
Suara alarm pagi membangunkan Larenia yang tengah tertidur lelap dalam mimpinya, wanita itu terdiam masih mengumpulkan kesadarannya.
Pintu kamar mandi terbuka, tampak seorang lelaki tampan keluar dari sana, Larenia melebarkan senyuman untuk lelaki itu yang jelas sangat ia kenal.
"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu? sepertinya kamu tidur nyenyak." ucap lelaki itu mendekat sambil mengosok rambutnya yang masih basah.
"Humm ...." hanya deheman yang keluar dari Larenia sebagai balasan.
Navier duduk di tempat tidur membelai wajah istrinya, keningnya berkerut saat menyadari jika wajah Larenia cukup pucat pagi ini.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Navier raut wajahnya tampak khawatir. Larenia mengangguk pelan lalu perlahan ia turun dari tempat tidur. Ia juga harus mandi karena hari ini mereka akan liburan bersama.
Larenia terhuyung untung saja Navier langsung menangkap tubuh istrinya dengan cepat dan membantunya kembali duduk.
"Sayang sepertinya kau sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Benarkah? tapi yang aku lihat justru sebaliknya." ujar Navier dengan ragu.
"Jangan berlebihan, aku baik-baik saja." sanggah Larenia ia tidak mau jika rencana mereka akan gagal hanya karena kondisinya yang kurang baik.
Navier akhirnya mengalah, ia tidak bisa terus berdebat dengan Larenia karena lelaki itu tau jika mereka melanjutkan perdebatan dan tidak ada yang mau berhenti berakhir dengan masalah besar.
Larenia adalah tipe orang yang tidak suka dengan kekalahan.
"Baiklah, sayang ... aku akan menunggumu di bawah."
Larenia mengangguk, ia masuk kedalaman kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sementara Navier memakai baju terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar.
***
Larenia menuruni tangga dengan sesekali memegang kepalanya terasa semakin pusing dan wajah semakin pucat. Saat ia melanjutkan langkahnya Larenia terpeleset, ia tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
"Nona, hati-hati." Jessi memegang Larenia agar tidak jatuh dari tangga yang bisa berakhir fatal.
"Aku baik-baik saja, lepaskan." kata Larenia menepis tangan Jessi.
"Tidak Nona, ada sakit ... sekarang bukan waktunya untuk keras kepala, mari saya antar ke kamar nona, sebaiknya nona istirahat saja."
"Bibi, aku tidak mau!"
Larenia melanjutkan langkah menuruni tangga walau bersusah payah, kenapa kondisi tubuhnya tiba-tiba seperti ini padahal kemarin ia merasa baik-baik saja, kenapa harus hari penting mereka dirinya tiba-tiba sakit.
"Sayang." Navier berlari mendekati istrinya, sempat mereka mendengar suara seseorang di tangga dan betapa kaget dirinya saat melihat justru Larenia yang terlihat sangat lemah.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir." racau Larenia kepalanya benar-benar pusing.
Wajahnya pucat, segara Navier mengangkat tubuh Larenia berlari menuju mobil.
"Tuan, apa boleh yang membawa mobil ke rumah sakit?" tawar Jessi ikut khawatir akan majikannya itu.
"Silakan bibi."
Jessi membawa mobil menuju rumah sakit, sebelumnya Larenia yang jarang sakit membuatnya sangat takut, kata banyak orang jika seorang jarang sakit sebelumnya jika sakit pasti pemulihannya akan lebih lama.
Larenia yang menutup mata dalam pelukan suaminya, sudah tidak bisa menahan sakit kepalanya dan sepertinya dia demam.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai sayang." ucap Navier mengelus rambut Larenia.
Akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah sakit swasta. Navier membawa Larenia segera menemui dokter untuk mendapat perawatan lebih cepat sementara Jessi menelepon Louis untuk menyampaikan kondisi Larenia.
***
"Jangan terlalu khawatir, istrimu hanya demam biasa mungkin karena banyak pikiran." ucap dokter Isabella kepada Navier, ia sudah menganggap lelaki itu seperti kakaknya.
"Tapi dia tidak apa-apakan? aku sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada istriku." balas Navier menoleh sesaat kepada Isabella lalu beralih kepada Larenia lagi mengecup punggung tangan istrinya.
"Berlebihan sekali, sebagai calon ayah kamu harus menjaga istrinya dan calon anakmu, jangan terlihat lemah, dasar lebay." ucap Isabella santai dengan melipat kedua tangan.
Navier mengerut saat mendengar kata calon anak? siapa yang hamil?
"Apa maksudmu? calon anak ... istriku belum hamil dokter." tutur Navier.
Isabella terkekeh mendengar ucapan itu, ayolah sebenarnya siapa dokternya di sini. Cinta membuat seseorang menjadi bodoh.
"Dasar tidak peka, istrimu itu hamil dan aku baru memeriksanya, kalau tidak percaya aku akan melakukan USG."
"Jangan berbohong dokter, kemarin istriku baru saja mencoba tes pack dan hasilnya negatif." Navier masih tidak percaya.
Isabella membuang napas berat susah sekali membuat pria yang tidak peka itu untuk percaya perkataannya. "Ya sudah kalau Anda tidak percaya, saya masih sibuk banyak pasien membutuhkan jasa saya, saya mohon pamit Tuan Navier."
Louis tampak terkejut akan Larenia yang terbaring di atas bangkar dengan memakai pakaian rumah sakit. Seumur-umur ini pertama kalinya dalam hidup Louis melihat putrinya sakit.
"Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Louis kepada menantunya.
"Larenia demam dad, maaf." ucap Navier dengan menyesal tidak bisa menjaga istrinya.
"Ini bukan salahmu, hanya demam biasa bukan? tidak ada penyakit yang lebih parah." Louis bertanya kembali berharap Navier mengangguk membenarkan perkataannya.
"Iya, mungkin sebentar lagi Larenia akan bangun."
Louis mendekati putrinya dan mencium kening anaknya itu dengan sayang, sementara Zenia membiarkan Louis terlebih dahulu ia tau betapa besar cinta suaminya itu kepada putri mereka.
Dan juga ingatan tentang keguguran waktu itu membuat Louis sangat takut kehilangan anak, untuk kedua kalinya lebih dari ketakutan Zenia sendiri.
"Jadi liburannya bagaimana? batal?" tanya Effendy kepada putranya.
"Batal, ayah ... tidak mungkin kami akan pergi jika istriku sakit." ucap Navier seduh.
Zenia menepuk pelan bahu menantunya tersebut dan berkata agar Navier tidak terlalu khawatir. Karena sakit adalah hal yang normal bagi manusia.
"Terima kasih telah menjaga putri kami dan mencintainya, percayalah Navier Larenia juga sangat mencintaimu, aku bisa melihat itu." kata Zenia.
Navier hanya tersenyum lalu sesaat kemudian ia mengangguk pelan. Mempercayai perkataan ibu mertuanya.
"Sama-sama, mom."
***
Navier keluar sebentar untuk mencari udara segar di balkon rumah sakit, pikiran masih terngganggu akan perkataan ibu mertuanya dan juga Isabella yang mengatakan jika istrinya kini mengandung. Itu tidak boleh terjadi, satu rahasia Navier sembunyikan selama ini tentang kebenaran.
"Kenapa aku bisa seceroboh itu, padahal sudah berhati-hati." guman Navier memikirkan jika istrinya benar-benar sampai hamil.
Memang sebelumnya Navier sangat ingin Larenia hamil anaknya namun sekarang ia belum ingin dan terus menundanya sendiri.
-Flassback
Dua bulan sebelumnya setelah bertemu dengan mantan kekasihnya yaitu Amanda.
Navier pergi menemui Amanda hari itu tepat setelah insiden penamparan itu terjadi, Navier memperingati Amanda hari itu agar tidak mengganggu keluarganya.
"Jangan mengganggu keluargaku Amanda apalagi dirimu sampai melakukan hal itu lagi kepada istriku." ucap Navier.
Amanda tersenyum miring mengabaikan peringatan Navier kepadanya.
"Istri? wanita kotor itu adalah istrimu? apa kau tidak berpikir jika istrimu selama ini mempermainkanmu? bodoh sekali."
"Jaga ucapanmu Amanda, istriku bukan wanita yang seperti di pikiranmu itu, akulah yang suaminya dan lebih mengenalnya lebih jauh dari dirimu."
Amanda tertawa lepas tidak pernah percaya kepada Navier.
"Hei psychopath, ternyata actingmu benar-benar hebat, wanita secerdas Larenia saja tertipu dengan wajahmu itu, aku lebih mengenalmu dari siapapun."
"Tutup mulutmu! atau aku membakar mulut kotormu itu!" bentak Navier mencekik leher Amanda, rasanya Navier ingin membunuh Amanda sekarang juga.
"Lepaskan bodoh!"
"Jaga mulutmu jika kau tidak mau kehilangan nyawa ...." ancam Navier memperkuat cekikannya lalu melepas Amanda.
Wanita itu justru tertawa lagi, ia bukannya takut malah mengirim senyuman miring kepada Navier. Demi cinta Amanda akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Navier kembali.
"Jika sampai istrimu hamil, kelak anak-anakmu akan seperti dirimu, psycho gila, sudah berapa orang yang kau bunuh monster sialan."
"Diam! kau diam!" teriak Navier.
Tatapan rasa haus membunuh orang kembali, di balik wajahnya bak malaikat dirinya adalah pembunuh berdarah dingin berbeda dengan Larenia yang sangat terus terang, Navier sangat mudah untuk beracting.
"Katakan sekali lagi! jika kau mau mamamu besok melihat mayat mengapung."
"Monster ketemu monster akan menjadi iblis!" teriak Amanda lalu bergegas pergi dari sana.
"Ingatlah baik-baik, jika istrimu hamil akan lahir seorang iblis sama seperti dirimu dan istrimu!" lanjut Amanda sebelum benar-benar masuk kedalaman mobil meninggalkan Navier di sana.
.
.
.
πMaaf baru lanjut. π€£π€£ baru selesai nonton drakor, sampai lupa diri. πββ