
Navier mendatangi para pembantunya, senyuman ramah terukir di wajah lelaki itu.
"Kenapa kalian hanya berdiri di sana saja, duduklah dan kita bicara." Navier mempersilakan para pembantu itu untuk duduk di sofa rumahnya.
"Kami di sini saja Tuan." tolak salah satu dari mereka.
Navier menghembuskan napas menggelengkan kepala.
"Kalian tidak perlu sungkan, ayo silakan duduk." pinta Navier mempersilakan.
"Tidak Tuan, kami berdiri saja." tolaknya lagi-lagi membuat Navier agak kesal.
"Kalian duduk saja, suamiku sudah meminta kalian duduk dengan sopan kalian malah tidak menuruti perkataannya, apa mau kalian sebenarnya." kata Larenia menuruni tangga mendekati suami dan orang-orang itu.
"Sayang." panggil Navier tersenyum saat melihat istrinya.
"Kau ini terlalu lembut, coba galak sedikit, apa kau mau di perlakukan semena-mena oleh mereka." kata Larenia melipat kedua tangan melirik para pembantu itu.
"Dan untuk kalian semua, baru hari pertama bekerja sudah tidak mau menuruti perintah majikan kalian, Cih ...." ucap gadia itu berdecak pinggang tatapanya begitu menusuk para pembantu itu.
Navier segara berdiri mendekati istrinya.
"Sayang jangan marah, ayo duduk dulu." ajak Navier.
Gadis itu mengangguk pelan, ia mengikuti Navier dan duduk berdampingan.
"Kalian duduklah juga, tidak enak di lihat jika seseorang ingin mengajak kalian bicara jika berdiri terus seperti ini." ucap Larenia. Kali ini mereka menganggukkan kepala menuruti perintah majikannya.
Salah satu dari pembantu itu, menatap Larenia dengan sorot mata menandakan ketidak sukaannya.
"Apa benar gadis yang Tuan Mikel suka adalah gadis yang berada dihadapanku sekarang ini, wajahnya memang cantik tapi sayang sangat galak dan kelihatannya hubungannya dengan suaminya cukup bagus, bagaimana jika aku gagal memisahkan mereka berdua." gumannya dalam hati, ia tidak mendengar tugas-tugas yang harus ia lakukan saat bekerja dirumah mewah tersebut.
Larenia menyadari hal itu lantas membalas tatapan orang itu dengan sudut bibir tertarik keatas.
"Hei, kau siapa namamu?" tanya Larenia menujuk wanita tersebut. Wanita itu kaget bukan main Larenia tiba-tiba saja mengagetkannya.
"Sa-ya No-na." ucapnya terbata-bata menujuk dirinya sendiri.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dirimu?" sahut Larenia dingin.
"Saya ... Julia, Nona."
"Oh Julia, ya ... ya ... berapa usiamu?" tanya Larenia lagi.
"Dua puluh lima tahun Nona, kenapa Anda menanyakannya?"
"Kenapa memang? Kau merasa terganggu." kata Larenia melotot, segara Navier mengusap bahu istrinya itu dengan lembut lalu tersenyum paksa kepada Julia.
"Sayang sudah."
"Hum, Navier apa kau mau mengantarku kepantai?" tanya Larenia bergelayut manja di lengan suaminya melirik Julia dengan sinis.
"Ada apa dengannya?" guman Julia dalam hati, entah kenapa ia merasa Larenia sengaja bermanja-manja di hadapannya.
Navier tersenyum lalu mengangguk dengan penuh semangat.
"Aku mau sayang, mau pergi sekarang?" tanya Navier.
"Iya, sekarang ... di sini gerah." ucapnya kembali melirik Julia.
"Apa maksudnya?" guman Navier dalam hati heran, namun lelaki itu tidak mau mengambil pusing dan segera mengakhiri pembicaraanya dengan para asisten rumahnya.
"Ayo sayang, tunggu sebentar aku akan keatas mengambil kunci mobil." kata Navier melepaskan tangan istrinya dari lengannya.
"Cepat, aku tidak suka menunggu." ujar Larenia.
Setelah suaminya pergi mengambil kunci mobil di kamar, gadis muda itu mendekati Julia yang berdiri dengan menundukkan kepalanya.
"Kau mau merebut suamiku, jangan mimpi Julia, terlebih dahulu kau sebaiknya bercermin dan lihat apa kekuranganmu." bisik Larenia tepat di daun telinga Julia dengan penuh ancaman.
"Apa maksud Anda Nona, saya tidak ...." elaknya.
"Kau pikir aku tidak tau siapa dirimu sebenarnya, jangan coba bermain-main denganku dan bekerjalah di sini sesuai dengan tugasmu, jangan melakukan hal yang lainnya atau kau akan tau akibatnya." kembali Larenia berbisik dengan ancamannya.
"Iya, kau ke mobil duluan saja, ada yang ingin aku sampaikan kepada Julia." sahut Larenia menoleh.
"Oh ... Baiklah sayang, aku menunggu." kata Navier terlebih dahulu keluar menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
Larenia menganggukkan kepalanya pelan, ia kembali mencengkeram baju Julia.
"Kau mau menerima tantanganku, jika dalam dua bulan kau berhasil membuat Navier jatuh cinta kepadamu aku akan memberikanmu uang dan kalau kau gagal sebaiknya ketakan kepada Tuanmu itu untuk berhenti mengejarku karena aku tidak suka kepadanya."
"Nona ...." Julia tidak berani menatap Larenia secara langsung, entah kenapa bulu kuduknya berdiri saat gadis itu menarik kerah bajunya.
"Heh, kau pasti takut, karena aku sudah tau siapa dirimu."
"Asal kau tau tau aku bukan orang baik, aku orang jahat bisa saja aku menghabisimu sekarang."
"Tidak Nona."
"Tidak apa? Kau tidak menolak?"
"Baguslah kalau kau tidak menolaknya, aku tunggu kekalahanmu." ucap Larenia, ia mendorong Julia dengan keras hingga jatuh kelantai. Salah satu dari pembantu lainnya membantu Julia berdiri.
"Kalian sebaiknya kerjakan tugasmu di rumah ini, jangan hanya mau makan gaji buta, aku pergi dulu."
"Sampai jumpa Nona, hati-hati Nona." ujar wanita paruh baya salah satu dari mereka,
Larenia tidak menyahutinya dan dengan sombong berjalan keluar dari rumahnya, namun saat bersama suara deringan ponselnya berbunyi Larenia langsung mengangkatnya.
"Ada apa Bibi Jessi?" sahut Larenia begitu ia mengangkat panggilan tersebut.
"Nona muda, tolong kirimkan alamat rumah baru Nona, saya diminta oleh Tuan Besar untuk tinggal bersama Nona." Ujar Jessi.
"Iya, nanti aku akan mengirim alamatnya." Larenia membuka pintu mobil dan masuk kedalaman sana segera di sambut senyuman oleh Navier.
"Iya Bibi, aku bicara sama suamiku dulu, sampai jumpa." lanjutnya.
"Baik Nona, sampai jumpa."
"Siapa yang menelepon sayang?" tanya Navier setelah istrinya mengakhiri panggilan tersebut.
"Pengawal stres, oh iya Navier ... apa boleh Bibi Jessi tinggal dirumah kita, Daddyku yang menyuruhnya."
"Boleh sayang, dirumah kita akan semakin rame nanti, tapi kenapa kau menyebutnya dengan sebutan pengawal stres?" tanya Navier menyengir kening.
"Asal kau tau, dia selalu menggangguku dan mengawasi setiap kegiatanku bukankah itu tidak gila."
"Daddy, seharusnya tidak perlu mencarikanku pengawal bukan, aku bisa menjaga diriku sendiri." ucap Larenia begitu lolos dari mulutnya.
Navier melirik istrinya dengan melebarkan kedua matanya, ingatan tentang perkataan Juan hari itu kepadanya tiba-tiba terbesit.
"Pamanmu yang waktu itu berada di club pernah berkata jika Ayah mertua adalah orang gila." ucap Navier. Larenia mengerut kening tidak suka dengan perkataan suaminya itu.
"Tutup mulutmu, kau jangan menghina Daddyku, sekaliapun kau adalah suamiku tapi aku tidak suka jika ada orang yang menghina Daddyku, mengerti!" ucapnya menahan amarahnya.
"Ehhh, sayang bukan aku yang berkata seperti itu tapi pamanmu." sela Navier.
"Jangan dengarkan paman Juan, dialah yang gila bukan Daddyku."
"Okay sayang aku mengerti, maafkan aku." ujar Navier lalu memberi kecupan singkat di bibir istrinya.
Larenia kembali matung saat Navier melakukan hal itu secara tiba-tiba kepadanya.
"Sudah sayang, mari kita berangkat ke pantainya." ujar Navier menyalakan mesin mobilnya dan segera berangkat.
.
.
.
.
πΆββπΆββπΆββ