The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Apa Kau Tidak Takut?"



Louis terlebih dahulu menuju aula pertemuan, tidak lupa ia meminta kepada Anton untuk menemani Larenia menuju ruang kerja, walau ada Navier bersama Larenia ... Louis ingin menjadi lebih waspada dan berjaga-jaga. Apa lagi kemarin Larenia mengalami hal buruk.


Aula.


Β "Apa apa Tuan Bos mengumpulkan semua pegawai di sini?" bisik-bisik para pegawai bertanya satu sama lain.


"Mana aku tau, atau jangan-jangan Tuan bos ingin menyampaikan tentang artikel yang mengikut setakan dirinya dalam skandal itu." balas yang lain.


"Tidak mungkin Tuan bos berselingkuh dengan pegawainya sendiri, itu tidak mungkin! siapa nama wanita itu ..."


Untuk sesaat mereka terlihat berpikir.


"Larenia, yah namanya Larenia wanita arogan itu. Siapa sangka dia akan berkelakuan menjijikan, aku merasa sangat malu perusahaan kita ini memiliki seorang wanita penggoda.


Seperti itu, pantas saja sikapnya waktu itu sangat arogan."


"Iya, dia wanita menjijikkan ...."


"Kasihan istri Tuan bos, dia pasti sedih melihat skandal tentang suaminya."


Begitulah orang-orang berbicara buruk tentang Larenia, mereka tidak tau saja jika ada yang mendengarnya mereka bisa saja di pecat secara di tidak terhormat bahkan mungkin di usir dari kota ini, keluarga Alexander dan keluarga felix adalah dua keluarga yang kuat di mata bisnis, bahkan kedua keluarga itu hampir setara sama kaya nya.


Semua perhatian kini tertuju kepada Louis yang tengah berdiri tegak menghadap semua pegawainya yang berjumlah sangat banyak, tiba-tiba saja Louis mengumpulkan mereka karena sudah tidak tahan dengan tudingan untuk anak kesayangannya.


Tiba-tiba semakin riuh dengan kehadiran Zenia dengan kedua anaknya yang turut datang kesana, semua pegawai terpukau akan kecantikan istri dari bos mereka dan anak-anak yang cantik juga tampan. Mereka mendekati Louis yang berdiri di tengah-tengah.


"Dad, kakak ada dimana?" tanya Leo tidak melihat kehadiran Larenia, ia sangat ingin memeluk kakaknya itu, melihat video itu Leo merasa gagal sebagai seorang lelaki, dirinya tidak ada saat kakaknya di perlakukan begitu kejam.


"Ada, sedang ganti pakaian ... tenangkan diri kalian, Daddy saja sudah berusaha tenang." Jawab Louis. Menoleh sebenar ke arah Leo. Selanjutnya Louis meerankul pinggang Zenia yang terlihat sangat khawatir.


"Honey, tenanglah ... putri kita baik-baik saja, dia baik-baik saja." ucap Louis lalu mengelus rambut istrinya tercinta.


Sementara Lyra dan Leo hanya saling memandang, keduanya sama khawatirnya seperti kedua orang tuanya.


"Aku juga baik-baik saja Louis, jika Larenia ku tidak apa-apa ... aku hanya ingin melihatnya dan memeluknya dan aku minta selesaikan kesalahpahaman ini, aku.tidak mau nama baik putriku hancur." ujar Zenia sedatar-datarnya, Louis mengangguk cepat.


"Dad, kakak ada dimana, Lyra mau menyusulnya." ucap anak berusia enam belas tahun tersebut kepada Louis.


"Tunggu saja di sini, kakak bersama dengan suaminya ... tunggulah sebentar saja."


"Baiklah dad." Lyra menghembuskan napas kecewa, ia melirik Leo yang tampak berpikr sama dengannya. Keduanya tersenyum memberi kode satu sama lain.


"Dad, Lyra mau ketoilet dulu, kakak Leo yang temani."


"Baiklah sayang, kalian hati-hati."


***


Larenia yang berjalan menuju Aula setelah berganti pakaian lebih bagus, sementara Navier mengaruk kepala tidak gatal, ia merasa tidak rela jika ada yang melihat kecantikan istrinya. Apalagi Larenia memakai gaun yang sangat cantik. Dengan rasa tidak rela Navier merekungh pinggang Larenia posesif. Memberi tatapan metikan kepada orang-orang yang berpasasan dengan meraka saat menuju Aula.


"Kenapa kau cantik sekali sayang, aku tidak rela jika ada menyadari kecantikanmu ini, terlebih jika orang itu Mek...." ucapan Navier terputus Larenia langsung memberikan tatapan tidak suka saat suaminya itu hendak menyebutkan nama orang yang paling dia benci.


"Jangan menyebut nama lelaki brengsek itu, mendengar namanya saja seperti mimpi buruk." ujar Larenia kepada suaminya.


Navier mengangguk lalu tersenyum, untuk sesaat ia memberi ciuman di kening sang istri, namun kehadiran orang yang mempermalukan Larenia tiba-tiba menghentikan langkah mereka.


"Amanda." ucap Larenia sangat pelan, bukan takut kepada Amanda melainkan ia kaget dengan kemunculan wanita itu tiba-tiba, bayangan saat Amanda menyiksanya kemarin masih teringat sangat segar.


"Heh, apa yang kau lakukan di sini dan kenapa penampilamu di ubah, hampir saja aku tidak mengenal wanita jala...."


'Plak!'


"Kau tega." Amanda memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Navier, kedua matanya berkaca-kaca memandang Navier yang tidak memperdulikannya berdiri di samping Larenia.


"Kenapa tidak, kemarin kau menyiksa istriku dan mempermalukannya saat aku tidak ada, kau pikir aku tidak tega kepadamu? Berpikirlah Amanda ... Larenia itu istriku dan bukan wanita seperti yang kau pikirkan kepadanya."


"Tapi dia memang seorang Jala..."


'Plak!'


Sekali lagi Amanda di tampar, namun kali ini bukan Navier ataupun Larenia yang menampar wajahnya namun Lyra, gadis itu dari tadi menyaksikan perlakuan wanita itu kepada kakaknya.


"Kau ... siapa kau berani menamparku?" tanya Amanda hendak membalas, segera Leo mencegahnya.


"Jangan menyentuh kakak dan Adikku, Nona." ucap Leo.


"Heh, kakak dan adik ... ohohoho rupanya kalian bersaudara, pantas saja wajah kalian mirip, tidak heran."


"Pengecut, kau pengecut ... Larenia dengan membawa adik-adikmu, baiklah kalian pikir aku akan takut. Lihatlah apa yang aku lakukan untuk membalasmu dan adik-adikmu Larenia." tutur Amanda kehilangan akal sehat, dengan capat ia mengambil sebuah pisau di dalam tasnya dan menarik Lyra yang saat itu tidak fokusz Amanda meletakkan pisau tajam itu di leher Lyra.


"Aku akan membunuhnya, dan pelakunya adalah kamu." kata Amanda, seakan tidak terkendali.


Lyra memandang Larenia dan Leo bergantian merasa takut, berkali-kali menelan air ludahnya sendiri.


"Jangan sakiti Lyra, lepaskan ... Amanda lepaskan." teriak Larenia, ia takut Lyra sama sekali tidak bisa bela diri seperti dirinya dan juga Leo.


"Hahahahaha, kau takut? Lucu sekali."


"Jika kau melukai adikku dan melihat setetes darah saja, aku tidak mengampuni mu Amanda!"


"Memang siapa kau? Kau hanya gadis miskin yang bermimpi jadi cinderella."


"Dan kau mau mengamcamku? Hah! ingat adikmu ada di tanganku, nyawanya ada di tanganku."


Saat itu tempat mereka sepi tidak ada orang-orang selain mereka, mempermudahkan Amanda untuk membuat Larenia marah dan akhirnya mau menyerah lalu menyerahkan Navier kepadanya.


"Baiklah, bagaimana jika kita melakukan pertukaran saja, kau berikan suamimu kepadaku dan aku akan menyerahkan Lyra dengan aman kepadamu." ujar Amanda memberi sebuah penawaran, kali ini Larenia justru tersenyum, apa wanita itu sudah gila hanya karena Navier.


Larenia melangkah maju, Amanda semakin menekan pisau itu ke leher Lyra. Hampir melukainya.


"Aku tidak main-main Larenia, aku akan menghabisi nyawa adikmu ini jika kau maju selangkah lagi." ancam Amanda kembali, ia melangkah mundur tidak membiarkan Larenia mendekat kearahnya.


"Leo panggil Daddy dan Mommy kesini." ucapnya menoleh kepada Leo.


"Baik kakak."


"Nona Amanda, apa Anda begitu buta tidak bisa mengenali kami, apa kau tidak takut jika masa depanmu akan hancur jika berani bermain-main denganku dan juga begitu berani mengancamku?" kata Larenia.


Sisi jahatnya kembali, sudah sebulan ia tidak pernah memperlihatkan sikap jahatnya, masa bodo jika ia di hukum kelak oleh Ayah dan ibunya. Sekarang Lyra terpenting.


Sementara Navier yang ingin membantu segara di cegah oleh Anton, agar tidak ikut campur ini masalah Larenia. Anton yang sedari tadi ikut memperhatikan dari tempat lain segara menghampiri mereka saat melihat anak ketiga dari Tuannya terancam.


Namun saat melihat Larenia yang berubah Anton membiarkan penerus perusahaan ini kelak, melawan Amanda yang sangat nekat. Mungkin setelah ini nyawanya tidak akan di ampuni oleh pasangan iblis tersebut.


.


...Next time... 😘...