
Hari dan tanggal pernikahan Larenia dan Navier sudah di tentukan, Larenia tidak biasa berbuat apa-apa kala hari itu kedua orang tuanya sangat bahagia mendengar penuturan Navier yang secara sepihak memutuskan bahwa dirinya sudah bisa menerima satu sama lain padahal Larenia tidak pernah berkata demikian.
Ia mendesah pasrah, tubuhnya kini yang berbalut gaun putih panjang dengan rambut yang di tata rapi, hanya terhitung tiga hari setelah hari penentuan pernikahannya akan di langsungkan hari ini, bahkan Nenek dan Kakeknya rupanya sangat mendukung perjodohan yang tidak ia ingingkan, Larenia sempat berpikir untuk kabur saja, namun setelah memikirkan perasaan kedua orang tua dan keluarganya ia tidak bisa melakukan hal itu yang akan mempermalukan keluarga besarnya, mungkin menikah dengan Navier bukan perkara ayang buruk baginya.
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan gadis itu, dengan cepat Larenia seketika menoleh kerah pintu kamarnya yang terbuka lebar menampakkan sosok lelaki yang ia kenali.
"Nia ...." panggil lelaki itu, Larenia melipat kedua tangannya di atas dada dengan raut wajah tidaak bersahabat.
"Untuk apa kau masuk kesini dan siapa yang mengundangmu?" tanya Larenia begitu dingin.
"Larenia ... ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tolong kau jangan mengusirku."
"Apa? Memang apa yang ingin kau sampaikan, kau jangan coba-coba mengacaukan pernikahanku dengan perasaanmu kepadaku yang bodoh itu, aku minta kau lupakan saja perasaanmu kepadaku ... aku sama sekali hanya menganggapmu sebagai teman saja dan tidak lebih."
Lelaki itu tampak kaget mendengar penuturan dari Larenia yang ternyata selama ini tau tentang perasaannya, lalu kenapa selama mereka berteman Larenia selalu bertindak biasa saja seakan tidak ada kecurigaan di dalam matanya.
"Kau tau semuanya?" tanya lelaki itu. Larenia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman miring.
"Kau pikir aku tidak tau tentang dirimu Mikel, hanya kau saja yang bodoh karena menaruh perasaan yang seharusnya tidak pernah ada itu. Jadi aku minta kepadamu kau pergi saja dan aku tidak perlu mendengar apa yang ingin kau sampaikan kepadaku."
"Acara pernikahanku akan di mulai beberapa menit lagi, sebaiknya kau pergi!" usir Larenia, ia dengan kesal menunjuk ke arah pintu berharap Mikel pergi dari hadapannya, namun bukan itu yang Larenia dapatkan justru lelaki itu menolak untuk pergi dan malah mendekatinya.
"Aku mencintaimu Nia. Kenapa kau tidak bisa mengerti dengan isi hatiku, aku akan membawamu pergi dari sini karena aku tau jika kau tidak menginginkan perjodohan ini." Ujar Mikel, ia mendekati Larenia dan memeluk tubuh wanita itu dengan.sangat erat berharap Larenia mau kabur dari pernikahan ini, karena Mikel sangat tau jika Larenia sama sekali tidak mengingkan pernikahan ini apa lagi ia sudah kenal bagaimana sifat asli gadis itu.
"Kau jangan kurang ajar Mikel, soal aku setuju atau tidak mengenai pernikahanku kau tidak perlu tau, karena kau bukan siapa-siapa bagiku." Larenia mendorong keras dada Mikel yang memeluk tubuhnya secara tiba-tiba.
"Larenia ... aku mencintaimu." Ucapnya kali ini ia menatap Larenia terlihat sangat menyeramkan namun tidak membuat gadis itu takut akan tatapannya.
"Mikel kau lelaki yang bodoh."
***
Navier berdiri di latar pelaminan, dirinya sangat gugup menunggu Larenia yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi miliknya, entah sudah berapa kali ia berdo’a agar kelangsungan acara pernikahannya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Di sisi lain Larenia di gandeng oleh Louis, untuk pertama kalinya senyuman bangga di wajah Louis tidak pernah luntur, ia merasa sangat bahagia telah menikahkan putrinya dengan seorang lelaki baik-baik yang kelak akan membahagiakan putri kesayagannya.
"Sayang Dad harap kau bahagia dengan Navier, kau jangan pernah bertengkar dengannya Daddy akan mengawasimu, Jangan coba-coba kau membuat masalah dengan suamimu kelak ... kau tau sayang Dad sangat menyanyangimu." Ujar Louis memperingati putrinya. Larenia hanya mengangguk pelan entah kenapa Ayahnya berubah seperti ini.
Sesampainya di pelaminan Louis menyerahkan Larenia kepada Navier, dengan senang hati lelaki itu menerima tangan Larenia.
"Navier ... aku percayakan putriku kepadamu, jangan sekali-kali menyakiti hatinya atau kau tau sendiri akibatnya." Tutur Louis dengan begitu santai namun penuh ancaman.
"Iya Tuan Louis, saya pasti akan membahagikan putri Anda." Jawab Navier dengan yakin.
"Terimakasih."
Larenia memandang Ayahnya begitu seduh saat Louis membalas tatapannya Larenia langsung mengubah mimik wajanya menjadi tersenyum namun terlihat sangat di paksakan.
Tanpa di ketahui oleh semua orang, ada sosok perempuan yang menyelinap masuk sebagai tamu di sana dan mengikuti acara pernikahan itu hingga selesai. Sedangkan di sisi lain Mikel terus menerus meneguk minuman beralkohol di salah satu meja tamu undangan, hatinya begitu hancur berkeping-keping melihat Larenia menikah dengan orang lain dan bukan dirinya, apa lagi dirinya terbayang-banyang akan penolakan mentah-mentah dari Larenia tadi semakin membuatnya tidak tahan.
***
Acara pernikahan Larenia dan Navier sudah selesai beberapa jam yang lalu, kini kedua mempelai itu sudah berada di dalam kamar hotel.
"Sayang ...." panggil Navier kepada Larenia terdengar sangat manis.
"Siapa yang kau panggil?" tanya Larenia menautkan kedua alisnya tidak suka.
"Kau, kemarilah biar aku bantu kau untuk melepas gaunmu." Tutur Navier bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Larenia yang masih kesusahan melepaskan gaun pernikahannya yang menjuntai kebawa sangat panjang dan mewah.
"Aku bisa melakukannya sendiri, jangan mendekatiku! Kau tetap ditempatmu." Seru Larenia.
"Hehehe ... Jangan takut kepadaku sayang, kita sudah menikah dan kau adalah milikku."
"Navier! Kau ini lelaki yang menyebalkan." Teriak Larenia saat suaminya sudah berada di belakanganya dengan lacang menarik resleting gaunnya, Navier menelan air ludahnya saat melihat punggung mulus istrinya sangat mengoda, lelaki itu mengusap pelan punggung mulus milik Larenia.
"Mulus sekali." bisiknya terdengar oleh Larenia.
"Apa yang kau hendak lakukan?" bentak Larenia tanpa sengaja, ia menarik tangan Naver dan membanting suaminya hingga kini Navier berada di bawanya dengan posisi diringkus olehnya.
"Uhhh ... Lepaskan aku sayang, jangan kasar begini."
"Kau yang jangan kurang ajar menyentuhku, ingat ini Navier aku sama sekali tidak menyukaimu." Ucapnya mengungci pergerakan Navier, Larenia yang sudah menguasai seni bela diri dengan mudah menjatuhkan lawannya.
"Aku tidak kurang ajar sayang, kau adalah istriku dan sudah sepatutnya kita menghabiskan malam berdua dengan mesra." Tutur Navier, ia mencoba memberikan pengertian kepada istrinya namun ternyata tidak berpengaruh justru dirinya kini semakin merasakan sakit saat Larenia menekan tangannya yang terkunci.
"Sayang, tolong lepaskan suamimu ini ... jangan menghabisiku atau kau akan menjadi janda
dalam semalam." tuturnya.
"Heh ... dasar orang lemah, kau pikir aku seorang pembunuh! Tenang saja aku tidak akan membunuh seorang lelaki lemah sepertimu." Ujar Larenia dengan wajah menghina, sesaat kemudian ia melepaskan Navier dan segara masuk kedalam kamar mandi menganti baju.
"Kau bilang aku lemah, oh tidak Larenia ... malam ini kau akan menjadi milikku. Kau akan sangat senang malam ini sayang." Guman Navier memperbaiki penampilannya, ia mengusap lengannya yang sedikit sakit akibat perbuatan istrinya.
Navier merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sudah di hias untuknya dan istrinya sebagai pasangan baru Navier ingin jika malam ini Larenia menjadi miliknya secara utuh.
.
.
.
.