
Mikel mulai melakukan pembalasan kepada Effendy terlebih dahulu ia bangkit dari keterpurukan, perusahannya sudah mulai pulih dengan bantuan dari Androcles yang memberinya sejumlah uang untuk menutupi kebangrutannya dan juga membangun binisnya dari awal lagi dengan sebuah kesepakatan 45% untuk Mikel dan untuk Androcles 55%. Tanpa pikir panjang Mikel menyetujuinya ini merupakan kesempatan emas agar ia bisa menjatuhkan Effendy sehingga kelak Mikel bisa menertawakan kejatuhan pria aparuh baya tersebut.
Ia bukan tidak punya hati, namun kelakuan Effendy kepadanya selama ini selalu membuatnya jenuh dan juga kesal, dendam masa lalu yang Effendy kepada ayahnya sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Mikel. Namun entah kenapa Effendy selalu menganggu ketenangan dan kebahagiaan hidupnya.
Perusahaan yang baru bangkit kembali membutuhkan banyak investor dan salah satu investor yang incar adalah seseorang dari anggota keluarga Larenia, jika bisa ia sangat ini jika Louis yang menjadi salah satu investornya.
Sekarang Mikel tengah berdiri menghadap jendela menatap pusat kota yang begitu cantik dari atas gedung perusahaan miliknya. Pria itu memjamkan mata kala mengingat Larenia bersama dengan pria lain dan bermesraan.
"Kau akan berlutut di depanku Tuan Effendy, tunggu saja kehancuranmu." ucap Mikel dengan rahan mengeras karena menahan amarahnya. Menginggat akan Effendy amarahnya selalu memuncak.
"Arrrrhhhh, sialan! Dasar tua bangka!"
Mikel mengerang kesal, kenapa bukan dirinya yang menikahi gadis itu. Mereka pernah berteman waktu kecil pasalnya Ayah Mikel yang sudah tiada beberapa tahun lalu sangat dekat dengan Louis. Larenia kecil sering di bawa ke pertemuan penting oleh Louis, Mikel pun sama sehingga mereka pernah akrab satu sama lain namun saat mulai menuju usia dewasa Louis membatasi putrinya membuat Mikel sulit untuk bertemu dengannya.
Hingga munculah Effendy membuat hubungan Ayahnya dan Louis tidak sebaik dulu. Bahkan saat ayahnya sudag tiada Louis melupakan semuanya.
Mikel menghisap puntung rokoknya, sudah menjadi kebiasaan bagi pria itu kala dirinya merasa strees. Terkandang ia bahkan menghabiskan satu bungkus perhari.
Bunyi suara deringan telepon membuat pria itu segera mengangkatnya.
"Iya, Halo." ucap Mikel begitu mengangakat terleponnya, beberapa waktu lama ia habiskan untuk berbicara melalui telepon bersama dengan klien.
***
Hari sudah sore, Larenia di jemput oleh Navier tersenyum senang. Ada rasa kepuasaan di dalam hatinya, melihat Navier saja membuat hati gadis itu hangat. Perlakuan Navier selalu manis dan lembut cinta dan kebaikan suaminya terkadang Larenia meragukan jika Navier sebenarnya hanya berpura-pura kepadanya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu." ucap Navier segera menyambut Larenia kepelukannya.
"Kenapa kau datang kesini menjemputku? Bukannya kau sibuk di club?" tanya Larenia.
"Hari ini aku tidak sibuk sayang, apa kau mau makan malam bersama denganku?"
"Kemana?"
"Rahasia, ayo kita pulan dulu. Kita ganti baju." ujar Navier sambil mengulus wajah cantik istrinya lalu memberinya kecupan singkat di kening sang istri. Larenia mengangguk pelan ia sudah bisa menerima semua perlakuan Navier yang manis seperti ini.
___
Setibanya di rumah, Larenia dan Navier masuk dengana bergandegan tangan. Dan secara kebetulan mereka berpapasan denga Jessi saat di ruang tamu.
"Tuan ... Nona, malam ini kalian mau makan apa untuk malam, biar saya buatkan." ujar Jessi kepada sepasang suami istri tersebut.
"Tidak perlu bibi, kami mau makan malam bersama di luar." Jawab Navier dengan sopan dan tersenyum kepada wanita yang menjadi pengawal istrinya tersebut. Sementara Larenia hanya menatap Jessi dengan tetapan tidak suka.
"Ayo kita ganti baju, kau tidak perlu bicara banyak kepada bibi." Kata Larenia, ia merasa tidak tahan jika suaminya berbicara dengan wanita lain.
"Hum, baiklah sayang ... Ayo."
"Bibi aku pamit kemar, bibi lanjutkan perkerjaan bibi saja."
Sebelum Jessi menyahuti perkataan Navier, Larenia terlebih dahulu menjagak suaminya untuk segera menuju kamar.
"Sudahlah ayo, jangan berbicara dengannya lagi." Kata Larenia.
"Bibi pergilah." usir Larenia sebab Jessi belum beranjak dari hadapan mereka berdua membuatnya kesal.
"Kalau begitu saya pamit, Tuan. Nona."
Jessi tau betul jika majikannya itu merasa tidak nyaman akan kehadirannya, ingin rasanya ia berhenti bekerja sebagai penjaga Larenia, namun ia tidak bisa mengatakan kepada Louis ataupun Zenia, Jessi kenal akan kekejaman mereka salah sedikit saja nyawa Jessi bisa jadoi taruhan. Apalagi jika sampai anak kesanyangan mereka sampai terluka sedikit saja.
Larenia berjalan menuju kamar utama untuk berganti baju di ikuti oleh Navier yang menyusulnya dari belakang.
Dua puluh menit kemudian, waktu juga sudah hampir pukul tujuh malam pasangan suami istri tersebut sudah bersiap. Larenia yang memakai gaun selutut terlihat sangat cantik dengan rambut yang terurai kebelakang dan sebuah jepit rambut menjepit rambutnya yang berponi, dan untuk Navier lelaki itu hanya memakai kemeja dan celana santai terlihat tampan.
"Sayang kau sangat cantik memakai pakaian sepetri ini." Kata Navier memuji istrinya, ia mengandeng tangan Larenia dengan senyuman merkah di wajahnya.
"Terima.kasih ... tapi aku memang di lahirkan dengan wajah yang cantik dan memikat."
"Hehe ... kau biasa aja, sayang."
"Daddy yang mengatakannya kepadaku."
Sambung Larenia dengan tampang wajah biasa saja, Navier baru sadar jika apapun yang berkaitan dengan istrinya saat ini adalah hasil dari didikan dari ayah mertuanya. Ia berjanji akan bisa mengubah sikap Larenia yang menyebalkan menjadi orang yang lebih baik.
Tiba di mobil, seorang sopir menghampiri mereka dan menyerahkan kunci mobil kepada Navier karena lelaki itu ingin berduaan saja dengan istrinya tanpa ada gangguan dari orang lain, jadi navier berinisiatif untuk mengendarai mobilnya sendiri.
"Sayang, kau tutup mata dulu. Aku menyiapkan kejutan untukmu." pinta Navier sesaat ia menghentikan laju mobil di tepi jalan.
"Untuk apa? Aku tidak mau." Tolak Larenia.
"Sayang, aku mohon."
Larenia menghela napas lalu menuruti permintaan suaminya, Navier menutup mata Larenia menggunakan kain yang ia ikat.
Lima menit berlalu, Navier memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mewah dengan fasilitas yang nyaman. Navier menuntun sang istri berjalan mengikutinya dengan merangkul bahu Larenia masuk kedalam Restoran tersebut.
"Selamat datang Tuan, kami sudah menyiapkan semua pesanan Anda." Kata salah satu pegawai restoran tersebut dengan sopan. Navier mengangguk dan mengikuti pelayan itu.
Terlihat sebuah meja yang berada di tepi kolam menjadi tempat dimana Larenia dan Navier akan makan malam romanstis bersama. Namun tanpa sadar keduanya tengah di intai oleh seorang pria yang tidak lain adalah orang suruhan Mikel untuk mengikuti Larenia kemana-mana. Atau bisa di katakan sebagai penguntit.
"Sayang aku buka penutup matanya." Kata Navier kapada Larenia lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk mengikuti setiap keinginan Navier.
"Satu, dua,.tiga ... apa kau suka."
"Hum, iya ... aku suka." ucap Larenia terlihat tidak terkejut hanya seperti itu responnya, hal seperti ini sering ia rasakan saat di ajak oleh ayah dan ibunya ketika makan malam diluar jadi wajar saja Larenia terlihat biasa saja.
.
.
.
.