
"Apa lututmu masih sakit?" tanya Navier kala mereka sudah berada di kamar dan luka Larenia sudah di obati oleh Jessi beberapa saat lalu. Keduanya sudah berganti pakaian.
"Tidak." Sahut Larenia singkat sambil menggeleng.
"Kalau begitu tidurlah, ini sudah malam."
"Aku belum mengantuk, duduklah sini dan temani aku." kata Larenia menepuk tempat kosong di sampingnya menyuruh Navier agar duduk di sana.
"Hum ... ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Navier, namun tidak bergerak dari tempatnya saat ini berdiri menatap sang istrinya yang duduk berselonjoran di atas kasur.
"Tidak ada, aku hanya ingin kau duduk di sini dan temani aku." ujar Larenia dengan sedikit memohon, Navier yang tidak tega pun langsung menuruti perkataan istrinya. Ia duduk di samping Larenia walau Navier sempat merasa kesal tadi namun itu tidak berlangsung lama, lelaki itu tidak sanggup mendiami istrinya sendiri apalagi Larenia jatuh gara-gara dirinya.
"Sudah aku lakukan, apa sekarang apa yang kau inginkan."
"Navier, aku minta maaf karena mengacaukan makan malam yang kau siapkan, kau jangan marah kepadaku kumohon."
"Jangan memikirkan hal yang sudah berlalu sayang, aku tidak pernah marah kepadamu, tudurlah sayang."
Navier mengelus wajah Larenia dengan lembut lalu membantu istrinya merebahkan tubuhnya di atas kasur.
***
Tiga bulan kemudian ...
Pernikahan Navier dan Larenia berjalan mulus dan tampaknya baik-baik saja, jarang ada percekcokan antara suami istri itu karena sang lelaki selalu mengalah dan memaafkan istrinya, Larenia terkadang membuat masalah dengan sikapnya yang sering jahat kepada pembantu rumah terlebih kepada Julia, Larenia bahkan pernah sengaja membuang gelas bekas air minumnya dan menyuruh Julia untuk membersihkannya dengan tangan kosong. Saat tidak Navier di rumah Larenia akan bertingkah semakin menjadi membuat para pembantu kerepotan.
Jessi kadang menegur akan kelakuan dari Larenia yang kekanak-kanakkan dan sangat sulit untuk di atur, hingga pada akhirnya Jessi hanya bisa membiarkan Larenia begitu saja selama gadis itu merasa senang dan tidak berada dalam bahaya.
Sekarang ini Larenia berada di rumah sendirian, Navier pergi bersama dangan Charles karena ada urusan mendesak di club dan harus segara di tangani, bekerja sebagai pegawai di perusahaan Ayahnya sendiri membuat Larenia lelah dan merasa bosan apalagi semua rekan karjanya memusuhi dirinya.
"Julia ambilkan aku jus dan buah segar yang sudah di potong bawa segara kepadaku." perintahnya berteriak dengan suara lantang.
"Segera Nona." sahut Julia, saat itu dirinya masih membersihkan kaca jendela.
"Cepat, aku tidak suka menunggu."
"Iya Nona."
Tidak lama kemudian, Julia datang membawa jus dan buah-buahan di tangannya dan meletakkan di atas meja.
"Nona ini buah dan jus yang nona inginkan."
"Oh, pergilah." Sahut Larenia singkat dan jelas, ia tidak menoleh sedikit pun kepada Julia, Larenia mengabaikan keberadaan orang itu.
Julia segara undur diri. Ia sudah tidak berguna tantangannya dengan Larenia saat pertama menjadi pembantu di rumah ini, Julia gagal dan hubungannya dengan Mikel tidak sebaik beberapa bulan yang lalu saat ia masih menjadi sektretarisnya.
Tidak berselang lama, Larenia mulai menikmati jus dan buah-buahan itu, hidupnya di sini bahkan lebih nyaman dari rumah kedua orang tuannya. Berlaku seenaknya dan memerintah sesukannya merupakan kedamaian bagi gadis itu.
___
Malam harinya, Larenia yang baru selesai makan malam masih menunggu suaminya yang sampai sekarang belum kembali. Walau gadis itu merasa gelisah ia berusaha tetap tenang dan menyakinkan diri jika suaminya sebentar lagi akan kembali.
Dan benar saja, tidak sampai lima menit mobil Navier memasuki gerbang rumah, Larenia dengan penuh semangat menyambut kedatangan lelaki itu.
"Navier ...." panggil Larenia sembil berlari mendekati suaminya yang baru keluar dari kursi penumpang.
"Uh ... Sayang, belum tidur ini sudah larut, apa kau menungguku?" tanya Navier menyambut Larenia dengan membalas pelukan hangat tersebut.
"Iya, kenapa kau lama sekali? Apa kau tidak berpikir jika aku menunggumu di rumah." Kata Larenia merajuk, ia mulai bersikap manja.
"Maaf sayang, tadi perusahaan ayah mengalami masalah serius dan setelah pulang dari club aku langsung kesana untuk membantu ayah." ucap Navier,
terlihat wajahnya cukup lelah. Larenia mengangkat wajah menatap sang suami yang terlihat sedikit kacau dengan penampilannya. Gadis itu merasa bingung. Navier yang peka melepas pelukan berahli merangkul bahu Larenia.
"Ayo masuk, akan aku ceritakan detailnya."
"Hum ... iya, tapi masalahnya sudah teratasikan?" tanya Larenia di sela-sela langkah mereka memasuki rumah. Navier mengangguk mengiyakan.
Di kamar ...
Larenia mengadahkan tatapanya kearah kamar mandi, sudah tiga puluk menit lebih suaminya mandi dan hingga sekarang belum selesai.
Suara deringan ponsel membuat pandangan Larenia berpindah ke asal suara itu, ternyata ponsel Navier yang berbunyi, segara ia mengambilnya hendak mengangkat. Melihat nama yang ada di sana kening Larenia berkerut.
"Isabella ...." lirih Larenia pelan kedua matanya masih setia menatap layar ponsel itu.
"Siapa Isabella itu?" tanya Larenia dalam hati, ia merasakan gejolak cemburu saat melihat nama wanita lain menghubungi sang suami, dengan kesal Larenia membuang ponsel itu keluar jendela. Dan secara kebetulan tepat saat itu Navier keluar kamar mandi melihat yang baru saja istrinya lakukan.
"Larenia! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuang ponselku?" tutur lelaki itu mendekati istrinya dengan wajah bingung sambil menahan amarahnya.
"Ponselmu perlu di ganti makanya aku membuangnya, jangan marah aku akan menggantinya besok." Kata Larenia beralasan, ia tidak mungkin mengatakan jika ada seorang wanita yang menghubunginya.
Ia pun dengan cepat mengoda suaminya dan mengajak sang suami untuk menghabiskan waktu di atas ranjang bersama dengannya, tanpa bisa menolak Navier yang sudah tidak tahan mencium bibir istrinya dengan rakus, sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya melakukan hubungan suami istri.
.
.
.
.
.