
"Dia tidak akan pernah bisa seperti ibunya." Guman Juan mengelengkan kepala begitu Larenia sudah pergi dari sana, terdengar suara motor dari luar yang sudah pergi meninggalkan club tersebut.
Navier yang tidak sengaja mendengarnya lantas menoleh dengan raut wajah penuh tanda tanya akan perkataan Juan yang di tujukan untuk perempuan cantik itu.
"Didikan Ayahnya yang bodoh itu membuatnya seperti itu, sungguh ini di luar dugaan." Seru Juan kembali dengan uratan kekesalan diwajahnya.
"Memang Ayahnya kenapa Tuan?" tanya Navier pada akhirnya. Juan sontak menoleh kearahnya.
"Asalkan kau tau, Ayah keponakanku itu adalah orang gila, aku sampai sekarang sangat menyangkan bahwa sepupuku yang cantik itu menikah dengan pria gila, dia benar-benar lelaki gila." Ucap Juan tanpa sadar mengolok-golok akan sikap Louis yang posesif luar biasa bahkan kepada anak-anaknya juga.
"Kalau Ayahnya gila kenapa tidak di masukkan kedalam rumah sakit jiwa Tuan, bukannya.orang seperti itu perlu mendapat perawatan lebih." Navier gagal menangkap maksud perkataan Juan yang sebenarnya, ia berpikir jika ayah perempuan cantik tadi itu adalah orang yang memiliki riwayat penyakit jiwa, namun nyatanya tidak seperti itu, Juan hanya melebih-lebihkan perkataanya karena meskipun usia Louis sudah menginjak lima puluh lebih tapi sifat pria itu tidak pernah berubah sama sekali.
"Hah ... tidak seperti itu."
"Terus seperti apa Tuan?"
"Kau akan tau sendiri jika kelak kau bertemu secara langsung dengannya."
Juan bersedekap dada, niat awalnya untuk membicarakan tentang club sudah terlupakan karena mereka membahas tentang keluarga Louis, Navier yang ingin mengenal tentang Larenia lebih jauh terus saja bertanya kepada Juan agar mendapat informasi lebih banyak tentang perempuan itu karena merasa sangat tertarik.
***
Dirumah kediaman Louis dan keluarganya, di sana sudah ada beberapa orang berpakaian rapi dan Larenia yang sudah berganti pakaian menggunakan gaun berwarna merah maron dipadukan dengan balezer hitam rambutnya yang terurai panjang menambah kecantikan gadis tersebut, Larenia berdiri tepat di tengah-tengah kedua adik-adiknya. Sebagai anak tertua dari keluarganya Larenia tentu saja lebih menonjol.
"Kakak kenapa wajahmu seperti itu ... cobalah untuk tersenyum." Ujar Leo sambil melirik Larenia karena saat ini banyak tamu yang berdatangan kerumah mereka dan kakaknya itu hanya memasang wajah datar.
"Anak kecil tidak usah menasehati orang dewasa, terserah aku mau bagaimana, Lagipula Daddy mengatakan jika aku hanya tersenyum jika perlu saja." Ucapnya.
"Tapi Kakak, sekarang ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan Dad & Mom, meski tidak banyak orang yang datang, tapi Kakak cobalah tersenyum siapa tau Kakak dapat jodoh diantara salah satu tamu-tamu pria kita ini."
"Kau diam saja Leo, Kakak sangat kesal sekarang ... kau jangan coba-coba menguji kesabaranku." Larenia memperingati adiknya itu karena sedari tadi tidak berhenti berbicara memberinya nasehat, sehingga kesabarannya mulai menipis apalagi tubuhnya masih sedikit lelah dan sekarang ia di minta untuk berpenampilan seperti ini begitu sampai dirumahnya.
Larenia benar-benar melupakan hari penting kedua orang tuannya itu yang dirayakan setiap setahun sekali, ia melihat Ayah dan Ibunya yang sibuk menyalami tamu yang memberikan selamat untuk mereka, sebenarnya Ibunya tidak suka hal seperti ini namun apa boleh buat ambisi Ayahnya yang sangat ingin merayakan ulang tahun pernikahan mereka setiap tahun tidak ada yang bisa menahan keinginan Ayahnya itu.
"Leo ... Lyra, Kakak kekamar dulu, mau mengambil ponsel di atas." Pamit Larenia kepada kedua adiknya.
"Baik Kak Nia." Jawab Lyra ia memang pendiam namun tidak jarang ia menyahuti perkataan dari Kakak perempuannya tersebut jika Leo hanya diam.
"Lyra, Mom dan Dad sepertinya sangat sibuk, kau sudah siapkan hadiahnya?" tanya Leo.
"Iya Kak Leo ... tapi kita tunggu Kak Nia dulu."
"Tidak perlu menunggunya nanti malah kacau." Kata Leo menggelengkan kepala tidak mau jika kakaknya ikut campur dengan rencana mereka berdua yang dari sebulan lalu sudah di persiapkan.
"Hum, baiklah kak Leo." Jawab Lyra.
___
Tidak lama kemudian tiba-tiba ada bunga yang berjatuhan dari langit-langit rumah menghiasi ruangan rumah yang mendominisi warna putih tersebut, karena hari juga sudah menjelang malam dan langit sudah gelap, Lyra mengajak kedua orang tuannya untuk keluar melihat kembang api yang akan menjadi kejutan selanjutnya untuk hadiah ulang tahun pernikahan pasangan lama tersebut.
"Sayang apa kau sendiri yang mempersiapkan untuk Mom dan Dadmu?" tanya Zenia mengusap pelan wajah putri bungsunya, Lyra menggeleng mana mungkin ia bisa melakukan semua rencana seperti ini.
"Tidak Mom, Kak Leo yang merencanakan semuanya Lyra hanya membantu sedikit saja." Jawabnya begitu jujur karena pasalnya Lyra membenci kebohongan.
Zenia tersenyum begitu syukur, rasanya kehidupannya sekarang ini sangat lengkap dengan suami dan ketiga anak-anaknya yang sudah dewasa semua.
"Jadi Leo sekarang ada dimana?" tanya Louis mencari kebaradaan putranya itu.
"Lyra tidak tau Dad, tadi dia ada bersamaku namun sekarang tidak kelihatan."
"Kakakmu Larenia juga tidak ada." Sambung Zenia tidak mendapati Larenia diantara semua orang-orang.
"Pergi kemana mereka berdua?" ucap Louis begitu bingung, lalu berinisatif ia menghubungi Jessi untuk segara datang kerumahnya.
"Honey aku hubungi pengawal Larenia dulu, kita nikmati saja waktu berdua setelah pesta ini selesai." Ucap Louis tersenyum menaik turunkan alisnya bergantian, Zenia seakan sudah mengerti akan maksud dan tujuan suaminya itu hanya mengaruk kepala tanpa menyahutinya.
Larenia yang berada di kamarnya tertidur nyenyak tidak menyadari jika Leo masuk kedalam kamarnya secara diam-diam dan mengambil kunci motornya yang ia letakkan di atas meja, sungguh ceroboh memang karena Larenia selalu meletakkan barang-barangnya sembarang tempat sehingga mempermudah untuk Leo tidak jarang mengerjai kakaknya itu.
"Mudah sekali, maaf yah ... kakak, Leo pinjam motor kesayangan kakak dulu." Ucapnya berbisik begit pelan, Leo mendekati Larenia terlebih dahulu mentap wajah kakaknya yang sudah terlena di alam mimpi itu.
"Besok adikmu ini akan mengembalikkannya kak, jadi tenang saja jangan mengamuk." Bisiknya di telinga lalu memberikan ciuman di kening kakak kandungnya itu dan memperbaiki selimut Larenia agar tidur kakaknya itu lebih nyenyek lagi.
Leo mengedap-ngedap keluar dari kamar Larenia yang tidak pernah terkunci itu, Leo dengan raut wajah bahagia kelaur dari kamar kakaknya, ia terlebih dahulu menghampiri kedua orang tuannya dan memberikan ciuman serta salam untuk Ayah dan Ibunya.
"Dad, aku mau keluar dulu malam ini." Ucapnya kepada Louis.
"Kau mau kemana malam-malam seperti ini."
"Leo hanya ingin keluar membeli hadiah untuk kalian berdua Dad, Leo akan pulang satu jam lagi, Leo pergi dulu Dad, tolong jaga Mommyku dengan baik, Dad." Pamit Leo.
"Bicara apa kau ini, tentu saja Daddy akan menjaga istri Daddy sendiri, kau pergilah hati-hati dijalan kalau terjadi sesuatu cepat hubungi Daddy yah Nak." Ujar Louis mengusap rambut lebat berwarna hitam pekat milik putranya.
"Okay, Dad."
"Mom, Lyra ... kakak pergi dulu, mau di belikan apa kau ... adik manis?" tanyanya kepada adiknya.
"Apa aja yang kak Leo beli pasti Lyra suka." Jawab Lyra, Leo mengangguk lalu mengacak-gacak rambut adiknya tersebut setelah itu ia segera pergi sebelum pemilk motor yang ia curi itu bangun dan mengamuk kepadanya.
.
.
.
.
.