
Larenia dan Navier telah pulang ke rumah setelah mereka menyelesaikan masalah di club, lelaki itu begitu terpukau akan kecerdasan dari Larenia saat menyelesaikan jumlah pemasukan dari club nya setiap hari.
Larenia sekarang sudah bersiap-siap untuk pergi, sebelum itu Navier memeluk istrinya dan mencium keningnya.
"Sayang, aku akan merindukanmu, jangan lupa hubungi aku kalau sudah sampai di rumah Nenek." ucap Navier masih mengkuh Larenia dalam pelukannya.
"Jangan khawatir, aku akan pulang pagi-pagi besok." balas gadis itu membalas pelukan suaminya.
"Jangan lama-lama, aku akan selalu merindukanmu."
"Huumm."
Untuk beberapa saat Larenia membiarkan Navier untuk memeluk tubuhnya.
Bunyi deringan telepon membuat Larenia meminta kepada Navier untuk melepaskan pelukannya.
"Navier telepon rumah berbunyi kau angkatlah, aku juga harus segera berangkat, nenek sudah menungguku." ujar Larenia terlebih dahulu melepaskan pelukannya.
Wajah Navier seakan tidak rela melepas istrinya untuk pergi jauh-jauh darinya. Lelaki itu hanya menghela napas berat dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu berhati-hati lah saat di jalan." kata Navier dengan suara berat.
Larenia menyiaakan, selanjutnya ia melangkah menuju pintu. Sementara Navier memandang punggung istrinya yang perlahan hilang dari pandangannya.
Ia mengabaikan suara deringan telepon rumahnya yang sedari tadi berbunyi. Tatapan Navier tidak lepas dari pintu.
"Huh, sampai kapan Larenia akan berlaku seenaknya." guman Navier pelan sambil mengusap wajahnya gusar sendiri.
"Tuan, ada panggilan masuk, Apa saya harus mengangkatnya?" tanya salah satu pembantu rumah membuyarkan pikiran Navier yang tengah kalut.
"Biar aku saja, kau lanjutkan pekerjaanmu, setelah itu istirahatlah sudah malam." sahut Navier, lalu mendekati telepon rumah segera mengangkatnya.
"Baik Tuan, selamat malam." balas pembantu itu, Navier mengangguk menanggapinya.
"Halo."
"Navier, dimana Larenia?" tanya seseorang.
"Ayah, ada apa mencari istriku?" sahut Navier bertanya balik, ada apa Ayah angkatnya mencari istrinya.
"Aku mau bicara kepada menantu Ayah, coba sambungkan kepada istrimu!" perintah Effendy.
"Larenia, tidak ada di rumah Ayah, dia pergi ke rumah Neneknya." ucap Navier.
"Tidak ada?"
"Sejak kapan dia berangkat kesana dan kenapa kau tidak ikut bersamanya?"
"Beberapa menit yang lalu Ayah, aku tidak pergi karena Larenia tidak membiarkanku ikut." jawab Navier terdengar sedih.
Effendy mengerutkan kening, kenapa Larenia tidak membiarkan Navier ikut bersamanya saat berkunjung ke kediaman keluarga Alexander.
"Kenapa dia tidak membiarkanmu ikut, bukankah seharusnya bagus jika kalian pergi bersama lalu kenapa istrimu justru melarangmu ikut?" tanya Effendy.
"Aku tidak tau Ayah." sahut Navier.
***
Di tempat lain.
Segerombolan orang bertubuh besar dan tinggi sangat berotot biasa di sebut julukan dengan kelompok Wex, mereka adalah salah satu gangster kejam tanpa ampun hampir setiap harinya mereka beraksi dan merampok siapa saja.
Mereka juga salah satu pengedar narkoba, obat-obatan terlarang dan merupakan buronan polisi. Namun belum ada yang bisa mengakses tempat persembunyian mereka.
Coors Wex di pimpin oleh seorang pria dari Afrika selatan, warna kulit yang gelap dan perut buncit gendut selalu menggunakan tongkat untuk berjalan, yang bernama Androcles Groan.
Sebuah gedung ia jadikan pabrik industri yang lumayan besar, hanya di jadikan siasat untuk menutupi peredaran barang haram. Kelompok Coors Wex juga pembuat sebuah bom nuklir yang mereka simpan di sebuah bengkel mobil milik mereka. Kelompok itu mempunyai banyak anggota di dalamnya dan sudah tersebar di berbagai sudut kota, meski begitu mereka terlalu cerdik untuk tidak ketahuan.
"Silakan duduk Tuan Androcles." sambut pria muda berusia dua puluh enam tahun mempersilahkan Androcles duduk.
Androcles mengambil sebuah rokok di dalam saku jasnya dan membakarnya.
"Ada apa mencariku?" tanya Androcles dengan dingin setelah menghisap puntung rokoknya.
"Tuan, saya ingin minta bantuan? Meski ini salah tapi saya tidak punya jalan lain lagi, maukah Tuan untuk membantu saya."
"Apa?"
"Aku ingin menghancurkan seseorang yang membuat hidup saya berantakan dan merebut kembali gadisku."
"Lalu, aku harus melakukan apa untuk membantumu? Mikel?" tanya Androcles. Yah orang itu adalah Mikel, ia sudah tidak tahan dengan perlakuan Effendy kepadanya yang berhasil menghancurkan semua usahanya dengan menghasut dan memfitnahnya sehingga perusahaannya hampir bangkrut jika tidak segara ia tangani.
Mikel ikut mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, untuk sejenak ia menatap pria paruh baya di hadapannya, Mikel terpaksa mengambil jalan yang salah untuk melawan Effendy si pengusaha dan lintah darat itu.
"Saya memerlukan bantuan Anda untuk menghancurkan semua usahanya secara perlahan hingga hingga ia merangkak di bawa kakiku. Tuan Androcles saya juga ingin bergabung dengan kelompok Anda." ujar Mikel.
"Hanya itu, baiklah."
"Tapi ingat Mikel, jika kau berani berkhianat kepadaku persiapkan dirimu untuk jadi santapan singa peliharaanku."
Mikel mengangguk paham, ia harus menjalin hubungan dengan Androcles yang ia anggap bisa menjatuhkan kesombongan Effendy.
"Steven berikan dia surat syaratnya." perintah Androcles kepada anak salah satu buahnya.
Tanpa kata Steven memberikan selembar kertas yang berisi perjanjian dan kesempatan kepada Mikel.
Sebuah surat perjanjian Mikel langsung tandatangani dan sampel atas namanya sana dengan Androcles seorang mafia kejam yang tidak kenal ampun itu, yang mungkin bisa membantunya atau malah menjatuhkannya kelak. Itu tergantung dari Mikel sendiri.
***
Robby, Larenia dan beberapa temannya tengah berkumpul di tempat sesuai perjanjian.
Gadis itu memakai pakaiannya yang biasa ia gunakan untuk bergabung di gengnya.
"Misi kali ini sangatlah berbahaya Larenia, kita harus saling melindungi diri masing-masing." kata Robby memperingati Larenia untuk sekian kalinya.
"Iya aku tau, kau tidak perlu mengulangnya." sahut gadis itu terdengar kesal.
Robby mulai menceritakan hal apa saja yang harus mereka lakukan malam ini hingga selesai. Larenia dan yang lainnya mengangguk mengeti.
Setelah itu mereka berangkat menggunakan kendaraan masing-masing, Larenia yang memang pada dasarnya suka dengan motor tidak menerima tawaran salah satu temannya untuk memakai satu mobil bersama supaya lebih aman.
Setibanya di tempat tujuannya, Larenia dan yang lainnya memarkirkan kendaraan di tempat yang tidak terlihat.
Jalanan sepi dengan kendaraan hanya ada lampu jalan berwarna orange menerangi jalan sepi tersebut di malam hari. Sebuah pertemuan rahasia Larenia liat di sana tampak berbicara santai namun setelah beberapa saat kemudian terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Kedua matanya begitu terkesiap melihat tiba-tiba kedua orang itu terbunuh dengan dua kali suara tembakan. Seseorang pria berjas hitam dan di lehernya ada sebuah tato bergambarkan singa. Larenia langsung mengetahui pembunuh itu.
"Coors Wex." guman Larenia pelan, Robby langsung menutup mulut Larenia yang berada di sampingnya.
"Jangan ribut."
Larenia mengangguk paham, hal seperti ini bukan hal yang mengejutkan.
"Dalam hitungan ketiga, kita langsung bergerak." ucap Robby memberi aba-aba. Karena ia telah di minta untuk memimpin misi ini jadi keputusan semua ada di tangan Robby.
Beberapa lama mereka memperhatikan gerak gerik anggota Coors Wex itu mengambil tiga buah tas yang juga menjadi tujuan Larenia dan temannya saat ini.
.
.
.
πββ Udah mulai masuk Action.
π Ini berbeda dengan Kisah Zenia dan Louis yang kebanyakan romantisnya dari pada action nya. Sabaryah.. π€Ί,