The Devil Wife Season 2

The Devil Wife Season 2
"Kembali."



Larenia pulang kerumahnya setelah menjalankan misinya. Robby yang terluka cukup parah di antar pulang oleh salah satu anggotanya dari kelompol lain membawa serta tiga tas yang ada di dalam bagasi mobil.


Motor yang di kendarai oleh Larenia kini sudah memasuki gerbang rumahnya yang sebelumnya ia buka sendiri karena penjaga rumah sudah tidur mengingat waktu sudah pukul dua dini hari, pakaian hitam yang ia kenakan terkena sedikit percikan darah dan saat sudah memarkirkan motor kesayangannya di garasi segera Larenia berjalan ke arah tong sampah dan membakar pakainnya sendiri.


"Nona dari mana?" tegur seseorang lantas membuat Larenia kaget, namun ia berusaha menyembunyikan tetap tenang.


"Bibi belum tidur, apa yang bibi lakukan di jam seperti ini?" tanya Larenia balik, ia tidak berniat menjawab pertanyaan Jessi.


"Saya tidak bisa tidur Nona, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan tadi."


"Nona, sebenarnya dari mana? Kenapa saya tidak tau jika Nona pergi dari rumah?" tanya Jessi.


Larenia membungkam, ia tidak mau menjawab pertanyaan Jessi. Lalu ia segera melangkah masuk kedalam rumahnya melawati Jessi begitu saja bahkan mengabaikan Jessi yang mengikutinya dan terus menayakan hal sama.


Tiba di pintu rumah, Larenia membuka dengan kasar ia sangat lelah karena baru kembali justru Jessi terus mengikutinya kemana-mana. Tujuan pertama gadis itu adalah dapur karena rasa haus membuat tengorokannya kering.


Jessi masih mengikutinya, Larenia benar-benar kesal akan pengawal pribadinya yang sudah sepeti anak anjing mengikuti setiap langkahnya.


"Nona, tolong jawab pertanyaan saya Nona." pinta Jessi menghalangi Larenia di.pintu dapur.


"Memang siapa dirimu, jangan terlalu ikut campur dengan kehidupannku Bibi Jessi, Kau hanya seorang pengawal dan aku majikanmu jadi minggir jangan halangi jalanku!" ucap Larenia menatap tajam Jessi.


"Nona mungkin majikan saya, tapi Nona saya melakukan ini atas perintah Tuan dan.Nyonya untuk menjaga Nona dan mengawasi Nona."


"Sudahlah bibi, aku mau kembali kekamarku dan tidur. Sebaiknya bibi juga kambali kekamar bibi." kata Larenia lalu mendorong tubuh Jessi sehingga ia tidak menghalanginya lagi.


Jessi bersandar di tembok, kenapa anak pertama dari Tuannya sikap dan tingkah lakunya sama persis dengan Tuannya, selain menyebalkan mereka sama kurang ajar, sangat berbeda dengan kedua anak Louis yang lain yang perilakunya sopan dan ramah.


Jika disuruh memilih Jessi lebih suka mengawasi Lyra atau Leo di banding Larenia.


"Nasibku.sangat sial, bagaimana bisa gadis sombong seprti itu bisa menjadi majikannku." guman Jessi sambil mengelus dadanya, ia beranjak dari sana segera menuju kamarnya. Besok dirinya harus kembali melakukan banyak pekerjaan.


Kamar Larenia.


Saat memasuki kamarnya, Larenia segera menghampiri suaminya yang tertidur lelap dengan memeluk bantal miliknya, seutas senyuman merkah di wajah gadis itu. Ia sangat yakin jika Navier pasti merindukannya. Untuk sesaat ia menatap wajah Navier dan tanpa sadar Larenia mengelus wajah suaminya ada beberapa bulu halus di wajah tampan suaminya tersebut dan Larenia suka dengan hal itu.


Larenia segera menyiram tubuhnya dengan menyalakan shower, gadis itu memjamkan mata setiap selesai menghabisi nyawa orang ia akan mandi mengunakan air dingin.


Navier perlahan membuka mata karena mendengar suara kebisingan dari dalam kamar mandinya.


"Apa istriku sudah kembali?" tanyanya kepada dirinya sendiri, Navier melirik jam yang masih menujukan pukul setengah tiga. Lelaki itu menyengir agak heran, secepat itukah Larenia pulang.


Tidak lama berselang, Larenia keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk kecil untuk menutupi tubuhnya. Navier dibuat tidak berkedip dengan pemandangan yang tersaji didapan matanya.


"Kau bangun." Tegur Larenia sambil berjalan ke arah lemari hendak mencari pakaian tidurnya. Navier masih terdiam napas lelaki itu tertahan. Bagaimana ini ia sudah tergoda dengan tubuh istrinya sendiri ingin rasanya ia menghabiskan waktu sampai pagi bersama dengan istrinya, namun Navier takut terluka jika mendapat penolakan.


"Navier! Kenapa kau malah diam?"


"Ahh, iya sayang."


"Kenapa kau bangun? Tidurlah kembali."


"Iya, sayang kau sudah pulang, kenapa cepat sekali? Apa Nenek tau jika kau sudah pulang?"


Pertanyaan Navier sesaat membuat Larenia terdiam, ia mengutuk kebodohnya sendiri. Seharusnya ia pulang pagi-pagi saja bukan sekarang yang akan membuat orang mencurigai kebohongannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya merindukanmu jadi aku langsung pulang." Jawabnya seperti itu.


Larenia lalu mempunyai rencana, ia tidak jadi memakai pakainnya dan justru mendekati Navier di atas kasur dengan handuk yang masih melekat di tubuhnya. Larenia duduk tepat di hadapan Navier yang juga bangkit dan duduk bersandar.


"Aku sangat merindukan suamiku, apa itu salah?" Larenia mulai mengoda lelaki yang telah menjadi suaminya tersebut, perlahan Larenia meraih tangan Navier dan meletakkannya di handuk yang ia kenakan. Wajah Navier sudah merah, kenapa tiba-tiba Larenia menggodannya seperti ini.


Tanpa aba-aba gadis itu langsung menciumnya dengan liar, Navier yang awalnya tidak membalas kini justru mengambil alih dan dengan senang hati mencumbu setiap jengkal tubuhnya.


.


.


.