The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kau Dari mana."



Setengah jam yang lalu Larenia pergi meninggalkan Navier sendirian di rumah, tanpa berpamitan gadis itu pergi tidak menghiraukan larangan suaminya sama sekali.


Ia sama sekali tidak mempedulikan Navier, sebagai seorang istri Larenia sudah menjalankan tugasnya untuk melayani suaminya. Gadis itu sangat keras kepala tidak ada yang bisa melarangnya sekalipun di larang ia pasti akan mencari cara lain, bahkan peringatan dari Ayahnya untuk menuruti perkataan suaminya seakan tidak di ingat olehnya.


Lihat saja sekarang, gadis itu sudah berada di luar rumah menemui teman-temannya untuk menjalankan rencananya. Pakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam pula rambut yang di ikat, bernbeda dengan Ibunya Larenia lebih suka mengikat rambutnya jika sedang berada di luar, karena ia tidak suka memamerkan kecantikannya.


***


Sedangkan Navier yang di tinggal sendirian, hanya bisa menghela napasnya mencoba bersabar menghadapi istrinya, pernikahan yang dirinya impiankan sepertinya harus membutuhkan sedikit perjuangan.


"Kenapa semuanya seperti ini, padahal aku mau menghabiskan waktu bersamanya lebih lama hari ini." guman Navier mengusap wajahnya frustrasi, lelaki itu bisa saja mengartikan keinginan istrinya namun dengan sikap Larenia kepadanya hatinya terasa terluka.


Navier lalu meraih ponselnya, menghubungi agen pembantu rumah tangga karena rumahnya yang seluas ini tidak mungkin ia bersihkan sendiri dan lagi pula ia tidak mau menyusahkan istrinya dengan pekerjaan rumah.


"Halo, boleh saya bicara dengan pemilik agen untuk pembantu rumah tangga? Aku ingin mencari pembantu tiga orang perempuan dan empat orang pria untuk mengurus halaman dan kebun." ujar Navier.


"Baiklah Tuan, saya akan segara menyampaikan kepada atasan saya, maaf ini atas nama siapa?" tanyanya.


"Navier Dramino, nanti aku akan kirimkan alamat rumahku melalui email, saya membutuhkan pembantu hari ini juga atau paling lambat besok pagi." kata Navier.


"Baik Tuan Navier." sahut salah satu pegawai perusahaan agen tersebut.


"Terimakasih."


Setelah itu, Navier menutup sambungan ponselnya, kembali memainkan ponsel miliknya membuka galeri foto, wajah pria itu tersenyum dengan sendirinya saat melihat foto istrinya dengan dirinya, sungguh cantik pikir Navier apalagi saat ibu mertuanya berpose dengan istrinya keduanya tampak seperti saudara, karena di usia yang sudah tidak muda lagi ibu mertuanya masih awet muda.


"Istriku sangat cantik karena Ibu mertua dan Ayah mertua juga cantik dan tampan, aku yakin nanti kalau aku punya anak pasti akan secantik istriku." guman Navier tersenyum sambil membayangkan masa depannya saat memiliki anak kelak dari istrinya.


"Aku hanya perlu berusaha sedikit." ucapnya begitu yakin.


Karena kelelahan akhirnya Navier tertidur di sofa, dengan ponselnya masih berada di tangannya.


***


Di tempat lain, Larenia berada di belakang Rutan, dimana temannya pengkhianatan itu di tahan oleh polisi, ia sangat yakin jika temannya itu sengaja menangkapkan diri kepada polisi karena selama ini, tidak berguna dan sering mendapat teguran.


"Bagimana caranya kita masuk Larenia?" tanya salah satu temannya yang bernama Robby.


"Kau ini kenapa bisa sebodoh ini, bukannya kita bisa menyamar sebagai salah satu penjaga lapas ini dan kita habisi saja penghianat itu saat kita menemukannya." ujar Larenia.


"Tapi bagaimana caranya, kita tidak punya pakaian seperti itu." ujar Robby.


"Aku tidak tau harus membagaimanakan kebodohanmu Robby, kau lebih payah dari suamiku ternyata." ucap Larenia menggelengkan kepalanya.


Ia mempunyai teman yang sebodoh ini.


"Aku benar-benar tidak tau, jangan memanggilku dengan sebutan bodoh."


"Heh." Larenia menatap Robby seakan tidak percaya.


"Sudahlah kau sebaiknya ikut saja rencanaku." ucap Larenia, ia lalu mengajak Robby dan tiga orang lainnya untuk mencari petugas yang lengah dan mencuri pakaiannya.


Benar saja, Larenia melihat tiga orang petugas penjaga lapas berjalan keluar dari sana, tanpa menunggu lama gadia itu mengedap-ngedap mendekatinya, dengan sekali serangan ia membuat tiga orang itu pingsan tidak berdaya.


"Sangat mudah." ucapnya memiringkan senyum.


"Kalian cepat buka pakaian dan pakai." perintah Larenia.


"Sombong sekali, ia bertingkah laku sebagai bos." guman salah satu dari mereka, Larenia bisa mendengarnya langsung mendekatinya dan menarik kerah bajunya.


"Coba katakan sekali lagi, apa yang tadi kau ucapkan!" ucap Larenia melototkan kedua mata menjadi sangat dingin.


"Tidak, memang aku berkata apa?" elaknya memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Larenia secara langsung.


"Coba katakan sekali lagi, kau pikir aku tuli! Katakan cepat!" desaknya.


"Larenia sudah, kau jangan ambil hati perkataannya, ayolah ini sudah hampir malam atau besok riwayat kita semua akan habis." ucap Robby melerai.


"Tidak bisa, aku tidak terima. Memang kenapa kalau aku bertingkah laku seperti bos hah! Kau ada masalah dengan itu, dengarkan ini kau ini hanya orang yang bodoh dan tidak secerdas dengan diriku." ujar Lerenia lalu menghempaskan tubuh orang tersebut dengan kasar.


"Jangan berharap kau bisa melawanku." timpalnya lagi.


Larenia kembali melanjutkan rencananya yang sempat berhenti sejenak, ia memakai pakaian seragam itu, penyamaran yang sempurna, tiga orang masuk kedalaman sana sedangkan dua lainnya bertugas memantau keadaan di luar.


Sampai kedalam Larenia, Robby dan satu lainnya, berjalan seperti petugas lainnya, tidak banyak yang ada di dalam sana, mungkin akan semakin memperluas pencariannya.


Tiga puluh menit berkeliling, mereka belum juga menemukan keberadaan pengkhianatan itu dan tampak semuanya di suruh berkumpul karena sudah sore. Larenia tidak mengerti keadaan ini memilih untuk bersembunyi.


Sorot kedua matanya tiba-tiba melihat seorang yang duduk dan di ikat di kedua sisi dinding di sebuah sel tahanan.


"Ternyata dia ada di sana." ucapnya begitu senang, sasaranya sudah berhasil ia dapatkan, Larenia tanpa berpikir panjang langsung mendekati sel tersebut.


Dengan sangat mudah ia membuka gembok besar itu. menggunakan kunci serba bisa dan masuk kedalam sana.


"Hai pengkhianat, apa kabarmu?" tanya Larenia, ia melepas topinya dan memperlihatkan wajahnya.


"Kau ... kau bagaimana caramu masuk kedalaman sini? Dan apa maumu?" tanya orang tersebut.


Larenia tersenyum miring dan melipat kedua tangannya di atas perutnya, dengan penuh aura untuk membunuh membuat buluh kuduk orang itu berdiri.


Tiba-tiba suara tembakan terdengar, darah berceceran mengenai tembok dan lantai di sana.


Seluruh petugas berlari mendekati asal suara, namun tidak menemukan siapa-siapa di sana selain mayat orang yang di tahan itu.


"Nyawamu harus di korbankan untuk menjaga rahasia yang telah kau langgar sendiri, itu adalah hukumanmu." ucap Larenia membatin, entah sejak kapan wanita itu sudah bergabung dengan petugas lainnya dan menyamar.


Setelah itu ia pamit, segera keluar dari sana saat mayat pengkhianatan itu di urus oleh petugas, keributanpun terjadi karena mereka tidak tau siapa yang menghabisi tahanan berharga mereka.


Saat itulah Larenia dan temannya mendapat cela untuk kabur dari situasi, secara diam-diam mereka berhasil keluar.


***


Satu jam kemudian, Larenia pulang kerumah suaminya karena hari sudah malam, salah mobil dari kediaman suaminya sebelumnya ia kenakan melaju kembali kerumahnya.


Ia tidak bisa lagi merayakan keberhasilannya bersama dengan teman-temannya yang lain, Larenia hanya bisa menghela napas pelan. Dirinya masih menyayangkan jika sekarang statusnya sudah bersuami masih berat bagi gadis muda itu menerimanya.


Tidak lama berselang, Larenia sampai di rumahnya, dengan. langkahnya yang santai ia membuka pintu rumah dan masuk kedalaman sana.


Tanpa sengaja Larenia melihat suami tertidur di atas sofa dengan kepala di sandarkan kebelakang.


"Apa lelaki ini menungguku?" tanya Larenia, ia mengaruk keningnya sendiri ada rasa bahagia di dalam hatinya. Namun Larenia menepis pikiran itu.


Saat hendak berlalu meninggalkan suaminya, tubuhnya tiba-tiba di tarik oleh seorang sehingga ia jauh kepangkuan suaminya.


"Kau sudah pulang sayang, kau dari mana? Kenapa lama sekali?" tanya Navier baru bangun. Larenia tidak. menjawab ia tidak berkedip saat saling bertatapan dengan suaminya.


.


.


.


.


.


πŸ˜‚πŸ˜‚


Nulis sambil dengar lagu, 🀣🀣 ide tiba-tiba sangat lancar, kemarin nyangkut di atas pohon tidak sampai di kepalaku. Curhat sedikit. πŸ‘‹πŸ‘‹ sampai jumpa.