
Kejadian itu membuat trauma mendalam bagi Amanda. Ia tidak berani keluar dari rumahnya sama sekali, dirinya juga sudah di pecat secara tidak hormat dan seluruh karirnya hancur seketika hari itu juga.
Kecemburuan membuat Amada seperti ini. Wajah cantik yang di miliki Larenia membuat Amanda sangat cemburu, apalagi di tambah saat melihat Larenia bersama dengan pacarnya yaitu Navier, berciuman dengan panas membuat bara api kecemburuan dalam hati semakin membuncah dan tanpa berpikir panjang Amanda saat itu langsung mempermalukan Larenia di depan umum. Namun niatnya itu malah menjadi petaka baginya berakibat sangat fatal.
Amanda hancur, di hancurkan oleh bosnya sendiri, seharusnya ia tidak mengganggu Larenia, jika saja Amanda sadar jika wajah Larenia sangat mirip dengan Louis pasti hal ini tidak pernah menimpanya, penyesalan datang di belakang.
Ia hanya bisa menangisi kegagalan, tubuhnya yang masih di balut perban masih belum dan pengelangan tangannya hampir lumpuh.
***
Hari baru menyambut keluarga baru Larenia, setelah di perkenalankan oleh ayahnya, Larenia kembali menjadi sosok yang menyebalkan, jarang masuk dan sering bolos saat masih jam produktif bekerja. Tanpa izin ia seenaknya karena Larenia tau jika tidak ada orang yang berani marah kepadanya.
Kebebasan yang Larenia inginkan telah kembali. Seperti hari ini ia tidak masuk bekerja karena merasa aneh dari pagi Larenia mual-mual hingga siang.
Yang ia bisa lakukan hanya berbaring dengan malas di atas kasur nya sambil memainkankan ponsel, tidak lama kemudian kembali Larenia merasa mual segara ia berlari menuju wastafel memuntahkan cairan yang terasa asam, Larenia berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa asam itu lalu meraih handuk mengusap sisa-sisa air.
Tiba-tiba ia merasa sangat lapar padahal belum setengah jam, ia selesai makan siang. Karena Larenia tidak suka kelaparan, segera ia mendekati Jessi meminta di buatkan macaroon warna warni, Larenia sangat ingin makanan makan.
"Bibi, tolong buatkan macaroon, aku lapar."
"Baik Nona tapi tunggu dua puluh menit Nona." ujar Jessi.
"Kenapa lama sekali, aku sudah lapar, tidak bisa di percepat." kata Larenia merebahkan kepalanya di atas meja. Jessi memperhatikan gerak gerik Larenia tidak seperti kebiasaannya.
"Nona kurang sehat? apa perlu saya panggilkan dokter Nona." tanya Jessi menyadari jika majikannya itu pucat.
Larenia menggeleng pelan, ia tidak sakit hanya sedikit pusing dan terkadang merasa mual-mual saja.
"Tidak perlu bi, cepat buatkan cemilannya."
"Segera Nona."
Larenia mengangguk lalu mengelus perutnya yang sudah sangat lapar. Ia melihat Jessi sudah mulai membuat macaroon warna warni.
"Julia, Julia kau dimana? Julia." panggil Larenia.
Julia yang kala itu berjalan tanpa sengaja mendengar panggilan majikannya. Segera mungkin Julia mendekat.
"Jul-"
"Iya Nona, ada apa Nona."
Larenia mengangkat sedikit wajahnya melihat Julia. Menyedihkan sekali wanita di hadapannya ini dari sekretaris menjadi pembantu, ia sesaat tersenyum remeh karena marasa Julia terlalu bodoh mau di perdaya oleh Mikel.
"Nona, ada perintah apa?"
"Kupaskan buah untukku dan buat jus melon." perintah Larenia langsung berwajah datar.
"Baik Nona, sesuai keinginan Nona."
"Jangan lama, lima menit harus selesai."
"Iya Nona." Julia mengangguk patuh.
Mendengar jawaban Julia, Larenia terkekeh pelan bodohnya wanita itu mau di perintah seenaknya, pantas saja Julia begitu bodoh percaya kepada Mikel. Pria bermuka dua dan paling maniak yang pernah Larenia kenal.
Tidak lama kemudian Larenia menguap namun karena rasa lapar Larenia tidak bisa tidur hanya saja ia merebahkan kepala di atas meja makan hanya bisa menunggu.
"Silakan di nikmati Nona, saya akan melanjutkan pekerjaan." kata Julia menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia memberikan Larenia potongan buah yang di atas piring tertata dengan rapi serta jus melon buatannya.
"Mau kemana?" tanya Larenia menghentikan niat Julia.
"Mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai Nona."
"Bekerja? tidak perlu lagi Julia ... mulai besok kembalilah ke pekerjaan awalmu dan rawat adikmu yang masih di rumah sakit, dan aku minta maaf telah mengurungmu di sini dan menyiksamu." ujar Larenia terdengar tulus, ia menatap Julia dengan tersenyum manis. Julia membulatkan mata kaget bukan main tidak menyangka jika Larenia yang mengucapkannya.
"Tidak Nona, lebih baik saya di sini saja, terimakasih."
"Kau menolak? aku tau kau pasti akan menolak, karena rumahku sudah menjadi tempat tinggalmu beberapa bulan ini."
"Tapi Julia, adikmu masih sakit dan dia membutuhkanmu, apa kau tidak ingin menemuinya?" tanya Larenia.
Julia menggeleng pelan, ia tidak mau tidak ingin, ia akan kembali lemah jika melihat adiknya yang masih terbaring penuh dengan alat-alat medis di sekujur tubuhnya.
"Maaf Nona, tapi saya tidak akan menemuinya, permisi."
Larenia menghela napas tidak bisa memaksa keinginan orang, biarkanlah Julia melakukan apa yang diinginkan.
"Apa pendidikanmu kau akan sia-siakan dengan bekerja sebagai pembantu di rumahku?"
"Nona, di luar sana gaji yang bisa saya dapat dengan mengandalkan semua ijazahku tidak akan sebesar gaji yang Anda berikan." kata Julia tersenyum. Walau kadang kala mendapat perlakuan tidak baik dari Larenia namun entah kenapa Julia enggan pergi dari sini.
"Ahh, baiklah ... aku mengerti, kembalilah kerjakan pekerjaanmu."
"Permisi Nona."
Larenia menopang dagu menatap punggung Julia, ia baru sadar jika wanita itu terlihat semakin kurus dari sebelumnya. Apa dia terlalu jahat kepada Julia selama ini.
Bahkan Larenia sempat melihat tangan Julia penuh dengan goresan.
"Bodoh ... bodoh, kenapa aku harus peduli." guman Larenia menggelengkan kepala.
Ia meraih buah dan jus melon mulai menikmati sejak tadi perutnya lapar. Menunggu Jessi selesai Larenia rasa cukup lama.
"Bibi, apa masih lama?" tanya Larenia, setelah menghabisi buah itu dalam sekejap.
"Tunggu sebentar lagi Nona."
"Lama, aku mengantuk bibi."
"Sabarlah Nona, Anda ini seperti orang yang ngidam." ujar Jessi tersenyum cerah kearah Larenia.
"Seperti orang hamil?" tanya Larenia.
"Iya, tapi tidak mungkin Nona hamilkan, kakek Nona melarang Anda untuk hamil." kata Jessi santai, walau gerak gerik Larenia seperti orang yang lagi hamil muda, namun Kesal yakin jika Larenia tidak hamil karena perintah Jeffry.
Jessi hanya menggeleng sambil terkekeh sendiri membayangkan jika anak manja seperti majikan itu sampai hamil pasti akan sangat merepotkan.
"Nona, sebaiknya kembali kekamar Nona, nanti saya sendiri yang bawakan macaroonnya jika sudah masak."
Larenia tidak mendengar perkataan Jessi. Pikirannya terganggu dengan satu kata yaitu kata hamil? apa benar ia hamil mengingat ia dan suaminya sangat menginginkan hal itu terjadi.
"Apa benar aku hamil?" tanya Larenia kepada dirinya sendiri terlihat senang jika memang benar.
"Mungkin saja, sudah dua bulan ini aku tidak pernah datang bulan, oh ya Tuhan."
"Aku harus menghubungi Navier." ucapan girang setelah itu mencari ponselnya yang ada di kamar.
.
.
.
.
...π₯ Next Time....