
Larenia sudah dua puluh menit berbaring di atas kasur bersama dengan Navier, ia hanya sedikit kelelahan dan kepalanya pusing gara-gara kehadiran Amanda mengacaukan semuanya.
Bahkan makanan pesanan mereka hanya tersimpan di atas meja kedua manusia itu sama sekali belum menyentuh makanan yang sudah tersedia.
"Sayang bagaiman perasaanmu? Apa kepalamu masih terasa pusing?" tanya Navier menghadap istrinya mengelus kepala wanita yang ia cintai tersebut.
"Aku baik-baik saja, jangan katakan kepada Daddy dan Mommy mengenai kejadian tadi, aku tidak mau membuat mereka khawatir Navier." ucap Larenia lirih dengan mata yang terlihat sayu, Navier mengangguk pelan. Pasti istrinya berkata seperti itu karena takut jika kedua orang tuanya marah dan mengira Larenia membuat masalah baru lagi.
"Tenang saja sayang, mereka tidak akan tau ... tapi hanya untuk malam ini, besok kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya."
Perkataan Navier di angguki oleh Larenia, tidak ada yang bisa di sembunyikan terlalu lama bangkai pasti akan tercium karena mengeluarkan bau. Begitupun dengan kejadian yang menimpanya hari ini, sungguh Larenia merasa ingin marah karena di permalukan di depan banyak orang.
Andai saja ia hanya berdua dengan Amanda Larenia pasti sudah membalas perbuatan wanita itu lima kali lipat, namun ia tidak berdaya dan malah membiarkan Amanda terus mengolok-ngoloknya.
"Ayo kita memakan makanan malam kita, tidak baik jika kita tidur dalam keadaan perut kosong." lanjut Navier membantu Larenia duduk bersadar di kasur itu.
"Iya, aku juga sangat lapar." sahut Larenia pelan mengelus perutnya yang datar, benar perkataan Navier makan malam itu sama pentingnya dengan sarapan di pagi hari, karena jika perut kita kosong untuk menjalani aktivitas pasti akan sangat sulit.
"Ayo sayang."
Navier terlebih dahulu mengambil makanan yang terletak di atas meja lalu membawanya pada istrinya.
Dengan telaten Navier mengurus wanita yang menjadi istrinya memberi makan agar Larenia tidak kelaparan, setelah menghabiskan makan malam bersama Larenia kembali berbaring dan Navier terlebih dahulu membersihkan piring bekas mereka lalu meletakkannya di luar pintu kamar.
Navier kembali mendekati istrinya lalu ikut berbaring di sana tangannya memeluk tubuh Larenia memberikan kehangatan dan rasa nyaman untuk istrinya.
____
Keesokan paginya, Navier di bangunkan dengan suara deringan ponselnya yang terus-terus berbunyi, karena ada panggilan masuk, kedua mata lelaki yang baru bangun itu terbelanak melihat nama ayah angkatnya menelepon hampir sepuluh kali. Segera ia mengeser ikon hijau mengangkat panggilan Effendy.
"Halo ayah ... ada apa pagi-pagi begini ayah menelepon?" Navier meletakkan ponselnya dekat dari telinga, ia sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur karena Larenia masih terlelap, tidurnya memeluk tubuh Navier dengan erat seakan tidak mau terlepas, pemandangan itu mendamaikan hati Navier.
"Halo Nak, Istrimu mana? Apa dia baik-baik saja? Dimana kalian sekarang?" tanya Effendy dengan bertubi-tubi mengkhawatirkan menantu satu-satunya dan sangat berharga tersebut.
"Larenia baik-baik saja Ayah, memang ada apa ... kenapa Ayah terdengar sangat khawatir?" kini Navier yang berbalik bertanya, ia melirik istrinya untuk sesaat dengan kening berkerut.
"Syukurlah, Ayah akan meminta seseorang untuk membersihkan rumor-rumor tentang menantu Ayah dan mengembalikan nama baiknya sungguh keterlaluan sekali orang yang menfitnah Larenia dengan begitu seolah-olah Larenia seorang perusak hubungan, ayah tidak akan membiarkan hal itu berlanjut."
"Kalian sekarang ada di mana?" tanya Efenddy.
"Hotel Ayah, Larenia bersamaku dan masih tidur." jawab Navier jujur, lelaki itu memang jarang berbohong.
"Tetap di sana, para wartawan pasti sudah melacak keberadaan kalian melalui video yang di unggah dari internet, sial ... kalian tetap disana sampai pengawal Ayah datang menjemput kalian."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ayah? Kenapa ada wartawan ...."
Navier masih belum tau tentang artikel di internet mengenai istrinya.
"Kau jaga Larenia saja, biar ayah menyelesaikan masalah ini secepatnya sebelum keluarga besar Alexander dan Keluarga Felix mengetahuinya, mereka tidak akan terima jika putri kesayangan mereka di fitnah sekejam ini." ucap Effendy berharap jika keluarga Larenia belum ada yang tau, karena masih pagi-pagi sekali semoga saja, apalagi jika Louis sampai tau perihal ini, Effendy tidak sanggup membayangkan kemarahan pria itu jika sampai tau.
"Iya, aku pasti akan menjaganya Ayah."
"Kalau begitu Ayah tutup teleponnya, jaga menantu ayah dengan baik."
Setelah berkomunikasi dengan Effendy melalui ponsel, Navier kembali memperhatikan wajah Larenia, bagaimana reaksi wanita yang berada di pelukannya ini jika sampai tau apa yang sedang terjadi di luar sana.
"Aku selalu bersamamu sayang."
***
"Kumpulkan semua pegawai dan suruh mereka menemuiku di aula! Mengerti!" ucap Louis dengan berteriak sambil membanting vas bunga keramik itu hingga pecah.
"Segera di laksanakan Tuan."
"Cepat!"
Anton segera keluar dan membuat pengumuman melalui pusat pengeras suara agar semua pegawai bisa mendengarnya.
Tidak butuh sepuluh menit mereka sudah berada di aula yang biasa di gunakan jika ada pesta di perusahaan miliknya, sementara Louis sudah mengahancurkan prabotan di dalam ruangannya melampiasakan kemarahan.
"Tuan mereka sudah berkumpul."
"Hari ini aku mengatakan segalanya, benar-benar siapa orang yang begitu bermain denganku? Lareniaku di fitnah dan aku tidak akan membiarkan putriku di fitnah seperti itu ... Arrhh sial, pasti putriku bersembunyi karena takut di salahkan." ucap Louis terdengar murka, namun pria itu juga meneteskan air matanya mengingat putri yang paling ia puja dan cintai di hinakan oleh seseorang.
Anton mulai mengerti penyebab kemarahan Louis, ia sempat mengira tuannya itu tidak meliihat video saat Larenia di siram dan jambak oleh seseorang yang tidak kelihatan wajahnya karena membelakangi kamera dan juga artikel yang memperlihatkan Larenia bersama dengan banyak pria yang tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri, namun isi artikel itu malah berisi tentang Larenia yang di tiduri oleh banyak pria dan lucunya lagi ada yang bertuliskan jika anaknya itu kekurangan uang.
Bukankah itu hal yang lucu, gaji untuk pegawai biasa saja bisa lima puluh kali lipat dari uang perbulan darinya untuk putrinya.
"Cari tau siapa yang pelakunya? Aku akan membunuh pelakunya dengan tanganku sendiri." ucap Louis murka, ia mengepalkan kedua tangan mencoba mengontrol diri namun tidak bisa, amarah memenuhi otak dan pikirannya.
"Suda tuan, Tuan Effendy tadi berkata jika dia sudah mencari siapa pelakunya, Anda ke aula saja tuan dan selesaikan dengan cepat."
"Iya ... aku harus mengembalikan nama baik anakku."
Anton mengikuti Louis ke aula, namun sebelum sampai sosok yang Louis khawatirkan menunjukkan wajahnya dan langsung memeluk ayahnya begitu erat.
"Larenia minta maaf Dad, aku mempermalukan Daddy." Lirih Larenia tiba-tiba menangis merasa menyesal atas kejadian itu.
Sebelum memutuskan untuk menemui Louis, Larenia sempat di tahan oleh Navier karena keadaan masih kacau, namun apa daya siapa yang berani menolak keinginan istrinya itu.
"Kau kemana saja sayang, daddy khawatir ... jangan meminta maaf di sini kau lah yang menjadi korban dan di fitnah." Louis membalas langsung pelukan putrinya memejamkan mata begitu merindukan Larenia.
Melihat salah satu pipi Larenia lembam, Louis kembali di buat marah.
"Sayang, wajahmu?"
"Tidak apa-apa Dad, ini tidak sakit." sahut Larenia menyentuh tangan ayahnya yang mengelus pipinya dengan lembut.
"Dad, aku juga minta maaf karena gagal melindungi istriku." Navier berkata dengan sangat menyesal karena gagal melindungi istrinya kemarin malam.
"Ini bukan salah dari kalian berdua, ayo kita sama-sama menuju aula, daddy akan mengatakan semuanya sayang, Daddy tidak tahan melihat kau di fitnah." ajak Louis, meranggkul bahu Larenia dan menggengam tangan Navier menantunya.
"Tapi dad."
"Tidak ada tapi-tapian Larenia, sudah kau jangan menyembunyikan jati dirimu lihatlah yang terjadi sekarang."
"Maaf dad."
"Ups! tapi sebelumnya itu, ganti bajumu dan berdandanlah yang cantik, baju mu di lemari kantor Daddy banyak yang bagus di sana dan ajaklah suamimu." ucap Louis di angguki oleh Larenia, gadis itu mencium kedua pipi ayahnya sebelum pergi menarik tangan Navier. Tanpa sadar ada yang memoteret kejadian itu.
.
.
....Ketiduran Gus 🙏...