
Malam hari, Larenia diam-diam tanpa sepengetahuan siapa-siapa, ia keluar melalui pintu belakang berharap tidak ada yang menyadari jika dirinya pergi dari rumah itu. Termasuk Navier maupun Jessi, ia tidak mau jika ada yang mengetahui kepergiaanya. Semua orang telah tidur semakin mempermudah dirinya untuk pergi.
Sebelumnya Larenia sudah memberikan alamat tempat agar Robby menjemputnya di sana, tidak mungkin ia akan memakai kendaraannya sendiri.
Saat melhat sebuah mobil luxry hitam terparkir tidak jauh dari pagar luar rumahnya, Larenia dengan cepat mendekat karena ia yakin jika mobil itu milik Robby.
"Kenapa kau lama sekali Larenia?" tanya Robby begitu Larenia membuka pintu dan masuk kedalam mobil.
"Memang kenapa? Aku menunggu mereka tidur dulu, apa kau pikir mudah menyelinap keluar ... ayo kita menyusul yang lain." Sahut Larenia melirik Robby sekilas, gadis itu mengeser sedikit tubuhnya kesamping agar tidak terlalu dekat dengan Robby, bagaimanapun Robby bukan keluarganya.
"Kau kenapa?" tanya Robby menaikka sebelah alis, kenapa Larenia terlihat menghidarinya.
"Tidak ... ayo berangkat saja, kalau ada yang melihat kita bisa gawat bagiku?" ujar Larenia. Robby mengangguk paham segera Robby menyalakan mesin mobilnya dan sesegara mungkin menuju tempat tujuan.
Saat mobil itu melaju dengan pelahan meninggalkan depan rumah, seseorang mengikuti pergerakan Larenia diam-diam dan segera menyampaikan kepada Tuannya.
***
Sampai di markas persembunyian Coors Wex, Larenia turun dari mobil Robby ... gadis itu memakai topeng wajah berpakaian serba hitam, katanya agar mudah untuk bersembunyi. Larenia itu tegas seperti Louis apapun tujuannya ia harus menang dan kata kalah untuknya adalah kutukan.
Kedua mata birunya mengintai markas itu perlahan-lahan, jika ia menyerang secara langsung tanpa persiapan matang bisa-bisa ia akan gagal.
"Larenia ...." panggil Robby berbisik di samping Larenia melakukan hal yang sama.
"Ada apa jangan menganggu, aku harus membunuh para penjaga itu, agar kita bisa masuk bodoh." ujar Larenia tanpa menoleh sedikit pun, bahkan ia mengarahkan senapannya kearah penjaga pintu itu, ia hanya ingin sekali serangan agar tidak menonjol.
"Iya tapi, sepertinya kita sudah ketahuan oleh musuh." ujar Robby merasa khawatir, anggota lainnya sudah tewas sebelum mereka sampai.
"Apa yang kau katakan, bagaimana bisa kita ketahuan."
"Lihatlah kebelakang ... kita terkepung." Kata Robby, ia membalik tubuhnya melihat mereka sudah di kepung oleng anggota Coors Wex. Larenia yang kesal karena di ganggantu pun ikut berbalik, betapa kaget dirinya malihat segerombolan orang bertubuh besar dan memiliki tato di setiap lengan tangan kirinya.
Oh tidak, bagaimana ini kejadian tidak terduga menimpa mereka. Larenia mencoba mencari cara sementara anggota Coors Wex semakin mendekat.
"Robby kenapa kita bisa ketahuan!" kata Larenia tidak terima jika ia ketahuan.
"Mana aku tau, mereka pasti sudah mengintai kita dari tadi, teman-teman kita yang lain sudah tewas, pasti mereka akan lebih waspada dari sebelumnya, cih sial kita akan kalah kalau begini." ucap Robby merasa kesal. Mustahil melawan anggota Coors Wex jika hanya berdua saja.
"Sial."
"Kalian sudah kalah sebelum bermain! Sungguh bodoh! Ck ck ck ...." ucap salah satu pemimpin dari mereka, mengejek Larenia dan Robby.
"Aku tidak takut kepada kalian sama sekali, majulah dan perlihatkan kejagoanmu di depanku." ucap Larenia. Ia tidak akan menyerah dan bersihkuku ingin melawan semuanya, ia memiki dua jenis senjata yaitu pisau tajam dan tiga buah pistol yang ia sembunyikan.
"Sombong sekali wanita ini!" anggota Coors Wex tertawa bersama-sama, merasa kemenangan sudah di tangan mereka, melawan seorang gadis lemah adalah perkara gampang.
"Bagaimana kalau kita menikmati tubuhnya dulu lalu membunuhnya, ada yang setuju." Timpal yang lainnya, sungguh ia sudah membayangkan hal itu.
"Setuju, sayang sekali jika kita tidak menikmati tubuhnya yang indah itu." kata anggota lainnya lagi.
"Tahan dirimu Larenia, jangan kehilangan kendali dan fokus, mereka hanya menganggu." cegah Robby atau semuanya semakin tidak terkendali.
Mereka kembali menertawakan Larenia tanpa sengaja topengnya kini terlepas karena senapannya yang ia turunkan mengenai topeng itu dengan keras hingga jatuh. Betapa takjub orang-orang yang melihatnya Larenia dan Robby saling melempar senyuman dan membuang senapan itu berganti pisau lipat yang tajam.
Kesempatan bagus, Larenia akhirnya bisa memanfakan wajahnya membuat siapapun melihatnya terpaku dengan kecantikannya, walau tidak secantik ibunya namun wajah tegas Larenia bisa memabukkan untuk orang pertama
melihatnya.
Robby dan Larenia berlari mendekati anggota Coors Wex yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang, lalu melempar bom asap, saat itulah Larenia memanfaatkan keadaan dan membabi buta semua orang-orang yang menghinanya tadi. Ia tersenyum jahat cukup banyak mangsa untuk hari ini, lengan dan wajahnya penuh dengan percikan darah. Larenia dengan sekali tusukan membunuh mereka satu persatu.
****
Ken dan Jeffry turun dari mobli setelah mengikuti arah perginya Larenia, lelaki tua itu sungguh tidak menyangka jika cucunya akan berurusan dengan kelompok mafia terkejam di kota ini, yaitu Coors Wex salah satu sainggannya.
"Louis benar-benar teledor sampai tidak tau jika cucuku mengikuti jejak Zenia, benar-benar sudah Larenia di luar kendali."
"Kenapa dia sampai seperti ini, kalau aku tidak menghentikan aksinya bisa-bisa Zenia akan pingsan jika ia tau jika nyawa Larenia selalu dalam bahaya gara-gara ini, apa lagi Larenia memperlihatkan wajahnya kepada musuh." lanjut Jeffry merasa sangat marah.
"Ken cepat hubungi semua orang dan suruh mereka kemari, termasuk suaminya."
"Segera Tuan." jawab Ken.
Jeffry tidak bergerak dari tempatnya, saat ini ia hanya melihat sampai mana cucunya itu akan bertahan dari serangan para anggota Coors Wex. Jeffry melihat Larenia berhasil di lukai karena kelalaian dan emosinya sangat mudah terpancing.
"Larenia, kenapa dia malah membahayakan nyawanya saat Louis dan Zenia selalu melindunginya." guman Jeffry, sama sekali Jeffry tidak ada niat untuk membantu cucu kesayangannya itu yang sudah kelewatan. Selama ia di London Jeffry tidak pernah curiga akan Larenia karena setiap ia menghubungi Louis ataupun Zenia mereka selalu berkata jika Larenia aman-aman saja dan apa yang sekarang ia saksikan ini.
Jeffry akui jika kemapuan Larenia sangat hebat namun tingkat kemarahan gadis itu justru menjadi masalah, tidak sabaran dan jarang mengontrol dirinya.
Tiba-tiba ia melihat dari belakang ada seseorang yang mengarahkan tembakan ke arah Larenia dan tidak di sadari oleh cucunya itu, di situlah Jeffry menjadi panik diam-diam ia justru berlari-lari mengahampiri orang tersebut, walau tubuhnya sudah tua namun otot-otot tubuh Jeffry masih kokoh.
Dor ....
Suara tembakan langsung mengenai sasaran, Jeffry dan yang lainnya menghentikan semua gerakannya, ternyata Louis sudah tiba dan Zenia yang memegang pistol dan sudah menembak orang yang hendak menyakiti anaknya.
"Larenia cari tempat berlindung!" ujar Louis berteriak sekencang mungkin.
"Daddy! Mommy! Kenapa ada di sini!" panik gadis itu melihat kedua orang tuanya, hampir dirinya menyelesaikan misinya kali ini, namun dirinya malah ketahuan. Dan lagi-lagi ia di kejutkan akan kehadiran Kakek Jeffry yang sudah menatapnya tidak terbaca namun ada rasa khawatir juga.
"Sialan!"
Tubuhnya yang terluka di bagian lengan dan wajahnya sedikit tergores tiba-tiba rasa sakitnya hilang, ia memejamkan mata. Apa yang harus ia katakan kepada kedua orangtuanya rahasianya terbongkar.
"Cari perlindungan Larenia! Jangan hanya berdiri di situ ... biar mommy yang selesaikan mereka semua." ucap Zenia, ia mengerahkan pistolnya dan menembak satu persatu musuh anaknya.
.
.