The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kemarahan Zenia dan Kekecewaan Semua Orang."



Walau merasa kecewa, namun ia harus menyelamatkan anak perempuannya yang sangat bandel itu terlebih dahulu.


Larenia mengangguk dan membiarkan ibunya yang menyelesaikan semuanya dan membantu Robby untuk berjalan, temannya ini sudah terluka parah lagi sepertinya nyawa Robby tidak akan terselamatkan kali ini terlalu banyak darah yang keluar dan Larenia melihat jika Robby sempat terkena tembakan di bagian punggungnya sebelum pingsan.


"Sayang biar paman yang memgurus jasad Robby, kita ketahuan." ucap Juan mengertakan giginya, yah pemimpin El Salvador adalah dirinya dan mengizinkan Larenia masuk kedalam geng itu, bahkan terkadang memberi keponakannya itu misi yang sulit tentu saja Juan yakin jika Larenia selalu menang, namun kali ini semuanya kacau.


"Dia belum meninggal paman, napasnya masih ada." ujar Larenia mengkoreksi perkataan Juan yang meleset.


"Iya ... iya, baiklah."


>>>


Zenia dan Louis tengah menyerang musuh dari Larenia yang tersisa berbarapa orang saja dan sialnya yang tersisa itu adalah orang-orang kuat, Zenia meraih sebuah ranting pohon peluru di senjatanya saudah habis karena ia memang lupa mengisinya, dengan sadis Zenia menusuk perut orang yang ia hadapi itu dengan hanya menggunakan ranting kayu.


"Sungguh merepotkan, kau tadi mau membunuh anakku bukan ... sekarang ini rasakan, aku seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dan seorang yang kejam, jangan meminta ampun atau berteriak." kata Zenia.


"Cih, kau hanya seorang perempuan yang mengandalkan para lelaki, beraninya kau melukaiku wanita sialan." teriak orang itu membalas perkataan Zenia.


Zenia terseyum jahat, lalu memberi kode kepada suaminya agar melakukan sesuatu untuknya. Louis mengangguk paham, dengan cepat Louis mengambil sebuah linggis dan melemparkan ke arah istrinya dan kembali bertarung.


"Kau mencari masalah dengan orang salah." ucap Zenia meludah, jangan lupa dengan kemampuan bela diri yang hampir semua Zenia kuasai. Ia menyerang orang bertubuh lebih besar darinya dengan santai, bukankah ia mantan ketua mafia di masa lalu.


"Matilah, jemput ajalmu sendiri." kata Zenia menancapkan linggis itu tepat di kepada orang tersebut hingga tembus dan tewas di tempat seketika.


Sementara Louis bersama Ken melawan yang lain, tidak kalah sadis kedua pria itu tanpa berperasaan langsung memukul berkali-lagi orang-orang itu hingga tidak sadarkan, saat pingsan Louis memanfaatkan kesempatan itu dan mengikat leher mereka dan menganggantunya keatas pohong.


Lima belas menit kemudian, semua anggota Coors Wex tewas dengan serangan dari Zenia dan Louis jangan lupakan Ken yang ikut ambil bagian. Walau sudah lama tidak bertarung mereka masih seperti beberapa tahun lalu sebelum Black Rose di bubarkan paksa oleh Louis sendiri.


Semuanya kini mendekati Larenia yang sama sekali tidak berkedip saat melihat kekejaman kedua orang tuanya, pantas saja ibunya itu pernah di juluki manusia setan oleh pamannya Juan, sementara ayahnya di beri julukan demon man, Sekarang Larenia paham segalanya. Lamunanya terbuyarkan kala Louis langsung menepuk bahunya hingga Larenia kaget.


"Dad, Mom ... Kakek." lirihnya pelan, ia sadar kesalahannya kali ini.


"Larenia! Coba jelaskan semua ini kepada Daddy dan Mommy!" kata Louis menajam napasnya masih terengah-engah kelelahan.


"Apa dad?" Larenia malah tidak fokus, ia tertunduk tidak berani untuk sekedar mengankat wajahnya karena takut jika Ayahnya marah kepadanya, ah salah Ayahnya sudah marah.


"Apa yang kau pikirkan dengan masuk kedalam geng seperti ini, apa kau tidak bisa berpikir jernih hah! Ini sangat berbahaya Larenia dan Daddy sebelumnya sudah mengatakan jangan sekali-kali bergabung dengan geng seperti ini walau sekali pu itu adalah impianmu sejak kecil ... kami khawatir apa kau tidak bisa mengerti!" Louis marah besar kepada putrinnya, dan pertama kalinya dia seperti ini, Louis menjambak rambutnya sendiri merasa telah


gagal mendidik anaknya.


"Arhhhh ...."


"Larenia meminta maaf Dad." Lirih Larenia datar, bukan dirinya tidak takut kepada Louis namun, ia benar-benar sangat takut sehingga ia tidak berani mengeluarkan perkataan lebih banyak selain kata maaf.


"Larenia siapa yang berada di belakangmu selama ini, katakan!" kali ini Zenia yang berkata, ia merasa curiga jika selama Larenia tidak akan bisa berhasil jika tidak ada yang mendukungnya selama ini.


"Tidak ada Mom." jawab Larenia jelas berbohong, Zenia bisa membaca itu, ia menatap putrinya dengan tatapan dingin bagaimanapun Zenia sangat benci kebohongan.


"Jangan berbohong Larenia, Mommy bisa tau kalau kau berbohong."


"Tidak mom, Larenia sendiri yang mau masuk dan bergabung tidak ada yang membantu Larenia."


"Zenia! Jangan melukainya." Juan tiba-tiba mendekati semuanya setelah menyuruh seseorang membawa Robby ke rumah sakit.


"Apa, kalian mau menghalagiku ... anak ini harus di beri hukuman, selain tidak patuh dia juga kurang ajar, aku dengar jika tadi juga membuat masalah di perusahaan, sesekali aku harus menghukumnya, dan kau sebagai ayah selalu saja memanjakannnya! Sudah berapa kali aku katakan jangan terlalu memanjakannya lihatlah sekarang putri ku sendiri membahayakan nyawanya sendiri, ini semua salah kamu Louis dan kau Juan!" teriak Zenia marah besar. Larenia hanya diam-diam menangis telah membuat ibunya marah.


"Jangan menghalagiku." ucap Zenia, ia menari kasar tangan Larenia yang terluka menuju mobilnya, namun Juan tidak membiarkan hal itu.


"Zenia, Larenia kesakitan! Kau jangan menariknya sembarangan." ucap Juan, ia melepaskan tangan Zenia dan langsung memeluk Larenia ke dekapannya, bagaimanapun ini salahnya dan Larenia sama sekali tidak bersalah.


"Juan jangan bertingkah seperti pahlawan, ini urusan ibu dan anaknya kau jangan ikut campur!"


"Tapi Zenia, Larenia adalah keponakanku aku punya hak untuk melindunginya!"


Juan memeluk erat tubuh Larenia yang sudah takut dengan ibunya. Tanpa terasa air mata gadis itu menetes di baju pamannya.


"Mommy, Larenia minta maaf." kata Larenia pelan, ia tidak berani menghadap ibunya yang sudah marah besar.


"Maaf saja tidak cukup, baiklah hari ini Mommy melepaskanmu tapi besok bersiaplah menerima hukuman Larenia."


"Louis ayo kita pulang."


"Putri kit...."


"Dia akan baik-baik saja, ayo kembali kerumah kita." ajak Zenia mencela ucapan Louis, ia sendiri mencoba menahan gejolak dalam hatinya. Ia sampai mengigit bibirnya agar tidak menangis di depan anaknya.


Louis akhirnya mengangguk dan meminta Juan agar membawa Larenia kembali kerumah suaminya untuk menenangkan diri.


Sedangkan Jeffry dan Ken, hanya menghela napas mereka berdua bahkan tidak berhak mencampuri urusan keluarga Zenia dan Louis, apa lagi Larenia yang bertingkah kali ini sukses membuat semuanya marah sekaligus kecewa.


Navier yang baru sampai di tempat tujuan bingung dengan keadaan sekarang, apa yang terjadi kenapa istrinya menangis di pelukan Juan dan kenapa tubuh Larenia sampai luka-luka.


"Sayang ...." panggil Navier menghampiri Larenia dan Juan.


"Kau kenapa? Apa yang terjadi dan kenapa kau bisa berada di luar? Kapan kau perginya?" tanya Navier berutun, bukannya istrinya itu tadi tidur di sampingnya dan saat mendapat teleponlah Navier baru sadar jika istrinya tidak ada di rumah.


Larenia tiba-tiba melepas pelukan Juan dan berahli memeluk tubuh Navier, semoga suaminya tidak marah dengannya.


"Maafkan aku." ucap Larenia pelan, Navier yang tidak mengerti atas perminta maaf istrinya membalas pelukan itu lalu mencium kening Larenia dengan sayang.


"Ajaklah dia pulang Navier, Larenia butuh istirahat." ucap Juan.


"Baik paman."


.


.


...Gak tau, besok aku up atau tidak, tapi aku usahakan tetap up, max dua-tiga eps/ hari....


...Terima kasih telah setia.😁...