The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Identitas"



Hidup adalah kesenangan jika seseorang bisa menikmati setiap tindakan yang mereka ambil dan bisa bertanggung jawab pula, jika melakukan sebuah kesalahan orang tersebut wajib mempertanggung jawabkan kesalahan yang ia perbuat sehingga hati dan jiwanya merasa tenang, namun beda dengan gadis yang satu ini, ia sudah hampir tiga tahun lamanya masuk kedalam dunia mafia secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayah ataupun ibunya sendiri, karena ia tau jika memberitaukan kepada kedua orangtuanya pasti dirinya akan di minta agar meninggalkan dunia Mafia yang sejak kecil menjadi impiannya.


Larenia sudah dari kecil berlatih beda diri, belajar menembak menggunakan pistol dan juga beberapa senjata yang biasa digunakan untuk jika ada serangan mendadak, seperti dengan ibunya Larenia dengan mudah bisa mempelajari semuanya hanya dalam waktu singkat berbeda dari orang pada umumnya, hal itulah yang mempermudah bagi dirinya untuk bergabung di dunia mafia yang kejam, dirinya masuk dalam kelompok itu karena bantuan dari seseorang yang selalu mau mendukung tindakannya mau itu


salah atau benar.


Saat ini dirinya berada di sebuah cafe sembari menikmati hidangan yang baru saja ia pesan kepada pelayan cafe tersebut, di hadapanya ada seorang perempuan lain yang selalu menemani dirinya kemana-mana, Larenia sebanarnya tidak mau di ganggu namun apa boleh buat perempuan yang berada di hadapannya itu adalah salah satu orang suruhan dari ayahnya untuk mengawasi setiap pergerakannya.


"Nona ... sampai kapan Anda akan selalu makan di luar, Tuan dan Nyonya setiap harinya selalu meminta Anda untuk pulang agar bisa makan bersama-sama." ucap


perempuan tersebut memperhatikan Larenia yang menikmati makan siangnya.


"Katakan kepada mereka kalau aku tidak bisa." jawab Larenia tanpa mengalihkan pandangannya dari makananya sama sekali.


"Nona ...."


"Apa! Berhentilah mengajakku berbicara apa kau tidak melihat jika aku masih makan!" ucap Larenia meletakkan sendoknya di atas meja terlihat jika wajahnya tengah kesal.


"Maaf Nona, tapi Tuan Louis menghubungi saya agar Anda segera pulang." Katanya sambil menyerahkan ponselnya agar Larenia bisa melihat isi pesan dari Louis.


"Apa?" tanya Larenia menyengirkan kening heran dengan pengawalnya tersebut.


"Ini Nona, coba baca pesan dari Ayah Nona, Tuan Louis mengingingkan Nona agar pulang kerumah sekarang juga."


"Oh." Sahutnya santai namun tidak membuat gadis itu bergerak dari tempatnya sedikitpun dan malah melanjutkan menikmati makanan yang membuat sang pengawal mendesah kesal akan kelakukan dari anak majikannya tersebut.


"Nona!"


"Iya aku tau itu, tunggu sebentar aku mau menghabiskan makan siangku terlebih dahulu, jika kau sudah tidak sabar, kau pulang saja duluan dan katakan kepada Daddy dan Mommyku jika aku akan segera menyusul setelah makan di atas meja ini sudah


habis." ujarnya bersuara datar namun tatapannya seakan meledek perempuan tersebut. Seolah tidak peduli Larenia menikmati makanannya sesekali menari sudut bibirnya


Perempuan yang bersamanya itu hanya membuang napas meredam rasa kesalnya setelah mengajak Larenia berbicara walaupun sudah lama ia bekerja dengan Louis namun ini untuk pertama kalinya ia berusaha menahan emosi yang sudah memuncak.


"Dia ini anak siapa ... berbeda sekali dengan Nyonya yang anggung tidak seperti anaknya ย ini." gumannya dalam hatinya.


"Tapi Nona ... Mereka sudah menunggu Nona." ucapnya lagi tidak menyerah namun Larenia kali ini tidak menghiarukan pengawalnya tersebut.


"Aku tau itu! Berhentilah berbicara, aku tuli ย jadi kau tidak perlu mengulang-ulang perkataamu bodoh!" bentaknya.


"Maafkan saya Nona, tapi tolonglah Nona cepat habiskan makan siang Anda." Sahutnya.


Kali ini Larenia benar-benar mengabaikan perempuan itu, entah sudah beberapa kali ia meminta Larenia agar mempercepat untuk menghabiskan makan siangnya, namun sayang sangat sulit untuk membujuk Larenia, membuatnya hanya bisa mengelus dadanya mencoba bersabar menghadapi penerus perusahaan Alexander atau bisa saja Perusahaan Zein selanjutnya.


***


Butuh waktu sekitar hampir satu jam kemudian, Larenia baru saja menginjakkan kakinya masuk


kedalam rumah mewah milik kedua orang tuanya, di sana sudah ada Louis, Zenia dan juga adik-adiknya yang menatap kearahnya dengan memasang wajah jenuh karena sedari tadi mereka menunggu kepulangan Larenia yang hampir satu jam berada di


cafe.


"Mom Larenia pulang ...." ucapnya langsung berlari mendekati Zenia terlebih dahulu, lantas Larenia memeluk tubuh Zenia begitu erat.


"Kau dari mana saja sayang, dari tadi kami menunggumu. Kenapa kau lama sekali?" ujar


Zenia melepaskan pelukan putrinya yang begitu erat karena merasa lama kelamaan dadanya terasa sesak apalagi sekarang dirinya tidaak lagi muda seperti dulu.


"Tadi aku makan siang Mom dan Mom tau, Jessi pengawal itu selalu saja mengangguku saat menikmati makananku, makanya aku menghabisakan makanannya lama Mom." ujar Larenia menyalahkan pengawalnya.


"Iya Nyonya, tapi saya hanya menyampaikan pesan Tuan Louis agar meminta Nona Larenia untuk segera pulang. Aku tidak tau jika ...." Jawabnya terputus ia mendukkan kepalanya takut jika ia di pecat hanya karena masalah seperti ini, ia menjawab dengan suara berat sambil melirik Larenia yang kini sudah duduk bermanja-manja kepada Louis di sana.


"Umm ... baiklah, tapi lain kali kau jangan menganggu Larenia dulu jika dia masih makan, biarkan saja dulu putriku menghabiskan makanannya terlebih dahulu, lalu kau menyampaikan jika ada perintah untuknya. Mengerti!" kata Zenia pelan namun penuh penekanan membuat Jessi hanya menganggukkan kepala, lalu selanjutnya ia pergi dari sana karena tugasnya sudah selesai namun sebelum itu ia berpamitan terlebih dahulu kepada majikannya tersebut.


Zenia kembali menghampiri putrinya lalu menggenggam kedua tangan putrinya tersebut.


"Larenia ...." panggil Zenia spontan Larenia langsung menyahutinya dengan tersenyum manis untuk ibunya tersebut.


"Iya Mom, kenapa?"


"Sayang apa sekarang kau masih belum siap untuk menggantikan Daddymu?" tanya Zenia, Larenia mendengar perkataan dari ibunya mengerutkan kening tidak paham akan pertayaan dari ibunya tersebut.


"Apa maksudnya?" tanya Larenia.


"Daddy?" ia menoleh kearah Louis keduanya matanya seakan meminta penjelasan dari ibu dan


Ayahnya.


"Nak, kau adalah satu-satunya putri kami, Daddy dan Mommymu meningginkan agar kau kelak mengambil alih seluruh saham Daddy .... kamu mau kan sayang." Kata Louis.


"Mengambil alih perusahaan Daddy?" tanyannya dengan raut wajah datar.


"Iya sayang, ini adalah salah satu keuntungan bagi keluarga kita apa lagi paman mu Loren, pemilik saham teringgi kedua selain Daddy, Nak ... pasti dia akan mendukungmu." Lanjut Louis Larenia hanya memandang Ayahnya itu tidak ada ekpresi terlihat di


wajahnya yang cantik.


"Aku tidak mau, itu pekerjaan yang merepotkan, Nanti aku malah semakin jauh dari Mommy dan Daddy karena kesibukan mengurus perusahaan sebesar itu, lagi pula Larenia masih ingin bersenang-senang." Jawabnya dengan tolakan.


"Jangan memaksaku Daddy! Larenia tidak suka di paksa dan jika Daddy dan Mommy ingin melihat Larenia bahagia, biarakan Larenia menikmati masa muda terlebih dahulu." Sahutnya kembali dengan tegas.


Zenia hendak memberikan perngertian kepada putrinya seketika mengingat bagaimana di masa lalu ia sangat repot bahkan sampai kelelahan akibat mengurus segala permasalahan perusahaan yang tidak ada habisnya. Seketika dirinya menatap


kearah Louis.


"Louis ... jangan." Kata Zenia menghentikan Louis yang ingin kembali meyakinkan


putrinya tersebut.


"Biarkan aku saja ...." ucap Zenia mencegah suaminya yang hendak mengeluarkan kata.


"Sayang, jika kau tidak mau menggantikan Daddymu sebagai CEO, Mommy akan menyarangkan kau jadi pengawai bisa saja dan sembunyikan identitas aslimu


supaya kau tidak bisa sedikit bebas sambil kau mengamati bagaimana perusahaan beropersi dan jika kau memang tidak mau menggantikan Daddymu kelak maka kami tidak bisa memaksa mu lagi sayang." Kata Zenia, sejenak Larenia tampak berpikir akan tawaran dari Ibunya, sesaat kemudian ia mengangguk menyetujuinya begitu saja.


"Baiklah akan ku coba." Jawabnya langsung setuju.


.


.


.


.


๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ‘‹ nanti lanjutnya..