The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Wajah Asli."



Usia kandungan Larenia masuk empat bulan dan sekarang tinggal bersama dengan kedua orangtuanya di rumah. Navier tidak memiliki waktu untuk melakukan niat jahatnya, berkali-kali dirinya gagal entah itu dengan kehadiran Louis atau anggota keluarga lainnya yang menjadi lebih posesif kepada Larenia.


Justin sepupu Larenia bahkan sudah kembali dan untuk sementara menggantikan Larenia mengurus pekerjaannya.


Walau masih menjadi pegawai biasa Larenia memang sering menatap tugas khusus dari ayahnya atapun dari Loren.


"Larenia, hari ini kamu harus ikut sama nenek ke dokter kandungan." ucap Lina mengambil baju dalam lemari Larenia dan membantu cucunya itu berganti pakaian.


"Apa sudah waktunya? Nenek aku sangat malas."


"Astaga ... kau ini sudah mau menjadi ibu tidak boleh malas-malasan." tutur Lina, mengelus perut Larenia dengan lembut.


Sudah perlahan membesar walau belum terlihat jelas.


"Ajak suamimu juga, agar mengantar kita kedokter kandungan."


"Baiklah Nenek, ais ... aku benar-benar sangat malas." keluh Larenia lagi dan lagi, namun demi anaknya ia akan bersemangat.


Wanita hamil itu bangkit dari tempat duduknya lalu masuk kedalaman kamar mandi membersihkan tubuhnya, belakang ini Larenia sangat menjaga kebersihan.


Ia menjadi sangat bersih dan tidak suka bau-bau keringat dan hal itu terkadang juga membuat Navier tidur di soda gara-gara Larenia tidak suka dengan bau badannya.


"Mandi lagi?" tanya Lina tidak percaya, sudah tiga kali cucunya itu mandi.


"Tunggulah sebentar Nek, aku tidak akan lama."


"Iya anak nakal."




Sementara Navier berada di club meneguk anggur beralkohol tinggi bersama dengan Charles yang memandang temannya heran, sudah beberapa bulan ini temannya sering kali mabuk-mabukan di siang hari.



"Apa yang terjadi kepadamu kawan? apa kau masih tidak bahagia dengan kehamilan istrimu? dan mengira anakmu itu adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah ada?" tanya Charles beruntun.



Navier tertawa dan meletakkan cawan itu kemeja dengan keras.



"Iya! aku tidak menginginkannya! memang kenapa? apa yang harus aku lakukan agar anak itu tidak lahir!" teriak Navier menggila, mengacak rambutnya frustrasi.



"Kalau istrimu hamil itu karena salahmu bodoh! kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran? apa kau tidak mencintainya lagi?"



"Cinta? apa artinya cinta? dia tidak pernah mencintaiku dan di saat aku tidak mau anak dirinya malah hamil."



"Sepertinya kau salah kawan, yang aku lihat Larenia mencintaimu dengan tulus ... jangan menjadi bodoh karena perkataan Amanda, dia hanya mau mengganggu pikiranmu saja." ujar Charles sudah berulang kali memperingati Navier agar melupakan perkataan Amanda.



"Iya! aku tau! tapi aku tidak percaya lagi." Navier benar-benar mabuk dan berucap dengan kacau menjadi tidak jelas.



"Astaga, seperti kau gila? kau sendiri yang menghamilinya dan sekarang kau menyesal, jangan bodoh Navier, apa kau sudah melupakan jika Larenia bukan wanita yang mudah." tutur Charles.



Untuk sesaat lelaki itu terdiam seribu bahasa, benar perkataan tamannya itu. Lalu kembali menggila melukai dirinya sendiri.



"Charles, apa yang harus aku lakukan, jika anak itu lahir, akan menjadi bencana seperti kata Amanda sementara disisi lain aku juga menginginkan anak itu."



"Aku benar-benar bingung, apa aku sebaiknya membunuh anakku saja sebelum rasa cintaku kepada bayi itu tumbuh semakin dalam."



Navier menggeleng frustrasi, memandang Charles dengan air mata menetes, sebelum ia pingsan di sana.



"Lelaki gila." Charles memindahkan tubuh Navier kesofa dan membaringkan tubuh bosnya tersebut.



Charles sepertinya akan ikut gila jika Navier tidak menghentikan kegilaannya. Sama seperti Amanda Charles juga sangat banyak tau tentang siapa Navier sebenarnya.



Walau dirinya awalnya takut dengan temannya yang psychopath itu namun perubahan beberapa bulan yang lalu membuat Charles menjadi tidak takut.



Tiba-tiba ponsel Navier berbunyi, Charles mengambilnya dan menerima panggilan masuk tersebut.



"Gawat, ini nona Larenia." ucap Charles berdecak sebelum menerima panggilan tersebut.



"Halo Nona." Charles menerima panggilan tersebut tatapannya tidak lepas dari Bosnya yang yang tertidur karena mabuk berat.



"Charles? Dimana suamiku? kenapa kau yang menerima panggilanku." tanya Larenia dari seberang sana terdengar kaget.



"Maaf nona, Tuan bos tidak ada di ruangan ... mungkin keluar sebentar."



"Oh ...."




Larenia terdengar menghela napas, lalu sesaat kemudian.



"Baiklah, katakan kepadanya untuk mengantarku ke dokter kandungan bersama nenek pukul dua siang nanti, aku menunggunya."



"Baik Nona dan selamat atas kehamilannya semoga bayinya sehat dan persalinannya nanti lancar." ucap Charles.



"Hmm, terima kasih, aku tutup teleponnya."



"Iy-" sambungan telepon itu langsung putus sebelum Charles melanjutkan ucapannya yang terhenti.



"Kenapa berada di antara orang-orang gila, nasibku benar-benar sial." guman Charles melirik bosnya yang tidur di soda dengan posisi terletang.



"Apa yang harus aku lakukan, si bodoh ini mabuk dan nona Larenia yang pemarah ... arhh ...." Charles mengacak rambutnya frustrasi merasa di buat pusing dengan pasangan suami istri itu, dirinya yang masih sendiri harus menanggung beban pikiran yang sangat keras.



Charles berjalan mondar mandir menggenggam ponsel Navier, ia belum mendapatkan ide atau cara untuk membangunkan orang mabuk itu dan alasan jika Larenia kembali menghubunginya.



Hingga satu jam kemudian, Charles terus mencari alasan dan berkata jika saat ini Navier belum kembali ke club membuat Larenia yang mendengar alasannya tidak percaya.



Charles duduk menunggu Navier bangun dan tersadar dari mabuknya. Benar-benar membuat Charles hampir kehilangan akal. Satu mengila karena tidak menginginkan anak satunya lagi memintanya untuk mencari Navier dan menyuruhnya pulang.



Beberapa saat kemudian, Navier membuka mata merasa silau. Ia bangkit memegang kepalanya yang terasa pusing, hal pertama yang Navier lihat adalah Charles yang menatapnya dengan tatapan datar.



"Ada apa kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Navier memperbaiki posisi duduknya.



"Ada apa Bos? sepertinya akal sehatmu sudah kembali?"



"Memang apa yang terjadi?"



"Bersiaplah, Nona sepertinya marah besar." sahut Charles memberikan ponsel Navier kembali kepemiliknya.



Navier yang tidak mengerti meraih ponselnya dan melihat riwayat panggilan masuk. Ia menatap Charles meminta penjelasan kenapa Charles berani menerima panggilan dari istrinya dan malah tidak di bangunkan.



"Nona, mau kedokteran kandungan ... tapi sepertinya tidak jadi, dan semua gara-gara kau!"



"Bos, jika kau tidak menginginkan anakmu dalam perut nona Larenia, sebaiknya ceraikan saja dia dan serahkan kepada Mikel, setidaknya pria itu tulus kepada nona dan bisa menerima nona apa adanya." ucap Charles mulai merasa kesal, bagaimana tidak, orang tua mana yang tega berniat membunuh anaknya sendiri yang bahkan belum lahir.



"Berhenti bermuka dua! kau bahkan lebih buruk dari istrimu! Kejam!" lanjut Charles berteriak.



Navier tersenyum sinis ini adalah hidupnya, kenapa dirinya harus mendengarkan ucapan orang lain. Ia bahkan bisa saja membunuh Mikel jika pria itu mau memisahkan dirinya dengan Larenia.



"Kau menasihatiku? Heh ... ayolah, Charles kau pasti tau, jika aku tidak akan terpengaruh, memang anak itu tidak ada."



"Aku akan tetap melakukan niat awalku, ingat besok kau akan dengar berita keguguran." Navier berucap dengan wajah datar dan dingin, tidak ada nada keraguan terdengar dari suaranya.



Navier berdiri walau sedikit kesusahan, ia mendekat Charles dan meraih botol anggur yang sebelumnya sudah kosong dan memecahkannya.



"Sebaiknya kau tutup mulut, mata dan telingamu, jika kau tidak mau kehilangan kedua kakimu!" ancam Navier memegang dan menekan paha Charles, sementara Charles hanya bisa menelan air ludahnya.



"Aku akan pulang, bereskan kekacauan ini." ucap Navier membuang sisa pecahan kaca tersebut.



Charles tercengang, inilah wajah asli dari Navier yang publik tidak tau, seorang pria yang kejam dan tidak ragu untuk membunuh siapa saja.



.


.


.



πŸ™‹β€β™€ Next time ...