
Kandungan Larenia bisa di selamatkan untung saja keluarga tidak terlambat membawanya kerumah sakit, dokter kandungan bernama dokter Lia mengatakan penyebab Larenia sampai pendarahan hebat adalah karena mengkonsumsi obar telarang bagi ibu hamil, apalagi kadungannya yang baru masuk empat bulan sangat rentan.
Louis malam itu tidak tidur sampai putrinya sadarkan diri, Louis selalu lemah jika itu perihal keluarganya, dua kali Louis melihat putrinya berbaring di rumah sakit, hatinya begitu sakit melihat Larenia menjadi selemah ini.
"Dad, kau.menangis." Kata Larenia mengusap air mata ayahnya yang duduk di sampingnya, ia tersenyum merasa bahagia karena ayahnya begitu mencintainya.
"Tidak sayang, daddy tidak menangis." Bantah Louis merasa sedikit malu, bukannya tadi Larenia sudah tidur.
"Cih, daddy cengeng, lebay banget." Kata Lyra melewati ayahnya berdecak ikut merasa malu, pasalnya bukan hanya keluarga kecilnya yang ada di sini melainkan semua keluarga besarnya berada di sini dan kakek Jeffry juga ada.
"Kau ini anak siapa sih? Kok bilang begitu kepada Daddy." Ikat Larenia membela ayahnya.
"Kakak sama daddy sama saja, iya ... iya ... kakak anak kesayangan makanya Daddy sangat sayang kepadamu." kata Lyra bercanda, ia suka sekali menggoda ayah serta kakaknya itu. Begitupun Leo yang turut ambil bagian.
"Benar kata Lyra adikku, Daddy selalu melihat kakak seperti anak kecil ... menyedihkan."
"Leo diam kamu." Kata Larenia sedikit kesal, apa salahnya dirinya paling dekat dengan ayahnya sendiri bukannya itu adalah hal yang wajar.
Louis memegang tangan Larenia menyuruh anaknya itu untuk tidak banyak bergerak, "Putri daddy jangan meladeni mereka, setelah pulang kau boleh memberi mereka hukuman, daddy dan mommy tidak anak larang. Sesekali kau harus memberi pelajaran untuk adik-adikmu sebagai anak tertua." Kata Louis membuat senyuman terukir di bibir Larenia.
"Benar dad?"
"Iya, demi putriku ini apapun boleh, tapi daddy minta kau sembuh dulu dan jangan ulangi kesalahan yang sama, jangan menkonsumsi obat-obatan lagi yah." Larenia menggangguk menyanggupi permintaan ayahnya.
Setelah sadar Larenia sudah tau penyebab dirinya hampir kehilangan anakknya, ia tidak akan mengatakan kepada siapapun siapa pelakunya takut jika keluarganya tau mereka akan membunuh pelakunya itu.
Samar-samar Larenia mengingat hal pertama yang ia minum saat bangun tidur saat itu, pertayaaan dalam hatinya bertumpuk, apa yang menyebabkan Navier sampai melakukan hal kejam seperti itu kepadanya dan anak mereka.
Larenia sedih mengingat hal itu, suaminya Navier begitu menyakiti perasaannya yang kini tulus. Apa lelaki itu membencinya dan tidak ingin anak darinya. Apa Larenia sudah terlambat untuk mendapatkan maaf atas sikapnya selama ini kepada Navier.
Anaknya tidak bersalah, janin yang tumbuh di dalam rahimnya bukannya hadir karena mereka memang ingin, bukan karena dasar keterpaksaan? Apa salah satu penghambat Larenia tidak kunjung hamil beberapa bulan yang lalu penyebabnya adalah suaminya juga.
Glek.
Navier kini mendekatinya membawa makanan di tangannya, ayahnya segera berpindah di gantikan oleh suaminya.
"Sayang, ayo makan dulu." kita Navier lembut.
"Apa niatmu sebenarnya Navier? Kenapa aku merasa kau ingin menyakiti anak kita lagi." Batin Larenia menatap takut suaminya itu.
"Aaa ... ayo buka mulutnya."
Larenia menggeleng, sampai kapanpun ia tidak akan mau menerima makanan atau minuman dari suaminya itu, Larenia sepertinya tidak mengenal Navier, ia menepis sendok itu dengan kasar hingga terjatuh membuat semua orang kaget.
"Aku tidak mau ... aku tidak lapar." Tolak Larenia memalingkan wajah, ia tidak ingin
melihat suaminya itu.
"Sayang, anak kita butuh nutrisi jangan seperti itu."
"Kalau aku bilang tidak mau, jangan memaksa!" bentak Larenia, Jeffry Louis dan Zenia segera menghampiri Larenia.
"Ada apa nak?" tanya Zenia, ia melihat Larenia dan menantunya secara bergantian.
"Mom, Larenia tidak mau makan, mau tidur saja."
"Iya ... iya, tidurlah putri cantik, mommy ada di sini."
"Navier, kau pulanglah istirahat biar kami yang menjaga putri kami." Kata Zenia.
"Tidak, maaf saya menolak, saya akan berada di sini tetap berada di samping istri dan anak saya." tolak Navier, ia membungkuk lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
Zenia yang paham jika menantunya itu khawatir kepada Larenia mengangguk, namun Larenia diam-diam mencengram selimutnya, ia masih mencoba bersabar akan sikap Navier. Sampai kapan suaminya itu akan berpura-pura.
Entah hatinya sakit atau apa yang di rasakan oleh Larenia saat ini, selama hidupnya mungkin dia akan menyembunyikan jika yang menyebabkan dirinya seperti ini adalah suaminya sendiri, apa Larenia akan sanggup menghalau rasa takutnya saat hanya bersama dengan suaminya itu.
***
Hari berikutnya Larenia belum di perbolehkan pulang, sehari lagi ia akan di rawat inap di sana, walau tidak begitu suka tempat seperti rumah sakit yang penuh dengan bau obat-obatan, Larenia akan mengalah demi janin dalam kadungannya.
Louis tidak masuk bekerja hari ini begitupun Navier yang menyerahkan tanggung jawab club miliknya kepada Charles untuk sementara. Navier sama sekali tidak merasa bersalah kepada anak dalam kadungan istrinya, ia justru lebih khawatir jika Larenia mengetahui semua tentangnya.
"Nak, apa kau suka di sini?" tanya Louis berhenti menndorong kursi roda yang di pakai Larenia ke taman belakang rumah sakit itu.
Larenia mengangguk senang, setidaknya ayahnya akan selalu melindunginya setiap saat apapun yang terjadi.
"Suka sekali dad, terima kasih."
"Sayang kamu itu anak daddy, jangan berterima kasih, okay." Louis menggeleng lembut sambil mengelus rambut putrinya.
Larenia sesaat melirik Navier tanpa sengaja pandangan mereka bertemu dan lelaki itu memperlihatkan senyumannya kepada Larenia, namun Larenia hanya terdiam tanpa membalas senyuman itu lalu kembali menatap ayahnya.
"Dad, aku haus." Pinta Larenia.
"Tunggu sebentar, yah ...."
Louis menoleh kearah Navier yang sejak tadi mengikuti mereka. "Navier tolong ambilkan air putih untuk istrimu."
Mendegar ayahnya menyuruh Navier untuk mengambilkan air minum untukknya, Larenia langsung menyela. "Jangan, Daddy aku mau daddy yang ambilkan bukan orang lain." ucapnya cepat sebelum Navier menyahut.
"Oh, baiklah nak tunggu di sini yah." Louis merasa canggung merasa tidak enak terhadap Navier karena ia sebelumnya menyuruh menantunya itu.
Larenia mengangguk patuh, setelah Louis pergi Navier mendekati istrinya laku berjongkok di hadapan Larenia. Matanya terlihat seduh seperti biasa ini adalah senjata andalan Navier yang selalu bisa merobohkan keangkuhan Larenia selama ini.
"Sayang ada apa denganmu? Apa kau marah sama aku?" tanya Navier akhirnya bisa berduaan dengan istrinya.
"Kenapa kau bertanya setelah tau jawabnnya Navier? Kau jangan berpura-pura polos di depannku setelah niatmu gagal." balas Larenia membuat lelaki itu kaget, apa.Larenia sudah tau? Lalu kenapa istrinya itu hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa.
Navier menghela napas panjang, ia lalu mengubah senyumannya terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Dengar sayang, aku melalukan itu bukan tanpa alasan ... seharusnya kita mencegah kehamilanmu, anak itu seharusnya tidak ada." kata Navier, Larenia kaget mendengar itu sekaligus merasa takut melihat perubahan tatapan Navier terhadapnya apalagi saat mengelus perutnya yang sedikit buncit.
"Kenapa?" tanya Larenia mengigit bibir bagian bawanya.
"Setelah sembuh, aku akan mengatakan kepadamu sayang dan aku akan jujur juga, tenang saja aku sudah tidak berniat membunuh anak kita sayang , rupanya dia sangat kuat pasti dia akan sehebat kita nanti." Kata Navier sangat berbeda dari biasanya bahkan nada suara suaminya itu terdengar dingin dan datar.
"Si ... apa ka ... u?" tanya Larenia terbatah-batah. Navier tidak menjawab namun malah mencium bibirnya singkat.
.
.
.