The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Di Permalukan."



"Sayang apa kakek tidak akan marah jika kau benar-benar hamil nantinya?"


Saat ini Larenia dan Navier berada di bak mandi dalam kamar hotel, untuk hari yang begitu melelahkan ini Navier memilih bermalam di hotel agar bisa lebih leluasa bisa bermesraan dengan istri cantiknya. Ia mencium pundak istrinya yang duduk di depan dengan tangan melingkar di atas perut Larenia.


"Jangan membahas tentang kakek Jeffry, dia tidak penting, Kau tidak perlu takut ... aku punya kakek dan nenek yang akan selalu mendukung apapun yang terjadi." ucap Larenia dengan tenang, Alexander dan Lina adalah kakek dan nenek yang paling utama dan ia sangat di sayang oleh keluarga dari pihak ayahnya tersebut.


Navier terdiam benar juga hampir saja ia melupakan orang tua ayah mertuanya itu.


"Atau jangan-jangan kau tidak mau anak dariku? Karena Amanda kekasihmu itu sudah kembali dan mau kembali bersamanya?" tanya Larenia memicingkan mata tiba-tiba emosi dengan cepat ia memutar badannya menghadap sang suami dengan wajah cemberut.


"Apa yang kau katakan sayang, tentu saja aku mengingkan anak dan ingatlah ini tidak ada wanita lain di hatiku selain kamu, Amanda? wanita itu hanya masa laluku, Larenia sayang."


Navier dengan cepat menjawab pertanyaan Larenia, apa pikiran Larenia tidak bisa melihat cinta tulusnya selama ini hingga sampai berkata seperti itu bahkan menduga yang tidak-tidak.


Navier bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali bersama dengan Amanda lagi, wanita itu hanya masa lalunya dan yang akan menjadi masa depan Navier adalah Larenia. Gadis jutek dan sangat sulit bagi Navier untuk mengapai hatinya namun ia tetap cinta bagaimanapun sikap Larenia yang kadang-kadang bisa berubah.


"Benar, kau tidak berbohong?" tanya Larenia lagi.


"Tidak sayang, aku bahkan berharap jika keinginan kita cepat tercapai, aku sudah tidak sabar menunggu hari membahagiakan itu tiba sayang." ucap Navier kembali merengkuh tubuh Larenia.


***


Hari udah malam, Navier mangajak istrinya untuk keluar mencari makan malam, mengingat mereka setelah pulang berkerjan sama sekali belum menyentuh makanan. Larenia pasti kelaparan setelah melayaninya tadi seyuman menemani langkah mereka.


Navier mengenggam tangan Larenia menuju restoran yang berada di dalam hotel tersebut, mereka mencari meja kosong, sebenarnya Larenia tidak suka jika di kelilingi banyak orang apalagi restoran di hotel ini hanya ada satu dan meja nya juga terbatas hingga sudah tidak ada yang kosong.


"Sepertinya kita datang saat waktu makan malam sayang, sudah tidak ada meja kosong, jadi bagaimana ini?" ucap Navier mengaruk kepala tidak gatal menoleh ke arah istrinya dengan terseyum kikuk.


Larenia hanya menapakkan wajah datar. "Kita kembali ke kamar saja kalau begitu dan suruh pelayan hotel membawakan kita makanan pesanan kita."


"Baiklah sayang, tunggu sebentar aku akan memesan makanan, kau tunggu di sini sebentar." ucap Navier, Larenia mengangguk patuh selayaknya kucing manis namun sebelum Navier meninggalkan Larenia, lelaki itu meninggalkan kecupan singkat di bibir merah wanitanya.


Larenia tanpa sadar tersenyum, canggung banyak orang yang melihat perlakuan dari suaminya di depan umum, sungguh memalukan namun juga membahagiankan.


Setelah Navier pergi Larenia berdiri dengan melipat kedua tangan di atas perut dengan tatapan angkuh, sebuah pesan masuk di ponsel Larenia, ia pun membuka dan membacanya.


‘Kau ada dimana sayang? Daddy dan Mommy mendatangi rumahmu tapi Jessi berkata kau dan suamimu belum juga kembali dari tadi.’ – Daddy.


Larenia membaca pesan itu ternyata dari Ayahnya.


‘Dad, aku dan Navier tidur di hotel hari ini, kami akan pulanh besok pagi.’- Larenia.


Setelah membalas pesan dari Ayahnya, Larenia kembali memperhatikan sekeliling restoran tersebut, masih saja sangat padat dengan tamu-tamu hotel lainnya.


Tiba-tiba saja, ada orang yang menari rambut panjang berwarna coklat miliknya dengan kasar, Larenia berbalik betapa terkejutnya dengan kehadiran.Amanda yang juga berada di hotel yang sama dengannya.


"Lepaskan rambut saya, Nona Amanda ... sakit." pekik Larenia meringis sakit, ia ingin melawan namun tidak mau membuat kekacauan.


"Hah, melepaskanmu jangan mimpi! Kau hanya wanita tidak laku dan merebut pacar orang! Tidak tau malu!" kata Amanda semakin memperlakukan Larenia dengan kasar, setelah itu ia mendorong Larenia dengan kasar hingga jatuh tersungkur ke lantai, selanjutnya Amanda mengambil segelas air yang ada di meja terdekatnya lalu menyiram tubuh Larenia.


"Dia gadis penggoda, hati-hatilah buat para pasangan di sini ... atau wanita penggoda ini merebut pasangan kalian." teriak Amanda mempermalukan Larenia, tersenyum sinis melihat kondisi Larenia kini yang sangat kacau.


Para orang-orang di sana mulai memotret dan mencemooh Larenia sebagai gadis murahan perebut pasangan orang, mereka tidak tau apa yang akan terjadi keesokan harinya jika keluarga gadis itu membaca postingan mereka.


Larenia mengepalkan kedua tangannya dan bangkit.


Plak!


Plak!


Amanda membalas dengan cepat, ia menampar Larenia tidak kalah keras, hingga hidung Larenia mengelurkan darah segar namun segera ia usap.


"Beraninya wanita kotor sepertimu menampar wajahku." kata Amanda marah, ia melangkah maju menantang Larenia yang berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi namun aura Larenia terlihat berubah.


"Nona Amanda, jangan menganggali kuburan Anda sendiri atau setelah ini ajalmu bisa di pastikan jika kau berbuat lebih jauh lagi, kau sama sekali tidak tau siapa diriku."


"Dan aku bukan wanita murahan." teriak Larenia suaranya mengema di ruangan itu.


Plak!


sekali lagi Amanda menampar Larenia karena tidak terima, memang siapa gadis ini selain bawahannya di perusahaan dan orang yang merebut Navier  darinya.


"Hohoho, rupannya kau tidak mau mengaku, hai kalian lihatlah wanita tidak ada rasa malunya ini, dia tidak terima di sebut sebagai wanita murahan, pasti kemaluanmu itu sudah di masuki oleh banyak pria, menjijikan sekali."


"Jaga ucapan Anda Nona Amanda, sebelum kesabaran saya habis." Bentak Larenia sudah berada di puncak kemarahan, ia menunjuk wajah Amanda.


"Wanita murahan tetap murahan, dasar orang miskin, kau pasti datang kemari bersama om-om genit kan dan tidur bersamanya, tidak mungkin kau mempunyai uang untuk membayar sewa kamar di sini."


"Nona aku minta sekarang Anda berhenti!" pinta Larenia, ia sudah mati-matian menahan diri namun Amanda kembali mengoyahkan pertahanannya dan semua orang yang ada di sana semakin memperkeruh suasana dengan mendukung Amanda.


"Kenapa kau malu mengakui kenyataannya?"


"Stop ... aku bilang stop Nona! Jika aku tidak menghormati permintaan Mommyku untuk berubah aku sudah pasti membunuh Anda saat ini."


"Cih, mau membunuhku ... yah ... yah ... orang miskin memang selalu mengancam agar bisa mendapatkan uang."


"Ini ambilah!" Amanda melempar setumpuk uang Euro ke muka Larenia lalu menertawakannya.


"Saya tidak membutuhkan uang Anda Nona." Larenia memungut uang itu lalu kembali memberikan Amanda, kepalanya tiba-tiba sakit namun Larenia masih bisa menahan sakit yang ia rasakan.


"Sayang, apa yang terjadi." Navier yang baru kembali kaget melihat kondisi istrinya kacau dan bajunya basah di kerumuni oleh orang-orang, dan ada Amanda.


"Navier kau suka kepada wanita kotor seperti dia, apa kau tidak merasa jijik dengannya." ucap Amanda tersenyum miring, ia mendapati beberapa foto Larenia dari orang suruhannya bersama beberapa pria berbeda salah satunya adalah Bosnya sendiri yaitu Loius. Dan foto masih ada di dalam tas nya ia akan mempermalukan Larenia lagi di kantor besok.


"Apa yang kau katakan, jangan menghina istriku!" Navier marah besar, ia mendekati Larenia lalu memeluknya dengan erat, Navier tau jika Larenia menahan diri agar tidak menyakiti siapapun karena sudah berjanji kepada ibunya.


"Ist-ri, ka-u sudah menikah dengan wanita kotor itu, Navier?" tanya Amanda tidak percaya.


"Amanda jaga mulutmu itu, sekali lagi aku mendengar kau mengelurkan kata-kata hinaan untuk istriku aku akan memasukkanmu kedalam penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik, jadi pergilah selagi aku masih baik hati."


Amanda memandang Navier tidak percaya, pacarnya ini mati-matian membela Larenia yang ia anggap sebagai gadis perusak hubungannya.


"Baiklah aku akan pergi dan besok aku akan menyebarkan foto-foto istrimu yang anggap suci itu bersama banyak pria." Amanda langsung pergi setelah mengatakan itu, sementara Larenia kepalanya semakin berat seketika ia langsung pingsan di pelukan suaminya.


"Larenia, bangun ...."


.


.


.


...😐🙏 Nanti aku lanjut lagi.. gak tau kapan sore atau malam. ...