The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Hari Pertama Bekerja."



Pagi itu, Larenia bersiap untuk masuk bekerja di perusahaan ayahnya sesuai dengan harapan ayah dan ibunya, tapi gadis itu akan menyembunyikan identitas dan bukan sebagai anak Louis


"Sayang, apa kau sudah selesai?" panggil Navier membuka pintu kamar setelah ia selesai sarapan.


"Iya, sudah ... ayo, kau antar aku keperusahaan Daddy, sesuai dengan keinginan Daddy dan Mommy. Aku akan masuk bekerja sebagai pegawai biasa di sana." ucap Larenia mendekati suaminya dan mengambil tasnya di atas kasur.


"Hum, kenapa kau hanya jadi pegawai biasa, kenapa tidak meminta posisi yang lebih bagus?" tanya Navier bingung.


"Itu, karena aku tidak mau bekerja dan tidak mau repot tapi Daddy terus mendesakku untuk masuk ke lingkungan perusahaannya dan harus memulai dari bawa, supaya bisa merasakan pejuangan." jawab Larenia sambil mengedipkan satu matanya.


"Seperti itu yah sayang, ya sudah ayo sudah hampir pukul delapan pagi, nanti tertambat."


Navier segera meraih tangan Larenia dan bergandengan tangan keluar dari kamar segera menuju pintu rumah. Pasangan suami istri itu di sambut oleh semua pembantu rumah tangga dan juga Jessi yang ikut menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat namun Larenia hanya melirik sinis semuanya dan Navier seperti biasa ia sangat ramah kepada semua pembantunya dan tersenyum kepada mereka.


"Bibi Jessi, tolong urus dan jaga rumahku, jangan membuat kacau atau kalian semua aku pecat!" ancam Larenia sebelum keluar dari pintu. Ia menoleh setengah wajah saat berkata kepada Jessi.


"Baik Nona, percayakan semuanya kepada saya Nona, tenang saja." jawab Jessi dengan sopan.


"Kalau begitu bagus, aku pergi dulu."


Larenia langsung melanjutkan langkahnya, gadis cantik itu mengajak suaminya agar segera pergi karena hampir jam masuk kerja.


Saat sudah tiba di mobil, Larenia duduk di kursi penumpang bersama dengan suaminya dan seorang supir membawa mereka pergi meninggalkan rumah mereka.


Selama dalam perjalan Navier tidak henti-hentinya tersenyum bahagia sebab istrinya yang dingin kini menjadi istrinya yang sangat posesif bakan sangat lengket kepadanya.


"Oh iya, apa Club milikmu kondisinya stabil? Kalau tidak aku akan menemuimu di sana setelah pulang." kata Larenia tiba-tiba memecah keheningan.


"Kau mau kesana?"


"Iya, sudah lama aku tidak main di Club itu aku sangat merindukannya."


"Kalau begitu aku akan menjemputmu, kau tidak perlu datang sendiri kesana sayang." ujar Navier merapikan rambut Larenia yang sudah di ikat tidak mengurangi kecantikannya.


"Tidak perlu, biarkan aku saja yang datang sendiri lagi pula saat pulang aku bisa ikut di mobil Daddy secara diam-diam."


"Okay, terserah kamu saja sayang. Aku akan menunggumu di Club." kata Navier lalu mencubit pipi Larenia begitu gemas. Larenia tidak masalah dengan tindakan suaminya lagi, ia membiarkan Navier menyetuhnya sesukanya.


Hingga tiba di perusahaan besar milik Ayahnya, mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk perusahaan membuat semua perhatian tertuju ke arahnya, karena sebelumnya belum ada yang begitu berani turun dari sana menggunakan mobil pribadi selain Bos besar mereka.


"Sampai jumpa, aku akan merindukanmu." ucap Larenia berbisik di telinga Navier membuat lelaki itu tertegun.


Larenia lalu memberi kecupan singkat dan segera turun dari mobilnya.


"Navier kau sangat beruntung." guman Navier kepada dirinya sendiri, ia memegang bibirnya yang habis di kecup oleh istrinya. Senyuman merkah di wajah tampan lelaki itu.


Navier membuka sebagian kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada istrinya sebelum Larenia masuk kedalam dan Larenia ikut membalas dengan tersenyum tipis, karena ia tidak tau bagaimana mengekpresikan wajahnya.


Setelah memastikan istrinya sampai dengan aman dan selamat, Navier lalu minta kepada supir untuk membawanya ke Club miliknya di pusat kota. Sebagai pemilik Club besar Navier mempunyai tanggung jawab yang besar pula, perjudian sering terjadi di sana bahkan pesok terbesar narkoba ada juga di sana dan polisi tidak berani menyentuh mereka sama sekali.


***


Larenia melangkah pelan menemui salah satu pegawai untuk melakukan wawancara kerja, saat wawancara Lerenia mejawab semua pertanyaan yang di tujukan untuknya dengan sangat santai dan semuanya benar.


Dengan wajah angkuhnya gadis itu melipat kakinya saling bertumpu sama persis dengan tingkah laku Ayahnya, tidak ada yang mengenalinya karena sebelumnya Narenia memakai kacamata dan berpenampilan seadanya tidak seperti orang yang berasal dari keluarga berada.


Setelah lolos wawancara kerja, Larenia mendapat telepon dari Ayahnya agar segera menemuinya di ruangan CEO, Larenia hanya menghela napas.


Lif Vip.


"Nona, maaf Anda tidak bisa menggunakan lif khusus Tuan Louis." cegah penjagaan lif itu menghalangi Larenia.


"Apa sih, aku di minta sama Da-."


"Maksudku aku di panggil oleh CEO agar menemuinya di ruangnya, biarkan aku masuk." ujar Larenia enteng, ia hampir saja keceplosan.


"Maaf Nona, sebaiknya Anda memakai lif biasa untuk para pegawai di sana jangan di sini, bisa-bisa saya di marahi Nona." ujar penjaga Lif pribadi milik Louis tersebut.


Larenia mengertakan giginya kesal dan menghentakan kakinya melangkah ke Lif lain.


"Cih, nanti aku laporkan dia sama Daddy, awas saja." guman Larenia kesal. Ia segera menekan tombol di dalam lif itu lantai 45.


Lif itu berkali-kali berhenti karena ada Pegawai lain yang hendak masuk dan keluar, kesabaran Larenia di uji, bersandar ke samping merasa sangat bosan dan capek.


Ting.


"Lagi-lagi, apa-apa ini?" gumannya geram, perhatian tertuju kearahnya.


"Anda mau kelantai berapa Nona cantik?" tanya salah satu pegawai pria yang ada dalam lif bersama dengan Larenia.


"Kenapa kau mau tau, apa urusanmu." jawabnya lalu ia sudah tiba di lantai 45, Larenia segera keluar untuk menghilangkan rasa gerahnya karena terlalu lama di sana.


"Huh, sombong sekali, pasti dia pegawai baru, gadis sombong." cetus pria tadi begitu kesal mendengar jawaban Larenia yang sombong.


Baru pertama masuk kerja saja ia sudah membuat reputasinya jelek karena sikapnya yang menyebalkan seperti itu dan tidak menutup kemungkinan ia akan mempunyai banyak musuh kelak.


.


.


.


.


πŸ™‹β€β™€πŸ™‹β€β™€ Sorry telat. 😭