
"Ahhh diamlah, di sini siapa majikan siapa pelayan sih? aku hanya mau buat sarapan jangan mengganggu." Larenia menyela ucapan Julia, entah kenapa wanita itu sangat khawatir kepadanya.
Julia menghembuskan napas, sampai kapanpun sikap keras kepala Larenia tidak akan bisa hilang.
"Tuan." sebut Julia lantas membuat Larenia berbalik mencari keberadaan suaminya.
"Siapa yang kau sebut? jangan mengerjaiku, pergilah mengganggu saja." ketus Larenia, saat ia tidak mendapati keberadaan Navier. Julia sungguh lancang berani mengerjainya.
"Maaf nona."
"Sudah aku tidak marah, tidak perlu minta maaf, tapi. jangan ulang-"
"Tuan sedang apa di sini?" Julia mengulangi perkataannya memotong perkataan Larenia yang belum selesai.
"Julia, jangan main-main ... atau aku menghukummu." kesal Larenia mematikan kompor dan saat berbalik, Larenia kaget mendapati suaminya bersandar menatap kearahnya dengan tatapan tidak terbaca.
Navier lalu berjalan mendekat Larenia dan menyuruh Julia untuk pergi dari hadapan mereka.
"Sedang apa hum? kenapa kau tidak istirahat di kamar sayang." tanya Navier.
"Aku hanya mau membuat sarapan untukmu, apa salah?"
"Tidak salah sih, karena itu sudah kewajibanmu setelah semalam aku melakukan kewajibanku kepadamu." Navier mengecup pipi Larenia mesra.
"Tidak perlu sayang, aku akan berangkat sekarang juga, tunggu kejutan yang aku janjikan semalam pasti aku akan suka."
"Baiklah, sampai jumpa." sahut Larenia pelan.
Navier menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah segera kaki panjang lelaki itu berjalan memasuki rumah cukup besar tersebut.
Beberapa kali ketukan pintu Navier lakukan, tidak lama seorang wanita muda membukakan pintu untuknya dan mempersilakan Navier masuk.
Navier yang sudah mengenal wanita muda itu tidak sungkan masuk dan duduk di ruang tamu.
"Kakak mau apa kemari?" tanya wanita tersebut duduk berhadapan dengan Navier.
"Ini ambillah ... bawa kakakmu malam ini kerumahku." ucap Navier memberikan setumpuk uang dalam amplop coklat. Wanita itu memandang amplop coklat tersebut menyegirkan dahi.
"Apa maksudnya? kakak mau apakan kakakku?"
"Mau membunuhnya, kenapa bukannya kau tidak suka kepada kakakmu?"
"Iya ... tapi, kenapa kakak mau membunuh kakak Amanda? apa dia melakukan kesalahan lagi?" tanya Karenia kepada Navier, ia hanya melirik uang itu tanpa mau menyentuhnya.
Navier mengusap rambutnya memperbaiki tatanan rambutnya, lalu menatap Karen sinis bahkan terdengar suara decihan.
"Gara-gara dia yang meracuni otakku, hampir saja aku kehilangan anak dan istriku. Sebagai gantinya aku harus membunuhnya sebagai hadiah untuk istriku." jawabnya begitu ringan seolah membunuh orang adalah bukan masalah besar baginya.
Karen menelan air ludahnya, lagi-lagi Amanda bertindak bodoh. Namun bagaimana pun juga Keren harus melindungi kakaknya itu walau mereka bukan saudara kandung.
"Maaf, aku tidak bisa kak." tolak Karen.
Navier melirik Karen remeh, sudut bibir lelaki itu terangkat.
"Oh, kau menolak ... tidak masalah, aku akan menyuruh anak buahku untuk membawanya secara paksa saja."
"Kejam!" tiba-tiba Ananda datang masih memakai kursi roda, Ia memutar roda kursinya mendekat kearah mereka.
"Memang kenapa? aku dan istriku sama, jadi sudah jelas kami di takdirkan." ucap Navier menoleh malas ke arah Amanda.
"Tidak, Larenia berbeda, dia bukan monster ... hanya dirimu saja yang monster, pasti jika anakmu kelak lahir, akan menjadi monster seperti ayahnya ini." kata Amanda tanpa sadar membuat Navier justru menatapnya dengan marah.
Lelaki itu berdiri dan mendekati Amanda dengan tatapan ingin membunuh wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Ucapan itulah yang hampir membuat Navier melakukan kesalahan besar.
Tanpa aba-aba, Navier mencekik leher Amanda dengan kuat. "Katakan lagi, aku akan membunuhmu!"
Karen berteriak histeris melihat Amanda di cekik, wanita itu segara mengambil ponsel dan menghubungi ibunya.
Sementara Amanda mencoba melawan dengan meronta. "Le-pas...kan, aku monster." ucap Amanda.
Navier menekan cekikannya, sisi dirinya yang lain terlihat. "Iya aku memang monster dan akan membunuhmu, gara-gara mulutmu itu aku dan istriku hampir kehilangan anak." teriak Navier.
Amanda masih bertahan, "Kau menyalahkanku bodoh, yang hampir membunuh anakmu itu sendiri siapa? bukannya kau yang melakukannya." kata Amanda sesaat membuat Navier terdiam.
Karen mengambil sebuah pisau di dapur, jika Navier di biarkan kakaknya akan mati habisan napas.
"Diam! jangan bicara!" bentak Navier melototkan mata. Tangan masih setia berada di leher Amanda yang hampir kehabisan napas.
Karen bimbang haruskah dia menusuk Navier dan menyelamatkan kakaknya.
"Monster tetaplah monster, anakmu juga akan menjadi sepertimu."
"Matilah." ucap Navier mempererat tangannya mencekik Amanda.
Navier mematung merasakan sebuah tusukan mengenai punggungnya dari belakang. Ia perlahan menoleh kedua matanya menangkap Karen baru saja menyerangnya.
"Ka-u." ucap Navier darah mulai keluar dari punggungnya, tangannya perlahan melepas leher Amanda.
"Kakak tidak apa-apa?" Karen mengabaikan Navier, ia mendekati Amanda yang lemah, Amanda mengangguk lemah.
"Ayo pergi dari sini kak." ajak Karen mendorong kursi roda Ananda keluar dari rumah.
Navier mencabut pisau itu di punggung dekat lengannya tertancap. "Sial, beraninya." Navier melihat Karen menolong Amanda dan kabur meninggalkannya.
.
.
.
π€